Di tengah pekuburan yang telah melapuk dimakan waktu, tiga gundukan pusara berdiri sejajar bagai rahang terbuka. Mereka bukan sekadar batu nisan bisu, melainkan pintu gerbang yang bernapas. Bisikan-bisikan dingin merayap dari celah-celah tanah, memanggil nama, menjerat jiwa, menjanjikan sebuah kunci.
Kunci itu bukan benda berupa logam. Ia adalah ungkapan metaforis yang berdenyut layaknya jantung yang baru dicabut. Saat Laura menggenggamnya, dunia yang ia kenal seketika retak.
Lantai di bawah kakinya meleleh menjadi lumpur hitam. Realitas bukan lagi sesuatu yang tegak dan nyata, melainkan sesuatu yang merangkak naik. Dari kedalaman liang lahat, dari perut bumi yang kelaparan, kegelapan merambat perlahan; menelan tawa, menelan akal sehat, dan menyeretnya hidup-hidup ke dalam kebenaran yang mengerikan di mana orang mati bukanlah mereka yang tertidur begitu saja, melainkan mereka yang selalu berusaha menyampaikan sebuah kabar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Kegilaan Yang Merayap
Matahari telah terbit dan terbenam bergantian sejak mereka terdampar. Tubuh mereka kian melemah, namun pikiran mereka jauh lebih rapuh. Aura pulau itu, nuansa beratnya, serta berbagai hal yang tak kasat berseliuran dan bergema di kepala mereka, dan semua itu benar-benar seakan perlahan menggerogoti kewarasan mental dan jiwa emosional mereka.
Roni, yang tadinya paling bersemangat dan ceria, kini menjadi yang pertama menunjukkan tanda-tanda kegilaan. Ia sering terlihat berbicara sendiri, menunjuk ke arah hutan dengan mata kosong, seolah berinteraksi dengan sesuatu yang tak terlihat.
"Mereka ada di sana..." gumam Roni melempar tunjuk sesuka hati, padahal paginya beberapa jam yang lalu, ia masih tampak baik-baik saja, bahkan mengucapkan kalimat bijak yang meniup bara semangat. "Mereka memanggil-manggil... Lihat.. mereka memanggil-manggil, mereka memiliki semacam kereta, ada beberapa ekor kuda merah di sana."
Laura mencoba menggenggam tangannya yang terasa dingin dan berkeringat. "Siapa, Ron? Tidak ada siapa-siapa di sana." Tegurnya sembari mencoba memberi sedikit air minum.
Roni menepis tangan Laura kasar. Matanya memerah berair, tatapannya liar seperti monyet. "Ada! Mereka ada! Mereka yang menyayikan lagu itu! Mereka yang sengaja membuat kita tertahan di pulau ini! Kenapa kamu tidak melihat?! Bodoh!! Lihatlah..!!!" Ia berteriak, suaranya parau garau, membuat Amelia yang duduk jauh di sebelah sana ikut-ikutan tersentak.
Ariana, yang biasanya mampu mengendalikan suasana dirinya, kini juga mulai menunjukkan perilaku aneh. Ia seringkali tertawa sendiri, tawa yang kering dan hampa, tidak ada kegembiraan di dalamnya, hanya kepalsuan yang terukir di sana. Kedua kakinya berjalan menyusuri lumpur tepian sungai, lalu duduk menunduk, menggambar simbol-simbol aneh di atas tanah lembek menggunakan ranting, simbol yang mirip dengan yang ada di peta kuno yang mereka temukan.
"Aku melihat ada tiga gadis kecil tertawa di atas sungai, di sebelah sana!" Seru Ariana seraya memukul-mukulkan telapak tangannya ke lumpur. "Mereka memanggilku... mereka mendekat... mereka tersenyum padaku.. mereka ingin mengajakku pergi... pergi ke dasar sungai yang dalam..."
"Ariana..! Jangan dengarkan mereka!" Teriak Amelia mendesak hingga rautnya memerah. "Kita tidak boleh menyerah!"
