Di Benua Awan Sembilan, kekuatan ditentukan oleh Qi dan garis keturunan. Li Chen hanyalah seorang pelayan di Sekte Pedang Azure yang menderita cacat pada meridiannya, membuatnya mustahil untuk berkultivasi melampaui tingkat dasar. Namun, saat ia jatuh ke Jurang Keputusasaan setelah dikhianati oleh saudara seperguruannya, ia menemukan makam kuno milik Kaisar Pedang yang Menantang Surga.
Li Chen mewarisi sebuah teknik terlarang: Seni Penelan Bintang, yang memungkinkannya menyerap energi dari artefak yang rusak dan emosi negatif musuhnya. Dengan pedang patah yang memiliki jiwa haus darah, Li Chen memulai perjalanannya. Ia tidak mencari keabadian untuk menjadi dewa, melainkan untuk menghancurkan sistem "Langit" yang menentukan nasib manusia sejak lahir. Dari seorang sampah sekte menjadi penguasa semesta, Li Chen harus memilih: menjadi penyelamat dunia atau iblis yang akan meruntuhkan gerbang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcel ( rxel ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26: Rahasia Jantung Bintang yang Sebenarnya
Kehampaan yang dingin menyelimuti puncak Kuil Matahari. Di atas reruntuhan pilar emas yang dulunya menjadi simbol keabadian, Li Chen berdiri berhadapan dengan Dewa Tertinggi Solaris. Angin badai yang tercipta dari benturan energi suci dan energi iblis merobek jubah mereka, namun tak satu pun dari mereka berkedip. Di belakang Li Chen, Li Xue’er—ibundanya—memancarkan cahaya hijau zamrud dari Teratai Suci, mencoba menopang tubuh Li Chen yang mulai retak akibat beban energi yang ia telan.
Solaris mengangkat tangan kanannya. Di telapak tangannya, sebuah miniatur galaksi berputar, memancarkan tekanan yang sanggup meremukkan tulang ranah Transformasi Dewa sekalipun.
"Kau pikir dengan memadamkan matahari buatanku, kau telah menang?" Solaris bertanya, suaranya halus namun membawa getaran hukum kosmik. "Matahari itu hanyalah mainan. Kekuatan sejati bukan berasal dari cahaya, Li Chen. Kekuatan sejati adalah kemampuan untuk mendikte siapa yang berhak bernapas di semesta ini."
Li Chen batuk, darah hitam kental menetes dari sela bibirnya. "Kau bicara tentang hak? Kau membangun tahtamu di atas sumsum tulang klan-ku! Kau menyebut dirimu dewa, tapi kau hanyalah parasit yang takut akan kegelapan!"
Solaris melesat. Gerakannya tidak lagi berupa perpindahan fisik, melainkan sebuah lompatan ruang. Dalam sekejap, tinjunya yang dilapisi hukum "Keberadaan" menghantam dada Li Chen.
BOOOOOOOOOOM!
Li Chen terlempar menembus tujuh lapisan menara kuil, menghancurkan segala sesuatu di jalurnya. Li Xue’er menjerit, ia mencoba mengikat Solaris dengan akar-akar teratai cahaya, namun Solaris hanya melambaikan tangan, memutus akar-akar itu seolah-olah mereka hanyalah benang rapuh.
"Xue’er, kau seharusnya tetap menjadi baterai yang patuh," kata Solaris dingin.
Li Chen bangkit dari reruntuhan di dasar aula utama. Dadanya cekung, jantungnya berdenyut tidak teratur. Namun, di tengah rasa sakit yang mematikan itu, Jantung Bintang yang ia telan di Istana Es mulai bereaksi dengan cara yang berbeda. Ia tidak lagi meledak-ledak; ia mulai mendingin, menjadi sangat sunyi.
"Li Chen... dengarkan aku," suara Kaisar Pedang terdengar sangat jernih, seolah-olah dia berdiri tepat di sampingnya. "Selama ini kau menggunakan Jantung Bintang sebagai sumber energi. Kau menggunakannya sebagai bahan bakar untuk kemarahanmu. Tapi itu bukan tujuan aslinya."
