Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh membuat Nina Safira kehilangan akal sehatnya. Dia datang ke sebuah bar berniat untuk menghibur diri, namun hal tak terduga terjadi, akibat kecerobohannya dia mabuk berat dan bermalam bersama pria asing di sebuah hotel. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Lantas tindakan apa yang diambil Nina setelah kehormatannya terenggut oleh pria yang belum dikenalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Perundungan
"Lepaskan! Lepaskan saya!" Nina menjerit meronta ingin melepaskan diri dari cengkraman dua petugas keamanan yang diperintah oleh Maura. Nina tidak tahu apa yang membuat Maura begitu membencinya, bahkan tega merebut kekasihnya.
"Diam kamu jalang! Enyah saja kau dari sini!"
Semakin menjadi-jadi tingkah Maura yang ingin membuatnya malu. Di saat situasi menegangkan Rendra juga tidak ada bersamanya.
"Maura! Apa salahku? Aku tidak pernah mengganggumu! Kenapa kau selalu membuat ulah denganku?" Nina meminta penjelasan atas perlakuan wanita yang sudah mengambil mantan kekasihnya. Sebenarnya ia sudah banyak mengalah dan tak lagi mempermasalahkan kalau Maura menjalin hubungan terang-terangan dengan Bagas, hubungannya dengan Bagas sudah berakhir namun tak membuat Maura melepaskannya.
"Kamu nanya di mana kesalahanmu?" Maura semakin mendekat dengan pergerakan tangannya mencengkram leher Nina dengan kasar. "Perlu kau ketahui saja, sebelum kau berhubungan dengan Bagas, aku duluan yang dekat dengannya. Kau perebut! Enyah saja kau!"
Dengan kasar Maura melepaskan cengkraman tangannya dan mendorong keras tubuh Nina hingga terjatuh dan menabrak meja yang dipenuhi oleh minuman hingga membuat semua minuman itu terjatuh dan pecah berantakan di lantai.
Pyaar..., suara pecahan gelas dan juga botol minuman terdengar begitu keras hingga membuat suasana menjadi gaduh. Para tamu undangan langsung tertuju pada mereka, tepatnya pada Nina yang sudah terjatuh lunglai di lantai bersamaan dengan pecahan botol dan juga cangkir. Gadis itu menyengir saat mendapati tangannya tergores oleh pecahan beling.
"Ada apa ini?" Wiryo, pria paruh baya sekaligus penyelenggara pesta itu terkejut bukan main. Ia mendapati tempat jamuannya sudah berantakan tak karuan.
Wiryo dan keluarganya membeku melihat pecahan beling yang berserakan di lantai. Sungguh hal yang menyedihkan, selain acaranya kacau tentu banyak mengalami kerugian.
"Siapa pelakunya?" Istri Wiryo melotot emosi. Ditatapnya Nina yang masih terduduk di lantai.
"Di—dia Tante!" Maura menuding Nina sebagai pelakunya.
Nina menggeleng. "Bu—bukan Aku yang merusaknya, tapi Maura yang mendorongku hingga membuatku terjatuh." Gadis itu meyakinkan bahwa dirinya memang tidak bersalah, Maura telah memfitnahnya.
Maura melotot tak terima. Tubuhnya juga bergetar, seolah-olah tengah menyimpan kebohongan. "Jangan sembarangan kalau ngomong! Siapa juga yang mendorongmu! Aku hanya menegurmu, bukan mendorongmu!"
Wiryo maupun keluarganya bingung, harus percaya pada siapa, tentu diantara mereka harus ada yang mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Om.., percayalah padaku, dia sedang memfitnahku. Dia itu hanya wanita kampung yang datang untuk meminta makan. Dia tidak pantas berada di antara kita."
"Diam kau Maura!" Wiryo langsung membentaknya.
Wiryo tak sepenuhnya mempercayai apa yang dikatakan oleh keponakannya, namun ia juga tidak bisa melakukan pembelaan terhadap tamu yang tidak dikenalnya.
"Pa, bisa jadi apa yang dikatakan oleh Maura memang benar, dia hanya orang miskin yang masuk ke sini cuma ingin mencari makanan gratis. Seharusnya kita lebih berhati-hati."
Zoya, istri Wiryo itu berpikir apa yang dikatakan oleh Maura ada benarnya. Kehadiran wanita asing itu hanya ingin membuat keonaran di pestanya.
"Ma, kita nggak tahu permasalahan mereka hingga menciptakan keributan di sini. Tadi aku lihat gadis ini datang bersama anaknya pak Hermawan, jadi kurasa apa yang dikatakan oleh Maura itu tidaklah benar. Mana mungkin anaknya pak Hermawan datang ke sini bersama orang sembarangan," bantah Wiryo.
