NovelToon NovelToon
Trading Thrones (Bertukar Tahta)

Trading Thrones (Bertukar Tahta)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Perjodohan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

​Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
​Namun, setiap baja memiliki titik retak.
​Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Sebuah Kebebasan

​Matahari pagi menembus celah gorden kamar utama mansion Thorne dengan keangkuhan yang sama seperti biasanya. Bagi Nora, cahaya itu bukan lagi undangan untuk menyambut hari dengan harapan, melainkan sekadar penanda bahwa ia masih terjepit di antara dinding-dinding mewah yang kini terasa seperti penjara kaca. Ia terbangun dengan tangan yang secara refleks meraba perutnya—dua kehidupan kecil di sana adalah satu-satunya alasan mengapa ia masih sanggup membuka mata tanpa merasa ingin menyerah.

​Sebuah bunyi ping yang pendek dari ponsel di atas nakas memecah keheningan. Nora meraih benda tipis itu dengan gerakan malas. Namun, saat layar menyala, pupil matanya melebar.

​Sebuah notifikasi transaksi perbankan. Angka satu diikuti dengan deretan nol yang panjang terpampang nyata di sana. Seratus juta dolar.

​Nora terduduk tegak, rasa kantuknya hilang seketika. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur yang dingin, menatap layar itu dengan senyum miring yang menyimpan kepahitan sekaligus kelegaan. Seratus juta dolar—harga yang disepakati ayahnya, Antonio, sebagai "mahar" atau mungkin lebih tepatnya biaya kompensasi atas hidupnya.

​"Akhirnya," bisik Nora pada kesunyian kamar.

​Uang itu adalah tiketnya. Bukan tiket menuju kemewahan yang lebih besar, melainkan tiket untuk mengambil kembali potongan jiwanya yang telah lama hilang. Beberapa hari lagi, sebuah balai lelang bergengsi akan memamerkan koleksi pribadi seorang kolektor seni yang bangkrut. Di antara daftar barang yang akan dilelang, terdapat tiga lukisan minyak karya mendiang ibunya—lukisan yang dulu terpaksa dijual Antonio untuk menutupi kerugian bisnis keluarga Leone bertahun-tahun silam.

​Selama ini, lukisan-lukisan itu adalah simbol dari cinta tulus yang pernah Nora kenal sebelum ibunya tiada. Dan sekarang, dengan uang dari "penjualannya" sendiri, Nora akan menebus kembali kenangan ibunya. Ia akan memastikan lukisan-lukisan itu berada di tempat yang aman, jauh dari jangkauan tangan-tangan kotor keluarga Leone maupun Thorne.

​Di lantai bawah, Adrian sedang menyesap kopi hitamnya di ruang makan yang luas. Ia mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung, tampak sedang mempelajari berkas-berkas di tabletnya. Namun, fokusnya terpecah. Ia sesekali melirik ke arah tangga, menanti sosok Nora yang biasanya akan turun dengan senyum lembut—meski belakangan ini senyum itu telah lenyap.

​Semenjak insiden ia membawa Stella dan tumpukan hadiah itu ke mansion, Nora telah berubah menjadi balok es. Tidak ada lagi percikan api di matanya saat menatap Adrian. Tidak ada lagi sentuhan spontan di lengan, atau bisikan terima kasih saat Adrian memberikan perhatian kecil. Nora melayani Adrian dengan kepatuhan yang mekanis, seperti seorang pelayan profesional yang telah mematikan perasaannya.

​Adrian menghela napas, meletakkan cangkir kopinya. Ia menyadari bahwa ia telah melangkah terlalu jauh dengan pamer kemesraan bersama Stella kemarin. Namun, di dalam kepalanya yang keras, ia masih meyakini bahwa semua itu dilakukan demi "kebaikan bersama" dan pemenuhan hutang budi masa lalunya.

​Dia hanya butuh bukti bahwa aku masih memprioritaskannya, batin Adrian dengan logika maskulin yang picik.

​Adrian memiliki sebuah rencana. Ia tahu tentang pelelangan besar yang akan diadakan lusa. Di sana, akan ada sebuah gaun pengantin vintage bertahtakan berlian langka yang menjadi incaran para sosialita dunia. Adrian berniat memenangkan gaun itu dengan harga berapa pun untuk Nora. Ia pikir, sepotong gaun seharga jutaan dolar yang dikenakan Nora di hari pernikahan mereka nanti akan mampu mencairkan kedinginan wanita itu. Ia ingin melihat Nora bersinar, ingin melihat dunia tahu bahwa pengantin Thorne adalah wanita paling berharga di California.

​Ia tidak tahu bahwa Nora tidak lagi butuh gaun. Nora hanya butuh jalan keluar.

​Sementara itu, di kediaman keluarga Leone, suasana jauh lebih gaduh namun terasa hambar. Sebuah peti kayu besar dengan ukiran khas pengrajin Eropa baru saja tiba di lobi utama. Di dalamnya terdapat kiriman dari keluarga Sullivan di New York—sebuah bentuk formalitas "peminangan" bagi siapapun putri Leone yang nantinya akan dikirim ke sana.

