NovelToon NovelToon
Takdir Sang Penanda Langit

Takdir Sang Penanda Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:709
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Nama adalah hal yang sakral di dunia Haochun, Nama adalah berkah Dewa, nama adalah kekuatan. Manusia tanpa nama bukanlah siapa-siapa, semua manusia yang tak bernama hanyalah orang-orang buangan dan kriminal.

Karena hak pada Berkah dan Nama mereka dicabut.

Mereka akan dipanggil dengan sebutan apapun yang orang inginkan. Meskipun mereka bisa membuat nama sendiri, tetap saja itu tak memiliki makna apapun.

Nama lahir adalah kehormatan mutlak di dunia ini. Dan inilah kisah tentang anak Klan Bangsawan kelas satu. Dia memiliki Inti Spritual yang sangat buruk. Saking buruknya, bahkan tidak seorang pun sebelum dia di dunia Kultivasi yang memiliki Inti spritual seperti itu.

Sehingga dia dianggap sebagai aib keluarga. Berkah namanya miliknya dicabut layaknya hukuman bagi

penjahat keji.

Dimulailah kisah anak buangan yang membawa nasib baik dan buruk bersamaan.

Berjuang tanpa kekuatan Berkah Nama seperti yang dimiliki orang lain. Huang Kai yang berganti nama menjadi Feng Yan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Melawan Tetua Muda Hui

"Kurang ajar, jangan karena kau sudah mengalahkan bos bandit Serigala buas kau merasa sangat hebat." Salah seorang dari keluarga Hui membentak pemuda yang meremehkan mereka.

Feng Yan yang dikepung oleh enam orang anggota keluarga Hui itu tidak mengacuhkan ucapan dari pria tadi. Tiga dari mereka hanya berada di ranah ksatria dan tiga lainnya hanya berada di ranah master.

Tapi yang jadi perhatian Feng Yan ada satu orang yang berdiri di dekat tuan muda Hui tadi malam. Sepertinya ia baru datang dengan enam orang yang mengepungnya. Pria yang terlihat berusia tiga puluh tahunan itu sudah berada di ranah Pemadatan Pondasi, satu tingkat diatas Ranah grandmaster. Ranah yang biasa disebut tahap persiapan menuju ranah Raja.

"Kuharap inti dengan akar angin sudah cukup untuk melawan pria itu" Feng Yan mengeluarkan pedang besar bundar seperti balok dari cincinnya. Pedang balok berwarna

Coklat kehitaman yang terlihat memiliki banyak retakan.

"Hahaha, ternyata Gao Jihen sangat lemah hanya dengan sebatang kayu bisa kau kalahkan."

"Apa kalian keluarga Hui memang terbiasa banyak bicara?" Feng Yan menghempaskan ujung senjatanya ke tanah. Sedangkan pria yang ucapannya di sela terlihat sudah sangat marah.

"Bai Guo, apa yang kau ketahui tentang anak muda itu? Ia hanya mengenakan pakaian lusuh, tapi memiliki cincin penyimpanan yang jelas sangat mahal." Pria yang diwaspadai oleh Feng Yan tadi bertanya pada Bai Guo yang sudah berdiri karena semua permohonannya tidak didengar oleh tuan muda Hui.

"Ia tidak banyak bercerita tentang dirinya, yang kutahu dia berasal dari kota Batu Besi dengan tujuan Awan Salju."

"Dari kelompok bandi Serigala buas yang berhasil ditangkap, kami mendapat informasi kalau pemuda itu juga yang membasmi kelompok Serigala Darah satu tahun yang lalu. Sebaiknya Tetua muda memikirkan kembali untuk memusuhi pemuda itu."

Mendengar penjelasan Bai Guo orang yang disebut Tetua Muda itu mengerutkan keningnya, ia hanya mendapat cerita dari tuan Muda Hui kalau pria itu punya maksud dan tujuan tertentu. Namun setelah mendengar cerita Bai Guo ia terlihat ragu dengan ucapan tuan muda yang memang sudah dikenal angkuh.

"Sudah sejauh ini tidak mungkin berbalik lagi, pria muda itu tidak mungkin melupakan masalah ini begitu saja."

