Di masa lalu, dunia pernah diselamatkan oleh para Grandmaster penyihir terkuat dari berbagai kerajaan yang menguasai elemen alam.
Di antara mereka, satu nama berdiri di puncak: Shiranui Akihara, Grandmaster Api dari Kerajaan Solvaria.
Setelah memimpin perang besar melawan pasukan iblis dan membawa kemenangan bagi umat manusia, ia tiba-tiba menghilang. Dunia percaya sang legenda telah gugur.
Namun kenyataannya, Akihara masih hidup.
Kini ia bersembunyi di sebuah desa terpencil, menjalani kehidupan damai sebagai orang biasa, berusaha meninggalkan masa lalu yang penuh perang dan kehilangan.
Tetapi kedamaian itu mulai runtuh ketika legenda tentang Neraka Iblis kembali muncul.
Raja Iblis Argiel Lucifer dikabarkan bangkit kembali, ditemani oleh sosok misterius bernama Railer Zernaldha.
Bersamaan dengan kebangkitan Tujuh Dosa Besar, dunia kembali berada di ambang kehancuran.
Kini Akihara harus memilih:
tetap hidup sebagai manusia biasa…
atau kembali menjadi legenda yang pernah menyelamatkan 🌏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Absonen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26 [Diburu Dalam Senyap]
Hutan selatan… terasa lebih dalam dari sebelumnya.
Langit hampir tidak terlihat.
Cahaya matahari hanya menembus sedikit, terpecah oleh daun-daun lebat yang saling menutup.
Langkah kaki terdengar pelan.
Teratur.
Namun penuh kewaspadaan.
Shiranui Akihara berjalan di depan.
Tangannya kosong.
Namun tubuhnya siap.
Di belakangnya
Liora Raizen mengikuti.
Tatapannya terus bergerak.
Kiri.
Kanan.
Belakang.
“…masih ada.”
Liora berbisik.
Akihara tidak menoleh.
“Iya.”
Pendek.
Namun pasti.
Perasaan itu tidak hilang sejak mereka meninggalkan Hinomura.
Seperti bayangan yang tidak punya bentuk.
Mengikuti.
Tidak menyerang.
Namun…
Tidak pernah pergi.
Beberapa langkah lagi.
Tiba-tiba
Angin berhenti.
Daun-daun diam.
Tidak ada suara.
Burung.
Serangga.
Semua… hilang.
Liora langsung berhenti.
“…Akihara.”
Akihara sudah berhenti lebih dulu.
Matanya menyipit.
“…datang.”
Dan dalam satu detik
CRASH.
Tanah di depan mereka pecah.
Satu Orc muncul.
Disusul
Dua.
Tiga.
Empat.
Tanpa suara.
Tanpa aura.
Hanya niat membunuh.
“…lagi.”
Liora menarik napas.
Namun kali ini
Ia tidak terkejut.
Akihara melangkah maju.
“…kita habisi.”
Orc pertama menyerang.
Kapak besar mengarah ke kepala.
Akihara menghindar tipis.
Masuk ke dalam.
Pukulan ke rahang.
THUD.
Tidak goyah.
Namun cukup untuk membuka celah.
Petir turun.
CRACK.
Serangan Liora Raizen tepat mengenai bahu Orc itu.
Gerakannya melambat.
Akihara langsung lanjut.
Api muncul di tangannya.
Lebih besar dari sebelumnya.
Ia menghantam
FWOOSH.
Orc itu terbakar dari dalam.
Tubuhnya retak.
Dan hancur menjadi abu hitam.
Namun
Yang lain tidak berhenti.
Dua Orc datang dari samping.
Liora bergerak cepat.
Tubuhnya melesat.
Petir mengikuti.
CRACK.
Satu Orc tersambar langsung.
Namun yang lain
Sudah di belakangnya.
Kapak turun.
“…!”
Akihara muncul.
Menahan kapak itu dengan tangan kosong.
CRACK.
Tekanan besar menghantam lengannya.
Namun ia tidak mundur.
Matanya tajam.
Api meledak dari lengannya.
BOOM.
Orc itu terpental.
“Fokus depan!” teriak Akihara.
Liora langsung berbalik.
Gerakan mereka…
Semakin sinkron.
Tanpa sadar.
Tanpa rencana.
Namun tepat.
Satu per satu
Orc-orc itu jatuh.
Menjadi abu.
Tanpa sisa mana.
Dan saat yang terakhir hampir hancur
Tiba-tiba
Diam.
Orc itu berhenti.
Kapaknya menggantung di udara.
Tidak bergerak.
“…lagi…”
Liora berbisik.
Akihara tidak menurunkan guard-nya.
Instingnya justru meningkat.
“…dia di sini.”
Dan benar saja
Di antara pohon-pohon gelap
Sepasang mata muncul.
Kuning.
Lebih dekat.
Lebih jelas.
Tidak bersembunyi lagi.
Tidak ragu.
Menatap langsung ke arah mereka.
Hening.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada suara.
Namun tekanan itu
Berat.
Seperti sesuatu yang jauh lebih tinggi dari Orc.
Liora mengangkat tangannya.
Petir mulai berkumpul.
Namun
Mata itu tidak hilang.
Tidak takut.
Seolah berkata
Coba saja.
Akihara melangkah maju.
Satu langkah.
Mata itu…
Masih di sana.
Tidak mundur.
Tidak menyerang.
Hanya…
Mengamati.
“…kau…”
Akihara berbisik pelan.
“…siapa.”
Tidak ada jawaban.
Namun dalam detik itu
Semua Orc
Lenyap.
Mata itu juga
Menghilang.
Seolah semuanya hanyalah ilusi.
Hutan kembali sunyi.
Angin kembali berhembus.
Namun suasana…
Tidak kembali normal.
Liora menurunkan tangannya perlahan.
“…ini bukan sekadar pengintaian.”
Akihara menatap ke arah terakhir mata itu muncul.
“…iya.”
“…dia sedang menguji kita.”
Hening.
Kalimat itu menggantung di udara.
Berat.
Liora menatap Akihara.
“…kalau begitu… kita balik?”
Akihara tidak langsung menjawab.
Ia menutup matanya sejenak.
Mengambil napas.
Lalu membuka lagi.
“…kalau kita balik…”
Ia menoleh sedikit.
“…dia tetap ikut.”
Liora terdiam.
Ia tahu itu benar.
Tidak ada tempat aman.
“…jadi?”
Akihara berbalik.
Langkahnya kembali maju.
“…kita lanjut.”
Api kecil muncul di tangannya.
“…dan kalau dia mau lihat…”
Matanya berubah.
Lebih tajam.
Lebih dalam.
“…biarkan dia lihat sampai habis.”
Liora tersenyum kecil.
“…itu baru Akihara.”
Mereka berjalan lagi.
Masuk lebih dalam ke hutan.
Menuju selatan.
Dan jauh di belakang
Di balik kegelapan yang tidak terlihat
Sesuatu…
Masih ada.
Sebuah kesadaran.
Dingin.
Tenang.
Mengamati.
“…belum cukup…”
Suara itu
Tidak terdengar.
Namun…
Ada.