NovelToon NovelToon
Siasat Manis Istri Kedua

Siasat Manis Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Konflik etika / Pelakor
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Update setiap hari

"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."

Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.

Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.

Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: DARAH YANG MENGALIR SAMA

Malam di Jakarta selalu terasa lebih dingin bagi mereka yang menyimpan rahasia besar di dadanya. Baskara berdiri di balkon apartemen, membiarkan angin kencang menerpa wajahnya. Di tangannya, ia memegang sebuah foto lama yang baru saja dikirimkan oleh pengacara pribadinya—foto ayahnya, Tuan Pratama, sedang berdiri di depan sebuah rumah sederhana bersama seorang wanita muda yang tampak malu-malu. Di gendongan wanita itu, ada seorang bayi laki-laki dengan mata yang sangat mirip dengan Baskara.

"Jadi, itu dia," gumam Baskara. Suaranya hampir hilang ditelan deru kendaraan di bawah sana.

Larasati mendekat, menyampirkan jaket ke bahu suaminya. "Aditama baru saja selesai memeriksa latar belakang firma hukum yang membantu Adrian. Mereka bukan firma biasa, Baskara. Mereka dibiayai oleh sisa-sisa aset Tuan Kusuma yang ada di luar negeri. Adrian bukan bergerak sendirian; dia adalah senjata terakhir yang ditinggalkan Kusuma untuk kita."

Baskara berbalik, matanya berkilat penuh tekad. "Aku tidak peduli siapa yang membiayainya, Laras. Dia adalah darah daging ayahku. Jika dia dibiarkan terus begini, dia tidak hanya akan menghancurkan kita, tapi dia akan menghancurkan dirinya sendiri. Aku akan menemuinya malam ini."

"Sendirian?" Larasati menahan lengan Baskara. "Itu terlalu berbahaya. Dia sedang tidak stabil secara mental, Baskara. Kamu lihat sendiri bagaimana dia bereaksi terhadap Ibu tadi siang."

"Justru karena dia tidak stabil, dia harus melihatku sebagai kakaknya, bukan sebagai musuh di koran bisnis," jawab Baskara mantap. "Siapkan mobil, Laras. Tapi kali ini, biarkan aku pergi tanpa pengawalan mencolok. Aku ingin bicara sebagai pria, bukan sebagai pengusaha."

Kantor Adrian Wijaya terletak di sebuah gedung butik di kawasan bisnis premium. Suasananya sepi, sebagian besar karyawan sudah pulang, menyisakan cahaya temaram dari lampu-lampu dekoratif. Baskara masuk ke lobi, melewati resepsionis yang tampak ragu-ragu untuk menghentikannya. Aura kepemimpinan Baskara yang kembali bangkit membuat siapa pun enggan menghalangi jalannya.

Ia sampai di depan pintu ruangan Adrian. Tanpa mengetuk, Baskara mendorong pintu itu terbuka.

Di dalam, ruangan itu berantakan. Botol-botol minuman keras berserakan di atas meja kaca yang mahal, dan Adrian sedang duduk di lantai, bersandar pada jendela besar yang menghadap ke arah gedung Hardianto Group. Ia memegang selembar foto ibunya yang sudah kusam.

"Aku tahu kamu akan datang, Kakak," ucap Adrian tanpa menoleh. Suaranya serak, penuh dengan nada sarkasme yang menyakitkan.

Baskara berjalan mendekat, ia menarik sebuah kursi dan duduk di depan Adrian yang masih berada di lantai. "Berhenti memanggilku 'Kakak' jika kamu masih berniat menusukku dari belakang, Adrian."

Adrian tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti pecahan kaca. "Tapi itu kenyataannya, kan? Kita berbagi DNA yang sama. Darah pria pengecut itu mengalir di tubuh kita berdua. Bedanya, kamu mendapatkan tahta, sedangkan aku mendapatkan sisa-sisa kehancuran."

"Ayah bukan pria yang sempurna, Adrian. Dia melakukan banyak kesalahan, dan aku adalah orang pertama yang membencinya karena hal itu," ucap Baskara dengan nada tenang. "Tapi menyiksa Ibu Rahayu tidak akan membuat ibumu bangkit kembali. Itu tidak akan menghapus rasa sakitmu."

