Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18: Dingin yang Menusuk di Puncak Frost
Gumpalan awan hitam perlahan tersingkir, menyingkap hamparan pegunungan yang diselimuti salju putih abadi di bawah sinar rembulan yang pucat. Suhu di dalam kabin helikopter Little Bird menurun drastis. Napasku mulai membentuk uap putih setiap kali aku membuang napas, dan aku bisa melihat Kurumi menggigil hebat di kursi sebelah, memeluk erat tas medisnya.
"Zidan... dingin sekali," bisiknya dengan gigi yang bergelatuk.
"Tahan sebentar. Kita hampir sampai di koordinat Frost Peak," kataku, mataku terpaku pada layar navigasi yang berkedip lemah.
Bahan bakar helikopter ini sudah berada di zona merah. Jarum indikatornya bergoyang seolah mengejek keputusanku untuk terbang sejauh ini. Logikaku sudah menghitung risikonya: jika kami tidak mendarat dalam sepuluh menit, mesin ini akan mati dan kami akan menjadi bongkahan es jatuh di lereng gunung.
Tiba-tiba, di balik puncak bukit berbatu, aku melihat cahaya redup. Itu bukan api unggun biasa, melainkan susunan lampu flare yang membentuk pola di sebuah area datar di atas tebing.
"Itu mereka," kataku.
Aku menurunkan ketinggian. Namun, pemandangan di bawah tidaklah ramah. Di sekitar area lampu flare itu, aku melihat ratusan titik hitam yang bergerak lambat. Zombi. Tapi mereka berbeda. Gerakan mereka kaku, hampir seperti robot yang kehabisan baterai.
"Zidan, lihat! Mereka dikepung!" Kurumi menunjuk ke arah sebuah bangunan beton tua yang dulunya mungkin stasiun pengamatan cuaca.
"Suhu rendah memang melambatkan metabolisme mereka, tapi jumlah mereka tetap masalah," analisaku. Aku menekan tombol radio. "Penyintas Frost Peak, ini helikopter pengintai. Aku berada di atas kalian. Kosongkan area pendaratan atau aku akan melepaskan roket."
Suara statis terdengar sesaat sebelum sebuah suara pria yang parau menjawab, "Jangan menembak! Kami akan menyalakan tanda! Tolong, kami punya banyak orang terluka!"
Aku melihat beberapa orang keluar dari bangunan, melempar bom molotov ke arah kerumunan zombi untuk menciptakan ruang kosong. Api berkobar di tengah salju, menciptakan kontras warna oranye dan putih yang indah namun mematikan.
Aku membawa helikopter turun dengan kasar. Begitu roda pendaratan menyentuh aspal beku, mesin langsung mati. Sunyi. Hanya suara angin gunung yang menderu kencang menghantam badan helikopter.
"Keluar! Ambil senjatamu!" teriakku.
Aku melompat turun, HK416 sudah siap di tanganku. Salju setinggi mata kaki menyambut sepatuku. Kurumi menyusul di belakang, sekopnya digenggam erat. Udara dingin langsung menusuk kulitku seperti ribuan jarum, tapi adrenalin membuatku tetap terjaga.
Tiga orang pria dengan jaket tebal dan senapan berburu tua berlari menghampiri kami. Wajah mereka kasar, janggut mereka dipenuhi kristal es.
"Siapa kalian? Militer?" tanya pria di depan, pemimpin mereka.
"Zidan. Dan ini Kurumi," jawabku datar. Aku tidak menurunkan senjataku. "Kami datang karena mendengar pesan radiomu. Kami punya senjata dan keahlian medis. Kalian punya makanan dan tempat berteduh. Itu kesepakatannya."
Pria itu menatap helikopter di belakangku, lalu menatap senapan serbu modern yang kupegang. Dia tahu dia tidak dalam posisi untuk menolak. "Aku Harris. Masuklah sebelum makhluk-makhluk itu sadar kita punya tamu baru."
Kami berlari menuju bangunan beton. Di dalam, suasananya jauh lebih hangat namun penuh sesak. Ada sekitar tiga puluh orang di sana, duduk berhimpitan di antara tumpukan persediaan logistik. Bau keringat, sup kubis, dan obat-obatan memenuhi ruangan.
