NovelToon NovelToon
SANG PENARI RANJANG BAGASKARA

SANG PENARI RANJANG BAGASKARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lemari Kertas

Di tengah gemerlap Jakarta yang kontras, Nara Indira (25) menjalani kehidupan ganda yang berbahaya. Di bawah cahaya aula megah, ia adalah penari tradisional yang agung, namun di kegelapan Club Black Rose, ia bertransformasi menjadi penari erotis demi membiayai pengobatan kanker darah ibunya. Nara adalah wanita yang dingin, efisien, dan sangat menjaga harga dirinya di tengah profesi yang dianggap nista oleh dunia.
Takdir mempertemukannya dengan Bagaskara, CEO muda dari Prawijaya Group yang baru saja melangsungkan pertunangan bisnis dengan Sinta Mahadewi. Pertemuan tak sengaja di klub malam memicu obsesi gelap dalam diri Bagaskara. Terpesona oleh misteri dan ketegasan Nara, Bagaskara menawarkan harta demi satu malam bersama, sebuah tawaran yang ditolak mentah-mentah oleh Nara meski ia sedang terhimpit kebutuhan medis yang mendesak.
Konflik memuncak saat rahasia Nara mulai terancam dan Sinta menyadari perhatian tunangannya terbagi. Di antara perbedaan status sosial yang jurang dan tekanan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lemari Kertas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Puing-Puing Ambisi dan Kesunyian yang Mencekam

Lampu kristal di ruang tamu kediaman Prawijaya berpendar mewah, namun bagi Sinta, cahaya itu terasa menusuk mata. Ia masih berdiri mematung di tempat yang sama sejak Bagas menghentakkan kakinya keluar dari rumah. Napasnya memburu, dadanya sesak oleh campuran antara amarah yang meluap dan ketakutan yang mulai menjalar seperti racun.

"Kurang ajar!" Sinta berteriak. "Kenapa? Kenapa dia justru membela jalang itu di depan Tante?!"

Nyonya Prawijaya, yang baru saja mencoba mengatur napasnya yang tidak teratur, menatap Sinta dengan tatapan dingin. Amarah putranya tadi telah meninggalkan luka pada harga dirinya sebagai seorang ibu, tapi teriakan Sinta justru membuatnya semakin pening.

"Diamlah, Sinta. Teriak-teriak tidak akan membawa Bagas kembali ke ruangan ini," ujar Nyonya Prawijaya dengan suara yang ditekan.

"Tapi Tante lihat sendiri kan? Bagas sudah gila! Dia mengancam kita demi wanita yang menjual diri di klub malam! Dia rela membuang nama Prawijaya!" Sinta mendekat ke arah Nyonya Prawijaya, matanya liar.

"Tante, kita tidak bisa membiarkan ini. Bagas adalah aset. Dia adalah wajah dari Prawijaya Group. Jika dia benar-benar nekat pergi dan membawa wanita itu ke permukaan, kita semua akan hancur!"

Sinta merasa dunianya goyah. Baginya, Bagas bukan sekadar pria yang ia cintai dengan obsesif; Bagas adalah simbol kesuksesan tertinggi. Pria dengan otak cemerlang yang mampu melipatgandakan nilai saham perusahaan hanya dengan satu kebijakan strategis. Bagas adalah panggung kemewahan yang ingin ia kuasai selamanya. Kehilangan Bagas berarti kehilangan segalanya.

"Aku tahu siapa anakku, Sinta," potong Nyonya Prawijaya tajam. Ia berdiri, merapikan gaun sutranya yang sebenarnya tidak kusut sama sekali. "Bagas sedang tersihir oleh drama kemiskinan gadis itu. Dia merasa menjadi pahlawan. Tapi jangan salah paham, aku tidak membela Nara. Bagiku, dia tetap sampah yang harus dibuang."

"Lalu kenapa Tante diam saja saat Bagas mengancam tadi?"

"Karena menantang api yang sedang berkobar hanya akan membuat kita terbakar," Nyonya Prawijaya menatap ke arah pintu keluar dengan pandangan kosong namun keras. "Tapi dengar ini, Sinta. Prioritasku sekarang bukan lagi menjodohkanmu dengan Bagas. Jika kehadiranmu justru memicu Bagas untuk semakin menjauh dan bersikap destruktif terhadap keluarga ini, maka aku tidak akan ragu untuk mencoret namamu dari daftar calon menantuku."

Wajah Sinta pucat pasi. "Tante... apa maksud Tante? Aku melakukan ini untuk menjaga martabat keluarga Tante juga!"

"Benarkah? Atau untuk ambisimu sendiri?" Nyonya Prawijaya tersenyum sinis. "Nama besar Prawijaya adalah taruhan utama. Aku tidak peduli dengan siapa Bagas menikah nanti, asalkan bukan dengan wanita rendahan itu. Dan jika kamu terbukti hanya menjadi bensin dalam api ini, maka kamu pun harus menyingkir. Fokusku adalah kehormatan keluarga, bukan perasaan cintamu yang picik."

