Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Konsultan Proyek dan Pelarian
Langkah Handoko Danadyaksa terhenti tepat di hadapan kami. Udara di sekitarku mendadak terasa membeku.
Pria paruh baya itu memindaiku perlahan. Matanya yang tajam dan tak berbelas kasihan bergerak dari ujung sepatu heels-ku, merambat naik ke slip dress sutraku, hingga akhirnya berhenti tepat di mataku. Tidak ada senyum, tidak ada anggukan sopan. Tatapan itu seolah sedang menilai barang rongsokan yang salah masuk ke dalam etalase butik mewah. Hanya ada arogansi kental yang membuat napasku tertahan.
Tiba-tiba, kurasakan tangan Arka yang berada di pinggang belakangku mendadak mengeras. Jemarinya mencengkeram kain gaunku sedikit lebih kuat hingga nyaris menyentuh kulit punggungku.
Dia tegang, batinku menyadari. Cengkeraman ini bukan sekadar posesif... ini adalah reaksi refleks seorang anak yang bersiap menahan pukulan dari ayahnya.
"Malam, Pa," sapa Arka memecah keheningan.
Suara Arka terdengar sedingin bongkahan es. Sangat jauh berbeda dengan nada santai dan diplomatisnya saat berbicara dengan kolega-kolega lain beberapa menit yang lalu.
"Arka," balas Handoko pendek. Pandangan pria tua itu sama sekali tidak beralih dariku. "Papa tidak ingat pernah menyuruh staf PR untuk menyewa entertainer tambahan ke acara internal keluarga kita. Siapa perempuan ini? Kenapa kamu tidak membawa Clara seperti yang Papa minta?"
Entertainer?.
Telingaku berdenging keras. Kata itu diucapkan dengan volume yang sangat pelan, sangat tenang, namun efeknya seperti lambungku baru saja ditendang dengan sepatu besi.
Entertainer. Pendamping bayaran. Pelacur kelas atas. Terserah apa pun sinonim di kepala pria tua ini, satu kata itu sukses menelanjangiku dan menguliti harga diriku di tengah keramaian ballroom yang gemerlap ini. Clara. Tentu saja. Nama itu lagi-lagi muncul sebagai standar emas yang tidak akan pernah bisa kucapai.
Wajahku pasti sudah pucat pasi. Aku ingin menunduk, ingin menghilang, atau berlari keluar dari ruangan berengsek ini, tapi kakiku seolah dipaku ke lantai marmer.
Tepat saat aku hampir hancur oleh rasa maluku sendiri, Arka memajukan tubuhnya setengah langkah. Ia secara sengaja memosisikan bahu lebarnya sebagai tameng di depanku, memutus kontak mata antara aku dan ayahnya. Aku bisa melihat otot rahang Arka mengerat kaku, menahan amarah yang rasanya siap meledak dan menghancurkan chandelier di atas kami.
"Jaga ucapan Papa," desis Arka tajam dan berbisa, sama sekali tidak mempedulikan beberapa pasang mata direktur lain yang mulai mencuri pandang ke arah perdebatan kecil ini. "Senja bukan entertainer atau pendamping bayaran siapa pun."
Arka kemudian menarikku kembali ke sampingnya. Cengkeramannya di pinggangku memberiku kekuatan untuk tetap berdiri tegak. Ia mengangkat dagunya tinggi-tinggi menantang ayahnya.
"Perkenalkan, ini Senja," suara Arka kini jauh lebih lantang. "Dia adalah Heritage Consultant utama untuk proyek mall terbaru kita di kawasan selatan. Semua ide integrasi budaya dan arsitektur vintage yang kemarin dipuji habis-habisan oleh calon investor Jepang kita, adalah hasil pemikiran murni dari Senja. Dia adalah partner vital di proyek saya, Pa."
Aku membelalakkan mata, menatap sisi wajah Arka dengan raut tak percaya.
Heritage Consultant?! Ya Tuhan, Arka! Otakmu korslet ya?! ,jerit batinku panik.
Arka baru saja menaikkan derajatku dari seorang tukang seduh kopi kelilit utang listrik, menjadi seorang konsultan proyek triliunan rupiah dalam hitungan detik! Dan pria sinting ini mengucapkannya dengan penuh keyakinan, tanpa berkedip atau bergetar sedikit pun.
Handoko menyipitkan matanya. Ia menatap Arka, lalu menatapku lagi. Pria tua ini jelas tahu siapa aku sebenarnya perempuan pemilik warung kopi sialan yang membuat proyek kebanggaan anaknya membengkak miliaran rupiah.
Aku bersiap menerima bentakan atau hinaan lanjutan. Namun, di luar dugaanku, Handoko tidak meledak. Di tengah keramaian ballroom yang dipenuhi jurnalis dan investor asing ini, Handoko sadar ia tidak bisa membuat keributan. Pria tua itu terpaksa menelan pil pahit. Ia kalah dalam permainan citra publik yang dimainkan putranya sendiri.
"Oh, begitu rupanya," Handoko tersenyum sinis. Sebuah senyuman paksa yang mengerikan dan tidak mencapai matanya. "Senang bertemu dengan Anda, Nona Konsultan. Mari kita lihat sejauh mana ide-ide 'cemerlang' Anda bisa menghasilkan keuntungan nyata untuk perusahaan ini. Permisi."
