Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.
Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?
Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.
Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nikah?
"Kayaknya iya deh," ujarnya, melirik Rola.
Rola membalas lirikan Dena sambil ngemut permen kojekan rasa buah nangka.
Dibelinya sejumlah dua, pas tadi keluar main pertama, di kantin sembilan. Tapi yang satunya malah nyangkut di mulut Micin. Ya sebenarnya bukan nyangkut sih, tapi lebih kepada direbut.
"Apanya yang iya?" Rola kedip-kedip bingung, masih sambil ngemut-ngemut.
"Ya kita!" kata Dena.
"Yang dipanggil ke kantor memang karena ulah kita berempat pagi tadi." Dena teramat yakin, terlebih setelah ia tidak sengaja melihat siswi yang tadi pagi mereka bully, tak lama baru keluar dari salah satu ruang kantor.
Dena yakin, siswi pindahan itu barusan banget melapor.
Rola langsung mendelik, "Jadi kita beneran salah korban?"
"Iya," sahut Dena tak lagi ragu.
Sementara Micin langsung panik, menggigit paksa permen itu, hingga berbunyi keras.
"Yah! Mampus."
"Skor poin kita apa kabar, apa nggak langsung penuh tuh?" cemas Micin, bibirnya manyun.
Cuih!
Micin melepeh sisa tusukan permen itu.
"Ye!" Rola spontan menabok punggungnya.
"Bukannya dari awal poin kita emang udah penuh, Mi! Cuma kitanya nggak dikeluarin dari sekolah, karena temen Dena yang anaknya pemilik sekolah itu."
Sambil gadis itu ngomong, menyenggol-nyenggol lengan Dena.
Dena iya-iya aja. Sebab, apa yang Rola bilang benar adanya.
"Iya, sejauh ini kita aman memang karena dia," kata Elsa yang juga menjadi satu dari siswi yang pernah terancam dikeluarkan, tapi masihlah selamat sampai sejauh ini.
"Ah, dia ya..." Micin kemudian teringat.
"Ya kalau gitu amanin kita lagi dong Den!" sahut Micin spontan. "Bilangin ke temen lo itu. Kita jangan sampai kena DO!"
"Iya nanti gue coba bilangin."
"Bener ya!" Micin berharap-harap.
"Ngapa lo? takut?" cibir Rola tiba-tiba.
"Ya gimana gue nggak takut Rol!"
"Masalahnya gue bisa digoreng nyokap kalau sampai kejadian!" sahutnya sembari membayangkannya, dirinya bakal kena omel sang mama tercinta yang terkenal galaknya minta ampun.
Dan itu pun para sahabatnya tidak ada yang mau menyangkal.
"Kalau gitu gue juga ya, Den," sela Rola.
"Karena bukan cuma Mimi aja yang bakal mampus, tapi gue juga kalau beneran kena DO!" imbuhnya.
Dena mengangguk teramat santai, seolah permintaan itu bukan menjadi beban untuknya, sembari gadis itu langsung menelfon temannya, yang katanya anak pemilik sekolah.
Hening.
Satu panggilan sedang dicoba diudarakan, tapi tidak ada jawaban. Telfon orang itu rupanya mati.
"Coba lagi!"
"Iyaa."
Tut! Tut! Tut!
"Nggak diangkat juga?" tanya Rola setelah Dena mencobanya kesekian kali.
"Enggak."
"Telfon lagi dong!"
Dena mengangguk sambil ngantongin ponselnya, "Iya, nanti gue telfon."
"Sekarang aja!" paksa Rola.
Dena berhenti melangkah seketika, dan semuanya pun ikut.
Rola langsung mengerinyit, "Kenapa berhenti?"
Tak lama punggungnya lalu ditepuk Micin.
"Rol! Lo sadar nggak sih kita udah sampai aula kantor?!" kata Micin.
Rola tersentak ringan ketika baru tersadar mereka sudah tiba di tujuan, dan ya, lagi-lagi anak itu malah nyengir sambil pura-pura siul.
...***...
