Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.
Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Sangkar Emas di Seongbuk-dong
Cahaya matahari pagi menembus jendela kaca raksasa di ruang makan kediaman Matteo Smith. Meja panjang itu penuh dengan hidangan mewah—mulai dari sarapan ala Barat hingga sup hangat kesukaan si kembar. Namun, suasana di sana jauh dari kata santai.
Chae-young duduk berhadapan dengan Matteo. Ia sudah rapi dengan pakaian kerjanya, siap untuk pergi ke butik setelah sarapan dan akan mengantar kedua anak-anaknya. Sementara itu, Chan-yeol dan Chae-rin sibuk mengunyah roti panggang mereka, sesekali melirik Daddy mereka yang tampak sangat serius menatap layar tabletnya.
"Aku akan berangkat ke butik setelah ini," ucap Chae-young memecah keheningan. "Song-min bilang ada beberapa pesanan yang harus segera diselesaikan."
Matteo meletakkan tabletnya dengan suara brak yang pelan namun tegas. Ia menatap Chae-young dengan tatapan tajam, dingin dan datar yang tidak terbantahkan.
"Tidak hari ini, Chae-young-ah. Dan tidak untuk beberapa hari ke depan," ucap Matteo tenang.
Chae-young mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?"
"Kau tetap di sini. Jangan bekerja di luar dulu," lanjut Matteo sambil menyesap kopi hitamnya. "Situasi di luar masih belum sepenuhnya kondusif. Wartawan mungkin sudah tidak berani menulis berita, tapi mereka masih berkeliaran di sekitar butikmu. Aku tidak ingin kau menjadi sasaran empuk."
"Matteo, aku punya tanggung jawab! Aku tidak bisa hanya berdiam diri di rumah besarmu ini seperti burung dalam sangkar!" Chae-young meninggikan suaranya, membuat Chae-rin sedikit tersentak.
Matteo melirik putrinya sejenak, lalu kembali menatap Chae-young. "Jika ini soal pekerjaan, bawalah semua peralatanmu ke sini. Aku sudah menyiapkan satu ruangan besar di lantai dua sebagai studio pribadimu. Kau bisa menjahit, menggambar, atau melakukan apa pun di sana. Tapi kau tidak boleh keluar dari gerbang rumah ini tanpa pengawalanku."
"Ini gila! Kau membatasi ruang gerakku!" Chae-young berdiri, emosinya mulai terpancing.
Matteo ikut berdiri, tinggi badannya yang menjulang seolah mendominasi seluruh ruangan. "Ini bukan pembatasan, ini perlindungan. Aku baru saja menyingkirkan lalat-lalat itu dari hidupmu, aku tidak ingin mereka kembali hanya karena kau ceroboh."
Chan-yeol menghentikan makannya. Ia menatap Daddy-nya dengan selidik. "Daddy, apa Mommy dipenjara?"
Matteo menunduk, mengusap kepala Chan-yeol. "Tidak, jagoan. Mommy hanya sedang libur sebentar supaya tetap aman. Dan hari ini, Daddy yang akan mengantar kalian ke sekolah."
"Kau mau mengantar mereka?" Chae-young tertegun.
"Mulai hari ini, jadwalku fleksibel untuk mereka," jawab Matteo sambil melirik jam tangannya. "Ayo anak-anak, ambil tas kalian. Daddy yang akan mengantar kalian mulai hari ini."
Chae-young hanya bisa berdiri di teras saat melihat Matteo menuntun si kembar masuk ke dalam mobil SUV lapis baja yang dikawal oleh dua mobil pengawal lainnya. Ia melihat Chan-yeol sempat menoleh ke arahnya, memberikan tatapan yang seolah bertanya, "Apa Mommy baik-baik saja?"
Setelah iring-iringan mobil itu menghilang di balik gerbang, Chae-young membalikkan badannya dan mendapati kepala pelayan sudah berdiri di sana.
"Nona Park, Tuan Matteo berpesan agar Anda melihat studio baru Anda. Beliau juga sudah memerintahkan asisten Anda, Song-min, untuk mengirimkan semua kain dan manekin dari butik ke sini pagi ini," ucap kepala pelayan dengan sopan.
Chae-young menggigit bibir bawahnya. Ia merasa sangat tidak berdaya sekaligus dilindungi. Perasaan itu bercampur aduk secara aneh di hatinya. Pria aneh itu benar-benar melakukan segalanya sesuai kemauannya sendiri.