Adrian seketika berdiri, ia mencengkeram kerah baju Baskara dengan tangan gemetar. "Kamu tidak tahu apa-apa! Kamu tumbuh dengan fasilitas terbaik! Kamu punya ibu yang dihormati! Sedangkan ibuku... ibuku harus melayani pria-pria lain hanya untuk membelikanku buku sekolah karena ayahmu berhenti mengirimkan uang setelah kamu lahir! Kamu adalah alasan kenapa dia melupakanku!"

Baskara tidak melawan. Ia membiarkan Adrian mencengkeramnya. "Aku minta maaf, Adrian. Aku minta maaf atas ketidaktahuanku. Aku minta maaf karena aku ada sementara kamu menderita. Tapi membunuh Larasati atau menghancurkan yayasannya tidak akan memberikanmu keadilan. Itu hanya akan menjadikanmu monster yang sama seperti Kusuma."

Adrian melepaskan cengkeramannya, ia terhuyung mundur. "Kusuma memberikan apa yang tidak pernah diberikan ayahmu: kekuatan. Dia memberiku cara untuk membuat kalian semua berlutut di kakiku."

"Kusuma hanya memanfaatkanmu, Adrian! Begitu kamu selesai menghancurkan kami, dia akan membuangmu ke penjara untuk menutupi jejaknya sendiri," tegas Baskara.

Di tengah ketegangan itu, ponsel Baskara bergetar. Sebuah pesan dari Larasati: "Hati-hati, Aditama menemukan penyadap di ruang kerjaku. Pengacara junior kita, Reza, baru saja tertangkap kamera CCTV sedang bertemu dengan asisten Adrian di parkiran."

Baskara menatap Adrian dengan pandangan iba. "Kamu bahkan menggunakan pengacara muda yang lugu untuk mengkhianatiku? Seberapa jauh kamu akan melangkah, Adrian?"

Adrian tersenyum dingin. "Sejauh yang diperlukan untuk melihat istana Larasati terbakar."

Sementara itu, di apartemen, Larasati tidak tinggal diam. Ia telah memanggil Reza, pengacara junior yang dicurigai sebagai mata-mata Adrian, ke ruangannya. Pemuda itu tampak gemetar, wajahnya pucat pasi di bawah lampu ruang tamu yang terang.

"Reza, aku memberimu kesempatan pertama dan terakhir," suara Larasati sangat dingin, seolah-olah ia sedang memberikan vonis mati. "Kenapa kamu melakukannya? Berapa Adrian membayarmu untuk menjual dokumen audit itu?"

Reza jatuh bersimpuh di kaki Larasati. "Maafkan saya, Nona Larasati... Saya tidak punya pilihan. Adik saya... dia butuh operasi jantung segera, dan Adrian menjanjikan semua biaya itu jika saya memberikan akses ke server rahasia Anda. Saya khilaf, Nona..."

Larasati memejamkan matanya sejenak. Inilah cara kerja Adrian—ia tidak menyerang dengan kekuatan besar, tapi ia menyerang melalui celah kemanusiaan yang paling rapuh. Ia menggunakan penderitaan orang lain untuk menciptakan penderitaan baru.

"Bangun, Reza," perintah Larasati. "Aku tidak akan memecatmu malam ini. Tapi kamu akan melakukan satu hal untukku. Kamu akan tetap menjadi 'mata-mata' Adrian, tapi mulai sekarang, informasi yang kamu berikan kepadanya adalah informasi yang aku tulis sendiri."

Reza mendongak, bingung. "Maksud Anda, Nona?"

"Kamu akan memberitahu Adrian bahwa dana abadi ayahku akan segera dicairkan seluruhnya besok pagi di Bank Nasional. Beritahu dia bahwa itu adalah momen paling rentan bagi keamananku," jelas Larasati dengan senyum misterius. "Jika dia ingin menjatuhkanku, dia akan mencoba menghentikan pencairan itu. Dan saat itulah, kita akan menangkapnya bersama orang-orang di belakangnya."