Tak lama, Bu Wasma langsung menemui mereka. Seperti pada umumnya guru kesiswaan yang sedang dirundung amarah, karena kelakuan muridnya yang kelewat parah.
Bu Wasma wajahnya tampak setengah memerah, sambil bersedekap dada, ia menatap mereka seperti benci. Kakinya pun tampak bergerak-gerak maju mundur, seolah pengen banget menendang pantat empat siswi nakal itu.
"Duduk!" titahnya menggelegar.
Semua mengangguk. Nurut buat duduk.
"Kecuali kamu!" tambah Bu Wasma cepat ketika mereka hampir duduk di kursi. Perempuan itu menunjuk salah satunya.
"Saya?" Dena sadar dirinya yang ditunjuk.
"Iya. Kamu saja yang masuk!"
"Yang tiga tunggu di sini, dan jangan kemana-mana," sahut Bu Wasma sambil melirik ke arah pintu ruangan kep-sek.
"Saya sendiri?"
"Iya Dena!"
"Atau kamu mau saya panggilkan pacar kamu supaya ditemani?" ketus Bu Wasma.
Dena tersenyum canggung, ketika kali ini ia memang harus mempertanggungjawabkan kelakuannya tanpa ada yang mendampingi.
"Cepat masuk!"
"Iya Bu." Pasrah! Dena pun melangkah.
Sementara teman-temannya yang tidak diperbolehkan masuk, hanya duduk-duduk sambil memberi Dena sedikit dukungan.
Ya, meskipun itu sebenarnya tidaklah terlalu berguna untuk Dena, setidaknya itu menunjukkan betapa solidnya persahabatan mereka.
Tapi, pada akhirnya, tetap nggak berguna juga.
...***...
Begitu Dena membuka pintu lalu masuk, kemudian menutup kembali perlahan-lahan.
Seorang laki-laki terlihat duduk santai di balik meja kepala sekolah, sambil laki-laki itu mainin rubik ular.
Tampan, rapi, wangi, serta auranya yang bikin Dena kaget setengah mati.
Jelas sekali itu bukan kepala sekolah mereka—Pak Waluyo yang sudah uzur, bau rokok, ubanan dan suka menggoda para siswi bening macam Dena.
Pintu tertutup rapat.
Dena mengulum bibir bawahnya, menatap sebentar ke arah laki-laki tampan itu baik-baik. Sorot mata terbelalak penasaran. Bertanya-tanya dalam hati siapa gerangan laki-laki tampan itu?
"Siapa nih? Kepala sekolah baru kah? Kok seger banget nggak kayak yang onoh?" pikir Dena dalam hati
Sambil berpaling menatap sekeliling, eh malah nggak sengaja melihat foto Pak Waluyo lagi gendong anakan kambing.
"Ganggu aja!" dengusnya.
"Duduk!" ucap laki-laki itu tegas, mengagetkan Dena yang sempat terpesona oleh Pak Waluyo yang lagi gendong kambing, eh maksudnya ketampanannya si doi yang bikin Dena grogi.
Tapi Dena segera tersadar, ini bukan waktu yang mujur untuk mengagumi ketampanan laki-laki itu.
Apalagi Dena yakin, dipanggil ke sini karena kasus yang tadi pagi. Seenggaknya Dena masih tidak lupa.
Dena menurut cepat, segera gadis itu duduk di hadapan laki-laki tak dikenal itu, sambil tersenyum manis agak canggung.
Laki-laki itu lalu membuka map coklat. Membaca-baca isinya, sambil sesekali ia melirik Dena.
Dena langsung buang muka jauh-jauh. Malu.
Rasanya Dena seperti nggak siap buat bertatap langsung.
"Audrea Dena Prasella ..." bacanya tenang seraya melirik Dena.
Kali ini Dena mengangguk, tapi tetep canggung kaya pas lagi gagal nawar seikat kangkung di Mang Etek warung gang ujung.
"Nama yang cantik," pujinya.
"Tapi tidak dengan kelakuannya yang suka merundung siswi lain," sambung laki-laki itu kali ini sedikit tegas, sementara senyum Dena seketika kabur tak berpamitan.
