Saat langit retak dan hukum purba kembali berkuasa, manusia jatuh ke dasar rantai makanan. Di tengah keputusasaan itu, Rifana bangkit dengan luka yang tak kunjung sembuh dan ingatan yang perlahan terasa asing.
Di dunia di mana para Superhuman mulai membangun tatanan baru di atas reruntuhan, Rifana hanyalah anomali yang membawa aroma maut ke mana pun ia melangkah. Dia tidak memiliki kekuatan yang memukau, hanya kemampuan adaptasi yang gila dan perasaan bahwa dirinya bukan lagi manusia yang sama.
Berapa lama dia bisa bertahan di dunia yang tak lagi mengenali keberadaannya? Dan apa yang sebenarnya mengawasi dari balik fajar yang tak kunjung tiba?
Jadwal Up : 18.30 WIB
6-7 Ch/minggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lloomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reaksi tak terduga
Rifana mendengarkan penjelasan mereka tentang kejadian sebelumnya, pupilnya bergerak berusaha mengingat sesuatu.
Seperti yang dikatakannya sebelumnya, Ziva sepertinya adalah ketua kelasnya saat SMA dulu. Meski Rifana tak mengingatnya.
Ingatannya hanya sebatas kelulusan, namun setelah mendengar cerita Ziva dia mengingat beberapa hal.
Dia merupakan salah satu siswa, yang bisa dibilang cukup berprestasi. Itulah mengapa Ziva mengingat Rifana dengan jelas, di matanya impresi pria pemurung ini cukup bagus.
Namun karena Rifana sangat jarang berbicara dengan siapapun, tak ada yang terlalu dekat dengannya termasuk Ziva.
Dia hanya mengenal dan mengagumi kepintaran Rifana, sampai suatu hari Rifana berhenti datang ke sekolah.
Ziva tak tahu apa alasannya, namun saat dia bertanya pada wali kelasnya dikatakan kalau Rifana akan belajar dari rumah karena suatu keadaan khusus menimpanya.
"Yah entah apa yang terjadi, gua gak inget" Rifana mengacak-acak rambutnya dengan frustasi, dia menghela nafas berat dan bersandar di sofa.
Matanya kembali ke dua bersaudara itu "Jadi" Wajahnya serius "Kenapa kalian nolong gua?" Dia mengamati mereka, sejak Rifana turun dia sangat sadar akan sesuatu.
Meskipun mereka tak mengatakannya, tindakan adik kakak itu terlihat sangat jelas, Rifana bahkan ragu dengan perilaku mereka.
"Gak mungkin cuma karena lu kenal gua kan" Pandangannya diarahkan ke Ziva yang duduk tak jauh darinya, Rifana sangat curiga pada dua bersaudara ini.
Sejak Rifana turun dan duduk, kedua bersaudara ini selalu melihat luka di tubuhnya dengan penuh penasaran.
Luka panjang di pelipisnya, dan robekan di tangannya 'Lagian, orang macam apa yang bantu orang lain tanpa motif' Khususnya dalam kondisi dunia yang telah kiamat.
Rifana tak bisa begitu saja percaya pada mereka berdua hanya karena salah satunya mengatakan dia mengenalnya.
'Itu wajar bukan?'
Lebih baik waspada, ditambah ingatannya yang kacau Rifana berusaha sebisa mungkin menjaga tindakannya.
Saat pertanyaan itu dilemparkan ke atas meja Ziva dan Adam terdiam untuk sesaat, mereka saling menatap sebentar.
"Itu" Ziva berbicara lagi, nada santainya kini sedikit bergeser "Lu, lu bukan manusia kan?" Matanya terpaku pada luka Rifana, dia sendiri telah menyaksikannya.
Dia bangun dari sofa dan pindah ke depan Rifana 'Ni cewek mau ngapain?' dengan refleks dia sedikit mundur, dia menarik tangannya dan dengan cepat melepas perban itu.
"Lu ngapain!" Ziva melepas balutan perban di tangan Rifana, Adam di sisi lain hanya menyaksikan mereka dalam diam, tatapannya terasa meragukan.
Dan saat perban terlepas, adegan mengerikan yang luar biasa terekspos.
Dibalik balutan perban, sebuah luka daging mengerikan bereaksi dengan aneh. Ketiganya melihat daging-daging yang dirobek itu terjalin kembali layaknya jahitan baju.
Dengan mata telanjang luka itu sembuh dengan perlahan, Rifana tahu tentang kemampuan skillnya namun dia tidak menyangka itu akan benar benar efektif.
Daging di lengannya telah direnggut dalam porsi yang besar hingga menunjukan susunan tulang seputih susu dibaliknya.
Namun sekarang, semua kehilangan itu telah tumbuh kembali dengan kekuatan misterius.
Ziva kemudia kembali melanjutkan "Lu itu Superhuman bukan?" Pernyataan langsung itu membuat Adam yang selama ini diam di belakang tiba-tiba menerobos masuk.
