Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.
Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.
Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Debu semen seperti kabut tipis yang tidak pernah hilang dari pandangan Agus. Setiap kali ia menjatuhkan satu sak semen seberat lima puluh kilogram dari pundaknya ke tumpukan palet, debu putih itu terbang, masuk ke hidungnya, dan menempel di bulu matanya yang basah oleh keringat. Kaos oblong berwarna biru yang ia kenakan sudah berubah warna menjadi abu-abu kusam. Pundak kanannya terasa panas, kulitnya mungkin sudah lecet lagi, tapi Agus tidak punya waktu untuk memeriksanya. Truk kedua baru saja masuk ke area gudang, dan mandor sudah berteriak agar mereka segera menyelesaikannya sebelum jam makan siang.
Agus menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. Ia menoleh sejenak ke arah ponselnya yang ia letakkan di dalam tas kain kecil, tergantung di paku dinding gudang. Ada keinginan kuat untuk mengecek apakah Nor Rahma membalas pesannya, tapi ia mengurungkan niat itu. Ia tahu, jika ia terlihat sering memegang ponsel, mandor tidak akan segan-segan memotong upah hariannya. Dan bagi Agus, seribu rupiah pun sangat berarti hari ini.
Setelah dua jam bertarung dengan ratusan sak semen, waktu istirahat tiba. Agus berjalan menuju keran air di pojok gudang. Ia mengguyur kepalanya dengan air dingin, membiarkan debu-debu itu luruh ke lantai semen yang becek. Ia lalu duduk di lantai, bersandar pada dinding yang dingin, dan membuka tas kainnya.
Ia mengeluarkan ponsel dengan layar retak itu. Ada dua pesan baru dari Nor Rahma.
Nor Rahma: "Wah, logistik material? Pasti capek ya, Mas. Aku baru saja selesai rapat bulanan. Capek juga, tapi cuma capek pikiran karena target kantor."
Nor Rahma: "Oh iya, Mas Agus tinggal di daerah mana? Siapa tahu kapan-kapan kita bisa bertemu untuk sekadar minum kopi."
Agus membaca pesan itu berulang kali. Kata minum kopi bagi orang seperti Rahma mungkin berarti duduk di kafe berpendingin ruangan dengan harga satu gelas kopi yang setara dengan lima kilo beras. Sedangkan bagi Agus, kopi adalah bubuk sasetan yang diseduh ibunya di dapur berasap.
Ia mulai mengetik dengan jempolnya yang masih sedikit gemetar karena kelelahan otot.
Agus: "Saya tinggal di pinggiran kota, Rahma. Jauh dari pusat kota. Kerja lapangan memang capek fisik, tapi saya sudah terbiasa. Kamu kerja di kantor ya? Pasti lingkungannya bersih dan nyaman."
Agus sengaja tidak langsung menjawab ajakan bertemu. Ia takut. Ia belum siap memperlihatkan siapa dirinya yang sebenarnya. Ia takut jika Rahma melihat tangan kasarnya secara langsung, wanita itu akan segera menghapus aplikasinya dan memblokir nomornya.
Nor Rahma: "Iya, aku di bagian administrasi sebuah perusahaan swasta. Nyaman sih, tapi terkadang jenuh juga. Makanya aku cari teman mengobrol di sini. Aku suka cara Mas Agus membalas pesan, terlihat jujur."
Jujur. Kata itu membuat Agus merasa bersalah. Apakah ia benar-benar jujur? Ia memang tidak berbohong soal pekerjaannya, tapi ia menyembunyikan fakta betapa melaratnya kondisi keluarganya. Ia menyembunyikan fakta bahwa ponsel yang ia gunakan adalah barang bekas yang ia beli dengan mencicil kepada temannya.
Sore harinya, Agus pulang dengan membawa uang upah harian sebesar delapan puluh ribu rupiah. Di kepalanya, ia sudah membagi uang itu. Empat puluh ribu untuk membeli obat batuk bapak agus dan beras dua kilogram. Sepuluh ribu untuk bensin motor agar besok bisa bekerja lagi. Sisanya, tiga puluh ribu, ia berikan kepada Bu Asmah untuk keperluan dapur. Tidak ada yang tersisa untuk tabungan nikah atau sekadar modal kencan.
Saat ia memasuki halaman rumah, ia mendengar suara batuk yang sangat keras dari dalam. Itu suara bapak agus. Langkah Agus bergegas masuk. Di ruang tengah, ia melihat ibunya sedang memijat punggung bapak agus yang terduduk lemas di lantai.
"Baru pulang, Gus?" tanya ibu agus dengan wajah cemas.
"Iya, Bu. Pak, kenapa? Batuknya makin parah?" Agus berlutut di samping ayahnya. Wajah bapak agus terlihat sangat pucat, dan napasnya terdengar pendek-pendek.