Dena menelan ludah, suara itu bahkan terdengar keras sampai bikin Dena malu sendiri.
"Oke, kayaknya nggak salah lagi deh. Gue dipanggil memang karena itu ... Tapi? Orang ini siapa sih?" batinnya.
Laki-laki itu tetap tenang menatap Dena. Ekspresinya dingin, tapi sorot matanya seolah menyimpan sesuatu yang sulit ditebak.
Hadeuh! Jangankan ditebak Cong! Dilihat aja udah bikin Dena klepek-klepek nggak ketolong.
Dena mendadak bengong.
"Lo tau gue siapa?!" tanya laki-laki itu.
Gaya bicaranya ternyata lebih santai dari yang Dena pikir.
Dena langsung tersadar dari bengongnya.
Lalu menatapnya sambil tersenyum tipis, menggeleng perlahan sambil dalam hati ia berceloteh ria.
"Ah, orang ini ternyata nggak sekaku itu, dia santai banget kayak lagi ngobrol sama temennya."
"Nggak tau?" hardik laki-laki itu.
Dena menggeleng-geleng refleks. "Enggak, emangnya Om siapa?" tanyanya agak kurang sopan.
Namun, laki-laki itu seperti tidak tersinggung.
"Gue Alvaro," lanjutnya.
Lalu sesaat menatap Dena, seperti sedang menilai sesuatu.
"Alvaro?" ulang gadis itu.
"Alvaro Yubel ... pemilik sekolah yang baru," sambung Alvaro menyempurnakan kalimat sebelumnya yang sebetulnya sengaja nggak diperpanjang. Takut nggak bikin terkejut katanya.
Dena jadi tersentak, matanya pun melotot mendadak.
Terkejut? Ya udah pasti, dari yang tadinya Dena masih santai saat terpesona oleh ketampanannya...
Begitu mendengar nama belakangnya plus kenapa laki-laki itu bisa ada di sini.
Dena tiba-tiba mules, lalu pengen boker ke Korea Selatan biar jauh sekalian.
"Yubel?" Dena tidak mungkin salah berpikir.
"Hah, apa jangan-jangan Anda ini—"
"Grimonia Almika Yubel, siswi pindahan yang lo bully sama temen-temen lo tadi pagi—dia adik gue," potong Alvaro setengah nyengir.
Kemudian ketika ia melihat Dena kayak abis kesetrum karena kaget. Alvaro jadi mendadak gemes pengen bawa pulang—eh maksudnya pengen cepet-cepet ngasih hukuman.
Dena ternganga lebar-lebar, jantungnya juga mendadak kayak berhenti. Untung saja Dena nggak sampai bertemu sang ilahi.
Yubel? benar juga ... Dena mengingat nama itu cukup jelas. Nama belakang si murid pindahan yang pagi tadi ia rendam di bak mandi.
Dena lalu memejamkan mata, sesaat, dan meski terlihat tenang di luar. Di dalam, pikirannya justru lagi heboh-hebohnya, kayak pas lagi ada orkes dangdut tujuh belasan.
"Kan bener! Hari ini gue emang lagi apes," lirihnya.
"Ya, dan lebih tepatnya lo apes karena udah berani nyakitin adek gue!" sahut Alvaro sinis.
Dena menelan ludahnya lagi.
"Dan kalau dia sampai masuk angin gara-gara lo rendem! Lo bakal gue bikin masuk UGD!" ancamnya.
Tak lama, Dena spontan membentuk gestur tangan memohon ampunan. Setidaknya ia sadar bahwa kelakuannya itu memang salah.
Dena mau minta maaf.
"Aduh Om, sumpah demi apapun, saya beneran nggak tau kalau dia adik Om," balasnya mencoba tak-tik membela diri klasik yang siapa tau manjur.
"Maaf, Om ..." cicitnya.
Tapi, yang namanya orang emang udah salah, apalagi salahnya udah kebangetan. Mau gimana juga ujung-ujungnya tetep salah.
Permintaan maafnya tertolak mentah-mentah.
"Meskipun lo nggak tau dan kalau pun korbannya bukan adek gue..."
