"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.
Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.
Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.
Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: PERJALANAN JAUH KE NEGERI KINCIR ANGIN
Hari keberangkatan pun tiba. Suasana di bandara internasional sangat ramai namun terlihat sangat rapi dan mewah. Keluarga Wijaya tampil begitu sempurna dan memikat perhatian.
Arga mengenakan setelan jas biru gelap yang membuatnya terlihat gagah dan berwibawa. Di sebelahnya, Kirana tampil anggun dengan gaun panjang berwarna soft cream yang menutup tubuhnya sempurna, membuat wajahnya yang cantik semakin bersinar.
Di depan mereka, Arka dan Aira tampak begitu menggemaskan. Arka memakai kemeja kotak-kotak dan celana jeans, terlihat seperti remaja tangguh masa depan. Sedangkan Aira, putri kecil itu memakai dress warna pink dengan topi lucu di kepalanya, membuatnya terlihat seperti boneka hidup yang siap dibawa jalan-jalan.
"Ayah... Aira takut naik pesawatnya tinggi banget," rengek Aira manja sambil memeluk leher Arga erat-erat. Matanya memandang pesawat besar yang terparkir di landasan dengan tatapan takjub sekaligus takut.
Arga tertawa lembut, mencium pipi gembil putrinya. "Nggak takut dong sayang. Di sana nyaman banget lho. Ada TV, ada makan enak, dan Aira bisa tidur nyenyak. Nanti pas bangun, kita udah sampai di negeri dongeng lho."
"Benar ayah?" mata Aira berbinar.
"Benar dong. Ayah kan selalu jaga Aira sama Ibu sama Kakak," jawab Arga yakin.
Sementara itu, Arka terlihat sangat antusias. Ia sibuk melihat-lihat sekeliling, sesekali membantu ibunya memegang tas tangan atau memastikan paspor tidak tertinggal.
"Bu, nanti di sana saljunya beneran bisa dimakan nggak sih?" tanya Arka polos.
"Hahaha... enggak dong Nak. Salju itu air yang membeku, kotor kalau dimakan. Nanti kita main lempar-lemparan aja ya," jawab Kirana sambil tersenyum bangga melihat anaknya yang semakin mandiri.
Setelah melalui proses check-in dan imigrasi yang lancar berkat fasilitas VIP, akhirnya mereka pun naik ke atas pesawat. Perjalanan panjang selama lebih dari 12 jam menanti mereka.
Namun, bagi keluarga ini, perjalanan jauh bukanlah beban, melainkan momen kebersamaan yang langka. Di dalam pesawat, mereka duduk berdekatan. Arga duduk di dekat jendela bersama Aira, sementara Kirana dan Arka duduk bersebelahan di sebelahnya.
Selama penerbangan, suasana sangat hangat. Arga tak henti-hentinya menghibur putrinya agar tidak rewel, sementara Kirana mengajak Arka membaca buku atau menonton film bersama. Sesekali mereka saling bergandengan tangan, berbagi senyum yang mengatakan betapa bahagianya mereka bisa melakukan semua ini bersama-sama.
Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan namun menyenangkan, akhirnya pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda.
Saat pintu pesawat terbuka, udara dingin khas Eropa langsung menyapa kulit mereka. Langit di luar berawan namun cerah, memberikan suasana yang sangat berbeda dengan di Indonesia.
"Wah... dinginnya seger banget ya, Ar," kata Kirana sambil mengibaskan tangannya di depan wajah, menikmati hawa sejuk itu.
"Iya. Bikin seger pikiran," jawab Arga sambil segera memakaikan jaket tebal kepada Aira dan dirinya sendiri. "Ayo kita ambil koper, Opa sama Oma pasti udah nungguin."
Benar saja, saat mereka keluar di area kedatangan, terlihat seorang pria tua yang tampak masih berusaha berdiri tegak meski tubuhnya sudah mulai bungkuk, didampingi oleh seorang wanita tua yang anggun dan rapi. Itu adalah Kakek Johan dan Nenek Maria.
Meskipun sakit, Kakek Johan tetap memaksakan diri datang menjemput cucu dan cicitnya yang sangat dirindukannya.
"OPA!!! OMA!!!" teriak Arga bahagia sekaligus haru, ia segera mendekat dan memeluk kedua orang tua itu erat-erat.
"Arga... anakku... kamu makin besar dan gagah," suara Kakek Johan terdengar parau dan lemah, tapi matanya berbinar melihat cucunya.
Lalu pandangan kakek dan nenek beralih ke sosok cantik di belakang Arga.
"Dan ini pasti Karina ya?" tanya Nenek Maria dengan senyum lebar, lalu langsung memeluk Kirana hangat. "Cantik sekali... persis seperti yang diceritakan Arga. Selamat datang di Belanda, Nak."
