NovelToon NovelToon
Tanah Berdebu

Tanah Berdebu

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan rahasia
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏

Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.

Happy Reading Dear 🤗🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#2

Dunia Zavier El-Shaarawy seolah terbelah menjadi dua kutub yang saling menghancurkan. Di satu sisi, ia adalah kebanggaan keluarga—si anak hilang yang pulang membawa hafalan suci. Di sisi lain, ia adalah pendosa yang masih bisa merasakan sisa aroma parfum Zaheera di ujung napasnya.

Ruang makan yang teduh itu perlahan terasa menyempit, oksigen seolah menipis saat Umi Hannah terus mengulas senyum bangganya. Zavier menatap tangannya yang bersih; tangan yang baru saja memegang kitab, namun ingatan motoriknya masih merekam jelas bagaimana tangan itu memegang gelas sloki berisi cairan amber di kelab malam The Zenith.

"Alhamdulillah, paman dan bibimu di Jakarta benar-benar menjaga keponakan mereka," suara Abi Luqman kembali terdengar, memecah lamunan Zavier yang kelam. "Mereka bilang kamu anak rumahan. Paling jauh hanya ke perpustakaan atau apartemen untuk belajar tenang. Masya Allah."

Zavier menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Anak rumahan? batinnya menjerit.

Ia teringat paman dan bibinya di Jakarta—saudara dari pihak ibunya yang mengelola gurita bisnis kakeknya di Kota A. Mereka adalah orang-orang yang sangat menyayanginya, namun kasih sayang itu berwujud perlindungan yang salah. Paman dan bibinya tahu Zavier sering pulang larut malam dengan aroma tembakau dan alkohol yang samar.

Mereka tahu Zavier memiliki apartemen mewah yang sering ia gunakan untuk membawa Zaheera. Namun, demi menjaga perasaan Umi Hannah, mereka menciptakan laporan palsu. Mereka membangun tembok kebohongan yang rapi, mengatakan bahwa Zavier adalah pemuda saleh yang hanya fokus pada Study dan bisnis keluarga.

Kini, kebohongan itu menjadi jerat leher bagi Zavier.

Zavier El-Shaarawy duduk di ujung meja, menunduk dalam. Ia mengenakan baju koko putih bersih yang disetrika rapi dan sarung tenun berwarna gelap. Rambutnya yang di Kota A selalu acak-acakan dan penuh dengan pomade mahal, kini tertutup rapi oleh peci hitam. Wajahnya yang tampan terlihat bersih, namun di balik ketenangan itu, ada badai yang sedang mengamuk di dalam dadanya.

"Bagaimana perkembangan adikmu, Azlan?" tanya Kyai Luqman sambil mematahkan kerupuk.

Azlan Syahrezad, kakak laki-laki Zavier yang berusia 24 tahun—kembaran dari Syafi'iah—menoleh ke arah Zavier dengan senyum bangga. Azlan adalah sosok "Gus" sempurna; ia cerdas, disiplin, dan sudah menjadi tangan kanan Abi dalam mengelola Pesantren juga Bisnis Keluarga.

"Alhamdulillah, Abi," jawab Azlan tenang. "Zavier menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Meskipun tiga tahun berada di Kota A, setoran hafalan Qur'an nya masih utuh, tajwidnya bahkan semakin matang. Sekarang, dia sedang fokus mendalami Kitab. Dia sangat rajin, Abi. Hampir setiap malam saya lihat lampunya masih menyala untuk belajar."

"Alhamdulillah... Masya Allah," gumam Kyai Luqman dengan nada penuh syukur. Beliau meletakkan sendoknya sejenak dan menatap Zavier dengan mata yang berkaca-kaca. "Abi bangga padamu, Zavier. Abi takut gemerlap ibu kota merusak mutiara di dadamu. Tapi ternyata, kamu membuktikan bahwa didikan pesantren tidak luntur oleh keadaan."

Umi Hannah mengusap bahu Zavier dengan penuh kasih sayang. "Umi selalu percaya pada Zavier. Terima kasih sudah menjaga amanah Umi dan Abi, Nak."

Zavier hanya bisa terdiam. Setiap kata pujian yang keluar dari mulut orang tuanya terasa seperti sembilu yang menyayat nuraninya. Ia merasa seperti seorang penjahat yang sedang mengenakan topeng malaikat.

Pikiran Zavier melayang kembali ke kota A. Ke aroma alkohol yang menyengat di tenggorokannya saat ia menantang teman-temannya dalam kompetisi minum. Ia memang tidak pernah merokok, apalagi menyentuh narkoba—karena ia masih memiliki sedikit rasa takut pada Tuhan yang tersisa—tapi alkohol telah menjadi pelariannya dari rasa bosan dan hampa.

Dan yang paling berat... Zaheera.