"Perbuatan seperti itu sudah melanggar norma kesiswaan." Alvaro berbicara serius sambil ngelus-elus rubik ular di tangan.
"Dan jalan keluarnya cuma satu..." sambil Alvaro sembari melirik ke arah satu bingkai di sisi riang. Berisi janji norma kesiswaan sekolah itu yang sudah Dena langgar sebelumnya.
"Riwayat kalian di sekolah ini, akan selesai," tegasnya.
Dena melongo, "Dikeluarkan?!"
Alvaro mengangguk.
Dan, yah ... seperti yang sudah Dena duga sejak beberapa saat lalu. Ia dan teman-temannya pasti akan dikeluarkan.
Bener kan!
Apalagi, sekarang sekolah itu sudah bukan lagi milik keluarga temannya, yang selama ini memang selalu bisa menolong mereka.
Dena bisa apa?
Haduh, kenapa juga ya temannya itu nggak bilang-bilang, kalau sekolah ini sudah dijual ke orang lain! Kan jadinya repot.
"Ada pembelaan?"
Dena mengangkat tangan saat akhirnya ia diberi kesempatan untuk berorasi.
"Apa boleh?"
"Silakan.."
"Jadi gini Om, pertama-tama saya mengakui kesalahan kami atas perlakuan tidak etis yang kami lakukan kepada adiknya Om—"
"Sebelum lanjut, gue ingatkan. Dia punya nama!" tukas Alvaro.
"Oh iya, maaf... maksud saya kepada adiknya Om yang bernama Almika," ralatnya.
"Kami tau itu salah, dan sudah jelas itu memang melanggar norma kesiswaan. Tapi, Om harus melihat dari dua sisi dong. Bagaimana sikap adiknya Om—"
"Almika!"
"Iyaa... maksud saya sikap Almika kepada kami selaku seniornya. Bukankah seharusnya begitu, Om pemilik sekolah—"
"Alvaro!"
"Iyaaa, maksud saya Om Arvalo," ralat Dena sedikit keseleo lidah, dikit-dikit salah membuat refleksnya terkadang nggak bagus.
Alvaro merubah posisi duduknya, menjadi lebih tegak sambil bersangga dagu. Alvaro lalu menatap Dena yang sesekali masih sering buang muka.
"Kalau begitu coba ceritakan bagaimana sikap Mika kepada kalian!"
"Cerita?"
"Dan kasih gue satu alasan kuat, yang bikin gue bisa membenarkan kelakuan kalian!" pintanya.
Dena terdiam, napasnya terhembus pelan sambil menunduk kebingungan.
Ah! Sialan.
Beberapa detik berlalu, bibir Dena rasanya kayak dilem, rapet! Susah banget buat diajak ngomong.
"Nggak ada?"
"Atau nggak bisa nyari alasan?" desak Alvaro.
Dena wajahnya tambah memerah, keringat dingin juga langsung bercucuran, di sisi pelipisnya yang terasa pening tujuh rupa— eh maksudnya tujuh keliling.
"Almika nggak menyapa kami Om," kata Dena cepat.
"Dan sebagai senior, kami merasa tersinggung karena tidak dihargai," lanjutnya makin asal, dan mudah-mudahan meskipun terdengar asal itu bisa manjur.
Dan yah, pada akhirnya sama sekali nggak manjur, saat Alvaro justru malah tertawa kecil setelah mendengarnya.
"Kalian kan satu angkatan."
"Nggak ada senioritas di angkatan yang sama Dena, dan kalau dia nggak nyapa, itu cuma karena belum kenal aja," balas Alvaro.
"Kalau cuma nyapa kan nggak harus kenal, Om—"
"Terus?"
"Ya apa salahnya menyapa, walau belum kenal kan tetep aja boleh."
Alvaro tersenyum tipis. "Memang boleh. Tapi..." Ia menggantung perkataannya.
Dan dari kata 'tapi' yang Alvaro ucapkan dengan menggantung. Itu udah bikin Dena sedikit waspada.
"Sewaktu lo masuk ke ruangan ini, lo juga nggak nyapa gue kan?"