Zoya mengibaskan tangannya jengkel. "Halah! Kau itu bawa-bawa putranya pak Hermawan pula! Dia sudah merusak acara kita, maka dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya! Aku nggak peduli dia itu pengemis ataupun orang gila, bagiku yang penting dia mempertanggungjawabkan perbuatannya!"
"Iya benar, iya benar, nggak ada istilahnya orang salah dibela!"
Semua orang yang ada di tempat itu ikut-ikutan menyalahkan Nina, semakin gelisah saja gadis itu hingga tubuhnya lemas gemetaran tak sanggup berdiri.
Maura merasa menang mendapatkan dukungan dari orang-orang di sekelilingnya. Semakin bersemangat saja dia mempermalukan Nina.
"Kamu dengan kan, apa yang mereka katakan?" Maura mencondongkan wajahnya berbisik di telinganya. "Mereka ingin Kamu bertanggung jawab atas kerusakan yang ada di sini."
Nina menggeleng. "Kok kamu gitu Maura! Kalau kamu nggak mendorongku mungkin tidak akan pernah terjadi hal-hal seperti ini."
"Terus kamu mau nyalahin aku gitu?" Maura menajamkan matanya.
"Ya kan emang kamu yang bersalah," bantah Nina. "Kalau saja kamu tidak mendorongku aku juga tidak akan terjatuh, apalagi menghancurkan barang-barang yang ada di sini."
"Kurang ajar kamu!"
Maura berbalik badan membujuk Zoya untuk membantu menghukumnya. Ia tak akan pernah puas sebelum melihat penderitaannya.
"Tante Zoya, dia menolak untuk tanggung jawab. Gimana dong?"
Zoya melotot. "Apa katanya?" Zoya mendekat dan berjongkok di depannya. Matanya tajam dengan seringan yang dipenuhi oleh kebencian. "Kamu nggak mau bertanggung jawab? Berani sekali kamu bicara seperti itu! Memangnya kamu pikir semua yang tersedia di sini barang gratisan?"
Suryo terlihat begitu panik melihat istrinya yang terlalu nekat. Ia hanya takut, jika kejadian itu diketahui oleh putranya Hermawan maka dampaknya akan sangat buruk.
"Ma, sudahlah. Jangan mendesaknya lagi. Dia sudah terluka!"
Zoya menoleh dengan menjawab. "Kau pikir aku bakalan peduli padanya? Enggak!" Perempuan itu sudah terlanjur emosi dan terlalu mempercayai apa yang dikatakan oleh keponakannya tanpa harus mencaritahu kebenarannya. "Dia sudah berani menghancurkan pestaku, maka dia juga harus berani bertanggung jawab."
"Tapi ma!" Suryo dibuat frustasi oleh kelakuan istrinya. Memang kecewa dan kesal saat mendapati pestanya dihancurkan, tapi ia tidak ingin berurusan dengan keluarga Hermawan yang sangat berpengaruh di dunia bisnis.
"Aku nggak peduli! Di sini aku yang dirugikan, kenapa aku nggak boleh memintanya untuk tanggung jawab?!"
Di situasi yang menegangkan datanglah Rendra. Dia nampak kebingungan dengan suasana pesta yang berujung kegaduhan.
"Maaf, ini ada apa apa ya?" Rendra bertanya pada salah satu tamu yang berdiri agak jauh dari tempat pembullyan yang dilakukan oleh keluarga Suryo.
"Itu barusan ada cewek yang merusak tempat perjamuan. Minuman satu meja tumpah dan pecah berantakan. Sepertinya itu orang juga terluka, kurang tahu kejadiannya, tapi tetap saja bersalah."
"Cewek?" Rendra menggumam. "Jangan-jangan?"
Untuk memastikan keberadaan adik tirinya dia langsung menerobos kerumunan orang, dan benar, di situ posisi Nina ada di bawah meja beserta pecahan kaca yang diduga dari botol dan juga cangkir.
"Nina! Apa yang sudah terjadi?"
Nina yang tengah menangis mendapatkan perlakuan yang membuatnya terpojokkan menoleh pada Rendra dan mengadu padanya.
"Kakak! Aku nggak salah, dia sudah memfitnahku. Dia yang sudah mendorongku, tapi aku yang dituduh sebagai pembuat kerusuhan."
Pria itu berjongkok dan memastikan kondisinya. "Apa kamu terluka?" Rendra mendapati tangan gadis itu tergores oleh pecahan beling.
"Siapa yang melakukannya?!"
Suara dingin dan berat menoleh pada semua orang yang ada di ruangan itu.
"Tidak, aku tidak melakukannya." Tidak satupun ada yang mengaku. Tapi satu orang yang menjadi pusat perhatian Rendra. "Peringatan terakhirku, sebaiknya mengaku atau aku tidak akan melepaskan!"