Nyonya Prawijaya melangkah pergi menuju kamarnya, meninggalkan Sinta sendirian di tengah puing-puing porselen yang pecah. Sinta mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih.

Bagas harus menjadi milikku, batinnya penuh dendam. Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak boleh ada satu pun wanita miskin yang bisa merenggutnya dariku.

Di sisi lain kota, di dalam mobil yang melaju kencang membelah hujan, Bagas mencengkeram kemudi dengan begitu kuat hingga buku jarinya memutih. Pikirannya kacau. Bayangan Nara yang menangis dan kondisi ibunya yang kritis terus menghantui.

Ia meraih ponselnya, mencari satu nama di kontak yang ia simpan secara sembunyi-sembunyi sejak lama. Suster Rahmi.

Panggilan itu tersambung pada dering ketiga.

"Halo? Suster Rahmi?" suara Bagas parau, penuh kecemasan.

Di seberang sana, terdengar suara bisikan yang hati-hati. Suster Rahmi sepertinya sedang menjauh dari posisi Nara agar tidak terdengar.

"Iya, Pak Bagas? Saya sedang di rumah sakit," jawab Rahmi lirih.

"Bagaimana keadaannya? Katakan padaku, apa yang terjadi pada Bu Rahayu? Dan... bagaimana dengan Nara?"

Suster Rahmi menghela napas panjang, suaranya terdengar berat.

"Kondisi Ibu kritis, Pak. Beliau koma setelah pembuluh darah di jantungnya pecah. Dokter bilang 24 jam ini adalah masa penentuan. Mbak Nara... dia hancur, Pak. Dia tidak mau makan, tidak mau bicara. Dia hanya duduk menatap pintu ruang ICU seolah jiwanya sudah ikut masuk ke dalam sana."

Jantung Bagas terasa diremas.

"Aku akan ke sana sekarang. Aku tidak bisa membiarkannya sendirian."

"Jangan, Pak! Saya mohon, jangan sekarang," sela Rahmi cepat.

"Kenapa? Aku punya akses ke dokter-dokter terbaik, aku bisa memindahkan ibunya ke rumah sakit yang lebih bagus, aku bisa... "

"Pak Bagas, tolong dengarkan saya," suara Rahmi sedikit lebih tegas namun tetap berbisik. "Kehadiran Bapak saat ini hanya akan memperumit situasi. Mbak Nara sedang menyalahkan dirinya sendiri, dan sayangnya, dia juga menyalahkan hubungannya dengan Bapak atas apa yang menimpa ibunya. Sinta datang ke rumah dengan membawa foto-foto itu... itu yang memicu serangan jantung Bu Rahayu. Juga karena pekerjaannya di dunia malam sudah terbongkar. Bagi Mbak Nara, setiap kali dia melihat Bapak, dia akan teringat pada serangan Sinta dan wajah ibunya yang jatuh pingsan."

Bagas terdiam. Hening menguasai kabin mobil, hanya terdengar suara wiper yang beradu dengan kaca depan.

"Jadi, aku harus apa, Rahmi?" tanya Bagas, suaranya kini terdengar lebih tenang, jauh dari sosok singa yang mengamuk di rumahnya tadi.

"Beri dia waktu, Pak. Biarkan situasi sedikit tenang. Jika Bapak muncul sekarang, Mbak Nara mungkin akan mengusir Bapak atau malah melakukan hal yang lebih nekat karena rasa bersalahnya yang besar. Saya akan terus di sini, saya akan menjaga mereka. Saya akan mengabari Bapak setiap jam jika perlu."

Bagas memejamkan mata, memukul kemudi dengan frustrasi.

"Aku tidak tahan memikirkannya sendirian di sana, Rahmi. Dia pasti kedinginan, dia pasti merasa dunia meninggalkannya."

"Saya tahu, Pak. Tapi mencintai seseorang terkadang berarti tahu kapan harus mundur agar dia bisa bernapas. Mbak Nara butuh ruang untuk menghadapi kenyataan ini tanpa tekanan dari drama keluarga Bapak atau kejaran media. Tolonglah, Pak."

Bagas menghela napas panjang, mencoba meredam egonya yang ingin segera memeluk Nara.

"Baiklah. Aku akan mengalah untuk saat ini. Tapi tolong, Rahmi, pastikan dia makan. Jika ada tagihan rumah sakit atau kebutuhan apa pun, segera hubungi aku. Aku akan mengirimkan asistenku untuk mengurus semuanya tanpa Nara perlu tahu dari mana asalnya. Dan tolong, katakan padanya ... Ehmm tidak, jangan katakan apa-apa dulu. Cukup pastikan dia tidak jatuh sakit."

