NovelToon NovelToon
Secret Marriage

Secret Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: PAGI SETELAH PELANGGARAN

Kegelapan di dalam ruang kerja Reihan semalam terasa seperti dunia yang berbeda, tempat di mana kontrak tidak berlaku dan logika terkubur di bawah desakan napas yang memburu.

Namun, ketika cahaya matahari pagi yang kejam mulai merayap masuk melalui celah gorden penthouse, realitas menghantam Laluna seperti tamparan air es.

Laluna terbangun di sisi tempat tidur yang luas, sendirian. Ia segera duduk, menarik selimut sutra untuk menutupi tubuhnya seolah hal itu bisa menutupi rasa malu yang mendadak muncul.

Pintu kamar mandi terbuka, dan Reihan keluar dari sana dengan handuk yang melilit pinggangnya, membiarkan tetesan air jatuh dari rambutnya yang basah ke atas otot bahunya yang kokoh.

Pria itu tampak sangat tenang, seolah apa yang terjadi semalam, ciuman panas dan pengakuan yang tak terucapkan di ruang kerja, hanyalah bagian dari rutinitas harian.

"Kau sudah bangun," ucap Reihan datar. Ia berjalan menuju walk-in closet tanpa menatap Laluna.

"Ada pertemuan pagi di kantor. Aku sudah meminta koki untuk membuatkan sarapan yang lebih banyak protein untukmu. Kau tampak... lelah."

Laluna merasakan wajahnya memanas.

"Hanya itu? 'Kau tampak lelah'?"

Reihan menghentikan langkahnya, menoleh sedikit dengan ekspresi yang kembali membeku.

"Apa yang kau harapkan, Laluna? Sebuah puisi cinta di pagi hari? Kita berdua tahu semalam adalah akibat dari ketegangan emosional yang berlebihan karena masalah Saka. Itu tidak mengubah isi kontrak kita."

Laluna mengepalkan tangannya di balik selimut.

"Kau benar-benar luar biasa, Reihan. Kau bisa menyalakan api lalu berpura-pura tidak pernah melihat asapnya."

"Aku hanya bersikap realistis," sahut Reihan sambil menarik sebuah kemeja putih bersih.

"Kontrak itu ada untuk melindungi kita. Jika kau mulai melibatkan perasaan, maka kau sendiri yang akan hancur saat dua tahun ini berakhir. Sekarang, mandi dan bersiaplah. Dimas akan mengantarmu ke toko bahan kue. Aku dengar pesananmu sedang membludak."

Reihan pergi meninggalkan kamar dengan langkah tegap, meninggalkan Laluna yang merasa hampa di tengah kemewahan itu.

Ia menyadari bahwa bagi Reihan, keintiman mungkin hanyalah sebuah pelepasan stres, sementara baginya, itu adalah pembukaan gerbang menuju sesuatu yang ia takutkan, ketergantungan emosional.

Siang harinya, Laluna mencoba mengubur perasaannya di dalam tumpukan tepung. Bisnis "Khay" memang sedang meledak. Pesanan datang dari berbagai kalangan, termasuk beberapa pesanan korporat untuk acara launching produk.

Saat ia sedang sibuk menata donat dengan glaze lavender dan lemon, ponsel barunya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun pesannya sangat spesifik.

"Donat lavender yang cantik, Nona Khay. Sayang sekali jika aromanya tertutup oleh bau busuk skandal keluarga Arta Wiguna. Temui aku di galeri seni pusat kota jam 3 sore. Aku punya sesuatu yang menarik untuk diperlihatkan padamu."

Laluna terdiam. Siapa lagi ini? Apakah Saka belum menyerah? Atau ini ulah Clarissa?

Ia memutuskan untuk pergi, namun kali ini ia lebih waspada.

Ia mengirimkan titik lokasinya secara real-time kepada Dimas, bukan kepada Reihan sebagai tindakan pencegahan.

Galeri seni itu sepi dan dingin.

Di antara lukisan-lukisan abstrak yang menggantung, seorang wanita tua dengan pakaian sangat elegan dan kacamata hitam besar duduk menanti. Ia adalah Ibu Ratna, ibu kandung Reihan yang selama ini menghilang dari peredaran keluarga karena perceraian pahit belasan tahun lalu.

"Kau cantik, persis seperti yang kulihat di foto pernikahan rahasia itu," ucap Ratna dengan suara yang lembut namun getir.

Laluna terpaku.

"Anda... Ibu Ratna?"

"Reihan tidak pernah menceritakan tentangku, kan? Dia membenciku karena aku meninggalkan ayahnya. Tapi aku di sini bukan untuk meminta maaf padanya," Ratna berdiri, mendekati sebuah lukisan bergambar badai salju.

"Aku di sini untuk memperingatimu, Laluna.