Zavier memejamkan matanya sejenak. Ia teringat bagaimana kulitnya bersentuhan dengan kulit Zaheera. Ia teringat bagaimana mereka telah melampaui batas-batas yang seharusnya dijaga oleh seorang penjaga Al-Qur'an. Mereka telah bercinta. Berkali-kali. Dan di meja makan ini, di hadapan orang suci seperti Abinya, Zavier merasa dirinya adalah seonggok sampah yang dibungkus kain kafan putih.

"Kenapa, Zavier? Kok cuma diam? Makanannya tidak enak?" tanya Syafi'iyah, kakak perempuannya, dengan nada menggoda.

Zavier tersentak, mencoba menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis yang dipaksakan. "Enak, Mbak. Enak sekali. Zavier cuma... sedang memikirkan bab kitab yang tadi malam dibaca."

"Masya Allah, saking khusyuknya belajar sampai terbawa ke meja makan," puji Syafi'iyah sambil tertawa kecil.

Zavier menunduk lagi, menyuap nasi uduk itu yang rasanya tiba-tiba hambar di lidahnya. Munafik. Kata itu berdengung di telinganya. Ia teringat bagaimana ponselnya dirazia oleh Azlan Beberapa Hari yang lalu. Azlan hanya mengira Zavier kecanduan game atau media sosial, tanpa tahu bahwa di dalam folder tersembunyi ponsel itu, tersimpan foto-foto Zaheera yang berpakaian minim, foto-foto yang akan membuat seisi pesantren gempar jika terungkap.

"Maafkan hamba ya Allah..." bisik hati Zavier di sela-sela kunyahannya.

Setiap kali ia sujud di masjid pesantren, ia merasa bumi yang ia pijak hendak menelannya. Ia merasa tidak pantas berdiri di belakang Abinya saat salat berjamaah. Namun, ia terlalu pengecut untuk jujur. Ia tidak sanggup melihat kekecewaan di mata Umi-Nya. Ia tidak sanggup melihat Abi-nya yang terhormat harus menanggung malu karena perbuatan bejat putra ketiganya.

"Zavier," panggil Kyai Luqman tiba-tiba.

"Iya, Abi?"

"Nanti sore, temani Abi ke Perumahan Pesantren. Ada warga baru yang pindah dari Jakarta. Namanya Pak Narendra. Dia baru saja hijrah. Beliau minta dibimbing untuk memulai hidup baru di sini. Kamu yang dari Kota A, mungkin bisa lebih mudah nyambung kalau bicara dengan keluarganya."

Jantung Zavier seolah berhenti berdetak. Narendra? Dari Kota A?

Ia mencoba menenangkan diri. Kita A itu luas. Ada jutaan orang bernama Narendra di sana. Tidak mungkin... tidak mungkin itu keluarga Zaheera. Zaheera adalah putri orang kaya raya yang tidak akan mungkin sudi menginjakkan kaki di desa ini.

"Baik, Abi. Zavier akan temani," jawabnya dengan suara yang sedikit bergetar.

"Oh iya, Abi hampir lupa," Kyai Luqman menyeka bibirnya dengan serbet. "Karena kamu kuliah di Universitas Umum di Kota B, Abi harap kamu tetap menjaga marwah. Meskipun kampus itu umum, kamu tetap seorang Gus. Azlan dan Syafi’iyah juga mengajar di sana, jadi mereka bisa memantau mu."

Zavier memaksakan sebuah senyum. Kota B tidak jauh dari area pesantren, hanya butuh waktu Sepuluh menit berkendara. Namun bagi Zavier, jarak itu terasa seperti ribuan mil karena ia harus terus mengenakan topengnya. Di kampus, ia harus menjadi mahasiswa teladan, adik dari ustadz dan ustadzah yang dihormati, sementara hatinya tertinggal di apartemen mewah Kota A.

"Zavier akan jaga diri, Abi," jawabnya pendek, meski suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.

Setelah makan siang selesai, Zavier segera berpamitan ke kamarnya. Begitu pintu tertutup, ia menyandarkan punggungnya di daun pintu dan merosot hingga terduduk di lantai.

Dua minggu terakhir di pesantren terasa seperti penjara bawah tanah bagi jiwanya yang terbiasa bebas. Ia merindukan kebisingan Kota A, ia merindukan dentuman musik yang bisa menenggelamkan suara hatinya, dan yang paling parah, ia merindukan sentuhan Zaheera yang membuatnya merasa "hidup"—meski hidup dalam kubangan dosa.

Setiap kali ia mengenakan peci dan melangkah menuju masjid untuk mengimami santri atau sekadar setor hafalan, ia merasa bumi pesantren yang suci ini menolaknya. Ia merasa seperti noda hitam di atas hamparan salju putih.

Hanya dua minggu, tapi rasanya seperti dua abad.

