Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan Indah Di Kereta
Itu adalah sebuah kode. Butuh waktu sampai hampir tiga setengah menit lamanya untuk Christaly memahaminya. Sambil mengerutkan alis dia pun kemudian menjawab dengan mantap dan tegas jika dirinya akan tetap ikut Sean untuk pergi ke Malang sekalipun dia harus menjadi seorang wanita penghibur.
“Yang benar saja kamu, Sean! Nggak mungkin banget, kan, nggak jadi ke Malang padahal aku udah di kereta yang siap berangkat,” kata Christaly.
Dia sengaja meninggikan nada bicaranya dengan tujuan agar pria yang duduk di kursi penumpang di sebelahnya mendengar. “Lebih baik aku pergi ke Malang, jadi pelacur di sana daripada aku harus dikejar-kejar penagih hutang di sini. Kamu tahu itu, kan?! Huh!”
Sean menoleh ke arah Christaly dan menyunggingkan senyum menyebalkan. “Kalau kamu emang belum yakin, nggak papa. Aku kasih kamu kesempatan sekali lagi buat pikir-pikir ulang. Masih ada waktu sekitar sepuluh menit sebelum kereta api berangkat.”
Christaly balas menatap Sean dengan tatapan yang mengisyaratkan kalau dia sudah memahami kode yang pria itu berikan. Kalau pria yang duduk di kursi penumpang di seberang kursi tempat dia duduk, adalah sopir yang sebelumnya datang mengantarkan asisten pribadi Tuan Wiyoko, Tony.
Sebelumnya Christaly nyaris tidak mengenali pria yang menyamar dengan sangat sempurna itu. Hingga hampir saja dia keceplosan saat sedang berdebat dengan Sean. Untung saja Sean segera menyadari kedatangan pria itu dan langsung mengambil tindakan dengan cepat.
“Aku nggak akan berubah pikiran,” kata Christaly kemudian. “Aku udah yakin dengan keputusanku, karena aku tahu aku nggak punya pilihan yang lain lagi. Aku terima mau kamu jadikan aku pelacur, pelayan toko swalayan, atau tukang sapu jalanan sekalipun. Asalkan aku bisa dapat uang buat bayar utang, atau setidaknya untuk sementara waktu aman dari para penagih hutang.”
“Ya, ya. Baiklah. Kalau itu udah jadi keputusanmu. Yang jelas, begitu kita sampai di Malang nanti, awas saja kamu kalau minta pulang.” Sean kembali mengancam. Dia sedikit melotot ke Christaly untuk menegaskan ancamannya.
Christaly melipat tangan di dada, dengan penuh percaya diri dia pun menyahut, “Tenang saja. Aku nggak akan minta pulang, kok. Oke?”
Tidak berselang lama terdengar pengumuman di pengeras suara kalau kereta yang Sean dan Christaly tumpangi akan segera berangkat dan para penumpang di harap untuk duduk di kursinya masing-masing. Christaly pura-pura meregangkan lehernya sambil mencuri pandang ke arah pria yang duduk di kursi di sebrangnya.
Pria itu benar-benar tampak lain sama sekali dari yang dia lihat sebelumnya tadi pagi sebelum mereka berangkat ke stasiun. Tadi pagi, Christaly dapat mengingat dengan baik jika pria itu bercukur bersih. Usianya kurang lebih tiga puluh sembilan sampai empat puluh tahun.
Tubuhnya kurus dan jangkung. Giginya agak sedikit kuning karena noda tembakau. Tapi, pria yang duduk di sebrang kursi Chrsitaly, tidak hanya memiliki kumis yang lebat, tapi dia memiliki gigi yang sedikit maju ke depan dan giginya benar-benar putih bersih. Tidak ada sedikit pun noda kekuningan bekas menghisap tembakau.
Memang, pria itu kurus dan jangkung. Tapi, secara keseluruhan penampilannya tampak lain sama sekali. Kecuali, ya, kaca mata pria itu yang sama persis dengan kaca mata yang dikenakannya tadi pagi. Kaca mata berbingkai tebal dengan motif kulit penyu.
Sekarang, mau tidak mau Christaly harus mengakui kalau Sean tidak seburuk yang dia pikirkan. Atau setidaknya dia agak sedikit bisa diandalkan.
“Bagaimana, apa kamu udah mengakui kehebatanku sekarang?” Sean berbisik di telinga Christaly.
“Huh! Sombong. Itu kan cuma kebetulan,” jawab Christaly tetap tidak mau mengakuinya.
