NovelToon NovelToon
Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng Kayu di Lorong Tikus

Malam kembali jatuh di atas Kota Ironforge, namun kali ini Yang Chen tidak berniat menghabiskannya untuk tidur atau meditasi statis.

Tubuh Zhao Wei yang baru saja ditempa dengan racun membutuhkan ujian kinetik. Urat-urat Kawat Perak (Silver Wire Tendons) yang kini tertanam di dalam lengan dan kaki Yang Chen berkedut-kedut gelisah, menuntut pelepasan energi ledakan.

Yang Chen berdiri di depan cermin perunggu di kamar tidur rumah sewaannya.

Yang Chen menatap pantulan dirinya. Wajah Yang Chen terlalu bersih, terlalu tampan, dan terlalu mudah dikenali sekarang. Jika Yang Chen ingin bertarung di dunia bawah tanah tanpa menarik perhatian musuh politik (seperti Pangeran Pertama atau Klan Lin), Yang Chen butuh wajah lain.

Yang Chen mengambil sebuah benda dari meja.

Itu adalah sebuah topeng kayu murah yang Yang Chen beli dari pedagang mainan di pinggir jalan sore tadi.

Topeng itu kasar, terbuat dari kayu balsa ringan yang dicat putih pucat dengan pola seringai merah sederhana di bagian mulut. Itu adalah topeng "Hantu Tertawa", mainan anak-anak yang biasa dipakai saat festival rakyat.

"Konyol," komentar Yang Chen datar.

Namun, kekonyolan adalah kamuflase terbaik. Tidak ada ahli bela diri yang mencurigai seseorang yang memakai mainan anak-anak.

Yang Chen memasang topeng itu ke wajahnya. Kayu kasar bergesekan dengan kulit pipi Yang Chen. Tali pengikatnya ditarik kencang di belakang kepala, menyatu dengan rambut hitam Yang Chen.

Di cermin, wajah tampan Yang Chen lenyap. Digantikan oleh wajah kayu putih yang menyeringai abadi. Hanya sepasang mata Yang Chen yang terlihat dari lubang mata topeng itu—sepasang mata hitam yang dingin dan tidak tertawa sama sekali.

Yang Chen mengenakan jubah hitam lamanya (yang sudah dicuci tapi tetap terlihat lusuh) di atas jubah bela diri biru Yang Chen. Jubah hitam itu berfungsi untuk menutupi postur tubuh dan menyembunyikan identitas ganda Yang Chen.

"Berangkat," kata Yang Chen.

Yang Chen melompat keluar dari jendela kamar, mendarat di halaman batu tanpa suara sedikitpun—bukti elastisitas tendon kaki Yang Chen yang luar biasa. Yang Chen melompati tembok pagar setinggi dua meter dengan satu sentakan ringan, lalu menghilang ke dalam kegelapan gang.

Tujuan Yang Chen adalah Distrik Tikus Tenggelam (Drowning Rat District).

Ini adalah area paling kumuh di Kota Ironforge, terletak di dataran rendah dekat saluran pembuangan utama kota. Di sini, hukum kerajaan tidak berlaku. Yang berlaku adalah hukum tinju dan uang suap.

Jalanan di sini becek, berbau limbah, dan gelap.

Yang Chen berjalan dengan langkah tenang melewati para pemabuk yang tidur di pinggir jalan dan pelacur kelas rendah yang menawarkan diri di sudut-sudut gelap. Beberapa pencopet mencoba mendekati Yang Chen, tapi naluri mereka segera memperingatkan bahaya saat melihat cara jalan Yang Chen yang stabil dan aura dingin yang menguar dari topeng hantu itu.

Yang Chen berhenti di depan sebuah Toko Daging Babi yang sudah tutup.

Di samping toko itu, ada sebuah pintu besi berkarat yang dijaga oleh dua orang raksasa botak. Mereka tidak memakai seragam penjaga kota, melainkan rompi kulit berduri khas preman bayaran.

Ini adalah pintu masuk ke Arena Bawah Tanah (The Pit).

Yang Chen mendekat.

"Tutup," geram salah satu penjaga, menghalangi jalan dengan lengan sebesar paha manusia. "Hanya anggota atau petaruh yang bawa undangan."

Yang Chen tidak menjawab. Yang Chen menyelipkan tangan ke balik jubah hitam.

Kedua penjaga itu tegang, tangan mereka meraba gagang kapak di pinggang.