Ariana menoleh, menatap Amelia dan Laura dengan tatapan dingin, tetapi ia lalu hanya memfokuskan tatapannya ke arah Laura. "Kamu akan jadi yang berikutnya. Kamu yang menemukan rumahnya. Kamu yang tahu rahasianya. Kamu akan menemaninya... selamanya."
Laura mundur selangkah. Kata-kata Ariana terasa dingin, tajam menusuk. Seperti bukan sosok Ariana yang berbicara.
Laura lalu menatap Amelia yang mulai terisak di dekat tepian. Belum lagi rasa lapar dan haus kini berpadu dengan rasa putus asa yang menyesakkan. Mereka semakin lemah, semakin rentan, semakin diincar gencar oleh kegilaan yang setiap saat siap menyusup ke dalam jiwa yang lengah.
Pulau itu, yang awalnya tampak seperti tempat terdampar sementara, kini terasa seperti kuburan hidup. Kuburan bagi mereka yang terpedaya oleh perangkap dalam permainan halusinasi. Sesekali di antara keheningan, terbawa berbagai suara-suara yang bergumam tumpang tindih. Suara pilu penantian, suara keluh dari lipatan-lipatan masa lalu, suara derita dari kegelapan, kepingan gelap yang merangkai delusi mematikan, membunuh kewarasan dan akal bugar.
Laura tahu, ia tidak punya banyak waktu, oleh sebab itu ia harus mencari cara untuk melawan, memberontak sekuat mungkin, sebelum ia juga menjadi bagian dari koleksi bayangan yang kesepian di pulau ini. Tetapi bagaimana? Mereka kini hampir sudah kehabisan apa yang dapat mereka lakukan.
Kelahan yang memberi pengaruh besar dan rasa apatis. Usaha mendapat makanan yang kian sulit, air bersih sangat terbatas, dan setiap jam adalah perjuangan melawan rasa prustasi. Ditambah gangguan aneh yang mengguncang segi psikis yang tiada henti, mendera bagai pukulan seratus rotan, lebih dari sekadar panggilan pilu; itu adalah suara tersembunyi yang mengoyak benak normal, meracuni pikiran mereka satu per satu.
Roni, sekali lagi yang tadinya paling bersemangat dan praktis, kini benar-benar mengalami perubahan paling drastis, terjatuh seakan terpotong betis, menjadi kerancuan yang berbuah jauh dari realistis. Matanya kosong merona, tubuhnya lesu dan rautnya merana, namun sesekali ia menunjukkan perilaku aneh yang membahana. Dia akan berbicara sendiri, sudah tak terhitung berapa kali, ia menunjuk-nunjuk ke arah hutan berduri, dengan senyum yang tidak wajar, lalu berlari ke sana seakan mengikuti pijar, dan kembali dengan mulut penuh daun yang dikunyah, bagi keliaran jiwanya yang merasakan tekstur renyah.
Ariana, yang dikenal tegas dan rasional, juga tak jauh berbeda. Ia mulai sering menghilang ke semak-semak, terkadang pulang dengan bunga-bunga liar yang ia sematkan di rambutnya, terkadang dengan senyum misterius di bibirnya. Ia akan duduk menjatuh termenung, menggambar dan menggambar goresan ditenung, sebuah simbol aneh yang tampak meluapkan pesan yang mendengung, misteri perlambang yang dipaksa keluar dari parit relung, atau hanya sekedar menatap ke sungai dengan tatapan tanpa isi yang mengandung.
Buah mangga yang busuk dimasuki belatung, seperti itulah isi otak Roni dan Ariana yang tergantung, rasa manis berganti pahit yang datang menggantung, menggerayang jiwa yang terhempas ke palung yang tak beruntung.
Laura dan Amelia saling berpandang tanpa bisa santai berbincang, hati mereka sakit ditendang dan hancur seakan dicincang, melihat kedua sahabat mereka yang semakin lama semakin menyimpang, dan kian jauh kehilangan raut identitas yang seharusnya terpampang.