Seorang siswa culun yang hidupnya selalu di warnai luka dan derita, ternyata memiliki garis keturunan dewa kultivator. Ia belum menyadarinya hingga suatu hari, ia nyaris tewas karena di keroyok oleh siswa lainnya yang tak suka kepadanya.
Di saat ia sekarat, seorang gadis cantik membawanya masuk ke dalam sebuah dimensi yang jauh dari peradaban manusia.
Namun, tentu saja hal itu membuatnya menjadi bingung saat tersadar, ia menganggap dirinya sudah mati, lalu bagaimana cara ia memulai kembali kehidupannya di dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Rapat pemegang saham
Nova beriap untuk datang menuju gedung perusahaan bersama Aruna menggunakan mobil milik Aruna, sebelum mereka sampai Aruna mengajaknya ke sebuah butik, karena ia sudah memesankan setelan jas untuk Nova.
Nova yang mengetahui itu menjadi malu karena kesibukan barunya ia melupakan itu, karena hari ini adalah hari dimana tuan Arga akan memperkenalkan dirinya kepada seluruh pemegang saham.
“Ayo turun, mumpung masih ada waktu. Aku sudah menyiapkan setelan yang cocok untukmu,” ucap Nova sambil melepaskan sabuk pengamannya.
Nova hanya mengangguk, lalu turun dari mobil dengan setelan casual miliknya. Nova melihat papan nama butik itu, ia tahu butik itu cukup terkenal karena beberapa artis terkenal memesan baju di butik itu, dan nyaris semua pejabat dan konglomerat menjadi langganan butik itu, jadi tidak heran jika di butik itu satu setelan jas saja bisa mencapai harga puluhan juta.
“Aruna, apa kita pindah saja? Aku rasa disini terlalu mahal,” katanya merasa kurang pantas jika memakai baju dari butik itu.
Aruna menoleh sambil tertawa renyah.
“Yaa ampun kamu ini, kan udah banyak uang, apa perlu khawatir berlebihan seperti itu? Lagi pula Papa yang menyuruhku memesankan baju untukmu, dia sudah membayarnya, tenang saja,” jawabnya.
Nova hanya bisa diam, begitu mendengarnya. Mau di apakan lagi, jika ia menolak pun tuan Arga akan tetap memaksanya.
Setelah di dalam butik, para karyawan dan pemiliknya langsung menyambut keduanya. Pemilik butik langsung membungkuk hormat kepada Aruna, hal itu menandakan bahwa status keluarga Pratama sangat tinggi di kota Meikarta.
“Selamat datang Nona Aruna, pesanan tuan Arga sudah di siapkan, silahkan di lihat dulu,” ucap si pemilik toko sambil memperhatikan penampilan Nova.
Aruna membalas dengan anggukan di iringi senyumnya yang khas, membuat siapa saja akan terpesona saat melihatnya.
“Madam, itu bukan pakaian untuk Papa, tapi untuk Nova temanku, ia akan menghadiri pertemuan pemilik saham hari ini,” jelas Aruna dengan suara yang di tegaskan.
Madam Teresa terkejut, begitupun dengan para karyawannya. Pemuda di hadapan mereka tak sesederhana yang mereka pikirkan, penampilannya tidak terlalu mencolok sehingga mereka mengira bahwa Nova hanya menemani Aruna untuk mengambil pakaian saja.
“Ohh, jadi begitu. Maaf Nona saya kita baju yang di pesan untuk tuan Arga, sebentar biar karyawan saya siapkan dulu, silahkan duduk.”
Selagi menunggu, Aruna dan Nova membicarakan tentang pertemuan pemilik saham nanti. Madam Teresa yang berada tak jauh dari mereka sedikir menguping pembicaraannya.
“Darimana anak semuda itu punya uang triliunan, hingga sanggup membeli saham sebesar 10%,” gumamnya nyaris tanpa suara.
Tak perlu waktu lama, salah satu karyawan Madam Teresa datang.
“Ini, nona bajunya,” ucap karyawan itu.
Aruna menoleh ke arah Nova.
“Cobalah,” ucapnya. “Kak, tolong antarkan teman saya ke ruang ganti.”
Karyawan itu mengangguk.
“Silahkan ikuti saya, tuan muda.”
Di panggil sedemikian rupa, kepercayaan diri Nova meningkat dratis, ia hanya bisa mengulum senyumnya saja. Bahkan ia tak percaya bisa menyambangi butik yang paling terkenal ini.
“Mungkin aku akan membeli beberapa baju, untuk ibu,” batinnya.
Mengingat pakaian ibunya hanya beberapa, mungkin Nova akan membelikan beberapa setelah ia selesai dengan urusannya.
Aruna masih menunggu di ruang VIP di temani Madam Teresa sambil membicarakan banyak hal termasuk Nova.
“Nona Aruna sangat pintar memilih teman laki-laki,” ujarnya.
Aruna hanya membalas dengan senyuman saja,
hal itu membuat pipi Aruna merona merah, ia masih tak menyangka bisa sering bersama dengan Nova yang ia sukai sejak dulu. Namun, sampai kini ia masih belum berani untuk mengungkapkan perasaannya itu kepada Nova.
Tak lama setelah itu, Nova muncul dengan setelah jas formal abu yang sangat elegan, dan membuat semua perempuan yang ada disana langsung terdiam seakan terhipnotis saat melihat Nova yang sangat berbeda.
“K-kalian kenapa?” tanya Nova sambil menatap orang-orang yang diam dan bengong saja saat melihatnya. “Apa baju ini kurang cocok untukku?”
Aruna langsung terkesiap.