Dia melompat dengan semangat yang membara.
"Ajari kami!" Dia menggeser adiknya ke sisi dan berkata dengan antusias, karakter nya berubah dalam sekejap.
Ini adalah mimpinya!
Mata Adam berbinar saat mendengar kata itu, superhuman!
Meski adiknya telah memberitahunya tentang regenerasi aneh pria ini, Adam masih tidak mempercayai itu.
Kecuali dia melihatnya sendiri Adam tak ingin mempercayai itu.
Namun adegan sebelumnya telah membengkokkan semua keraguannya, ditambah perasaan anehnya saat mebantu pria itu kemarin masih tak bisa lepas dari benaknya.
...
Adam merasa dia telah menghabiskan seluruh tenaganya hanya untuk menyelamatkan sebuah mayat! Dengan tubuh dingin, dan nadi yang tak terdeteksi wajar baginya untuk percaya itu.
Adam, dia hampir berdebat dengan Ziva saat merasakan kematian di punggungnya.
Tinggalkan saja pria ini, dia sudah mati! Ziva hanya terdiam tak menjawab, dia tampak aneh. Tangannya menyentuh tubuh dingin itu yang memucat secara perlahan karena kehilangan darah.
Mereka masih harus pergi beberapa blok untuk sampai di rumah, jika mereka bentrok dengan salah satu kadal itu lagi akan sangat berbahaya.
Mereka berhenti sejenak, Ziva masih bersikeras untuk membantu Rifana namun Adam sinis, dia menurunkan Rifana dan berjalan mengendap keluar dari gang kecil.
"Tunggu disini, gua cek kedepan" Adam pergi sendirian ke depan, mereka mungkin akan bertengkar jika dia memaksa gadis itu lebih keras.
Tubuh Rifana terbaring dingin di tanah Ziva menatap luka mengerikan di tangannya dan dengan cepat mengeluarkan perban darurat yang dibawanya.
Gadis itu duduk disamping Rifana, dia menggulung bajunya dan hendak membalut luka mengerikan di lengan Rifana.
Namun, gerakannya terhenti.
Mata Ziva membelalak tak percaya 'Hah?' Itu pertama kalinya Ziva melihatnya, daging yang robek itu seakan dirajut dengan kekuatan misterius, memulihkan luka itu secara perlahan.
Mulut Ziva dibiarkan terbuka, hal ini tentunya bukan hal yang "Normal" Dia merasakan tekanan aneh hinggap di pundaknya.
Matanya bergerak kesana kemari dipenuhi keterkejutan, dan saat matanya meninjau langit pikirannya kembali.
Pemandangan megah yang aneh memanjakan matanya. Langit yang dipenuhi retakan memancarkan cahaya halus melalui celahnya, menyinari Ziva dengan cahayanya.
"Benar.." Ziva mengingat detail pentingnya, dunia telah kiamat. Monster mutan muncul entah darimana, dan bahkan dia bertemu dengan mahluk aneh lainnya yang sangat keji.
...
Adam masih sangat bersemangat, khayalannya akan kekuatan super telah ada sejak kecil seperti pria pada umumnya.
Dan saat melihat kesempatan, Adam langsung berkata tanpa pamrih. Dia terus mengatakan hal aneh tentang mimpinya, membuat Rifana kewalahan.
Rifana menggaruk kepalanya, apakah persepsinya melemah? Pikirnya tanpa daya.
'Apa gua terlalu khawatir?' Sikap bisa diandalkan dan misterius itu hilang, digantikan dengan kekonyolan aneh yang jujur.
Rifana menghela nafas.
Dia mendorong Adam menjauh darinya, mulutnya masih mengatakan hal hal itu memohon kepadanya.
"Ah ayolah kawan, ajari kami!" Dia memeluk kaki Rifana dengan erat 'Mana harga diri lu cok' Dia menurunkan bahunya bingung "Lu pasti tau caranya kan broo, ayolah bantu kami" Pria itu terus berbicara hingga Rifana menarik nafas muak.
"Oke oke, berhentilah, lepaskan kakiku" Rifana menggaruk kepalanya, menatap pria itu dengan aneh, tingkahnya benar benar tak terduga 'Orang ini. Ada yang salah dengan kepalanya'
Dia berdiri dan berjalan ke jendela, langit yang sama masih menemani dunia yang kesepian.
Rifana melihat ke sekitar, tubuh-tubuh tak bernyawa masih bergeletak di banyak tempat berbeda dengan lingkungan rumahnya yang telah disapu bersih.
'Sepertinya kadal itu belum sampai kesini' Dia berbalik menatap dua orang itu "Kalian ingin kekuatan kan?" Ucapnya dengan nada lelah.
"Gua bisa bantu, tapi" Katanya terhenti, Rifana merenggangkan tubuhnya sebelum melanjutkan.
"Bantu gua, bunuh kadal itu"