​Antonio Leone memanggil Stella untuk melihat isinya. Saat penutup peti dibuka, sebuah gaun pengantin berwarna krem (ivory) yang sangat mewah menyeruak keluar. Detailnya luar biasa; renda buatan tangan dari Prancis, ribuan mutiara kecil yang dijahit dengan pola rumit, dan kerudung transparan yang panjangnya mencapai tiga meter. Gaun itu adalah mahakarya seni yang melambangkan kekuasaan keluarga Sullivan di Pantai Timur.

​Antonio menatap gaun itu dengan mata berbinar. "Lihat ini, Stella. Sullivan tidak main-main. Siapa pun yang memakai ini akan menjadi wanita paling berkuasa di New York."

​Stella, yang sedang duduk sambil asyik memoles kukunya, hanya melirik sekilas dengan tatapan meremehkan. Ia bangkit, mendekati gaun itu, lalu menyentuh kainnya dengan ujung jari yang penuh rasa jijik.

​"Krem? Warna ini sangat membosankan," cibir Stella. "Dan modelnya... terlalu tertutup. Aku ingin gaun yang menunjukkan lekuk tubuhku, bukan gaun yang membuatku terlihat seperti biarawati tua dari abad pertengahan."

​Stella mendengus, memutar tubuhnya menjauhi peti itu. "Lagipula, Papa, kenapa aku harus peduli pada gaun Sullivan? Aku akan menjadi pengantin Adrian Thorne. Adrian sudah berjanji padaku. Dia bahkan memberiku jam tangan ini kemarin. Aku akan memakai gaun rancangan desainer Italia yang dipesan khusus oleh Adrian, bukan sampah dari New York ini."

​Antonio menghela napas, menyembunyikan kegelisahan di matanya. Ia tahu kesepakatan rahasianya dengan Sullivan adalah mengirimkan "Putri Leone." Jika Stella bersikeras ingin tetap bersama Adrian, maka Nora-lah yang harus memakai gaun krem itu dan pergi ke New York.

​"Jika kau tidak menyukainya, maka biarkan saja di sini," ujar Antonio datar. "Mungkin kakakmu akan lebih menghargainya."

​"Oh, tentu saja," Stella tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gesekan logam yang tajam. "Berikan saja pada Nora. Dia selalu mendapatkan barang bekas dariku, bukan? Gaun itu cocok untuknya—kusam dan tidak menarik. Sangat pas untuk wanita yang akan dibuang ke pelukan pria yang sedang koma."

​Stella tidak tahu betapa berartinya "buangan" itu bagi rencana masa depan kakaknya.

​Kembali ke mansion Thorne, sore itu Nora turun ke ruang tengah. Ia melihat Adrian yang baru saja menutup teleponnya. Pertemuan mata mereka terjadi selama beberapa detik. Adrian berdiri, hendak mendekati Nora, namun langkah Nora segera berbelok menuju bufet tempat vas bunga mawar yang sudah mulai layu berada.

​"Nora," panggil Adrian, suaranya berusaha melembut.

​Nora berhenti, namun ia tidak berbalik. "Ya, Adrian?"

​"Lusa akan ada pelelangan. Aku ingin kau ikut denganku. Ada sesuatu yang ingin kuhadiahkan padamu untuk hari besar kita nanti."

​Nora tertegun sejenak. Pelelangan. Tempat di mana lukisan ibunya berada.

​"Aku akan datang," jawab Nora singkat.

​Adrian tersenyum tipis, merasa rencananya mulai berhasil. "Bagus. Aku akan menyiapkan perhiasan terbaik untukmu malam itu."

​"Aku tidak butuh perhiasan baru, Adrian," suara Nora terdengar tenang namun dingin. Ia akhirnya berbalik, menatap pria itu dengan pandangan yang membuat Adrian merasa seperti orang asing. "Aku hanya butuh apa yang menjadi milikku."

​Adrian mengerutkan kening. "Segala yang ada di rumah ini adalah milikmu, Nora. Kau tahu itu."

​Nora hanya tersenyum samar—senyum yang membuat bulu kuduk Adrian meremang tanpa alasan. "Kita lihat saja nanti di pelelangan, Adrian."

​Nora berbalik dan melangkah kembali ke kamarnya, meninggalkan Adrian yang terpaku di ruang tengah. Di dalam tasnya, Nora menggenggam ponselnya yang berisi bukti saldo seratus juta dolar. Di dalam hatinya, ia sudah menghitung mundur hari-hari terakhirnya di bawah atap ini.

​Dua garis merah di dalam kotak kayu rahasianya, seratus juta dolar di sakunya, dan lukisan ibunya di depan mata—Nora Leone sedang menyiapkan panggung terakhirnya. Ia tidak peduli pada gaun spesial yang direncanakan Adrian, karena baginya, gaun terbaik adalah yang ia kenakan saat ia melangkah keluar dari gerbang mansion ini untuk selamanya, membawa dua detak jantung yang akan menjadi dunianya yang baru.

​Sementara di rumah Leone, gaun krem Sullivan tetap terbaring di dalam peti, menunggu sosok pengantin yang akan membawanya menuju takdir berdarah di New York. Sebuah takdir yang akan segera mempertemukan kembali dua saudara perempuan itu dalam pengkhianatan yang paling mematikan.

1
Arieee
tetep goblok di Adrian 🤣
Arieee
wow👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!