"Terima kasih, Oma. Salam kenal Opa," jawab Kirana sopan dan ramah, membuat kedua orang tua tua itu langsung menyukainya.
Namun, perhatian utama kakek dan nenek tertuju pada dua malaikat kecil di depan mereka.
"Wah... ini dia... ini Arka dan Aira ya?" mata Kakek Johan berkaca-kaca. Ia menunduk perlahan, tangannya gemetar ingin menyentuh mereka.
Arka yang sopan langsung mencium tangan kakeknya. "Halo Opa... salam kenal. Saya Arka."
Aira yang awalnya malu-malu, melihat wajah kakeknya yang baik hati, ia pun tersenyum manis dan melambaikan tangan. "Halo Opaaa... halo Omaaa..."
Kakek Johan tertawa lebar, suara tawanya terdengar sangat bahagia. Ia langsung mengangkat Aira perlahan dan memeluknya, lalu mengelus kepala Arka.
"Mirakel... sungguh keajaiban," bisik Opa pelan. "Mereka hidup... mereka sehat... dan sangat cantik tampan. Terima kasih Tuhan..."
Air mata haru tak tertahankan mengalir di wajah semua orang. Arga dan Kirana saling bergandengan tangan, merasa sangat lega dan bahagia bisa melihat momen indah ini.
Mereka pun menuju kediaman keluarga besar Wijaya di Belanda. Rumahnya sangat besar, bergaya arsitektur Eropa klasik yang megah namun sangat hangat dan asri. Dikelilingi oleh taman yang tertata rapi dan bunga-bunga tulip yang sedang bermekaran indah.
Selama beberapa hari pertama, mereka menghabiskan waktu dengan berkeliling kota. Arga dan Kirana benar-benar menikmati liburan ini. Mereka mengajak anak-anak bermain di taman, mengunjungi museum, dan tentu saja melihat kincir angin ikonik khas Belanda.
"Lihat tuh Nak, kincir anginnya besar banget kan?" tunjuk Arga sambil menggendong Aira di pundaknya agar bisa melihat lebih jelas.
"Wowww... keren Ayah!" teriak Aira girang.
Suasana sangat damai. Jauh dari kebisingan kota dan jauh dari tumpukan pekerjaan. Di sini mereka benar-benar hanya keluarga biasa yang bahagia.
Namun, di balik kesenangan itu, tugas utama mereka tetaplah menjenguk Opa yang kondisinya memang semakin menurun. Setiap malam, Arga dan Kirana akan duduk di dekat kamar Opa, mendengarkan cerita-cerita masa lalu, nasihat-nasihat bijak tentang kehidupan dan tentang memimpin keluarga.
Suatu malam, Opa memanggil Arga sendirian.
"Arga... kemarilah Nak," panggil Opa lemah dari ranjangnya.
"Iya Pa, ada apa?" Arga mendekat, memegang tangan keriput kakeknya.
"Opa senang... Opa sangat senang melihat kamu sekarang," ucap Opa pelan. "Dulu kamu anak yang keras, dingin, dan tertutup. Tapi sekarang... Opa melihat kamu menjadi pria yang sempurna. Kamu jadi pemimpin yang baik, suami yang setia, dan ayah yang luar biasa."
Arga menunduk, matanya basah. "Itu semua karena isteri saya, OPa. Kirana yang mengubah saya jadi lebih baik."
"Ya... wanita itu hebat. Jangan pernah kau sakiti dia," pesan Opa tegas. "Dan ingat... harta dan jabatan itu cuma titipan. Yang bakal bikin kamu tenang di akhirat nanti cuma kebaikan dan keluarga yang saleh."
"Arga mengerti, OPa."
"Opa juga sudah menyiapkan sesuatu buat kalian," lanjut Opa sambil menunjuk sebuah kotak kayu di meja. "Itu adalah surat wasiat. Seluruh aset dan tanah milik Opa di sini, Opa wariskan seluruhnya ke nama kamu dan Kirana. Dan untuk Arka sama Aira, Opa sudah buatkan rekening deposito khusus buat mereka sampai dewasa."
Arga terkejut bukan main. "Pa... ini terlalu banyak. Kami nggak berhak..."
"Kalian berhak! Kalian keturunan terakhir kami," potong Opa halus. "Gunakan dengan bijak. Buat masa depan anak-anak. Biar nama Wijaya terus harum di mana pun berada."
Malam itu, Arga keluar dari kamar Opa dengan hati yang penuh haru dan rasa syukur yang tak terhingga. Ia sadar, hidupnya benar-benar sempurna. Ia memiliki segalanya: cinta, keluarga, dan warisan yang luar biasa.
Namun, siapa sangka, di negeri asing ini, takdir sedang menyiapkan sebuah kejutan lain. Kejutan yang mungkin akan mengubah sedikit lagi dinamika keluarga mereka... atau justru menambah kebahagiaan yang lebih besar?