Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Cinta Pertama
"Satu debar di dada yang tak pernah kuminta, namun datang membawa badai yang memporak-porandakan seluruh akal sehatku. Semalam aku bertanya pada rembulan, inikah yang dinamakan jatuh cinta? Atau ini sekadar hukuman karena aku terlalu lama hidup dalam zona nyaman?" (Buku Harian Keyla, Halaman 3)
Malam setelah hari pertama sekolah itu terasa sangat panjang. Aku menghabiskan berjam-jam hanya dengan menatap langit-langit kamar yang gelap, mendengarkan detak jam dinding yang seakan menertawakan kebodohanku. Berulang kali aku memejamkan mata, berusaha memanggil kantuk yang biasanya begitu mudah datang. Namun, setiap kali kelopak mataku terkatup, yang muncul justru sepasang mata segelap malam milik laki-laki itu. Mata Rendi.
Aku berguling ke kiri, memeluk gulingku erat-erat. Jantungku kembali berdebar dengan ritme yang tidak wajar. Mengapa mengingat tatapan kosongnya saja membuat napasku terasa sesak? Ada ngilu yang aneh merambat di dadaku. Bukan ngilu karena sakit fisik, melainkan sebuah empati dan kerinduan magis pada seseorang yang bahkan tidak kukenal.
"Aku mencoba menghapus wajahmu dari ingatanku, tapi ternyata kau sudah terlanjur mengukir namamu di dinding hatiku dengan sebilah es yang tajam." (Buku Harian Keyla, Halaman 4)
Pagi harinya, aku berangkat ke sekolah dengan kantung mata yang sedikit menghitam. Cermin di kamarku menjadi saksi betapa berantakannya pikiranku hari ini. Aku tidak fokus saat sarapan, dan hampir saja memakai kaus kaki dengan warna yang berbeda jika Ibu tidak menegurku.
Saat bel istirahat pertama berbunyi, kelasku langsung riuh. Anak-anak berhamburan menuju kantin seperti kawanan burung yang terlepas dari sangkarnya. Aku masih duduk diam di bungkuku, mencoret-coret bagian belakang buku tulisku dengan asal. Dari sudut mataku, aku melihat Rendi bangkit dari kursinya di pojok belakang. Seperti kemarin, ia berjalan menunduk, melewati lautan siswa dengan langkah tanpa suara, seolah ia adalah hantu yang tak kasat mata.
"Woi, ngelamun aja lo, Neng!"
Tepukan keras Bella di pundakku membuatku tersentak hingga pulpenku mencoret garis panjang di atas kertas. Gadis berambut sebahu itu sudah berdiri di samping mejaku dengan cengiran khasnya, memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Kantin yuk! Perut gue udah demo nuntut hak asasi makanan nih," rajuk Bella sambil menarik-narik lenganku.
Lidya muncul dari balik pintu kelas, menenteng dua kotak susu cokelat. Ia melemparkan satu kotak kepadaku yang langsung kutangkap dengan refleks seadanya. "Tuh, minum dulu biar lo nggak pucat-pucat amat, Key. Muka lo kayak orang belum dikasih makan tiga hari," komentar Lidya, sebelum ia menyedot susu cokelatnya sendiri dengan nikmat.
Siska menyusul di belakang Lidya, mengapit sebuah novel terjemahan di dadanya. Ia membetulkan letak kacamatanya dan tersenyum tipis padaku. "Keyla kurang tidur ya? Matanya agak bengkak."
Aku mengusap mataku gugup. "Eh, iya nih. Semalem ngerjain tugas biologi," bohongku. Tentu saja tidak ada tugas biologi di hari pertama sekolah. Tapi syukurlah, tidak ada dari mereka yang menyadarinya.
Kami berempat berjalan beriringan menuju kantin sekolah yang sudah padat merayap. Aroma kaldu bakso, bumbu siomay, dan es sirup bercampur baur di udara. Lidya dengan sigap menerobos kerumunan untuk memesan empat porsi batagor, sementara Bella, Siska, dan aku mencari meja kosong. Kami berhasil mengamankan meja panjang di dekat jendela besar yang mengarah ke lapangan basket.
Sembari menunggu makanan, Bella mulai berceloteh tentang kakak kelas dari ekskul basket yang menurutnya sangat tampan. "Sumpah ya, Kak Dimas pas lagi dribble bola itu... wush! Keringatnya itu lho, berkilau kena matahari, kayak berlian!" celoteh Bella dengan mata berbinar-binar.
Lidya yang baru saja datang membawa nampan berisi empat piring batagor langsung menyela. "Berlian mata lo. Keringet ketek mah tetep aja bau asem, Bel. Realistis dikit napa jadi cewek. Makanya makan nih batagor, biar halu lo agak berkurang."
Kami tertawa. Aku mengaduk-aduk bumbu kacang di piring batagorku dengan lesu. Tawa mereka terdengar riang, tapi entah kenapa, telingaku seolah tuli. Mataku bergerak gelisah, memindai sekeliling kantin yang luas ini, mencari sesosok jaket kebesaran dan bahu yang selalu melengkung lelah.