Kembali ke kantor Adrian, Baskara berdiri untuk pamit. Ia menyadari bahwa kata-kata saja tidak akan cukup untuk mengubah hati yang sudah terlanjur membatu oleh dendam.

"Aku akan pergi sekarang, Adrian. Tapi ingat satu hal," ucap Baskara di ambang pintu. "Besok, Larasati akan melakukan sesuatu yang besar. Jangan datang ke sana jika kamu masih ingin memiliki masa depan. Ini peringatan terakhir dari saudaramu."

Adrian tidak menjawab. Ia kembali duduk di lantai, menatap kegelapan. Namun setelah Baskara pergi, ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Lakukan sekarang," perintah Adrian kepada orang di seberang sana. "Besok pagi di Bank Nasional. Pastikan tidak ada yang tersisa."

Keesokan paginya, suasana di depan Bank Nasional sangat ramai. Larasati tiba dengan pengawalan ketat. Wartawan sudah berkumpul karena berita tentang pencairan dana abadi itu telah bocor (sengaja dibocorkan).

Adrian mengamati dari dalam mobilnya di seberang jalan. Ia melihat Larasati masuk ke dalam gedung bank dengan tas dokumen di tangannya. Ia memberikan isyarat kepada tim peretasnya untuk mulai mengacaukan sistem perbankan tersebut agar dana tersebut tertahan dan Larasati terlihat seperti sedang melakukan penipuan publik.

Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Sistem bank tetap stabil. Alih-alih pengumuman kegagalan transaksi, layar monitor besar di lobi bank yang biasanya menampilkan kurs mata uang, tiba-tiba berubah menampilkan rekaman video.

Video itu memperlihatkan pertemuan rahasia antara Adrian Wijaya dan beberapa kaki tangan Tuan Kusuma di sebuah gudang pelabuhan. Di sana, jelas terdengar Adrian sedang merencanakan sabotase terhadap proyek sekolah yayasan dan bagaimana ia membayar Reza untuk mencuri data.

Publik di lobi bank terperangah. Para wartawan segera mengarahkan kamera mereka ke arah layar tersebut.

Adrian yang melihat hal itu dari tabletnya seketika panik. "Bagaimana mungkin? Itu rekaman rahasia!"

Larasati keluar dari bank, namun ia tidak membawa tas dokumen. Ia hanya membawa sebuah mikrofon. Ia menatap langsung ke arah mobil Adrian di seberang jalan, seolah-olah ia bisa melihat pria itu di balik kaca film yang gelap.

"Saudara Adrian Wijaya," suara Larasati bergema melalui pengeras suara. "Anda ingin transparansi, kan? Inilah transparansi yang sebenarnya. Dunia sekarang tahu bahwa ambisi Anda bukan didasari oleh keadilan, tapi oleh instruksi dari seorang kriminal bernama Kusuma. Dana abadi ayah saya tetap aman, karena transaksi hari ini hanyalah sebuah simulasi untuk memancing tikus-tikus keluar dari lubangnya."

Polisi yang sudah bersiaga segera mengepung mobil Adrian. Adrian mencoba melarikan diri, namun ia sudah terpojok. Saat ia ditarik keluar dari mobil, Baskara muncul di tengah kerumunan.

Baskara menatap adiknya dengan tatapan sedih yang mendalam. "Aku sudah memperingatkanmu, Adrian. Tapi kamu memilih jalan Kusuma."

Adrian hanya bisa tertawa pahit saat borgol melingkar di tangannya. "Kalian pikir kalian menang? Ini baru permulaan! Masih banyak orang di Jakarta yang membenci nama Hardianto!"

Larasati mendekati Adrian, ia menatap pria itu dengan tenang. "Mungkin. Tapi mereka akan berpikir dua kali setelah melihat apa yang terjadi pada orang sepertimu. Kejahatan bisa menggunakan siasat yang manis, Adrian. Tapi kebenaran punya cara sendiri untuk tetap berdiri di akhir cerita."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!