Ia melangkah menuju studio yang dimaksud Matteo. Saat membuka pintu, matanya terbelalak. Ruangan itu sangat luas, dengan pencahayaan alami yang sempurna, mesin jahit tercanggih, dan rak-rak yang sudah diisi dengan benang-benang sutra berkualitas tinggi.
Di atas meja kerja utama, ada sebuah kotak beludru kecil. Chae-young membukanya dan menemukan sebuah kunci perak dengan kartu kecil bertuliskan:
"Studio ini milikmu. Kerjakan apa pun yang kau mau. Tapi jangan pernah berpikir untuk lari dariku lagi. - M"
Chae-young terduduk di kursi kerja barunya. Ia menatap kunci itu dengan perasaan getir. Ia membenci sikap posesif Matteo, tapi di sisi lain, ia tidak bisa memungkiri bahwa ia merasa sangat aman di dalam sangkar emas ini.
"Dasar pria aneh, kau pikir kau bisa membeliku dengan semua ini?" gumam Chae-young, meski bibirnya sedikit bergetar.
...***...
Suasana di kantor kepala Sekolah Seoul Global Academy terasa seberat timah. Aroma kopi mahal bercampur dengan suara isakan tertahan dan omelan melengking dari seorang wanita berpakaian brand-name yang duduk di sofa beludru.
"Lihat ini! Kepala putraku benjol! Anak ini benar-benar buruk attitude-nya! Siapa ibunya? Ah, wanita yang beritanya viral itu, kan? Pantas saja anaknya seperti preman!" teriak wanita itu sambil mengusap kepala anaknya yang terus menangis keras.
Chan-yeol berdiri di tengah ruangan, punggungnya tegak, namun kepalanya tertunduk dalam. Ia tidak menangis. Tangannya mengepal kuat di sisi celananya, menahan gemetar kemarahan yang membuncah di dadanya. Di sampingnya, Chae-rin terduduk di kursi kecil, wajahnya sembap karena tangisan yang tak kunjung henti. Gadis kecil itu biasanya punya mulut yang tajam untuk membela diri, namun kata-kata "anak tanpa ayah" dan "ibumu penipu" yang diucapkan ibu di depannya benar-benar meruntuhkan pertahanannya.
"Sudah kubilang, kau tidak punya ayah! Ibumu hanya menjerat pria kaya supaya bisa masuk sekolah ini!" Bentak wanita itu lagi pada Chae-rin. "Pernikahan itu sakral, bukan sekadar jebakan untuk wanita seperti ibumu!"
Tepat saat itu, pintu kantor terbuka dengan dentuman yang menggetarkan kaca ruangan.
Matteo melangkah masuk. Auranya begitu pekat, seolah-olah suhu di ruangan itu mendadak turun beberapa derajat. Ia tidak mengenakan jas, hanya kemeja hitam yang lengannya digulung, namun setiap langkahnya memancarkan otoritas yang mematikan.
"Daddy..." bisik Chae-rin, langsung berlari dan memeluk tubuh Matteo saat berjongkok menyambut pelukan Chae-rin.
Matteo tidak langsung bicara. Ia mengusap kepala Chae-rin sejenak, lalu matanya beralih pada Chan-yeol. Ia berjongkok di depan putranya, mengangkat dagu Chan-yeol agar mata ice blue mereka bertemu.
"Katakan pada Daddy, kenapa kau memukulnya?" tanya Matteo, suaranya rendah dan tenang, tanpa ada nada menghakimi.
Chan-yeol menatap Matteo dengan ragu, matanya mulai berkaca-kaca. "Dia... dia bilang Mommy wanita jual diri. Dia bilang Mommy penipu. Aku tidak mau Mommy dihina, Daddy."
Rahang Matteo mengeras. Ia berdiri perlahan, lalu berbalik menatap wanita yang sedari tadi mengomel. Wanita itu mendadak bungkam, nyalinya menciut saat menyadari siapa pria yang berdiri di depannya.
"Tuan... Tuan Smith?" gumam kepala sekolah yang sedari tadi hanya diam ketakutan.
"Kau," Matteo menunjuk wanita itu dengan jarinya. "Kau mengajarkan putramu kata-kata wanita jual diri dan penipu? Di sekolah internasional yang mahal ini, ternyata ada sampah yang dibiarkan berkeliaran?"