Hingga akhirnya, tatapanku terkunci pada satu titik.
Di sudut kantin yang paling gelap, jauh dari kipas angin dan keramaian, duduklah Rendi. Ia sendirian. Di depannya hanya ada sebuah roti tawar kemasan ribuan dan segelas air putih gratis yang biasanya disediakan ibu kantin di teko plastik. Ia makan dalam diam. Menggigit roti itu seolah ia sedang mengunyah beban hidup, bukan makanan. Wajahnya sedatar tripleks, tatapannya kosong menembus tembok di depannya. Tidak ada gairah masa muda di sana. Tidak ada senyum.
"Aku berada di keramaian yang tertawa, sementara kau tenggelam dalam sepi yang menyiksa. Ingin rasanya aku menarikmu ke duniaku, atau biarkan aku yang terjun ke duniamu agar kau tak sendirian." (Buku Harian Keyla, Halaman 6)
Aku mendesah pelan. Tanpa kusadari, aku meletakkan garpuku ke piring.
"Gue nggak nyangka, ternyata rasanya bakal sebingung ini," gumamku pelan, lebih kepada diriku sendiri. Namun suaraku ternyata cukup keras untuk menghentikan obrolan di meja kami.
Bella yang sedang asyik meminum es tehnya langsung berhenti. Lidya menahan suapan batagornya di udara. Siska perlahan menutup novelnya dan menatapku lekat-lekat.
"Apanya yang bingung, Key?" tanya Siska pelan. Suaranya lembut, tapi matanya yang berada di balik lensa tebal itu menatapku dengan tatapan menguliti yang anehnya membuatku merinding kecil.
Aku menelan ludah. Tanganku meremas ujung rok seragamku di bawah meja. Sudah bertahun-tahun kami bersahabat. Aku tidak pernah menyembunyikan apa pun dari mereka. Selama ini, aku selalu menjadi Keyla yang penurut, yang tidak pernah neko-neko soal laki-laki. Jika ada laki-laki yang mendekat, aku hanya menganggapnya teman. Tapi kali ini... rasanya berbeda.
"Aku... aku rasa aku lagi suka sama seseorang," kataku akhirnya. Suaraku nyaris seperti cicitan tikus, tapi efeknya di meja itu seperti bom atom yang baru saja dijatuhkan.
Bella terbatuk hebat sampai wajah imutnya memerah. Lidya segera menyodorkan tisu padanya dengan mata terbelalak. Siska terdiam, tubuhnya kaku sejenak sebelum ia kembali menyunggingkan senyum simpulnya.
"Sumpah?! Keyla yang lugu, suci, dan tak tersentuh ini akhirnya falling in love?!" jerit Bella heboh, sama sekali tidak mempedulikan tatapan beberapa siswa dari meja sebelah. "Siapa, Key?! Kakak kelas? Anak ekskul? Atau cowok dari sekolah sebelah yang kita temuin pas pensi kemarin?!"
Aku menggeleng pelan, menggigit bibir bawahku ragu. Aku menatap mereka bergantian. Lidya menatapku dengan alis terangkat, menanti jawabanku dengan tenang.
"Satu kelas sama kita," cicitku.
Bella dan Lidya langsung saling pandang. Mereka memindai ingatan mereka tentang daftar anak laki-laki di kelas XII-IPA 1.
"Doni? Nggak mungkin, dia cerewet banget," tebak Lidya. "Reza? Dih, buaya darat itu mah."
"Kasih tau aja dong, Key! Bikin jantungan deh!" paksa Bella tidak sabar.
Aku menarik napas panjang. Aku menoleh kembali ke sudut kantin itu. Telunjukku perlahan terangkat, menunjuk ke arah laki-laki yang sedang membersihkan sisa remah roti di sudut bibirnya.
"Rendi."
Satu nama. Dua suku kata. Lima huruf. Tapi dampaknya membuat meja kami mendadak hening seketika. Seolah ada malaikat pencabut nyawa yang baru saja lewat.
Bella mengerjap-ngerjapkan matanya, melihat ke arah yang kutunjuk, lalu kembali melihat padaku. "R-Rendi? Rendi si kulkas dua pintu yang nggak dicolok listrik itu? Lo... lo sehat kan, Key? Lo nggak kesambet penunggu pohon beringin depan gerbang kan tadi pagi?"
"Bella," tegur Lidya dengan nada peringatan. Lidya meletakkan sendoknya, menatapku dengan sorot mata yang tiba-tiba berubah serius. "Lo serius, Key? Gue nggak ngelarang lo suka sama siapa pun. Lo berhak milih. Tapi Rendi? Orang se-sekolah juga tau kalau Rendi itu ibarat batu karang. Dideketin hancur, ditinggalin tetep diam. Dia nggak pernah ngomong sama cewek mana pun. Lo tau kan rumornya? Dia itu nolak mentah-mentah si Deandra, cewek paling cantik seangkatan kita."