Di kamar yang sederhana ini, hanya ada tumpukan kitab dan sajadah. Tidak ada lampu neon fuchsia, tidak ada dentuman musik EDM, tidak ada aroma tubuh Zaheera yang memabukkan. Yang ada hanyalah kesunyian yang menghakimi.

Ia sangat merindukan Zaheera. Ia merindukan kebebasannya di kota A. Tapi di saat yang sama, ia merasa ketakutan yang luar biasa. Jika ia terus berpura-pura menjadi Gus yang sempurna, ia akan mati dalam kemunafikan. Tapi jika ia berhenti, ia akan menghancurkan segala yang dicintai keluarganya.

"Zaheera... andai kamu tahu aku siapa sebenarnya di sini," gumamnya lirih.

Ia bangkit, berjalan menuju cermin kecil yang tertempel di dinding. Ia menatap pantulan dirinya. Seorang pemuda tampan dengan wajah bersih tanpa dosa. Ia benci wajah itu. Ia benci topeng itu.

Zavier mengambil Al-Qur'an kecil dari atas mejanya. Ia membukanya secara acak, dan matanya tertuju pada sebuah ayat tentang tobat. Air matanya jatuh menetes di atas lembaran kertas kuning itu. Ia ingin kembali, tapi jalan pulang menuju Tuhan terasa begitu terjal bagi seseorang yang sudah terlalu jauh melangkah di jalan setan.

Kemudian Ia merogoh saku sarungnya, mengeluarkan ponsel yang selama ini ia sembunyikan di bawah tumpukan kitab. Membuka galeri foto yang terenkripsi. Di sana, terpampang wajah Zaheera. Foto itu diambil di balkon apartemennya saat matahari terbenam. Zaheera mengenakan tank top hitam ketat, rambutnya berantakan tertiup angin, dan matanya menatap Zavier. Di bawahnya, ada foto mereka berdua di tempat tidur, hanya tertutup selimut, tersenyum ke arah kamera setelah kelelahan bercinta.

Zavier membelai layar ponselnya. Air mata yang sedari tadi ia tahan di meja makan kini luruh juga.

"Aku munafik, Zee... Aku benar-benar munafik," isaknya tanpa suara.

Ia membenci dirinya sendiri. Ia membenci kenyataan bahwa ia adalah putra dari seorang Kyai besar dan ibu seorang dokter yang sangat dihormati. Ia membenci kenyataan bahwa saudara-saudaranya begitu sempurna dalam menjalankan peran mereka. Sementara dia? Dia hanyalah produk gagal yang dipoles sedemikian rupa agar tampak mengilap.

Pikirannya kembali ke tawaran Abi untuk menemui keluarga Pak Narendra sore nanti. Nama itu mengusiknya. Pak Narendra, orang Dari kota A yang baru hijrah. Zavier merasa cemas. Bagaimana jika orang itu mengenalinya?

Tiba-tiba, suara ketukan di pintu membuat Zavier tersentak. Dengan sigap, ia menyembunyikan ponselnya di balik bantal dan meraih sebuah kitab yang ada di dekatnya.

"Zav? Ini Mas Azlan. Kamu di dalam?"

Zavier menarik napas dalam, mengatur raut wajahnya agar tampak tenang. Ia membuka pintu dan mendapati Azlan berdiri di sana dengan senyum khasnya.

"Ada apa, Mas?"

"Abi bilang kita berangkat lebih awal ke rumah Pak Narendra. Beliau sudah menunggu. Ayo, ganti bajumu dengan batik yang lebih formal. Pak Narendra ini orang penting, kita harus menyambutnya dengan baik."

Zavier mengangguk pasrah. "Baik, Mas. Lima menit lagi saya turun."

Saat Azlan berbalik, Zavier kembali menatap cermin. Ia melihat dirinya mengenakan batik cokelat tua, terlihat begitu berwibawa dan suci. Ia mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. Ia tidak tahu bahwa sore ini, takdir sedang menyiapkan kejutan yang akan meruntuhkan seluruh sandiwaranya.

Di balik pintu rumah Pak Narendra yang akan ia datangi, sebuah rahasia besar telah menunggunya—rahasia yang akan memaksa Zavier memilih antara mempertahankan kehormatan keluarganya atau mengikuti ego cintanya yang terlarang.

Setiap langkah yang ia ambil menuruni tangga rumahnya terasa seperti langkah menuju pengadilan.

Zavier El-Shaarawy, sang penjaga Al-Qur'an sekaligus sang pendosa Kota A, kini sedang berjalan menuju takdir yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
winpar
thorrrr lnjut ceritanya thorrrr
Ros🍂: ashiappp kak🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
semangat thor 💪💪💪
Ros🍂: Jangan lupa di-like ya kak🙏 biar Author semangat, ma'aciww 🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
di tggu up ny ya thor jgn lm2 ,, aku nggak sanggup nggu lm2 🤣🤣🤣
Ros🍂: persis Zavier 🤣 nggak kuat lama-lama 🥰🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!