Sementara itu Feng Yan hanya bersikap waspada menunggu serangan yang akan dilancarkan.

"Ayo bunuh pemuda sombong ini!"

Hiyatt

Secara serentak enam orang itu menusuk dan menebas Feng Yan dengan pedang dan tombak. Namun ia hanya berkelit ke sisi lain dari pedang balok, sehingga tiga senjata hanya mengenai balok besar itu.

Trang

Terdengar suara besi beradu saat tiga senjata mengenai pedang balok yang tertancap di tanah dan membuat semua orang yang menyaksikan terkejut.

Sedangkan satu tombak yang mengarah ke dada berhasil ia tangkap dan menepis tiga serangan lain dengan tombak itu. Pria yang tombaknya ditangkap Feng Yan tubuhnya tertarik maju dan sebuah tendangan mendarat di kepala. Membuat ia terlempar dan mengenai rekan di dekatnya.

Belum sempat kaki yang digunakan untuk menendang tadi menyentuh tanah tiba-tiba saja kaki pemuda itu ditarik kembali dan menendang pria yang berada di belakang nya.

Dukk

"Ugh"

Pria itu diterbangkan cukup jauh dan mendarat dengan kasar menyusur tanah.

Darah mengalir dari sela bibir pria tersebut.

"Jelas kalau pedang balok besar itu hanyalah sebongkah kayu, tapi kenapa saat beradu dengan senjata kita seperti sebuah besi?" tanya seorang dari lawan Feng Yan pada rekannya dengan suara pelan.

"Aku juga tidak mengerti, benda itu memang tidak salah lagi hanyalah kayu yang sudah dipanaskan" ternyata yang ditanya sama bingungnya.

"Ayo gunakan formasi penyerangan

Keluarga Hui untuk menghabisi orang ini!

Walau masih muda namun ia sudah berada di ranah Grandmaster" seorang dari mereka yang berada di ranah master memberi perintah. Orang yang terluka sebelumnya sudah kembali ke posisinya semula.

"Bocah penipu ini sudah habis, formasi menyerang keluarga Hui kita selalu berhasil mengalahkan musuh yang lebih kuat." Tuan muda Hui berbicara dengan percaya diri pada tetua muda disampingnya.

"Sepertinya akan sulit, pemuda ini bahkan belum menggunakan senjatanya." balas tetua muda.

"Mana mungkin dia bisa menghancurkan formasi penyerangan kita" mendengar ucapan si Tuan muda, tetua itu hanya diam dan terus memperhatikan pendekar muda yang menjadi lawan anak buahnya.

Ke-enam pemuda Hui itu sudah meneriakkan berkah nama mereka, bersiap untuk melakukan serangan gabungan.

Enam orang yang mengepung Feng Yan mulai bergerak cepat mengelilingi pemuda itu. Namun sebuah senyuman justru tersungging dari bibirnya.

"Kau boleh saja lebih kuat dari kami, tapi formasi ini belum pernah gagal sebelumnya!" entah siapa yang berbicara dari lima orang itu, sebab gerakan mereka sangat cepat.

Sebuah tusukan tombak tiba-tiba

mengarah ke kepala Feng Yan, namun masih bisa ia hindari dengan baik. Namun seorang yang menggunakan pedang melompat ke arahnya menebas tepat ke kepala dan hampir saja kena telak jika ia tidak segera menunduk.

Baru saja Feng Yan hendak memukul pria itu ia sudah masuk lagi ke dalam formasi. Serangan bertubi-tubi terus berdatangan.

Mereka keluar masuk formasi dengan cukup lincah dan saling melindungi. Belum sempat Feng Yan membalas serangan dari satu orang, serangan yang lain datang untuk melindungi rekannya yang menyerang lebih dulu.

"Serangan mereka semakin lama semakin kuat" pemuda itu membatin sambil menangkis sebuah bola energi yang datang dari kepungan formasi.

"Kalau seperti ini terus aku bisa terluka, Formasi ini cukup merepotkan karena mereka saling melindungi."

Feng Yan dipaksa menggunakan pedang balok untuk menahan bola-bola energi. Bola energi itu datang beraneka warna, menandakan keenam orang itu melepaskan serangan bergantian.

