Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Langkah mereka keluar dari rumah sakit terasa lebih berat dibanding saat masuk. Udara luar seharusnya terasa lebih lega, namun tidak justru membuat dadanya semakin sesak.
Adinda berhenti di dekat taman kecil di depan rumah sakit. Tanpa berkata apa pun, ia duduk di bangku panjang yang tersedia di sana. Tangannya masih gemetar, napasnya belum sepenuhnya stabil.
Naya berdiri di depannya beberapa detik, lalu ikut duduk di sampingnya, tidak langsung bicara perempuan itu seolah memberi ruang pada Adinda untuk menenangkan hatinya.
Hingga beberapa menit berlalu dalam diam dan hanya suara angin dan kendaraan dari kejauhan yang terdengar samar.
"Nay, rasanya tidak mungkin jika beliau yang melakukan itu," ucap Adinda tiba-tiba. “Aku ingat dia selalu pakai parfum itu,” lanjutnya tanpa menyangkal.
Suaranya pelan, tapi jelas, Naya menoleh ikut memperhatikan keadaan temannya itu.
Adinda masih menatap lurus ke depan. “Apa mungkin dia bekerja sama dengan Ibu mertuaku, karena hanya dia satu-satunya orang yang pada lima tahun lalu bersamaku."
Naya menganggukkan kepalanya. "Bisa jadi," sahutnya pelan.
Adinda memegang pelipisnya yang terasa pusing, entah kenapa sebuah potongan kecil lewat begitu saja di pikirannya.
Kali ini berbeda, bukan tentang rumah sakit lagi. Melainkan tentang gelang berukuran bayi dan wanita hamil yang menggunakan daster cokelat.
"Naya...." panggil Adinda dengan suara melemah. Tangannya masih memegang pelipis seolah kesakitan yang ia rasa mulai bertambah.
Naya semakin mendekat lalu memegang bahu Adinda. "Ada apa Din?" tanyanya cemas.
"Bayangan itu. A-aku memegang sebuah gelang bayi dalam keadaan perut sedikit membuncit dan mengenakan daster berwarna cokelat," ucapnya terbata.
"Apa! Gelang bayi," sahut Naya dengan nada terkejut, pikirannya berputar pada beberapa hari lalu saat Adinda menunjukkan gelang itu.
"Din ...." panggil Naya akhirnya.
Sementara Adinda masih merasakan kesakitan bahkan kali ini kedua tangannya terlihat lebih dalam menekan-nekan pelipisnya.
"Pusing Nay... pusing...."
"Iya, aku tahu, jangan terlalu dipaksakan, jika ingatan itu belum muncul sepenuhnya," ucap Naya.
Adinda mengangguk pelan ia mencoba menyandarkan kepalanya pada sandaran bangku di belakangnya. Hingga beberapa menit kemudian rasa pusing itu perlahan mereda dengan sendirinya.
"Din, kamu sudah baikan?" tanya Naya yang melihat wajah Adinda sedikit lebih tenang dari pada sebelumnya.
"Lumayan," sahutnya singkat.
"Alhamdulillah... perlahan ingatan mu kembali meskipun cuma sedikit, itu sangat membantu dari pada tidak sama sekali," ucap Naya.
Adinda masih terdiam tiba-tiba saja tatapannya kosong dan air mata jatuh begitu saja tanpa diminta. Ia tidak pernah menyangka jika ingatan itu akan muncul dan merasa sedih tidak bisa mengingat penuh momen-momen dimana semua wanita menginginkan hal itu.
"Din kenapa mereka jahat, dan memilih menyembunyikan itu," tangis Adinda pecah.
Naya langsung menyodorkan tangannya meraih tubuh Adinda dan membiarkan wanita itu menangis di atas bahunya.
"Jangan dipikirkan lagi, setidaknya kamu sudah jauh, dan yang harus kita pikirkan saat ini, bukan kenapa mereka jahat. Dengan begitu kita sudah tahu jika mereka memang jahat tugas kita sekarang mulai fokus ke pemulihan mu," ujar Naya pelan.
Adinda masih dalam tangisannya kali ini cukup keras dan Naya membiarkan itu agar semua unek-unek yang ada di dalam hatinya keluar semua.
"Kalian jahat!" teriak Adinda. "Dan aku tidak akan melupakan semua ini!" lanjutnya seolah mengancam jika ingatan itu sudah kembali maka siap-siap saja mereka akan mendapatkan imbalan.