"Baik, Pak Bagas. Saya mengerti. Saya akan jaga Mbak Nara sekuat tenaga saya."

Setelah panggilan berakhir, Bagas menepikan mobilnya di bahu jalan. Ia menatap tetesan hujan yang mengalir di kaca jendela, mirip dengan air mata yang mungkin sedang mengalir di pipi Nara saat ini.

"Maafkan aku, Nara," bisiknya pada kegelapan malam. "Aku berjanji akan membereskan semua kekacauan ini. Aku akan membuat mereka membayar setiap tetes air mata yang kamu keluarkan."

Di koridor rumah sakit yang sunyi, Nara masih terduduk lesu. Suster Rahmi kembali setelah menelepon, membawa selimut tipis yang ia minta dari bagian logistik.

"Mbak Nara, pakai ini. Udara AC di sini sangat dingin," ujar Rahmi lembut sambil menyampirkan selimut ke bahu Nara.

Nara tidak menolak, tapi ia juga tidak bereaksi. Matanya kosong, menatap lantai keramik putih yang dingin.

"Suster," suara Nara terdengar nyaris tak terdengar.

"Iya, Mbak?"

"Apakah orang jahat dan durhaka sepertiku masih pantas mengharapkan keajaiban?"

Rahmi mengernyitkan dahi, hatinya perih mendengar pertanyaan itu.

"Mbak Nara bukan orang jahat. Mbak adalah anak yang luar biasa berjuang untuk ibunya. Jangan dengarkan kata-kata perempuan tadi, dia hanya ingin menjatuhkan Mbak."

"Tapi dia benar tentang satu hal, Suster," Nara menoleh, menatap Rahmi dengan mata yang benar-benar mati. "Aku membawa badai ke dalam hidup Ibu. Jika aku tidak pernah mengenal Bagas, jika aku tidak pernah masuk ke dunia mereka yang penuh kemunafikan, mungkin malam ini aku dan Ibu masih sedang makan tempe goreng di ruang tamu kami yang sempit, sambil tertawa menonton televisi tua itu. Kemiskinan tidak membunuh Ibu, Suster... tapi duniaku yang kotor ini yang melakukannya."

Rahmi tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya bisa merangkul bahu indah itu, merasakan getaran tubuh Nara yang berusaha menahan isak tangis yang sudah kering. Di ruang ICU sana, mesin EKG masih berbunyi monoton, sebuah detak yang menjadi satu-satunya alasan bagi Nara untuk tetap berpijak di bumi, meskipun hatinya sudah lama mati rasa.

Nara yang tegar, Nara yang tegas, Nara yang berani menantang hidup selama ini dengan cara apapun sekarang seperti ditertawakan takdir dan lunglai karena pelita hidupnya, ibu.

Malam itu, di bawah langit Jakarta yang kelam, takdir sedang merajut benang-benang baru. Sinta dengan dendamnya, Nyonya Prawijaya dengan harga dirinya, Bagas dengan cintanya yang membara, dan Nara... yang kini hanya memiliki sisa-sisa harapan di ujung jari yang gemetar. Perang baru saja dimulai, dan kali ini, tidak ada yang akan keluar tanpa luka.

1
deeRa
Bacanya aku berkaca-kaca ini, Tegar ya Nara 🥺
susilawatiAce
baca novel. ini tegang
deeRa
This story is very sufficient to describe the simplicity of love, Gak sengaja baca Seruni akhirnya baca yang lain juga karya Kak Lemari kertas ini.
Cerita nya gak terlalu ngawang, khas Dan gak mudah ditebak next chapter nya. meskipun genre sama tapi aku selalu menemukan yg berbeda Dan itu bikin aku selalu nunggu Update nya.
semangattt, aku selalu nunggu...
Jatuh hati sama Nara, stay strong and be yourself♥️😊
deeRa
Lagi boleh gak? 👀👉👈
Lemari Kertas: maleman ya 😄
total 1 replies
susilawatiAce
ceritanya menarik
deeRa
Setelah ini sepertinya aku juga jatuh suka sama Nara setelah Seruni😍😍
Lilla Ummaya
Lanjutt
Mira Hastati
bagus
stnk
bagus ceritanya...dari awal udah bikin emosi...
Afternoon Honey
semakin seru jalan ceritanya
Sri Astuti
seru
Putri dewi Mulya Syania
lanjut Thor seru bangett
Afternoon Honey
makin tegang dan seru jalan ceritanya
susilawatiAce
bakalan rumit nih kisah vinya bagas dan nara
Afternoon Honey
tetap menyimak cerita bersambung ini
susilawatiAce
sebentat Nara akan jadi milik mi bagas
Lemari Kertas
udah up ya guys masih nunggu review
susilawatiAce
Hasrat mengalahkan logika
Meiny Gunawan
up yg bnyk atuh thor..😍
Meiny Gunawan
💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!