NovelToon NovelToon
Matahari Sang Iblis

Matahari Sang Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi bayi / Cinta Seiring Waktu / Mafia
Popularitas:15.2k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Terlahir kembali sebagai Lyra Clarissa Wijaya, cucu tunggal dari keluarga terkaya di dunia, Lyra tidak tumbuh sebagai gadis manja yang lemah. Di balik kecantikannya yang tenang dan elegan, tersimpan jiwa seorang putri bangsawan Vampir dan kekuatan insting Alpha Serigala yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya.

Xavier adalah pria paling berbahaya yang ditakuti dunia. Dia dingin, kejam, dan dikenal tidak punya perasaan, tiba-tiba hidupnya yang gelap mendadak jungkir balik. Pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun ini, justru rela menyerahkan segalanya untuk gadis kecil nya.

"Mintalah nyawaku, Lyra. Mintalah seluruh dunia ku, asal jangan pernah palingkan matamu dariku, karena tanpamu, duniaku kembali menjadi gelap," bisik Xavier, berlutut di hadapan gadis itu tanpa memedulikan tatapan ngeri para bodyguard nya.

Lyra hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membawa sisa-sisa keagungan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SADAR

Tuan Thomas melepaskan pelukannya perlahan, dia menangkup wajah Nyonya Arin dengan kedua tangannya, mencoba menyalurkan kekuatan yang sebenarnya ia sendiri pun hampir kehabisan.

"Sekarang, kita kembali ke kamar Lyra. Jangan tunjukkan wajah mendungmu di depan Kak Steven dan Kak Jerome, mereka terlalu cerdas untuk dibohongi dua kali," bisik Tuan Thomas dengan nada memperingatkan.

Nyonya Arin hanya mengangguk lemah, sebelum melangkah keluar, dia menghapus sisa air mata di sudut matanya dengan jemari yang masih sedikit gemetar.

"Aku mengerti, Thomas, mari kita lihat keadaan putri kita," ucap Nyonya Arin berusaha tegar.

Keduanya melangkah keluar dari ruang monitor, berjalan menyusuri koridor panjang yang kini dijaga lebih ketat oleh para pria berjas hitam.

Saat sampai di depan pintu kamar Lyra, mereka melihat Tuan Steven dan Tuan Jerome sedang berdiri bersedekap, menatap ke arah pintu kayu yang tertutup rapat itu.

"Bagaimana? Arkan belum keluar?" tanya Tuan Thomas sambil berusaha menormalkan nada suaranya.

"Belum. Tapi suasananya di dalam terdengar lebih tenang sekarang," jawab Tuan Jerome tanpa mengalihkan pandangan.

Ceklek.

Pintu terbuka sedikit, Arkan muncul dari balik pintu dengan wajah yang terlihat sangat lelah, dia melepas stetoskopnya dan mengalungkannya di leher, lalu menyeka keringat di dahinya.

"Suhunya sudah stabil, rasa dingin yang tadi menyerangnya sudah hilang, tapi dia masih tertidur karena pengaruh obat bius dosis rendah yang aku berikan," ucap Arkan, menjelaskan dengan suara seraknya.

"Syukurlah... terima kasih, Arkan," ucap Nyonya Arin sambil menghela napas lega.

"Kerja bagus, Ar. Sekarang jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa keponakanku bisa sampai mimisan?" tanya Tuan Steven melangkah maju, menepuk pundak keponakannya itu.

Arkan terdiam sejenak, dia melirik Tuan Thomas yang berdiri di belakang Tuan Steven dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Sejujurnya, secara medis ini sangat aneh, ini seperti reaksi alergi tingkat tinggi, tapi bukan terhadap makanan atau obat, melainkan terhadap tekanan psikis yang sangat kuat. Tubuh Lyra menolak sesuatu," jawab Arkan sejujur-jujurnya berdasarkan logikanya sebagai dokter.

Tuan Jerome menyipitkan mata, melangkah mendekati Arkan.

"Tekanan psikis? Hanya karena mendengar nama pria Valerius itu?" tanya Tuan Jerome, menyipitkan matanya kuat.