"Tapi anak itu memukul putraku!" wanita itu mencoba membela diri meski suaranya bergetar.
Matteo mendesis dingin. Ia menatap kepala sekolah dengan pandangan meremehkan. "Jika sekolah ini tidak bisa menjaga kehormatan anak-anakku dan membiarkan orang tua murid melakukan pelecehan verbal seperti ini, aku tidak keberatan membeli seluruh saham gedung ini besok pagi dan memecat kalian semua."
Kepala sekolah itu pucat pasi, membungkuk berkali-kali. "Maafkan kami, Tuan Smith! Kami akan segera menindaklanjuti—"
Tiba-tiba, seorang pria paruh baya berlari masuk ke ruangan dengan napas terengah-engah. Ia adalah ayah dari anak yang dipukul Chan-yeol. Begitu matanya bertemu dengan Matteo, ia hampir terjatuh lemas.
"Direktur Utama... Tuan Smith?!" Pria itu gemetar hebat. Ternyata, dia adalah salah satu manajer tingkat menengah di divisi logistik M-Nexus.
Matteo menyipitkan mata. "Oh, jadi anda Tuan Min, bukan? Sepertinya kau terlalu sibuk bekerja sampai lupa mendidik istrimu bagaimana cara menghargai keluarga orang lain."
"Tuan Smith, saya mohon maaf! Istri saya tidak tahu, dia benar-benar tidak tahu!" Pria itu langsung menarik istrinya untuk membungkuk meminta maaf, namun Matteo mengangkat tangannya, memberi isyarat agar mereka menjauh.
"Dengarkan aku baik-baik," suara Matteo terdengar seperti vonis mati. "Jika aku mendengar satu kata lagi yang menghina istriku atau anak-anakku dari mulut siapa pun di lingkungan ini, bukan hanya pekerjaanmu yang hilang, tapi aku akan memastikan tidak ada satu pun perusahaan di Korea yang mau menerima namamu."
Matteo beralih pada wanita yang mencemooh anak-anaknya sedari tadi yang kini pucat pasi. "Dan kau, jangan pernah berani menatap anak-anakku lagi jika kau masih ingin melihat suamimu punya masa depan."
Matteo kemudian merangkul pundak Chan-yeol dan menggendong Chae-rin. Ia menatap kepala sekolah untuk terakhir kalinya. "Saya harap peristiwa ini segera diselesaikan sesuai keinginan saya."
Suasana di dalam mobil jauh lebih tenang. Matteo duduk di antara Chan-yeol dan Chae-rin. Chan-yeol masih tampak gelisah, ia sesekali melirik Matteo.
"Daddy... apa Daddy marah karena aku memukul anak itu?" tanya Chan-yeol pelan.
Matteo menarik napas panjang, lalu merangkul putra sulungnya itu. "Daddy tidak suka kekerasan, Chan-yeol-ah. Tapi Daddy bangga kau melindungi kehormatan Mommy-mu. Hanya saja, lain kali, biarkan Daddy yang membereskan semuanya. Okay?"
Chae-rin sudah berhenti menangis, ia bersandar di dada Matteo. "Daddy benar-benar Daddy kami, kan? Bukan bohong seperti kata mereka?"
Matteo mencium kening Chae-rin dengan perasaan yang sangat emosional. "Tentu saja, apapun yang nantinya orang lain katakan. Itu tidak benar."
"Daddy..."
"Ya, Chan-yeol?"
"Terimakasih, tadi itu Daddy sangat keren."
Mendengar itu, Matteo sedikit tertegun lalu tersenyum tipis. Sepertinya, Chan-yeol putranya itu mulai akan membuka hati lagi untuknya.
Siang itu, saat mobil mereka memasuki gerbang rumah Seongbuk-dong, Chae-young sudah menunggu di teras dengan wajah cemas karena mendapat kabar dari sekolah. Namun, ia tertegun melihat Matteo turun dari mobil sambil menggendong Chae-rin dan menggandeng tangan Chan-yeol yang tampak bangga.
Matteo menatap Chae-young, memberikan kode bahwa semuanya baik-baik saja. Namun dalam hati, Matteo sudah membuat rencana besar: ia harus segera meresmikan hubungan mereka. Bukan lagi sekadar untuk keamanan, tapi karena ia tidak akan membiarkan siapa pun di dunia ini meragukan posisi Chae-young sebagai satu-satunya wanita di hidupnya.