Kata-kata Lidya menghantamku, tapi aku sudah memikirkan semua itu semalaman suntuk. "Aku tau, Lid. Tapi aku nggak bisa ngendaliin ini. Waktu mata kami ketemu kemaren... rasanya ada sesuatu yang beda. Dia kayak nyimpen luka yang besar banget, dan entah kenapa, aku pengen banget ngehapus luka itu."
Di sebelahku, terdengar suara helaan napas yang sangat halus. Aku menoleh dan melihat Siska sedang membetulkan letak kacamatanya dengan telunjuk. Senyum di bibirnya terlihat... aneh. Bukan senyum mendukung, bukan juga senyum mengejek, melainkan senyum seseorang yang sedang merencanakan sesuatu. Tapi tentu saja, saat itu kepolosanku mengabaikan tanda bahaya tersebut.
"Mungkin kamu cuma kasihan aja kali, Key," ucap Siska dengan nada yang sangat lembut, seolah ia adalah penasihat paling bijak di dunia. "Cinta sama simpati itu beda tipis lho. Rendi itu... maaf ya, beda dunia sama kita. Kita punya keluarga yang utuh, kita punya segalanya. Sedangkan dia? Dia cuma cowok miskin yang masa depannya nggak jelas. Kalau kamu deketin dia, yang ada kamu cuma nurunin level kamu, Key. Nanti kamu malah dijauhin temen-temen yang lain."
Aku tersentak mendengar ucapan Siska. Selama ini Siska tidak pernah berbicara kasar, tapi kata-katanya barusan terasa sangat tajam meski dibungkus dengan nada yang sangat halus.
"Siska bener, Key," sahut Bella tiba-tiba, yang biasanya tidak pernah setuju dengan pemikiran logis Siska. "Gue dukung lo sama siapa aja, tapi kalau sama Rendi, gue takut lo sakit hati. Lo terlalu baik buat cowok berhati batu kayak dia."
"Aku nggak peduli soal level, Sis," potongku tegas. Aku tidak suka mendengar mereka menghakimi Rendi dari luar. "Aku belum deketin dia, kok. Aku cuma ngasih tau kalian perasaanku. Karena kalian sahabatku."
Lidya menghela napas panjang, lalu menepuk pelan punggung tanganku. "Yaudah. Kalau emang lo ngerasa dia cinta pertama lo, jalanin aja, Key. Kami bakal tetep di sini. Tapi inget kata gue, siapin mental lo. Mencintai gunung es itu berarti lo harus siap kedinginan setiap saat."
Aku mengangguk pelan. Bersamaan dengan itu, bel tanda masuk berbunyi. Siswa-siswa mulai beranjak dari meja kantin. Aku menoleh lagi ke sudut ruangan.
Rendi berdiri. Ia membuang bungkus plastiknya ke tempat sampah, membenarkan letak kerah seragamnya yang lusuh, lalu berjalan menuju pintu keluar kantin. Di saat ia berjalan melintasi deretan meja, beberapa siswa laki-laki dari kelas lain tampak menyenggol bahunya dengan sengaja, bermaksud memancing keributan.
Rendi sedikit terhuyung, namun ia tidak marah. Ia tidak membalas. Ia bahkan tidak melihat wajah orang-orang yang mengganggunya. Ia hanya menunduk dalam diam, memperbaiki langkahnya, dan meneruskan perjalanannya menembus keramaian seolah-olah tak terjadi apa-apa. Ada kepasrahan yang menyakitkan dari cara berjalannya. Kepasrahan seseorang yang sudah terlalu lelah bertarung melawan dunia.
Melihat adegan itu, setitik air mata menggenang di pelupuk mataku. Dadaku terasa bagai diremas dengan kuat.
"Hari itu, untuk pertama kalinya aku menyadari betapa kejamnya cinta. Ia memilih berlabuh pada hati yang paling hancur, memaksaku untuk memunguti kepingan-kepingan tajamnya, tanpa peduli bahwa tanganku sendirilah yang akan berdarah." (Buku Harian Keyla, Halaman 8)
Kami berempat berdiri. Siska berjalan lebih dulu di depanku, langkahnya sangat tenang. Aku tak menyadari bahwa di balik punggung itu, Siska menyembunyikan sebuah raut wajah yang menggelap. Obsesi dan rasa iri mulai merambat pelan di hatinya yang kelam. Siska, si kutu buku yang diam-diam membenci sorotan yang selalu kudapatkan, telah menemukan satu kelemahanku. Dan tanpa aku ketahui, sejak detik itu, ia mulai merajut jaring-jaring pengkhianatan yang akan menjeratku hingga nyaris mati.
Namun di hari itu, di siang yang terasa terik itu, aku hanya seorang gadis bodoh yang sedang mabuk kepayang. Aku menatap punggung Rendi yang semakin menjauh di ujung koridor. Dalam hati, aku membisikkan sebuah janji yang akan kusesali dan kusyukuri di waktu yang bersamaan.
"Tunggu aku, Rendi. Akan kucairkan es di hatimu, meski aku harus membeku bersamamu."
semangat ya kak
so happy next cerita mereka dah dewasa
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik