Aneska (25 tahun) berada dalam situasi darurat: menikah dalam seminggu atau dijodohkan dengan "om-om" pilihan Papanya yang bernama Argani Sebasta. Demi kebebasan, Aneska nekat mencari pacar sewaan lewat bantuan sahabatnya.
Namun, kecerobohan berbuah petaka—atau mungkin keberuntungan. Di sebuah kafe, Aneska salah mendatangi meja. Bukannya bertemu pria dari aplikasi kencan, ia justru mengajak kencan seorang pria asing yang tampak dewasa dan sangat tampan.
Aneska tidak tahu bahwa pria itu adalah Argani Sebasta, calon tunangan yang sangat ia hindari. Arga yang menyadari kesalahan Aneska justru merasa tertarik dan memilih menyamar menjadi "Gani" si pria biasa.
Permainan menjadi serius saat Arga tiba-tiba mengajukan syarat gila: "Jangan cuma pacaran, ayo langsung menikah saja."
Terdesak waktu dan terpesona pada ketampanan "Gani", Aneska setuju. Akankah Aneska tetap bahagia saat tahu bahwa suami yang ia pilih sendiri sebenarnya adalah pria yang paling ingin ia tolak sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Kejutan di Lobi Kantor
Hari ini, konsentrasi Aneska di kantor benar-benar hancur. Berkali-kali ia salah mengetik caption untuk proyek kliennya. Pikirannya melayang pada kesepakatan gila yang ia buat kemarin sore di Blue Coffee.
Gue beneran bakal bawa cowok asing ke rumah? batinnya sambil menggigit ujung pulpen. Gimana kalau dia tiba-tiba grogi? Gimana kalau Papa tahu dia cuma cowok dari aplikasi kencan?
Pukul 16.55, ponsel Aneska bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang kemarin ia simpan dengan nama 'Gani Penyelamat'.
[Gani Penyelamat]: Saya sudah di depan lobi. Mobil hitam.
Aneska langsung merapikan tasnya, memoles lipstik tipis, dan berpamitan pada teman-temannya dengan terburu-buru. Ia berlari kecil menuju pintu keluar gedung agensi tempatnya bekerja. Begitu sampai di lobi, langkahnya terhenti.
Sebuah sedan mewah berwarna hitam mengkilap terparkir tepat di depan pintu masuk. Bukan sekadar mobil biasa, itu adalah seri terbaru yang harganya pasti bisa buat beli satu kompleks perumahan. Beberapa rekan kantor Aneska yang baru pulang terlihat berbisik-bisik sambil melirik mobil itu.
"Nggak mungkin Gani," gumam Aneska. "Dia kan bilang wiraswasta, bukan sultan."
Namun, kaca mobil itu turun perlahan. Sosok pria dengan kacamata hitam dan kemeja putih bersih yang dua kancing teratasnya terbuka terlihat di balik kemudi. Pria itu melepas kacamatanya, menatap Aneska dengan tatapan tenang yang mematikan.
"Aneska, masuk," panggil Arga.
Aneska melongo. Ia mendekat dengan ragu, lalu masuk ke dalam mobil yang aromanya sangat wangi—perpaduan antara kulit jok mahal dan parfum maskulin Arga.
"Mas Gani... ini mobil siapa? Lo pinjem dari bos lo ya?" tanya Aneska langsung begitu pintu tertutup rapat.
Arga hampir saja tertawa, tapi ia berhasil mempertahankan wajah datarnya. "Ini mobil saya sendiri. Kenapa? Kamu kurang suka?"
"Bukan nggak suka! Tapi ini kemewahan banget! Lo bilang wiraswasta, wiraswasta apa yang pakai mobil beginian? Jualan pulau?" cerocos Aneska sambil meraba dasbor mobil yang sangat halus.
"Wiraswasta kecil-kecilan," jawab Arga santai sambil mulai menjalankan mobilnya. "Saya cuma ingin terlihat meyakinkan di depan Papa kamu. Bukankah itu tujuan kita?"
Aneska mengangguk-angguk setuju, meski hatinya masih merasa janggal. "Iya sih, tapi Mas... kalau lo terlalu kelihatan kaya begini, nanti Papa malah makin banyak tanya. Papa itu detektif kalau soal urusan cowok."
Arga melirik Aneska sekilas. Gadis itu terlihat sangat cantik hari ini dengan blazer kasual dan celana bahan yang pas di tubuhnya. "Tenang saja. Saya sudah menyiapkan skenario. Kamu cukup ikuti alur saya."
Perjalanan menuju rumah Aneska terasa lebih singkat dari biasanya karena suasana di dalam mobil yang sangat nyaman. Aneska mencoba mencairkan suasana dengan terus bicara, menceritakan betapa galaknya Papanya, sementara Arga lebih banyak mendengarkan dengan senyum tipis yang sulit diartikan.
Begitu sampai di depan gerbang rumah besar keluarga Graceva, Aneska menarik napas panjang.
"Oke, Mas. Aturannya: Lo adalah Gani, pacar gue selama tiga bulan terakhir. Kita ketemu di pameran seni. Lo orangnya sukses, mandiri, dan... tolong ya, Mas, jangan biarkan Papa tahu kalau kita baru kenal kemarin."