Reihan sedang membangun menara dari kartu. Dia menggunakanmu untuk mendapatkan warisan kakeknya agar bisa menyingkirkan bibi dan sepupunya.

Begitu dia mendapatkan apa yang dia mau, dia akan membuangmu, persis seperti ayahnya membuangku."

Laluna menggeleng.

"Reihan tidak seperti itu. Dia mungkin dingin, tapi dia memiliki prinsip."

Ratna tertawa kecil, suara tawa yang terdengar hampa.

"Prinsip Arta Wiguna adalah kepemilikan. Kau hanya aset baginya. Tahukah kau bahwa kakeknya memberikan syarat tambahan minggu lalu? Bahwa Reihan harus memiliki ahli waris dalam waktu satu tahun atau posisi CEO-nya akan dialihkan ke sepupunya, Danu?"

Jantung Laluna seolah berhenti berdetak.

Ia teringat ucapan kakek Surya saat perjamuan: "Jangan biarkan aku menunggu terlalu lama."

Dan ia teringat kejadian semalam di ruang kerja.

Apakah keintiman semalam adalah bagian dari rencana Reihan untuk mendapatkan "ahli waris" demi mengamankan posisinya?

"Jangan percaya pada tatapan matanya, Nak. Percayalah pada angka di kontrakmu," ucap Ratna sebelum melangkah pergi, meninggalkan Laluna dalam keraguan yang semakin mendalam.

Malam harinya, Laluna duduk di meja makan, menatap piringnya yang masih utuh. Reihan pulang lebih cepat malam ini. Ia tampak lebih santai, bahkan ia meletakkan tasnya dengan rapi dan duduk di hadapan Laluna.

"Dimas bilang kau pergi ke galeri seni hari ini. Ada lukisan yang menarik?" tanya Reihan, suaranya terdengar berusaha untuk memulai percakapan ringan, sesuatu yang sangat jarang ia lakukan.

Laluna menatap mata Reihan, mencoba mencari kebohongan di sana.

"Aku bertemu ibumu, Reihan."

Suasana di meja makan mendadak membeku.

Sendok di tangan Reihan berdenting keras saat diletakkan di atas piring. Ekspresi santainya lenyap, digantikan oleh aura gelap yang mencekam.

"Apa yang dia katakan padamu?" tanya Reihan, suaranya kini kembali sedingin es.

"Dia bilang kau menggunakanku untuk mendapatkan warisan. Dia bilang kau butuh ahli waris dalam satu tahun untuk tetap menjadi CEO," suara Laluna bergetar.

"Katakan padaku, Reihan. Apakah itu alasan kau... kau menyentuhku semalam? Karena kau butuh seorang anak untuk mengamankan tahtamu?"

Reihan berdiri, membuat kursi di belakangnya terseret keras.

Ia menatap Laluna dengan kemarahan yang meluap-luap, namun ada kilatan luka di matanya yang coba ia sembunyikan.

"Ibuku adalah wanita yang meninggalkan keluarganya demi pria lain. Kau lebih percaya pada kata-katanya daripada padaku?"

"Masalahnya, kau tidak pernah memberiku alasan untuk percaya, Reihan! Kau hanya memberiku kontrak!" teriak Laluna.

Reihan berjalan memutari meja, mendekati Laluna hingga jarak mereka sangat dekat. Ia mencengkeram pinggiran meja, mengurung Laluna dalam ruang geraknya.

"Jika aku hanya menginginkan ahli waris, aku bisa memilih wanita mana saja yang lebih 'patuh' daripada kau, Laluna. Aku bisa memilih Clarissa yang sudah mengantre di depan pintuku selama bertahun-tahun!" bisik Reihan dengan nada yang menyakitkan.

"Lalu kenapa aku? Kenapa semalam?"

Reihan terdiam. Rahangnya mengeras. Ia tidak bisa memberikan jawaban yang diinginkan Laluna, karena ia sendiri pun takut mengakuinya.

Takut mengakui bahwa di balik menara kartu yang ia bangun, Laluna adalah satu-satunya bagian yang ia tidak ingin runtuh.

"Karena kau adalah istriku," jawab Reihan akhirnya, suaranya rendah dan penuh penekanan.

"Dan apa pun alasannya, jangan pernah temui ibuku lagi. Itu adalah perintah, bukan permintaan."

Reihan berbalik dan masuk ke ruang kerjanya, membanting pintu dengan keras. Laluna terisak di meja makan, menyadari bahwa meskipun mereka telah berbagi keintiman fisik, tembok di antara mereka kini justru semakin tinggi dan tak tertembus.

Malam itu, aroma lavender dari donat-donat yang ia buat tidak lagi terasa menenangkan. Bau itu kini bercampur dengan rasa pahit dari pengkhianatan dan ketidakpastian yang mulai merayap di setiap sudut istana es mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!