“Kamu bisa mengenali pria itu karena melihat kaca matanya, kan? Coba kalau dia pakai kaca mata yang berbeda dari sebelumnya, aku yakin kamu nggak bakalan bisa mengenalinya.”
“Memang benar. Tapi, kamu sendiri butuh waktu lama buat tahu kalau pria yang duduk di seberangmu itu adalah sopir yang mengantarkan Tony tadi pagi, kan?” Sean masih tetap tidak mau mengalah, dia memaksa Christaly untuk mengakui kehebatannya.
“Ya, ya. Terserah kamu sajalah mau apa, asal kamu bahagia aku ikut saja,” jawab Christaly malas.
“Bagus. Begitulah seharusnya asisten. Jangan banyak membantah dan nurut saja apa kata majikan. Kenapa nggak dari awal sih kamu nurut begini? Jadinya kan aku nggak sebal dan marah-marah melulu,” sahut Sean menyindir.
Akan tetapi, Christaly tidak menyambut umpannya. Dia bahkan tidak menyahut satu patah kata pun. Dan malah menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sambil memejamkan mata saat kereta mulai berjalan.
Ada kenangan yang tiba-tiba menyeruak di kepala Christaly dan seketika membuat sesak dadanya setiap kali dia menaiki kereta api.
Dulu, sewaktu dia masih kanak-kanak dan kehidupan masih belum berkhianat kepadanya, hampir setiap sebulan sekali Christaly naik kereta bersama mendiang ibunya. Dia masih ingat sekali hari-hari indah itu. Bersama ibunya mereka pergi ke Sukabumi, ke rumah mendiang nenek Christaly di kampung.
“Apa kamu tahu, Sayang, kenapa Mama selalu ngajakin naik kereta api kalau ke rumah nenek?” ujar ibunya waktu itu.
Christaly kecil menggelengkan kepala dan dengan polos menjawab, “Nggak tahu, Ma. Emangnya kenapa kita naik kereta api kalau ke rumah nenek bukan naik mobil aja?” dia balas bertanya.
“Dulu, waktu Mama kecil, mendiang kakek kamu sering ajak Mama pergi ke Jogja naik kereta. Kata mendiang kakek kamu, kalau naik kereta selain kita lebih cepat sampai, kita juga bisa lebih puas lihat pemandangan di luar jendela. Karena jalur kereta api itu di buat khusus, yang kadang melewati perkampungan, membelah hutan, masuk terowongan, dan menyebrangi sungai. Kamu akan dapat pengalaman lebih banyak kalau naik kereta api di bandingkan naik bus atau mobil pribadi,” jawab ibunya sambil tersenyum dan mengelus kepala Christaly kecil dengan sayang.
Bagi Christaly, kereta api sama seperti kereta kenangan yang akan membawanya pada masa kecil yang begitu menyenangkan. Setiap kali dia naik kereta api, dia akan teringat mendiang ibunya. Wajahnya, senyum bahagianya, dan antusiasnya menjawab pertanyaan Christaly saat dia melihat sesuatu yang baru pertama kali di lihatnya di jendela.
Akan tetapi, seperti kata pepatah yang mengatakan jika sesuatu hal apa pun yang membahagiakan itu tidak akan berlangsung lama. Kadang kala, tanpa sebab musabab yang pasti, tiba-tiba saja kemalangan datang dan langsung merebut kebahagiaan hingga habis tanpa sisa.
Berbeda dengan kebahagiaan yang seolah pendek umurnya, nasib malang dan nasib buruk, justru seperti tidak mempunyai akhir. Dan itulah yang dirasakan Chrsitaly sekarang. Hidup dipenuhi kemalangan juga nasib buruk yang seolah tidak pernah mau pergi.
Christaly menarik napas dalam-dalam, berusaha keras untuk menahan air matanya yang sudah mendesak di pelupuk mata agar tidak banjir keluar. Dia tidak mau menangis di hadapan Sean. Christaly tidak mau Sean menertawakannya dan mengolok-olok cengeng. Tapi, sekeras apa pun dia berusaha menahan air matanya, air mata itu tetap merembes keluar. Maka, cepat-cepat Chrsitaly mengucek-ucek mata sebelum Sean melihat air matanya.
“Uh, sial. Tiba-tiba aja mataku gatal,” gumam Christaly sambil terus pura-pura mengucek mata.
“Itulah akibat orang suka mengintip,” sahut Sean. “Lain kali matamu bukan cuma gatal, tapi bintitan sebesar bola pimpong.”
Christaly sontak diam. Dia bertanya-tanya dalam hati, apakah Sean tahu yang dia lakukan semalam itu, mengintip saat Sean dan Vera sedang bercinta?