Arga menghentikan mesin mobil. Ia menoleh ke arah Aneska, lalu tiba-tiba tangannya terulur untuk merapikan sehelai rambut Aneska yang menutupi wajahnya. Sentuhan itu singkat, tapi sukses membuat jantung Aneska berdebar kencang.
"Aneska," suara Arga merendah. "Percaya pada saya. Semuanya akan lancar."
Mereka turun dan disambut oleh asisten rumah tangga yang langsung mengantar mereka ke ruang tamu luas. Di sana, Hendra Graceva sudah duduk di sofa tunggalnya, tampak seperti raja yang sedang menunggu laporan dari bawahannya.
"Pa, ini... Mas Gani. Pacar Anes," suara Aneska sedikit bergetar saat memperkenalkan Arga.
Hendra berdiri. Matanya yang tajam langsung memindai Arga dari ujung kepala sampai ujung kaki. Arga tidak terlihat gentar sedikit pun. Ia justru melangkah maju dengan percaya diri, mengulurkan tangan, dan memberikan jabat tangan yang sangat mantap.
"Selamat sore, Om. Saya Argani... maksud saya, Gani," Arga meralat ucapannya dengan sangat halus sehingga Aneska tidak menyadarinya. "Senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan Anda."
Hendra terdiam sejenak, menatap tangan Arga, lalu beralih ke wajah Arga. Ada kilatan aneh di mata Hendra—seperti rasa terkejut yang tertahan.
"Gani, ya?" Hendra duduk kembali dan mempersilakan mereka duduk. "Silakan duduk. Jadi, kamu yang selama ini membuat putri saya menolak semua tawaran perjodohan saya?"
"Papa!" Aneska memprotes, wajahnya merah padam.
Arga tersenyum sopan. "Saya rasa Aneska berhak memilih kebahagiaannya sendiri, Om. Dan saya di sini untuk memastikan bahwa pilihan Aneska tidak salah."
Hendra berdehem, suaranya terdengar sedikit lebih lunak namun tetap mengintimidasi. "Kamu kerja di mana? Tadi saya lihat mobil di depan. Cukup menarik untuk ukuran anak muda."
"Saya mengelola beberapa bisnis di bidang teknologi dan logistik, Om. Masih tahap pengembangan, tapi stabil," jawab Arga diplomatis.
Aneska menyenggol lengan Arga pelan, berbisik, "Mas, jangan sombong-sombong banget, nanti Papa minta saham!"
Arga hanya membalas dengan kerlingan mata nakal yang membuat Aneska makin salah tingkah.
"Teknologi dan logistik?" Hendra mengulang kalimat itu. "Menarik. Karena setahu saya, anak rekan saya, Argani Sebasta, juga bergerak di bidang yang sama. Kamu tidak kenal dia?"
Deg! Jantung Aneska serasa berhenti. Ia melirik Arga dengan panik.
Arga justru terlihat sangat tenang. Ia memperbaiki posisi duduknya, menatap lurus ke mata Hendra. "Oh, saya kenal baik dengan dia, Om. Bahkan bisa dibilang, saya tahu setiap langkah yang dia ambil."
Aneska hampir saja pingsan. Mas Gani, lo cari mati ya?! batinnya menjerit. Ia tidak tahu bahwa saat ini, Papanya sedang mati-matian menahan senyum karena mengenali siapa sebenarnya pria di depannya ini.
"Oh ya?" Hendra menaikkan alisnya. "Lalu menurutmu, siapa yang lebih baik untuk Aneska? Kamu, atau Argani Sebasta itu?"
Ruangan itu mendadak sunyi. Aneska menggenggam ujung blazernya dengan erat. Ia menanti jawaban dari pria yang ia pikir hanyalah "orang asing dari aplikasi kencan" ini.
Arga menoleh ke arah Aneska, memberikan tatapan yang begitu dalam dan tulus, lalu kembali menatap Hendra.
"Argani Sebasta mungkin punya segalanya, Om. Tapi saya... saya adalah pria yang berdiri di sini sekarang, memegang komitmen untuk menjaga Aneska. Dan menurut saya, itu adalah nilai yang tidak bisa dibandingkan dengan siapa pun."
Hendra terdiam lama, lalu tiba-tiba... tawa keras pecah dari mulut pria paruh baya itu. "Hahaha! Bagus! Kamu punya nyali juga!"
Aneska bengong. Hah? Papa nggak marah? Papa malah ketawa?
"Anes, Papa suka pria ini," ucap Hendra tiba-tiba. "Tapi, Papa punya satu syarat kalau kamu mau tetap sama dia dan membatalkan perjodohan dengan Arga."
Aneska menegakkan punggungnya. "Apa syaratnya, Pa?"
"Kalian harus bertunangan secara resmi minggu depan. Papa tidak mau pacaran yang tidak jelas arahnya. Kalau Gani beneran serius, dia pasti setuju."
Aneska melongo. "Tapi Pa, minggu depan?!"
"Kenapa? Kamu nggak mau?" tantang Hendra.
Aneska melirik Arga, memberi kode agar Arga menolak atau memberi alasan. Namun, yang dilakukan Arga justru di luar dugaan.
Arga menggenggam tangan Aneska di atas meja, di depan mata Papanya sendiri. "Saya setuju, Om. Minggu depan, saya akan membawa keluarga saya ke sini untuk melamar Aneska secara resmi."
Aneska: "HAAAHH?!"