Terlalu fokus menangkis serangan dari bola energi membuat Feng Yan lengah, hingga sebuah mata tombak menggores pinggang kanannya.

"Bagaimana hah! Bersiap lah untuk mati brengsek! Ayo kita selesaikan dengan serangan yang lebih kuat" sebuah perintah terdengar jelas oleh Feng Yan.

"Sudah cukup main-mainnya, aku masih harus menghadapi pendekar kuat yang disana" batin pemuda itu sambil mengarahkan ujung pedang baloknya ke tanah, Feng Yan mengalirkan sejumlah besar energi spiritual ke dalam balok itu.

"Sekarang!" ucap salah satu penyerang.

Mereka yang sedari tadi hanya menyerang bergantian, kini melompat ke arah pemuda yang berada dalam kepungan.

"Hiyaa"

"Matilah kau!"

Hanya beberapa jengkal mata tombak dan pedang akan mengenai sasaran, sebuah ledakan energi melemparkan keenam orang itu ke belakang saat Feng Yan menghentak-kan Pedang balok dengan keras ke tanah.

Wuss

Tekanan energi itu sangat kuat hingga orang yang berada di ranah Ksatria terlempar sangat jauh.

Beruntung yang di ranah Master tidak terluka, mereka masih bisa menyeimbangkan tubuh dengan bersalto di udara dan mendarat dengan posisi berlutut.

Bukan hanya enam orang itu yang terkejut, bahkan tuan muda Hui terlihat sangat marah.

"Pendekar Feng ini sangat kuat, kurasa ia tidak sesederhana penampilannya. Tapi disini masih ada tetua muda Hui, apa ia bisa mengalahkannya?" batin Bai Guo saat Feng Yan sudah melompat ke dekat Tuan dan tetua muda Hui.

"Kurang ajar, apa yang hendak kau lakukan?" Bentak pemimpin enam orang tadi yang juga melompat saat melihat Feng Yan mendekati tuan muda-nya.

"Hentikan Hui Fu! Ia bukan tandingan kalian berenam, jika dia mau kalian semua sudah mati dari tadi."

Menelan ludah pria tadi mendengar bentakan tetua muda, namun ia juga memahami kalau lawannya sangat kuat. Bahkan formasi penyerang yang mereka gunakan bisa dipatahkan dengan mudah.

"Pendekar muda, ku akui kalau kau cukup kuat, tapi menghadapiku kau tidak punya kesempatan." Tetua muda berbicara bergerak sambil maju selangkah.

"Benarkah? Bermain dengan enam orang itu sangat tidak memuaskan, bagaimana kalau kita bermain. Sudah lama aku tidak bertarung dengan pendekar di ranah Pemadatan pondasi" dengan santai Feng Yan berbicara sambil meletakkan senjatanya di atas pundak.

"Hahaha, ternyata pendekar muda memiliki teknik identifikasi. Sebaiknya kau jangan terlalu percaya diri, bagaimanapun anak harimau tak akan bisa menyakiti induk singa." Pria itu cukup kagum dengan keberanian pemuda yang menantangnya.

"Bakatmu memang luar biasa, semuda ini sudah berada di ranah Grandmaster. Aku belum pernah melihat orang lebih berbakat

Darimu. Bagaimana jika kau bergabung dengan Keluarga Hui? Para tetua dan kepala keluarga pasti akan dengan senang hati menerima kehadiranmu."

"Tetua muda apa maksud ucapanmu? Kau tidak berhak mengambil keputusan penting seperti itu. Aku perintahkan kau menghabisi bocah penipu ini" Tunjuk tuan muda itu pada ke Feng Yan.

Namun ucapannya justru membuat wajah tetua muda itu sangat merah." Berhentilah bersikap seperti anak kecil, kau sudah dewasa dan aku kemari bukan untuk mematuhi ucapanmu!" pria itu menatap tuan muda Hui hingga pria itu mundur selangkah kebelakang.

"Awas saja kau saat aku sampai di kediaman keluarga" ia menunduk sambil mengutuk tetua muda yang ia anggap bersikap lancang.