Li Chen memejamkan mata saat Solaris turun dari langit seperti meteor emas. "Lalu apa, Senior? Beritahu aku sebelum dia menghancurkan kepalaku!"
"Jantung Bintang bukanlah jantung klanmu. Ia adalah Jantung Alam Semesta yang asli sebelum para dewa membaginya menjadi cahaya dan kegelapan. Untuk menggunakannya secara total, kau tidak boleh menelannya. Kau harus menjadi dirinya. Kau harus berhenti mencoba menjadi Li Chen yang penuh dendam, dan mulai menjadi Kehampaan yang merangkul segalanya."
Li Chen tertegun. Menjadi kehampaan? Itu berarti melepaskan identitasnya, egonya, dan mungkin nyawanya.
Penyatuan Mutlak
Solaris mendarat di depan Li Chen, tangannya membentuk pedang cahaya yang sanggup memotong dimensi. "Selamat tinggal, anomali terakhir."
Saat pedang itu turun, Li Chen tidak menghindar. Ia tidak mengangkat pedang Takdir Sembilan Bintang-nya untuk menangkis. Sebaliknya, ia merentangkan tangannya lebar-lebar dan membuka pertahanannya sepenuhnya.
"Seni Penelan Bintang: Nirwana Kehampaan."
Pedang Solaris menembus jantung Li Chen. Namun, tidak ada darah yang keluar. Tubuh Li Chen mulai berubah menjadi partikel cahaya hitam dan perak yang transparan. Jantung Bintang di dalam dadanya meledak, bukan ke luar, tapi ke dalam—menciptakan sebuah singularitas di dalam tubuh fisiknya.
Solaris terbelalak. Ia mencoba menarik tangannya, tapi tangannya terjepit di dalam dada Li Chen yang kini menyerupai lubang hitam hidup. "Apa yang kau lakukan?! Kau akan menghancurkan dirimu sendiri!"
"Aku tidak menghancurkan diriku, Solaris," suara Li Chen terdengar dari segala arah, seolah-olah alam semesta itu sendiri yang berbicara. "Aku hanya sedang kembali ke asal."
Visi Li Chen berubah. Ia melihat awal mula dunia. Ia melihat bahwa cahaya dan kegelapan dulunya adalah satu entitas yang damai. Para dewa seperti Solaris-lah yang menciptakan perpecahan agar mereka bisa berkuasa di atas cahaya. Jantung Bintang yang sebenarnya adalah Keseimbangan.
Rahasia yang Terungkap
Di dalam kesadaran Li Chen, ia melihat sosok ayahnya, Li Ye, dan ibunya di masa muda. Mereka tersenyum.
"Nak," suara ayahnya bergema. "Klan Iblis Bintang tidak pernah ditakdirkan untuk menghancurkan dunia. Tugas kita adalah menjadi penjaga keseimbangan. Saat cahaya menjadi terlalu tirani, kita muncul untuk memakannya. Saat kegelapan menjadi terlalu liar, kita muncul untuk menyinarinya. Kau adalah timbangan yang hilang itu."
Li Chen mengerti sekarang. Selama ini ia bertarung dengan kebencian, yang hanya memperkuat "Cahaya" milik Solaris karena kebencian adalah polaritas yang sama dengan tiran. Untuk mengalahkan Solaris, ia harus menjadi Titik Nol.
Di dunia nyata, tubuh Li Chen menghilang, digantikan oleh sosok mahluk cahaya perak dengan garis-garis hitam yang mengalir seperti aliran sungai bintang. Ia mengangkat tangannya, dan pedang Takdir Sembilan Bintang di tangannya berevolusi menjadi Pedang Keseimbangan Abadi.
"Solaris," Li Chen berkata, suaranya tenang tanpa emosi. "Waktumu sebagai diktator cahaya telah usai."
Li Chen mengayunkan pedangnya. Ayunan itu sangat lambat, namun Solaris menyadari bahwa ia tidak bisa menghindar karena seluruh ruang di sekelilingnya telah menjadi bagian dari Li Chen.
"Hukum Matahari Purba! Lindungi aku!" Solaris berteriak, mengerahkan seluruh esensi jiwanya untuk membentuk perisai.