"Zidan, lihat mereka..." Kurumi berbisik, matanya berkaca-kaca melihat beberapa anak kecil yang meringkuk di sudut ruangan.
Aku mengabaikan tatapan iba Kurumi. Mataku justru fokus pada gudang makanan di pojok ruangan. Karung-karung beras, kaleng kornet, dan tumpukan kayu bakar. Bagus. Tempat ini punya sumber daya untuk bertahan hidup setidaknya satu bulan lagi jika dikelola dengan logika yang benar.
"Kalian datang di waktu yang salah, Zidan," kata Harris sambil menyerahkan secangkir air hangat padaku. "Zombi-zombi di luar sana... biasanya mereka diam saat badai salju. Tapi sejak dua hari lalu, mereka mulai berkumpul. Seolah-olah ada yang memimpin mereka."
"Pemimpin?" aku mengangkat alis. "Apa kalian melihat makhluk yang tidak berkulit dan merayap di dinding?"
"Maksudmu Crawler? Tidak. Yang kami lihat lebih buruk. Sesuatu yang berdiri di kejauhan, hanya memperhatikan. Dia tidak menyerang, tapi setiap kali dia muncul, zombi-zombi itu menjadi lebih agresif."
Logikaku berputar cepat. Jika benar ada 'pemimpin' atau varian baru yang memiliki kesadaran taktis, maka wilayah utara pun tidak lagi aman.
"Berapa banyak amunisi yang kalian punya?" tanyaku.
"Hanya sisa beberapa kotak peluru kaliber .12 dan sedikit peluru 5.56mm," jawab Harris lesu.
"Itu tidak cukup untuk menghalau serbuan besar," kataku. Aku menatap Kurumi yang sudah mulai membantu Dokter di sana menangani pasien. "Kurumi, siapkan peralatan medismu. Harris, kumpulkan semua pria yang bisa memegang senjata. Kita tidak akan menunggu mereka menyerang. Kita akan menyerang duluan sebelum badai salju berikutnya datang."
Harris tampak terkejut. "Menyerang? Di tengah malam seperti ini?"
"Kegelapan adalah teman mereka, tapi salju adalah musuh mereka. Metabolisme mereka melambat saat ini. Itu satu-satunya celah kita," jelasku dingin. "Pilihannya sederhana: menyerang sekarang dengan rencana, atau mati besok pagi saat mereka merubuhkan pintu ini."
Aku duduk di lantai, mulai membongkar HK416-ku untuk membersihkan sisa-sisa debu dari Markas Omega. Di dunia yang membeku ini, satu-satunya hal yang tetap hangat adalah laras senjata setelah memuntahkan peluru.
Kurumi mendekatiku, membawakan sepotong roti keras. "Kamu mau pergi lagi?"
"Aku harus memastikan investasi kita aman, Kurumi," kataku, merujuk pada komunitas ini sebagai sumber makanan. "Makanlah rotimu. Besok pagi, aku ingin melihatmu masih bernapas."
Kurumi mengangguk, dia sudah terbiasa dengan caraku bicara. Dia tahu di balik kata-kataku yang dingin, ada perhitungan untuk menjaga kami berdua tetap hidup.
Malam itu, di tengah badai salju yang mulai turun, aku mempersiapkan rencana penyerangan. Logika anti-naif-ku berkata bahwa kedamaian di Frost Peak hanyalah ilusi singkat. Dan aku adalah satu-satunya orang yang siap untuk menghancurkan ilusi itu demi kenyataan yang lebih keras: Bertahan hidup.
Catatan Penulis:
Chapter 18 membuka babak baru di wilayah salju. Zidan mulai mengambil alih komando di Frost Peak dengan logikanya yang keras. Namun, misteri 'pemimpin' zombi di luar sana menjadi ancaman baru yang belum pernah mereka hadapi. Apakah Zidan bisa memimpin komunitas ini bertahan? Jangan lupa Like, Favorit, dan Komentar kalian! Chapter 19 besok ya!