Adinda melepaskan pelukannya perlahan. Kali ini ia bisa tertawa meskipun getir. Dia masih duduk diatas bangku itu. tiba-tiba saja ia teringat akan ucapan suster tadi mengenai wangi parfum yang membuatnya sangat yakin seyakin-yakinnya.
"Parfum itu, dulu sering sekali aku menciumnya dan terkadang sampai enek sendiri," ucapnya dengan tatapan nanar.
Naya tidak menyela. Ia membiarkan Adinda mengeluarkan apa yang selama ini mungkin terkubur.
“Dan bekas luka itu…” Adinda mengangkat tangannya, menyentuh pelipisnya sendiri. “Aku pernah tanya waktu kecil… katanya cuma luka jatuh.”
Ia tersenyum lagi. Tapi tidak ada kebahagiaan di sana, hanya luka.
“Harusnya aku sadar…” bisiknya.
“Din,” panggil Naya pelan.
Adinda menggeleng. “Aku hidup sama dia bertahun-tahun,” lanjutnya, suaranya mulai bergetar lagi. “Aku lihat dia setiap hari… tapi aku gak pernah benar-benar ngerti dia.”
Naya menarik napas panjang. “Bukan salah kamu,” ucapnya pelan.
Adinda langsung menoleh. “Kalau bukan salah aku… terus ini salah siapa? Jelas-jelas aku yang teledor tidak menyadari.”
Pertanyaan itu tidak butuh jawaban cepat. Karena mereka berdua tahu… ini bukan sesuatu yang sederhana.
Naya menghela napas pelan. “Yang jelas… ini bukan kebetulan.”
Adinda menunduk. Tangannya saling menggenggam kuat di atas pangkuannya.
“Aku takut, Naya…” ucapnya jujur.
Naya sedikit menggeser duduknya, lebih dekat. “Takut sama apa?”
Adinda menelan ludah. “Kalau semua ini benar… berarti hidup aku selama ini… bukan sepenuhnya milik aku.”
Kalimat itu membuat Naya terdiam. Ada sesuatu yang sangat dalam di sana. Bukan sekadar kehilangan ingatan. Tapi kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.
"Intinya saat ini kamu harus tenang bukanya ingatanmu tentang masa lalu sudah mulai pulih meskipun cuma sedikit, dan aku akan bantu membawamu berobat agar kamu bisa mengingat sepenuhnya," ucap Naya.
Adinda memperhatikan itu senyumnya tiba-tiba merekah disertai air mata yang masih menetes.
"Makasih ya kamu sudah mau bantu," sahut Adinda.
Naya tidak menjawab namun hatinya tahu dimanapun ada ketidakadilan disitulah kebenaran harus ditegakkan.
Sementara Adinda mulai mengangkat wajahnya perlahan, mungkin rasa sakitnya masih ada. Tapi kini… tidak hanya tentang itu.
Ada tekad, pelan yang merayap di dalam hati seperti bara yang perlahan menyala.
“Aku gak mau hidup dalam kebohongan lagi,” ucapnya.
Naya mengangguk. “Dan kamu gak akan sendirian.”
Suasana cukup sunyi, tapi kali ini bukan kosong melainkan sunyi yang penuh dengan keputusan. Adinda menghela napas panjang, lalu perlahan berdiri dari duduknya Matanya menutup perlahan.
Dan di balik kelopak matanya itu untuk pertama kalinya, ada bayangan yang sedikit lebih jelas muncul. Cahaya putih. Suara alat medis.
Dan— sebuah suara wanita tenang dan juga dingin.
“Lakukan saja. Yang penting… tidak ada yang tahu.”
Deg.
Mata Adinda langsung terbuka. Napasnya tercekat.
“Naya…” suaranya bergetar.
Naya langsung menoleh. “Kenapa?”
Adinda menatapnya dengan mata yang membesar.
“Aku… dengar suaranya…”
“Siapa?”
Adinda tidak menjawab langsung.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berbisik— “…dia.”
Dan untuk pertama kalinya Adinda sadar masa lalu itu tidak lagi sepenuhnya hilang.
Bersambung. ....
Halo kakak .... Gak nyangka ya sudah 20 bab saja minta doanya ya agar lolos bab terbaik. Dan terima kasih sudah mengikuti Adinda hingga sejauh ini.
Love you sekebun ya ♥️♥️♥️♥️♥️