“Cocok! Sangat cocok, dan tampan...” Aruna refleks menutup mulutnya membuat Madam Teresa dan para karyawannya terkikik pelan.
Sementara Nova hanya tersipu malu saat Aruna memujinya.
***
Di ruang pertemuan, beberapa orang sudah hadir temasuk Tuan Arga yang memperhatikan jam di tangannya.
“Tuan Arga, apa orang yang kita tunggu masih lama?” tanya salah satu pemegang saham.
Tuan Arga menoleh.
“Sebentar lagi, seharusnya mereka sudah sampai.”
Benar saja tak lama setelah itu, Nova datang bersama Aruna dan asisten tuan Arga yaitu Vanya.
“Tuan, rapatnya sudah bisa di mulai,” ucap Vanya.
Semua orang berdiri saat tuan Arga berdiri untuk menyambut kedatangan Nova. Aruna menunggu di luar dan memperhatikan pertemuan itu dari balik dinding kaca.
“Maaf om, aku sedikit terlambat,” bisik Nova.
Tuan Arga tersenyum sambil menyalami Nova sebagai formalitas.
“Tidak apa-apa, kami baru saja mau mulai,” jawabnya setengah berbisik. “Selamat datang, tuan muda Nova, silahkan duduk.”
Nova mengangguk.
“Terimakasih, Tuan Arga.”
Semua orang terkejut saat tuan Arga memanggil Nova tuan muda. Terlebih pria muda yang memakai setelan berwana hitam, Bryan dia salah satu pemegang saham yang hadir. Dia kurang mengerti kenapa pemuda itu bisa datang ke pertemuan pemegang saham itu.
Bryan hanya tahu, bahwa yang membeli saham di Pratama Group adalah seorang yang kaya raya, dan itu tidak mungkin bocah itu, pikirnya.
“Tuan Nova silahkan perkenalkan dirimu,” ucap Tuan Arga sambil mempersilahkan Nova untuk membuka suara.
Ruangan rapat itu hening seketika. Puluhan pasang mata tertuju pada Nova yang duduk dengan tenang di kursinya, aura yang ia pancarkan terasa berbeda dari usianya yang masih muda. Ia tidak terlihat gugup, justru sorot matanya tenang, tajam, dan penuh perhitungan.
Nova berdiri perlahan, merapikan sedikit jas abu-abu yang membalut tubuhnya. Gerakannya sederhana, namun memancarkan wibawa yang tak bisa diremehkan.
“Perkenalkan,” ucapnya dengan suara yang stabil dan jelas, “nama saya Nova Arvena.”
Ia berhenti sejenak, memberi jeda yang membuat seluruh perhatian semakin terpusat padanya.
“Saya adalah pemegang saham sebesar sepuluh persen di Pratama Group.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi dampaknya seperti petir di siang bolong, beberapa orang langsung saling pandang, bisik-bisik mulai terdengar, sementara sebagian lainnya menatap Nova dengan ekspresi tak percaya.
Bryan yang sejak tadi duduk bersandar, kini langsung menegakkan tubuhnya. Tatapannya berubah tajam, penuh selidik.
“Tidak mungkin…” gumamnya pelan.
Nova melanjutkan tanpa terganggu.
“Saya memahami bahwa usia saya mungkin menimbulkan keraguan. Itu wajar. Namun saya tidak datang ke sini untuk meyakinkan dengan kata-kata saja, melainkan dengan sesuatu yang mungkin akan membantu perusahaan.”
Kata-katanya lugas, tanpa bertele-tele, tapi justru itu yang membuat suasana semakin menegang.
Tuan Arga memperhatikan Nova dengan senyum tipis, seolah sudah memperkirakan reaksi seperti ini akan terjadi, ia cukup puas melihat cara Nova berbicara.
Salah satu pemegang saham yang lebih senior mengangkat tangan.
“Tuan Nova,” ucapnya hati-hati, “bolehkah kami tahu latar belakang Anda? Investasi sebesar itu bukanlah angka yang bisa di bilang kecil.”
Nova menoleh ke arahnya, ekspresinya tetap tenang.
“Saya rasa itu tidak terlalu penting.”
Jawaban itu membuat beberapa orang terdiam, sebagian lainnya terlihat tidak puas. Namun sebelum suasana menjadi semakin ricuh, Bryan akhirnya angkat bicara.
Ia menyandarkan kedua tangannya di meja, menatap Nova lurus.
“Baik,” katanya dingin, “kalau begitu mari kita bicara soal kemampuan. Memiliki uang tidak selalu berarti memahami bisnis.”
Beberapa orang mengangguk setuju.
Bryan melanjutkan, “Pratama Group bukan perusahaan kecil yang bisa dijalankan hanya dengan intuisi. Apa kontribusi nyata Anda, Tuan Nova?”
Nada bicaranya terdengar seperti tantangan terbuka, Bryan tersenyum miring meremehkan kemampuan anak muda di hadapannya itu.
Ruangan kembali hening.
Nova tidak langsung menjawab. Ia justru mengambil tablet yang sudah disiapkan di depannya, lalu menggeser beberapa data ke layar utama yang terhubung dengan proyektor.
Dalam hitungan detik, grafik dan laporan keuangan muncul di layar besar.
“Kontribusi saya?” ulang Nova pelan. “Tentu saja akan membuat semuanya meningkat secara bertahap, mengurangi resiko bisnis dan yang paling utama, saya akan menjadi pemasok berlian untuk Pratama Group.”
Bryan langsung membeku di tempat, begitupun dengan yang lainnya, termasuk tuan Arga.
“Pemasok berlian?”