Handoko berbalik dan melangkah pergi, bergabung dengan jajaran komisaris di meja bundar utama seolah tidak terjadi apa-apa.
Begitu punggung ayahnya menjauh dan menghilang di balik kerumunan, bahu Arka langsung merosot. Ketegangan yang tadi membalut tubuhnya seolah menguap. Ia buru-buru menoleh ke arahku dengan wajah dipenuhi rasa bersalah yang amat sangat.
"Sori. Sori banget, Nja, bokap gue ngomong gitu. Lo... lo nggak apa-apa?" tanyanya cemas, tangannya meraba lenganku.
Aku menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-paruku yang sedari tadi kekurangan oksigen. Tanganku gemetar pelan, tapi aku berusaha memaksakan sebuah senyuman. Kepalaku mendadak pusing oleh bau parfum menyengat di sekeliling kami dan terang benderangnya lampu kristal. Udara di ruangan ini terasa beracun, mencekik leherku pelan-pelan.
"Gue nggak apa-apa," bohongku dengan suara parau. "Cuma... gue ngerasa salah tempat banget ada di sini, Ka. Tempat ini... bukan dunia gue."
Arka terdiam menatap wajahku yang memucat. Ia tidak membantah. Ia tahu persis perasaan itu. Perasaan terasingkan di tengah keramaian yang penuh kepalsuan. Perasaan di mana kau harus terus tersenyum pada orang-orang yang diam-diam ingin menghancurkanmu.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Arka melepaskan tangannya dari pinggangku, dan perlahan turun mencari tanganku. Jemarinya yang besar menyusup di antara jari-jariku, menautkannya dengan sangat kuat. Genggaman yang seolah berkata: Aku ada di sini.
"Ayo," ajak Arka pelan.
Aku mengerutkan kening. "Ayo ke mana? Acaranya kan belum kelar. Pidato direksi aja belum mulai, Ka. Lo kan direktur utamanya."
"Bodo amat sama pidato direksi. Gue juga udah muak ada di sini."
Arka menarik tanganku dengan lembut namun tegas. Ia memutar tubuhnya, membelah kerumunan orang-orang berjas dan gaun malam itu, berjalan lurus menuju pintu keluar utama. Sesekali ada rekan bisnis yang memanggil nama Arka"Pak Arka! Mau ke mana?"namun pria itu pura-pura tuli.
Kami kabur. Kenyataan itu membuat adrenalin di darahku berdesir. Kami benar-benar melarikan diri dari sangkar emas raksasa ini, meninggalkan ekspektasi, arogansi, dan semua kepalsuan di belakang.
Begitu pintu kayu ballroom tertutup di belakang kami, suara bising dan alunan musik orkestra seketika teredam. Arka tidak berhenti berjalan, ia terus menarikku sampai kami masuk ke dalam lift khusus VIP dan turun langsung ke area basement parkir.
Sepuluh menit kemudian, BMW hitam Arka sudah melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang di malam hari.
Arka menekan tombol, membiarkan kaca jendela mobil terbuka setengah. Angin malam yang dingin dan sedikit berbau knalpot menerpa wajah kami berdua. Angin itu merusak tatanan rambut mahalku, tapi aku sama sekali tidak peduli. Angin itu menyapu bersih aroma kemunafikan dari gedung tadi, dan untuk pertama kalinya malam ini, aku bisa bernapas dengan lega.
"Kita mau ke mana?" tanyaku sambil menyandarkan kepala ke jok mobil. Beban di dadaku seolah menguap terbawa angin.
Arka melirik ke arahku. Senyum usil yang sangat kukenal kembali menghiasi wajahnya. Ia tidak lagi terlihat seperti direktur kaku yang siap bertarung, melainkan Arka yang biasa menemaniku di kedai.
"Gue laper banget, sumpah. Makanan di sana cuma canapé secuil seukuran jempol yang nggak bikin kenyang," keluh Arka sambil mengusap perutnya. "Lo tahu tempat jualan nasi gila atau sate taichan yang bumbunya nendang nggak di daerah sini?"
Aku melongo. Aku menatap penampilanku sendiri yang memakai slip dress sutra dan heels tinggi, lalu menatap Arka yang memakai tuksedo hitam seharga puluhan juta.
"Lo... lo serius mau makan di pinggir jalan pakai baju ginian?!" tanyaku tak percaya.
"Sangat serius," jawab Arka santai sambil menekan pedal gas lebih dalam. Tawanya tiba-tiba meledak, menular dengan cepat kepadaku hingga perutku nyaris kram karena ikut tertawa.
Malam itu, di bawah temaram lampu jalanan ibu kota yang kekuningan, pemandangan absurd terjadi. Sepasang manusia dengan pakaian layaknya pangeran dan putri kerajaan dari negeri antah-berantah, duduk berhadapan di atas kursi plastik merah di bawah tenda pecel lele pinggir jalan.
Kami makan dengan lahap menggunakan tangan kosong, kepedasan sambal bawang, dan menertawakan segala kekonyolan dunia korporat yang baru saja kami tinggalkan.
Saat melihat Arka yang sedang menyeka keringat pedas di dahinya dengan tisu murah, sambil tersenyum lepas ke arahku, aku menyadari satu hal yang takkan pernah kulupakan seumur hidup. Terkadang, tempat paling mewah bukanlah ballroom bintang lima bertabur kristal, melainkan di mana pun... asalkan kau bisa tertawa jujur tanpa perlu mengenakan topeng.
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