Feng tersenyum sinis saat mendengar ucapan tetua muda Hui tadi. " Memiliki seorang tuan muda pengecut akan kusembunyikan dimana wajahku, sudah berada di ranah Ksatria tapi hanya sembunyi saat orang-orang bertaruh nyawa melawan para bandit."

"Bahkan berniat membunuh orang yang sudah menyelamatkannya. Katakan saja kalau kalian ingin merampok cincin penyimpananku, tidak usah berdalih banyak alasan." Di tatap tajam oleh pemuda di depannya entah kenapa Tuan Muda Hui merasa bergetar nyalinya.

"Aku sudah memberimu wajah tapi kau justru menghina kami, dengan berat hati aku akan mencabik-cabik tubuhmu dan melempar mayatmu pada binatang buas." Tetua itu mengeluarkan lima bilah belati kecil dan belati-belati itu melayang diatas kepalanya.

Melihat pertarungan yang akan terjadi, Bai Guo memanggil tuan muda Hui untuk menjauh dari sana. Walau ia tidak menyukai pemuda itu, namun ia dibayar untuk menjaga hidupnya.

"Sepertinya aku menyesal tidak menggunakan inti dengan akar api."

bagaimanapun Feng Yan sangat berhati-hati dalam menggunakan Inti Ganda yang ia miliki. Walaupun ibunya hanya melarang menggunakan inti spiritual yang mirip dengan elemen kayu itu sembarangan.

"Lihat keadaan dulu, aku masih memiliki tombak Pusaka Guntur Bumi dan pedang Peri

Teratai Hijau".

Tetua muda sepertinya tidak ingin membuang banyak waktu dan tidak mau meremehkan lawan bertarungnya.

" HUI CHONG SU!". Setelah diliputi kekuatan berkah nama ia langsung menyerang Feng Yan dengan empat bilah belati yang dikendalikan dengan energi spiritual. Sedang satu belati berada di genggaman tangan kanan.

Empat belati menderu ke arah Feng Yan, dan tetua muda juga melesat mengikuti empat belati itu. Saat menghalau keempat belati dengan pedang balok besar, Feng Yan di kejutkan oleh kemunculan empat belati lagi yang mengincar perut dan kakinya.

"Sial, orang ini sangat cerdik" batinnya sambil melompat rendah memutar tubuh untuk menghindari belati. Sambil berputar ia menancapkan pedang balok untuk menahan serangan dari belati yang di pegang oleh tetua Hui.

Saat kakinya sudah kembali menginjak tanah, Pemuda itu menendang ujung balok yang tertancap itu mengarah tepat ke arah perut tetua Hui.

Pria itu dengan cekatan melompat

mundur sambil menginjak bagian ujung yang runcing dari pedang balok.

Pedang balok itu terus mengarah ke atas sehingga membuka celah pertahanan Feng Yan. Tidak menyia-nyiakan kesempatan pria itu langsung melancarkan serangan ke arah tulang iga yang terbuka lebar.

"Matilah!" sebuah tusukan hampir saja menancap di tubuh Feng Yan jika ia tidak cepat menurunkan sikunya untuk menepis tangan tetua Hui.

Namun sebuah tendangan telak mendarat di punggung pemuda itu hingga membuatnya terlempar dan bergulingan di tanah. Pedang balok juga terlepas dari genggaman tangannya.

"Ternyata kau tidak sekuat yang kukira.

Dan kau terlalu sombong karena berani melawanku tanpa menggunakan berkah nama".

Feng Yan yang sudah bangkit membersihkan pakaian yang ia kenakan. Ternyata pemuda itu tidak menggunakan pakaian pusaka yang ibunya berikan.

"Hahaha, Mana mungkin pemuda kurang

Ajar ini sebanding dengan tetua muda Hui". Salah satu dari anggota keluarga Hui tertawa bahagia melihat Feng Yan bukan lawan dari tetua Hui.

"Untuk melawanmu aku tidak perlu menggunakan berkah nama" mendengar ucapan Feng Yan, darah tetua muda itu mendidih karena amarah. Padahal Feng Yan memang tidak memiliki kekuatan berkah nama.

"Bocah ini sepertinya ingin cepat-cepat mati dengan memancing kemarahan Tetua muda" Bai Guo hanya bisa berdoa untuk Feng Yan saat ia mendengar ucapan dari tuan muda Hui.

