"Hanya karena aku miskin, kau membuangku seperti sampah?"
Andra, seorang kurir yang bekerja keras 14 jam sehari, baru saja diusir dari kontrakannya dan diputuskan oleh kekasihnya demi pria bermobil mewah. Namun, di saat titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Saldo Tak Terbatas Diaktifkan!]
[Level 1: Menghasilkan Rp 1.000 setiap detik secara otomatis.]
[Saldo saat ini: Rp 1.000... Rp 2.000...]
Dalam satu menit, ia mendapatkan Rp 60.000. Dalam satu jam, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya tanpa melakukan apa pun. Dunia yang dulu menghinanya kini harus bersiap. Siapa pun yang pernah memandangnya rendah akan bersujud di bawah kakinya.
Bagi Andra, satu-satunya masalah sekarang bukan lagi cara mencari uang, tapi bagaimana cara menghabiskannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Mobil Mewah Bukanlah Apa-Apa
Andra duduk di dalam taksi Alphard yang membawanya menuju kawasan elit Pondok Indah. Di telinganya, suara dentingan sistem terus terdengar secara ritmis, seolah menjadi musik paling merdu yang pernah ia dengar.
[Saldo Saat Ini: Rp 42.500.000... Rp 42.505.000...]
Sejak naik ke Level 2, setiap satu jam Andra mendapatkan 18 juta rupiah. Artinya, dalam waktu kurang dari tiga jam, ia sudah mengumpulkan modal yang cukup untuk membeli sebuah mobil mewah. Namun, Andra tidak ingin sekadar mobil mewah biasa. Ia ingin sesuatu yang membuat BMW milik Erwin terlihat seperti mainan plastik.
"Kita sampai, Pak," ucap supir taksi saat mereka berhenti di depan sebuah bangunan kaca megah dengan logo kuda jingkrak di depannya. Dealer Ferrari.
Andra melangkah turun. Penampilannya yang mengenakan jas hasil belanja tadi pagi membuatnya terlihat sangat berbeda. Ia melangkah masuk ke dalam showroom yang dingin dan beraroma kemewahan itu. Namun, baru saja ia masuk, sebuah suara melengking yang sangat ia kenal terdengar dari sudut ruangan.
"Sayang, aku rasa Porsche yang tadi lebih bagus daripada Ferrari ini. Lagipula, harganya lebih masuk akal untuk budget kita," ucap seorang wanita.
Andra menoleh. Di sana berdiri Siska dan Erwin. Erwin tampak sedang berdiskusi dengan seorang wiraniaga, mencoba menawar harga sebuah Ferrari tipe entry-level.
"Erwin? Siska?" panggil Andra dengan nada tenang.
Siska menoleh, dan matanya hampir keluar saat melihat Andra. Ia memperhatikan setelan jas Andra dari atas ke bawah. "Andra? Kamu... sedang apa kamu di sini? Kamu mencuri baju siapa?"
Erwin ikut menoleh dan langsung tertawa mengejek. "Hahaha! Lihat siapa yang datang. Kurir paket kita ternyata hobi main peran. Berapa kamu sewa jas itu? Kamu pikir dengan baju mahal kamu bisa masuk ke sini tanpa diusir?"
Erwin kemudian memanggil wiraniaga yang tadi melayaninya. "Mas, tolong awasi orang ini. Dia ini kurir miskin. Saya takut dia berniat mencuri spion mobil di sini untuk dijual lagi."
Wiraniaga itu menatap Andra dengan ragu, namun sebelum ia sempat bicara, Andra mengeluarkan ponsel titaniumnya. Ia tidak menatap Erwin maupun Siska. Ia justru menunjuk ke tengah showroom, di mana sebuah mobil berwarna emas metalik yang sangat mencolok dipajang di atas panggung berputar.
"Itu Ferrari LaFerrari limited edition, kan?" tanya Andra pada wiraniaga.
"Benar, Pak. Tapi itu adalah koleksi khusus. Harganya mencapai 60 miliar rupiah. Dan hanya pelanggan VIP yang—"
"Berapa harga cash untuk membawanya pulang sekarang juga?" potong Andra.
Erwin tertawa makin keras hingga terbatuk-batuk. "60 miliar?! Andra, sadarlah! Uang seratus ribu yang aku buang di lumpur tadi pagi saja mungkin adalah uang terbesar yang pernah kamu pegang. Jangan membuat dirimu makin memalukan!"
Siska menggelengkan kepala dengan ekspresi jijik. "Andra, tolong pergi. Aku malu pernah menjadi kekasihmu. Kamu sudah gila karena aku putuskan, ya?"
Andra mengabaikan mereka. Ia menatap panel sistemnya. Tanpa ragu, Andra menempelkan ponselnya ke mesin pembayaran nirkabel yang dibawa wiraniaga lain yang baru datang. "Cek saldo ini. Jika berhasil, siapkan surat-suratnya dalam 10 menit."
Siska dan Erwin menunggu dengan senyum mengejek, siap menertawakan Andra saat transaksi itu ditolak. Namun, satu detik kemudian...
BIP!
[Transaksi Berhasil: Rp 60.000.000.000 telah didebet.]