"Zel, kita cuma nikah kontrak! Berhenti kirim kurir obat ke sekolah, aku malu sama guru-guru lain!"
Dazello Zelbarra, CEO dingin itu justru menarik Runa ke pelukannya. "Di catatanku, jam segini lambungmu mulai perih karena kamu lupa sarapan. Aku tidak peduli kamu malu, Runa. Aku hanya peduli kamu tetap hidup untuk melunasi kontrakmu padaku."
Runa Elainzica, guru honorer yang ceroboh dan pelupa, terpaksa menikahi mantan pacarnya, Dazello ‘Azel’ Zelbarra, demi menyelamatkan sekolahnya dari kebangkrutan.
Runa mengira Azel membencinya. Namun, ia tak pernah tahu bahwa di ponsel Azel terdapat aplikasi rahasia berjudul "Runa’s Manual Book". Sebuah catatan obsesif berisi ribuan detail tentang kebiasaan kecil Runa, pantangan makannya, hingga cara melindunginya saat badai datang.
Dunia mereka berbeda, tapi di buku catatan Azel, nama Runa sudah tertulis sebagai milik sahnya... selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pagi harinya, cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah gorden balkon yang mahal, menerangi wajah Runa yang masih terlelap. Ini adalah tidur ternyenyaknya dalam empat tahun terakhir. Tidak ada suara bising knalpot motor dari gang kosan, tidak ada alarm yang memaksanya bangun untuk mengejar bus.
Namun, ketenangan itu terusik saat Runa merasakan ada sesuatu yang bergerak di sampingnya. Ia membuka mata perlahan, dan hal pertama yang ia lihat adalah bantal di sampingnya yang sudah kosong, namun masih meninggalkan bekas cekungan.
Runa duduk dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Rambutnya berantakan, dan ia mengucek matanya yang masih terasa berat.
"Sudah bangun? Bagus. Aku baru mau menyirammu pakai air es."
Runa tersentak. Azel sudah berdiri di dekat pintu kamar yang menghubungkan ke ruang ganti. Pria itu sudah rapi dengan kemeja putih bersih—lengan digulung sampai siku—dan celana kain hitam. Aroma sabun maskulinnya langsung memenuhi indra penciuman Runa.
"Zel... jam berapa ini?" tanya Runa serak.
"Jam tujuh. Mandi sekarang. Mama sudah menunggu di bawah untuk sarapan," jawab Azel dingin, tapi matanya sempat tertuju pada wajah Runa yang masih tampak mengantuk. "Dan jangan lupa pakai pelembap. Wajahmu pucat seperti kertas."
"Iya, iya... cerewet banget sih," gumam Runa sambil turun dari kasur. Saat kakinya menyentuh lantai, ia teringat sesuatu. "Zel! Hari ini aku harus ke sekolah. Ada rapat evaluasi semester!"
Azel yang tadinya mau keluar kamar, berhenti di ambang pintu. Ia memutar tubuhnya perlahan. "Nggak ada rapat. Aku sudah minta asistenku menelepon kepala sekolahmu. Kamu ambil cuti tiga hari untuk... urusan keluarga."
Runa melotot. "Apa?! Kamu nggak bisa seenaknya begitu, Zel! Aku itu guru, punya tanggung jawab—"
"Tanggung jawabmu sekarang adalah memulihkan kesehatanmu dulu," potong Azel tajam. Ia melangkah mendekati Runa, membuat Runa mundur hingga terduduk kembali di tepi ranjang. "Lihat dirimu di cermin, Runa. Mata pandamu itu sudah seperti panda sungguhan. Kamu mau pingsan di depan murid-muridmu?"
"Tapi aku—"
"Makan pagi ini sudah disiapkan khusus. Tanpa kopi, tanpa sambal. Jangan coba-coba protes kalau kamu nggak mau aku perpanjang cutimu jadi satu bulan."
Runa merengut, tapi ia tahu berdebat dengan Azel di jam tujuh pagi adalah sia-sia. Pria itu punya seribu satu cara untuk memenangkan argumen.
Di meja makan, suasana terasa jauh lebih hangat daripada ketegangan di kamar tadi. Mama Sofia sudah menyambut mereka dengan senyum lebar dan berbagai macam hidangan sarapan yang sehat.
