Terlahir dengan dua elemen sekaligus, Yan Bingchen justru harus menanggung kutukan yang membuatnya kesulitan mengendalikan kekuatannya sendiri.
Dianggap berbahaya bahkan oleh keluarganya, ia tumbuh dalam kesepian dan penolakan sejak kecil.
Namun, ketika kesedihan dan amarahnya mencapai puncak, Yan Bingchen memilih meninggalkan klannya. Pada saat itulah, kekuatan sejatinya akhirnya bangkit sepenuhnya.
Kini, di dunia yang memandangnya sebagai ancaman, mampukah ia membuktikan bahwa dirinya bukanlah bencana … melainkan calon yang akan berdiri di puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Tranformasi Sumsum
Malam di paviliun tua itu tidak lagi sunyi. Di bawah pondasi kayu yang mulai lapuk, denyut nadi dari Jantung Naga bergetar hebat, mengirimkan gelombang energi emas ke permukaan.
Yan Bingchen duduk bersila di tengah ruangan, memejamkan mata dengan napas yang teratur.
Pusaka ungu di sampingnya bersenandung rendah, ikut menyerap kabut spiritual yang semakin pekat.
Tiba-tiba, udara di dalam paviliun dipenuhi oleh bintik-bintik cahaya yang melayang.
Roh-roh spiritual tingkat tinggi—entitas kuno yang telah ribuan tahun bersemayam di dalam struktur molekul tanah Ordo Long—muncul dari kegelapan.
Mereka tidak menyerang; sebaliknya, mereka tampak terpesona oleh pusaran api merah dan es biru yang menari harmonis di sekitar tubuh Yan Bingchen.
Roh-roh itu, yang menyerupai naga-naga kecil dari cahaya murni, mulai mengelilingi Yan Bingchen.
Mereka merasakan tekad baja dan kemurnian jiwa pemuda ini. Satu per satu, roh-roh tersebut meleburkan diri ke dalam pori-pori kulit Yan Bingchen, memberikan dorongan energi masif yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Yan Bingchen menggeram rendah. Ia mulai mengarahkan aliran energi dari Inti Sejatinya menuju struktur terdalam tubuhnya. Inilah saatnya untuk Transformasi Sumsum.
Begitu energi ungu pekat itu menyentuh sumsum tulangnya, rasa sakit yang tak terbayangkan meledak.
Ia merasa seolah-olah jutaan semut api dan es sedang menggigit setiap inci bagian dalam tulangnya secara bersamaan.
Siksaan ini bukan sekadar luka fisik, melainkan proses yang memaksa setiap tetes darahnya berubah menjadi lebih murni.
Keringat dingin bercampur uap panas mengalir dari pelipisnya.
Tubuh Yan Bingchen gemetar hebat, namun ia tidak melepaskan segel meditasinya.
Di luar, Mo Ran dan Si Hitam berjaga dengan cemas. Mereka melihat paviliun itu perlahan-lahan diselimuti oleh kepompong energi ungu yang memancarkan aura tekanan luar biasa.
"Sial, Kak Bingchen sedang bertarung dengan nyawanya sendiri di dalam sana," bisik Mo Ran, mencengkeram jubahnya erat-erat sementara Si Hitam terus menggeram rendah, mengusir roh-roh jahat yang mencoba mendekat.
Di tengah siksaan yang menghancurkan konsentrasi, roh-roh spiritual yang telah masuk ke tubuh Yan Bingchen bertindak sebagai penyeimbang.
Saat energi api hampir menghanguskan sumsumnya, roh elemen air murni mendinginkannya.
Saat energi es hampir membekukan alirannya, roh elemen cahaya memberinya kehangatan.
Tanpa bantuan mereka, tubuh Yan Bingchen mungkin sudah hancur menjadi debu karena benturan dua elemen ekstrem tersebut pada tingkat lebih tinggi.
Secara bertahap, rasa sakit itu berubah menjadi sensasi mati rasa, dan akhirnya menjadi kekuatan baru yang meluap-luap.
Struktur tulang Yan Bingchen kini tidak lagi putih biasa; setiap tulangnya kini berkilau seperti kristal baja yang dialiri urat-urat ungu.
Setiap tetes sumsumnya telah bertransformasi menjadi pabrik energi yang tak habis-habisnya.
BOOM!
Sebuah ledakan energi transparan menyapu seluruh paviliun, menghancurkan beberapa pilar kayu dan menerbangkan atap bangunan tersebut.
Yan Bingchen membuka matanya. Pupil merah dan birunya kini memiliki lingkaran cahaya emas di sekelilingnya—tanda bahwa ia telah mencapai Tahap Puncak Transformasi Sumsum.
Ia berdiri perlahan. Setiap gerakannya kini terasa sepuluh kali lebih ringan namun mengandung daya hancur yang seratus kali lebih besar.
Ia tidak lagi hanya mengandalkan energi luar; setiap inci tulang dan ototnya sekarang adalah senjata.
Yan Bingchen mengepalkan tangannya. Udara di sekitarnya retak, menciptakan riak kecil akibat tekanan fisik murni.
Ia menatap telapak tangannya yang kini tampak lebih bersih, dengan kulit yang sekeras artefak pertahanan namun sehalus sutra.
"Tingkat kelima ... tahap puncak," gumam Yan Bingchen. Suaranya kini memiliki gema yang menggetarkan jiwa siapa pun yang mendengarnya.
Ia mengambil senjata beratnya yang kini terasa seringan bulu.
Dengan kekuatan baru ini, Yan Bingchen tahu bahwa para Master di akademi pun harus berpikir dua kali sebelum mencari masalah dengannya.
Ia bukan lagi sekadar murid berbakat; ia telah melampaui batasan fisik biasa dan mulai melangkah menuju ranah para penguasa dan legenda.
Mo Ran berlari masuk ke reruntuhan paviliun, matanya membelalak. "Kak! Kau ... kau terlihat berbeda! Auramu membuatku sulit bernapas!"