Yang Chen mengeluarkan satu keping perak.

Yang Chen menjentikkan koin itu dengan ibu jari.

Ting.

Koin perak itu melayang di udara, berputar, lalu ditangkap oleh penjaga itu.

"Tiket masuk," suara Yang Chen terdengar teredam dan bergema di balik topeng kayu.

Penjaga itu menggigit koin perak tersebut untuk memastikan keasliannya. Asli.

"Masuklah, Hantu Kecil," kata penjaga itu sambil menyeringai meremehkan, menggeser tubuhnya minggir. "Tapi jangan menangis kalau kau kehilangan celanamu di meja judi."

Yang Chen melangkah melewati pintu besi itu.

Di balik pintu, ada tangga batu curam yang mengarah ke bawah tanah.

Begitu Yang Chen menuruni anak tangga pertama, gelombang suara langsung menghantam telinga Yang Chen.

ROAAARRR!

Teriakan ratusan laki-laki. Makian. Sorak-sorai.

Dan bau itu...

Bau keringat basi, arak murah, asap rokok linting, dan bau logam yang sangat spesifik: Darah segar.

Yang Chen sampai di dasar tangga.

Pemandangan di depan mata Yang Chen adalah sebuah aula bawah tanah raksasa yang diterangi oleh ratusan obor dinding. Asap obor membuat udara berkabut dan menyesakkan.

Di tengah aula, terdapat sebuah lubang besar sedalam tiga meter yang dikelilingi pagar besi runcing. Itu adalah The Pit—kandang pertarungan.

Di dalam kandang, dua orang pria sedang saling bunuh.

Satu petarung menggunakan gada besi, satu lagi menggunakan tangan kosong dengan kuku besi (claw). Lantai kandang itu pasir, tapi pasirnya sudah berubah warna menjadi merah gelap karena terlalu banyak menyerap darah.

Yang Chen berdiri di pinggiran balkon atas, menatap ke bawah.

Di bawah sana, petarung bergada mengayunkan senjatanya. BAM! Petarung berkuku besi menghindar, gada itu menghantam lantai pasir. Petarung berkuku besi melompat, mencakar wajah lawannya. Darah muncrat. Penonton bersorak gila.

Mata Yang Chen tidak melihat kekerasan itu sebagai hiburan.

Yang Chen menganalisis dampaknya.

"Kekuatan fisik rata-rata Tingkat 3 Menengah," analisis Yang Chen. "Gaya bertarung kasar. Banyak celah. Tapi niat membunuhnya asli."

Yang Chen melihat seorang petarung yang terkena pukulan di rusuk. Tulang rusuk petarung itu patah, tapi dia masih terus maju menyerang.

"Itu yang kubutuhkan," batin Yang Chen. "Tekanan. Rasa sakit. Benturan tulang."

Yang Chen tidak butuh menang dengan cantik. Yang Chen butuh dipukul—dengan cara yang terkontrol—agar tulang Yang Chen retak sedikit demi sedikit dan tumbuh kembali lebih padat (Bone Forging).

Yang Chen berjalan menjauhi balkon penonton, menuju sebuah loket berjeruji besi di sudut ruangan yang suram. Di atas loket itu tertulis kasar dengan cat merah: "PENDAFTARAN PETARUNG / PENGAMBILAN MAYAT".

Yang Chen mengetuk meja kayu loket itu.

Di balik jeruji, seorang pria tua kurus dengan bekas luka bakar menutupi separuh wajahnya sedang menghitung tumpukan koin tembaga. Si Pencatat itu mendongak, menatap topeng hantu Yang Chen dengan mata bosan.

"Mau bertaruh?" tanya Si Pencatat serak.

"Mau mendaftar," jawab Yang Chen singkat.

Si Pencatat berhenti menghitung. Pria tua itu menyipitkan mata, menatap postur tubuh Yang Chen yang terbungkus jubah.

"Kau?" Si Pencatat tertawa mengejek, suara tawanya seperti suara kertas diamplas. "Nak, ini bukan panggung sandiwara topeng. Di sini orang mati sungguhan. Lihat tubuhmu. Kau kurus. Kau akan dipatahkan jadi dua dalam sepuluh detik."

"Apakah ada syarat berat badan?" tanya Yang Chen tenang.