"Runa, sayang! Sini duduk dekat Mama," ajak Mama Sofia. "Tadi Mama tanya Azel, katanya kamu sering telat sarapan ya? Duh, nggak boleh itu. Maag itu kalau sudah parah bahaya, lho."
Runa melirik Azel yang sedang tenang mengolesi rotinya dengan mentega. Pasti dia yang lapor, batin Runa kesal.
"Iya, Ma... kadang kalau sudah di sekolah suka lupa waktu," jawab Runa canggung.
"Mulai sekarang, Mama yang pantau. Atau kalau Mama lagi nggak ada, Azel yang tanggung jawab," sahut Mama Sofia sambil menyodorkan semangkuk bubur gandum dengan buah-buahan segar. "Ayo, habiskan ini. Habis ini kita berangkat."
"Berangkat ke mana, Ma?" tanya Runa bingung.
"Belanja! Mama sudah janji kan kemarin? Kita beli baju-baju yang cantik, kosmetik yang bagus, dan... oh ya, kita harus cari tas baru untukmu."
Runa hampir tersedak buburnya. "Eh, Ma... Runa nggak butuh banyak barang kok. Baju Runa yang lama masih bisa dipakai."
"Runa Elainzica," suara Azel menginterupsi dari seberang meja. Ia tidak menatap Runa, tetap fokus pada kopinya. "Ikut saja. Mama sudah membatalkan semua jadwal arisannya hanya untuk ini. Jangan bikin dia kecewa."
Runa menoleh ke arah Mama Sofia yang menatapnya dengan wajah penuh harap—persis seperti anak kecil yang ingin bermain boneka. Hati Runa yang lembut langsung luluh. Ia tidak bisa menolak wanita sebaik itu.
"Baik, Ma... Runa ikut," jawab Runa pasrah.
Azel menyeringai tipis, hampir tidak terlihat. Ia tahu betul Runa paling tidak bisa menolak kebaikan orang tua.
Sepanjang sarapan, Azel tidak banyak bicara, tapi tangannya sangat aktif. Setiap kali Runa terlihat ragu mengambil sesuatu, Azel akan menyodorkannya. Saat Runa hampir meraih gelas jus jeruk yang asam, Azel langsung menukarnya dengan segelas air putih hangat.
"Perutmu masih kosong. Jangan minum yang asam dulu," bisik Azel saat Mama Sofia sedang asyik mengobrol dengan Papa Bram.
Runa tertegun. Kenapa dia bisa se-detail ini? Bahkan Ayahnya saja kadang lupa kalau Runa tidak boleh minum asam di pagi hari. Runa merasa ada sesuatu yang hangat menjalar di dadanya, tapi ia segera menepisnya.
Ingat Runa, ini cuma kontrak. Dia begini cuma karena nggak mau repot kalau kamu sakit, batinnya mencoba denial.
Setelah sarapan, Azel mengantar mereka ke teras depan sebelum berangkat ke kantor.
"Ma, jangan ajak dia jalan terlalu lama. Dia baru sembuh dari capek kemarin," pesan Azel pada Mamanya.
"Iya, iya, CEO cerewet! Cerewetnya persis papanya waktu muda," goda Mama Sofia.
Azel kemudian menatap Runa. Ia mengeluarkan sebuah kartu kredit berwarna hitam dari dompetnya dan menyelipkannya di antara jemari Runa.
"Pakai ini. Beli apapun yang kamu mau. Jangan lihat label harganya," kata Azel datar.
Runa mencoba mengembalikan kartu itu. "Enggak, Zel! Aku punya uang sendiri—"
"Kartu itu untuk istri Dazello Zelbarra. Kalau kamu pakai uangmu sendiri, itu malah menghina aku di depan kasir," Azel menggenggam tangan Runa sejenak, memastikan kartu itu tetap di sana. "Dan satu lagi... kalau kamu merasa pusing atau mual saat belanja, telepon aku. Jangan dipaksa."
Runa terpaku menatap punggung Azel yang masuk ke dalam mobil. Genggaman tangan pria itu tadi terasa sangat protektif, bukan seperti rekan bisnis. Runa berdiri di sana, meremas kartu hitam itu, sementara kepalanya kembali dipenuhi pertanyaan: Sebenarnya, siapa yang sedang dibantu di sini? Aku, atau justru Azel yang sedang butuh seseorang untuk dia urusi se-detail ini?
apa susahnya sih, pake alesan dijodohin segala 🤣