"Nggak apa-apa, Gus. Cuma tersedak tadi," kata Pak Marjuki berusaha menenangkan, meski suaranya nyaris hilang.
"Ibu sudah buatkan air jahe, tapi tidak membalas. Bapakmu ini keras kepala, disuruh ke puskesmas nggak mau, katanya sayang uangnya," keluh ibu agua.
Agus menghela napas panjang. Ia mengeluarkan uang dari sakunya. "Ini, Bu. Empat puluh ribu buat beli obat ke apotek sekarang. Ibu minta tolong tetangga buat antar pakai motor, atau Agus saja yang jalan sekarang."
"Kamu baru pulang, Gus. Kamu capek. Biar Ibu minta tolong Nak Lukman sebelah rumah," kata ibu agus sambil menerima uang itu dengan tangan gemetar.
Agus melihat ibunya pergi ke rumah tetangga. Ia kini tinggal berdua dengan ayahnya di ruang tengah yang remang-remang karena satu lampu bohlamnya sudah mulai redup. bapak agus menatap Agus dengan mata yang sayu.
"Gus," panggil ayahnya.
"Iya, Pak?"
"Kalau nanti Bapak sudah nggak ada, kamu harus jaga Ibu. Bapak sedih, Gus. Sampai setua ini, Bapak nggak bisa kasih apa-apa buat kamu. Jangankan buat modal nikah, buat makan sehari-hari saja Bapak masih menyusahkan kamu."
Agus merasakan tenggorokannya tercekat. "Pak, jangan bicara begitu. Agus nggak pernah merasa Bapak susahkan. Yang penting Bapak sehat dulu."
"Wanita yang kamu ceritakan tempo hari... siapa namanya? Rahma?" tanya bapak agus pelan.
Agus terkejut. Rupanya ayahnya masih ingat obrolan singkat mereka beberapa malam lalu. "Iya, Pak. Nor Rahma."
"Bawa dia ke sini kapan-kapan. Bapak ingin lihat. Kalau memang dia jodohmu, Bapak mau minta maaf sama dia karena nggak bisa kasih apa-apa untuk acara lamaran kalian nanti," ucap bapak agus.
Kalimat itu seperti sembilu yang menyayat hati Agus. Ia membayangkan Rahma yang cantik dan bersih datang ke rumah ini. Melihat dinding kayu yang sudah lapuk, atap yang bocor, dan ayahnya yang sakit-sakitan. Agus merasa dunia ini sangat tidak adil. Mengapa untuk mencintai seseorang saja, ia harus memiliki beban sebesar ini?
Malam itu, setelah bapak agus meminum obat dan tertidur, Agus kembali ke kamarnya. Ia membuka ponselnya. Ada satu pesan baru dari Rahma yang masuk satu jam yang lalu.
Nor Rahma: "Mas Agus, aku serius soal kopi itu. Minggu depan aku libur. Bagaimana kalau kita bertemu di kedai kopi dekat alun-alun? Aku yang tentukan tempatnya, Mas tinggal datang saja. Aku ingin melihat orang di balik pesan-pesan singkat ini."
Agus menatap pesan itu lama. Di satu sisi, hatinya melonjak kegirangan karena Rahma ingin menemuinya. Di sisi lain, ia melihat dompetnya yang tergeletak di atas kasur. Kosong. Benar-benar kosong. Ia bahkan tidak tahu apakah besok akan ada truk semen yang datang lagi ke gudang agar ia bisa mendapatkan upah.
Ia teringat permintaan ayahnya agar membawa Rahma ke rumah, dan permintaan Rahma untuk bertemu di tempat yang layak. Agus berada di persimpangan jalan. Ia mencintai wanita yang berada di luar jangkauan ekonominya, sementara keluarganya sendiri sedang berjuang untuk sekadar bernapas.
Agus mulai mengetik balasannya dengan sangat hati-hati. Ia harus membuat keputusan, meskipun ia tahu keputusan itu mungkin akan menyakiti harga dirinya sendiri.
Agus: "Minggu depan ya? Saya usahakan bisa, Rahma. Tapi maaf, saya tidak bisa menjanjikan tempat yang mewah. Jika kamu tidak keberatan, apakah kita bisa bertemu di tempat yang lebih sederhana?"
Setelah mengirim pesan itu, Agus mematikan ponselnya. Ia tidak sanggup menunggu jawaban Rahma malam ini. Ia memejamkan mata, namun yang terbayang bukanlah wajah cantik Rahma, melainkan wajah pucat ayahnya dan debu semen yang menempel di pundaknya.
Ia harus bekerja dua kali lebih keras minggu depan. Ia tidak tahu bagaimana caranya, tapi ia harus punya uang di saku saat bertemu Rahma nanti. Karena bagi Agus, bertemu Rahma tanpa membawa sepeser pun uang adalah bentuk penghinaan paling nyata terhadap dirinya sendiri sebagai laki-laki.