"Sepertinya begitu, Pa. Begitu nama itu disebut berulang-ulang oleh sahabat Lyra tadi, kondisi Lyra langsung memburuk. Ada kaitan yang tidak masuk akal di sini," jawab Arkan, sesuai isi pikiran nya.

Tuan Thomas segera memotong sebelum pembicaraan semakin meluas ke arah yang tidak dia inginkan.

"Sudahlah, yang penting sekarang Lyra sudah melewati masa kritisnya," ucap Tuan Thomas, mengalihkan pembicaraan.

"Kak Steven, Kak Jerome, sebaiknya kalian istirahat, biar aku dan Arin yang berjaga di dalam," lanjut Tuan Thomas.

Tuan Steven menatap adiknya itu dengan pandangan menyelidik, namun dia hanya mendengus pelan.

"Baiklah. Tapi besok pagi, aku mau penjelasan lengkap soal urusanmu dengan Xavier Valerius itu, Thomas, jangan pikir aku lupa soal dia yang berdiri di depan gerbang tadi!" ucap Tuan Steven, tegas.

"Tentu, Kak. Besok kita bicara," jawab Tuan Thomas singkat.

Setelah kedua kakaknya pergi menjauh, Tuan Thomas, Nyonya Arin, dan Arkan kembali masuk ke dalam kamar Lyra.

Kamar Lyra kini terasa sangat tenang, hanya ada suara hembusan pendingin ruangan dan detak stabil dari monitor medis.

Arkan duduk kembali di kursi samping ranjang, menatap wajah Lyra yang mulai mendapatkan kembali sedikit warna di pipinya.

"Dad, Mom, Arkan mau tanya satu hal lagi," ucap Arkan pelan, matanya tidak lepas dari wajah adik sepupunya itu.

"Tanya apa, Ar?" tanya Nyonya Arin sambil merapikan letak selimut Lyra.

"Kenapa saat Lyra kedinginan tadi, dia terus menggumamkan kata pulang? Padahal dia sudah ada di rumahnya sendiri," tanya Arkan, menatap pamannya dengan tajam.

Deg

Tuan Thomas tertegun di tempatnya berdiri, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat mendengar pertanyaan Arkan.

"D-dia... dia cuma mengigau, Ar, mungkin karena pengaruh obatnya," jawab Tuan Thomas, berusaha tetap tenang meski tangannya kembali mengepal di balik saku celananya.

"Tapi tatapannya tadi, meskipun matanya terpejam, Arkan ngerasa dia lagi nggak ada di sini, Dad. Dia kayak lagi ada di tempat yang jauh sekali," gumam Arkan lagi, lebih kepada dirinya sendiri.

Nyonya Arin hanya bisa menunduk diam, dia terus mengusap punggung tangan Lyra, mencoba mengalihkan rasa takutnya, dirinya tahu, pulang yang dimaksud Lyra bukanlah ke rumah mewah ini, melainkan ke pelukan seseorang yang jiwanya sedang memanggilnya dari kejauhan.

"Tidurlah, Sayang, jangan pernah tinggalkan Mommy," bisik Nyonya Arin tepat di telinga putrinya.

Di luar jendela, langit benar-benar sudah gelap, dan hujan mulai turun membasahi bumi, seolah ikut meratapi nasib gadis kecil yang terperangkap di antara dua dunia yang saling tarik-menarik.

Dan jauh di sana, di dalam mobil hitamnya, Xavier Valerius tersenyum tipis saat merasakan detak jantung Lyra yang sudah kembali tenang.

"Beristirahatlah, permataku. Untuk malam ini, aku akan membiarkanmu tetap di sana," batin Xavier sambil menatap tetesan hujan di kaca mobilnya dengan tatapan penuh kepemilikan.

          ✨✨✨✨✨✨✨

Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu di balik tirai sutra yang sengaja dibuka sedikit oleh Nyonya Arin.

Suasana kamar yang tadinya mencekam kini terasa jauh lebih tenang, harum bunga lili putih yang dipesan Kakek Bastian mulai memenuhi ruangan, memberikan sensasi sejuk yang menenangkan.