"Tidak ada," jawab Si Pencatat. "Syaratnya cuma satu: Tanda tangan kontrak kematian. Kalau kau mati, mayatmu jadi milik arena untuk dijual ke ahli bedah atau dibuang ke sungai. Kami tidak tanggung biaya penguburan."

Si Pencatat melemparkan selembar kertas kuning kusam dan sebuah kuas kering ke depan Yang Chen.

"Nama?" tanya Si Pencatat, kuasnya melayang di atas buku besar pendaftaran.

Yang Chen berpikir sejenak. Yang Chen tidak bisa menggunakan nama "Chen". Itu nama untuk bisnis obat. Di sini, Yang Chen butuh nama untuk pembantaian.

Yang Chen teringat topeng kayu yang dipakainya. Hantu yang tertawa.

"Yasha," kata Yang Chen. (Yasha adalah iblis ganas dalam mitologi).

"Yasha..." Si Pencatat menulis nama itu dengan tulisan cakar ayam. "Oke, Yasha. Kau masuk kategori Pemula. Bayaranmu 50 perak per kemenangan. Kalau kau mati, kami ambil jubah dan topengmu."

Si Pencatat menyodorkan sebuah pelat nomor kayu kecil. Nomor 88.

"Tunggu di Ruang Tunggu Petarung di sebelah sana. Giliranmu tiga pertandingan lagi. Lawanmu diundi acak."

Yang Chen mengambil pelat nomor itu.

"Satu pertanyaan," kata Yang Chen sebelum pergi. "Apakah aku boleh membunuh lawan?"

Si Pencatat menatap lubang mata topeng Yang Chen. Pria tua itu merasakan hawa dingin yang aneh. Bocah kurus ini... bicaranya terlalu tenang untuk seorang pemula.

"Boleh," jawab Si Pencatat, menyeringai sadis. "Penonton suka melihat kematian. Kalau kau bisa membunuh dengan cara yang sadis, kami kasih bonus."

Yang Chen mengangguk sekali.

Yang Chen berbalik dan berjalan menuju pintu besi berat yang dijaga ketat—pintu menuju Ruang Tunggu Petarung.

Di balik pintu itu, belasan petarung buas sedang menunggu giliran mereka. Ada yang sedang mengasah kapak, ada yang sedang membalut luka, ada yang sedang memukul-mukul dinding untuk memompa adrenalin.

Saat Yang Chen masuk dengan topeng hantu mainan dan tubuh yang terlihat kecil, semua mata di ruangan itu tertuju pada Yang Chen.

Tatapan mereka adalah tatapan serigala melihat domba yang tersesat.

"Hei, lihat," celetuk seorang petarung bertubuh raksasa dengan tato tengkorak di dada. "Ada badut masuk. Apa kau tersesat dari sirkus, Hantu Kecil?"

Para petarung lain tertawa terbahak-bahak.

Yang Chen tidak merespons. Yang Chen berjalan tenang ke sudut ruangan yang paling gelap, duduk bersila di lantai dingin, dan memejamkan mata di balik topeng.

Yang Chen mengabaikan ejekan mereka. Di mata Sang Mantan Kaisar, mereka bukanlah manusia. Mereka hanyalah palu-palu daging yang akan digunakan Yang Chen untuk menempa tulang Yang Chen malam ini.

"Semoga kalian memukul dengan keras," batin Yang Chen. "Jangan kecewakan aku."

1
saniscara patriawuha.
sikattttt sudahhhhhh...
saniscara patriawuha.
serapppppp kabehhhhh
saniscara patriawuha.
bantaiiii sudahhhhh.....
saniscara patriawuha.
gasssss polllll jangan ada yg di tahan tahan,,, loshkeunnnn...
saniscara patriawuha.
gassssss deuiij manggg chennnn....
Bambang Slamet
luar biasa mantab menarik
saniscara patriawuha.
sikatttttt dannn cabik cabikkk....
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnn manggg otorrrr
saniscara patriawuha.
lanjottttt keunnnnn...
saniscara patriawuha.
gassdddd polllll...
Jojo Shua
👍💪
Jojo Shua
🔥👍
Jojo Shua
🔥
saniscara patriawuha.
mantapppppp mang yangggg....
Jojo Shua
🔥
saniscara patriawuha.
gasssdd deuiiiii manggg yanggggg....
Jojo Shua
🔥
saniscara patriawuha.
gasssdd polll manggg chennn
saniscara patriawuha.
mantapllppp......
Jojo Shua
🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!