"Yang artinya... lo juga nggak punya sopan santun, bahkan ke pemilik baru sekolah ini!" imbuhnya lalu tersenyum sinis.
"Om!"
"Kan saya belum tau, Om itu siapa—"
"Makanya. Sekarang lo ngerti kan maksud gue?" tukas Alvaro yang bikin Dena merasa bodoh.
Dena menghela napas, menyesal sampai ke akar-akar. Kesal, Alvaro dengan mudahnya dapat membalikkan keadaan.
"Terus gimana Om, saya dan temen-temen saya tetep bakal dikeluarkan gitu?" tanyanya pasrah.
Alvaro mengangguk. "Dalam waktu dekat."
Dena melemaskan kedua bahu. "Om nggak kasihan sama saya?"
"Kasihan?"
"Saya ini yatim-piatu Om, kalau saya nggak sekolah, masa depan saya gimana?"
"Kalau saya nggak sukses, memangnya Om mau tanggung jawab?" tanya Dena.
"Sekolah ini punya aturan tertulis. Gue nggak bisa sembarang mengubah aturan cuma karena gue kasihan sama lo," jawab Alvaro.
"Ya saya tau, Om. Tapi, tolong lah Om. Nggak ada salahnya kok nolongin anak sebatang kara seperti saya..."
"Atau, saya kembalikan deh uang Almika yang tadi saya ambil... dua kali lipat, gimana?" tawar Dena.
"Ini bukan soal uang. Ini soal adab dan etika," tolak Alvaro.
"Saya kan cuma mau tanggung jawab, Om..."
"Gue nggak tertarik!"
"Atau hukum saya sesuka Om deh. Asalkan saya dan temen-temen saya jangan dikeluarkan..."
"Ayolah, Om. Kasih kami kesempatan." Dena masih saja memutar otaknya, berusaha keras agar nasibnya dan nasib teman-temanya masih dapat diselamatkan.
"Hukuman atau sanksinya ya tadi yang udah gue bilang..."
"Dropout. " ulang Alvaro.
"Nggak ada yang lebih ringan, Om?"
"Ringan?"
Alvaro berpikir sejenak, sementara Dena menunggu sambil jantungnya dag-dig-dug, berharap Alvaro sedikit berubah pikirannya.
"Tolong lah, Om. Janji deh, apapun bentuk hukumannya, akan saya lakukan asalkan saya nggak dikeluarkan," cicit Dena meng-imutkan diri.
"Temen-temen saya pasti juga nurut."
Alvaro membuang napas. Setelah sejak tadi ia menimang-nimang pikirannya sendiri kayak lagi nimang bayi. Alias, Alvaro menimangnya dengan sangat hati-hati.
"Yasudah."
"Karena lo maksa, gue punya satu tawaran menarik buat lo."
Alvaro mulai menatap serius ke arah Dena.
"Tapi, perlu diingat! Ini hanya di antara kita berdua saja, yang lain tidak perlu tau termasuk temen-temen lo dan gue harap lo pertimbangkan ini baik-baik," ujarnya kemudian.
Dena nyengir, gigi doi yang rapi jali kayak pager rumah gedongan, langsung nampak semua macam kuda birahi.
"Tawaran apa Om?" tanyanya antusias.
"Sederhana saja, lo sama temen-temen lo masih pengen sekolah di sini kan?"
Dena ngangguk-ngangguk.
"Lo pengen jadi penyelamat mereka?"
"Iya, Om. Apapun itu, akan saya lakukan demi mereka," sahut Dena sudah lebih dari sekadar siap.
"Bagus." Alvaro tersenyum picik, sementara Dena tidak menaruh kecurigaan sama sekali. Si doi masih sibuk antusias menanti jalan keluar dari masalah ini.
"Kalau begitu, lo cuma perlu nikah sama gue, dan masalah ini gue anggap selesai," lanjut Alvaro.
Dan Dena? Ya, gadis itu langsung melotot menatap Alvaro, saat tawaran itu, dalam sekejap mampu membelah jiwanya.
"Nikah?"