Tapi pedang Li Chen melewati perisai itu seolah-olah itu tidak ada. Perisai itu bukan hancur, ia hanya dibatalkan. Li Chen tidak menyerang fisik Solaris; ia menghapus "hak" Solaris untuk memerintah energi tersebut.
SRAKKKK!
Lengan kanan Solaris terpotong, dan luka itu tidak mengeluarkan darah, melainkan menguap menjadi debu bintang.
Akhir dari Sang Tiran
"Mustahil! Aku adalah Dewa Tertinggi! Aku adalah Cahaya!" Solaris meraung, wajahnya yang tampan kini penuh dengan keriput saat keabadiannya ditarik paksa oleh kehadiran Li Chen.
"Kau hanyalah sebuah bab dalam sejarah yang terlalu panjang," kata Li Chen. "Dan sekarang, bab itu ditutup."
Li Chen meletakkan telapak tangannya di dahi Solaris.
"Penelan Bintang: Penyucian Kosmik."
Seluruh energi, ingatan, dan hukum yang dicuri Solaris selama puluhan ribu tahun mulai mengalir keluar dari tubuhnya dan kembali ke alam semesta. Kuil Matahari mulai runtuh sepenuhnya, pulau-pulau melayang di Langit Atas jatuh menuju dunia bawah, namun mereka jatuh dengan lembut, seperti bulu yang turun ke air. Li Chen sedang mengatur ulang gravitasi seluruh dunia.
Solaris mengecil, menjadi sosok pria tua yang rapuh, sebelum akhirnya menghilang menjadi partikel cahaya yang menyatu dengan atmosfer. Tidak ada dendam di mata Li Chen saat melihat musuh besarnya lenyap; hanya ada rasa syukur karena tugasnya telah usai.
Dunia Baru
Saat debu pertempuran mereda, Langit Atas tidak lagi berwarna emas yang menyilaukan. Langit kini menjadi biru cerah dengan bintang-bintang yang terlihat jelas bahkan di siang hari—sebuah perpaduan antara siang dan malam.
Li Chen berdiri di atas reruntuhan, tubuhnya kembali menjadi manusia, namun rambut peraknya tetap memancarkan cahaya redup. Li Xue’er berlari mendekat dan memeluk anaknya. Kali ini, tidak ada rantai yang memisahkan mereka.
"Kau melakukannya, Chen'er..." bisik ibunya sambil menangis. "Kau membawa keseimbangan kembali."
Kahn dan para penyintas Sekte Iblis Bintang berkumpul di bawah, menatap pemimpin mereka dengan pemujaan. Mereka siap untuk membangun dunia baru di mana tidak ada lagi pengotak-ngotakan antara cahaya dan kegelapan.
Namun, di dalam pikiran Li Chen, Kaisar Pedang memberikan peringatan terakhirnya.
"Ini adalah akhir dari Solaris, tapi ini hanyalah awal bagi Penguasa Keseimbangan. Alam semesta ini luas, Li Chen. Masih banyak entitas di luar sana yang akan mengincarmu setelah merasakan getaran Jantung Bintang yang baru terbangun."
Li Chen menatap ke arah bintang-bintang di kejauhan. Ia merasakan kekuatan yang luar biasa mengalir di nadinya—kekuatan yang bukan lagi tentang menghancurkan, tapi tentang menjaga.
"Biarkan mereka datang," gumam Li Chen dengan senyum tipis yang penuh percaya diri. "Aku masih lapar."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
Epilog: Legenda Sang Penelan Bintang
Li Chen tidak menjadi Dewa Tertinggi yang baru. Ia membubarkan sistem kasta Langit Atas dan membiarkan energi mengalir bebas ke dunia bawah. Ia kembali ke Benua Utara, membangun sebuah akademi di mana setiap mahluk, baik manusia, iblis, maupun roh, bisa belajar untuk mengendalikan energi mereka tanpa harus menindas yang lain.
Namanya menjadi legenda yang diceritakan oleh para ibu kepada anak-anak mereka. Bukan sebagai monster yang menelan matahari, tapi sebagai pahlawan yang mengajarkan dunia bahwa di dalam kegelapan yang paling pekat sekalipun, selalu ada bintang yang menuntun jalan pulang.
TAMAT.