Di atas ranjang besarnya, kelopak mata Lyra bergerak perlahan, dia mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan terangnya lampu kristal di langit-langit kamar.

"Eungh..." rintihan kecil keluar dari bibir Lyra yang kini sudah mulai merona, tidak se pucat kemarin.

Nyonya Arin yang tertidur di kursi samping ranjang sambil menggenggam tangan putrinya langsung tersentak bangun, wajah lelahnya seketika berubah cerah, melihat putri kesayangannya sudah kembali membuka mata nya.

"Sayang? Lyra? Kamu sudah bangun, Nak?" tanya Nyonya Arin dengan suara serak nya.

"Syukurlah... suhunya sudah normal. Arkan! Thomas! Lyra sudah bangun!" ucap Nyonya Arin, tersenyum lega.

Tuan Thomas yang sedang tertidur di sofa panjang langsung melompat berdiri, begitu juga Arkan yang baru saja masuk membawa nampan berisi sarapan dan obat-obatan.

"Mana? Coba Abang cek dulu," ucap Arkan sigap, meletakkan nampan itu di meja dan langsung menempelkan telapak tangannya di dahi Lyra, lalu memeriksa denyut nadinya.

Lyra menatap mereka satu per satu dengan tatapan bingung.

Kepalanya terasa sedikit berat, tapi badannya terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya.

"Mom... kenapa semuanya berkumpul di sini? Kenapa Abang Arkan juga?" tanya Lyra bingung, suaranya masih terdengar agak serak.

Arkan mengerutkan kening, dia menatap Tuan Thomas sejenak sebelum kembali menatap Lyra.

"Ly, kamu ingat nggak kemarin kenapa?" tanya Arkan, hati-hati.

1
renjani
yahhh up y ko dikit thor🤭

semangat menulis thor💪
sehat selalu👍👍
Atik Kiswati
lnjt.....
Pa Muhsid
di cerita jasmine, LEO-AURORA Xavier sebagai siapa ya😏😏😏 gak ingat
kaylla salsabella
lanjut😍😍😍
kaylla salsabella
titisan mak jasmine dan ratu Wallace
Rumi Yati
Lanjut thor
Tiara Bella
pembaca penasaran sebenarnya Xavier itu siapa.....
Wulan
tunggu 3 hari lagi Lyra maka kamu Mungkin akan menemukan fakta nya😌😌

semangat terus Thor up next nya 🤗🤗
Muft Smoker
Teka teki akan terbuka seiring berjalan ny waktu lyra ,,


lanjuut kak
kaylla salsabella
lanjut thor😍😍😍😍
kaylla salsabella
wah deddy Thomas apakah dalam bahaya
Queen adzilla👑
kakak kenapa setiap jalan ceritanya selalu ada pria yg gila karna wanitanya,tapi aku srlalu suka sama cerita nya kakak,semangat terus kak bikin novel nya😘
kaylla salsabella
masih penasaran
kaylla salsabella
lanjut
Muft Smoker
ceritany bagus kak
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,,

makin penasaran ma klanjutan ny ,,
hubungn lyra dn Xavier di masa lalu tu ap yx ,,
Muft Smoker
mungkin di masa lalu lyra dn Xavier ad hubungn yg Blum selesai bahkan mungkin belum di mulai ,,
tp di masa kini lyra adalah anak dr tuan Thomas dn nyonya arin ,,
meski di dlam raga lyra adalah sosok dr masa lalu ,,
tp Xavier km gx boleh lngsung mngklaim gt aj ,,
krn keluarga lyra gx semua mngerti dg ap yg trjaadi di masa lalu antara tuan Thomas , nyonya arin dn sang nenek mysteriuss sehingga lyra lahhir di tngah keluarga wijaya ,,
Ayu Oktaviana
absen kak.. akhirnya louncing juga👍👍
Atik Kiswati
lnjt. ..
kaylla salsabella
apa Xavier rekarnasi si sepupu nya aurora ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!