Dengan mata berkilat kebencian tetua muda sudah menarik kembali semua senjata yang sebelumnya terpukul dan dihindari Feng Yan.

Kali ini tidak hanya delapan belati di atas kepalanya, tapi ada sepuluh dan dan ada dua di genggaman tangan.

"Aku tidak akan menahan diri lagi untuk membunuh orang sombong sepertimu." Ia tidak bergerak sedikitpun saat sepuluh belati melesat ke arah Feng Yan.

Feng Yan melompat ke atas untuk

menghindari belati-belati itu. Namun ternyata belati itu justru berbelok mengikutinya.

Melihat belati tetap mengejarnya, sambil berputar di udara Feng Yan menyentakkan kedua telapak tangannya ke arah sepuluh belati.

Darr

Energi dari telapak tangan Feng Yan berbenturan hingga membuat sepuluh belati itu terpental. Baru saja ia menginjak tanah, dua bilah belati sudah berada di depan dada pemuda itu. Memiringkan tubuh ia berhasil menghindari satu belati, namun satu belati berhasil menggores dada hingga mengeluarkan darah.

Sepertinya tetua Muda Hui tidak ingin memberi lawannya kesempatan untuk bernapas. Sepuluh belati kembali mengejar Feng Yan. Pemuda itu hanya melompat dan berlari sambil terus memperhatikan tetua muda itu.

Saat belati-belati itu mengenai tanah terdengar suara ledakan-ledakan kecil.

Hanya sesaat saja Feng Yan melepaskan perhatian dari tetua muda. Sebuah tendangan

Kuat mendarat di dada pemuda itu. Ia kembali terlempar cukup jauh hingga jatuh di dekat kuda pemberian Raja kota Yuan Kong.

"Uhuk" pemuda itu memuntahkan darah kental dari mulutnya.

"Inilah akibatnya jika kau melawan keluarga Hui" ucap tetua muda setelah ia melesatkan kembali sepuluh senjata yang ia kendalikan.

Sambil menghindar Feng Yan mengulurkan tangan ke arah Pedang baloknya. Tetua muda yang bergerak maju di kejutkan oleh pedang balok yang berputar di belakangnya.

Ia melompat ke samping dan terpaksa membatalkan serangan yang akan dilancarkan.

Pedang balok sudah kembali dalam genggaman, namun Feng Yan sangat kesal karena kudanya mati terkena belati dari tetua Muda.

"Pemuda ini memiliki pengendalian energi yang mengagumkan, padahal ia masih sangat muda. Seandainya saja ia bersedia bergabung dengan kami, dengan bakatnya keluarga Hui pasti akan bertambah kuat."

Tetua muda walau diliputi kemarahan ia tetap menyesalkan perselisihan dengan Feng Yan.

"Kau membunuh tungganganku, walau aku tidak terlalu membutuhkannya. Tetap saja ada harga yang harus dibayar." Feng Yan menunjuk tetua muda dengan pedang balok miliknya.

Mengusap darah di sela bibir ia menghempaskan senjatanya ke belakang. Memajukan kaki kiri dan menekuk kaki kanannya tanda ia siap untuk menyerang.

"Sekarang giliranku untuk membalas seranganmu." ia melepaskan semua energi yang ia miliki sehingga dari tubuhnya terpancar energi berwarna putih terang.

"Mengayunkan pedang balok ia menghentakkan kaki kanan, hingga telapaknya sedikit terbenam, lalu dengan sangat cepat ia melesat ke arah tetua muda Hui"

1
Nanik S
Lanjutkan Tor .. walau sayang ada perjodohan
azizan zizan
alur yang membingungkan blok blak blok blak blok blak blok blak tak ada hujung pangkal tau2 cerita beralih ke padang dewa...lah 🤔🤔🤔 ini orang gila ka hapa yang buat novel Nih..
azizan zizan
ini cerita undur kembali kebelakang kah...pantasan like nol...
Nanik S
Kenapa mesti ada perjodohan masih kecil .. kadang cerita seperti ini amat membosankan
Nanik S
Lanjut terus Tor
Nanik S
Cukup menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!