NovelToon NovelToon
Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Naik ranjang/turun ranjang / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:32.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.

Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.

Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Pagi itu, udara Bandung masih terasa sejuk ketika mobil yang dikendarai Harsa melaju meninggalkan halaman penginapan. Langit tampak cerah setelah badai semalam, seolah memberi awal baru bagi perjalanan yang akan mereka tempuh. Namun, suasana di dalam mobil justru dipenuhi keheningan yang canggung.

Arsyi duduk di kursi penumpang depan dengan kedua tangan terlipat di atas pangkuannya. Tatapannya sesekali tertuju pada pemandangan di luar jendela, deretan pepohonan dan bangunan yang perlahan menjauh dari kota yang selama ini menjadi tempat tinggalnya. Ada perasaan asing yang mulai menyelimuti hatinya, menyadari bahwa kehidupannya akan segera berubah sepenuhnya.

Sementara itu, Harsa tampak fokus mengemudi. Sesekali ia melirik layar ponselnya yang terpasang pada dudukan di dashboard. Alisnya sedikit berkerut, seolah sedang memikirkan sesuatu yang penting.

Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Hingga akhirnya, Harsa memecah keheningan.

“Aku harus segera tiba di Jakarta sebelum jam sepuluh,” ujarnya datar tanpa menoleh. “Ada meeting penting yang tidak bisa ditunda.”

Arsyi menoleh pelan. “Baik, Kak. Semoga perjalanannya lancar.”

Harsa hanya mengangguk singkat sebagai respons, lalu kembali fokus pada jalan di depannya. Suasana kembali hening, hanya diisi oleh suara mesin mobil dan alunan musik instrumental yang diputar dengan volume rendah.

Beberapa saat kemudian, Harsa meraih sebuah bungkusan dari kursi belakang dan menyerahkannya kepada Arsyi tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.

“Ini untukmu,” katanya singkat.

Arsyi menerima bungkusan itu dengan sedikit kebingungan. “Apa ini?”

“Bubur,” jawab Harsa. “Aku membelinya tadi saat kamu mandi.”

Arsyi menatap bungkusan tersebut sejenak, lalu kembali menoleh ke arah Harsa. “Terima kasih, Kak. Tapi … bagaimana dengan Kak Harsa? Apa sudah sarapan?”

Harsa menggeleng pelan. “Tidak. Kita tidak punya banyak waktu, dan aku tidak mungkin berhenti lagi untuk sarapan.”

Nada suaranya tetap datar, namun ada kesan perhatian yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya.

“Kak Harsa yakin tidak ingin makan juga? Kita bisa makan bersama,” tawarnya dengan hati-hati.

Harsa tersenyum tipis, meski tidak sepenuhnya terlihat. “Tidak perlu. Kamu saja. Aku sudah terbiasa.”

Beberapa menit kemudian, Arsyi kembali berbicara. “Terima kasih sudah membelikanku sarapan.”

Harsa tetap menatap jalan di depannya. “Kamu harus menjaga kesehatanmu. Melodi masih membutuhkanmu.”

Jawaban itu membuat Arsyi terdiam sejenak. Ia memahami bahwa perhatian Harsa semata-mata didasari oleh tanggung jawab terhadap putrinya, bukan karena perasaan pribadi.

Namun, demikian Arsyi tetap merasa dihargai.

“Bagaimanapun juga, aku tetap berterima kasih,” ujarnya lembut.

Harsa tidak menjawab, tetapi ia mengangguk pelan.

Sesekali, Harsa kembali melirik ponselnya untuk memastikan jadwal pertemuannya. “Kita akan tiba sekitar pukul sembilan jika tidak ada kemacetan,” katanya.

“Semoga lancar,” sahut Arsyi.

Mobil terus melaju meninggalkan kota Bandung menuju Jakarta. Jalan tol yang panjang terbentang di depan, sementara suasana di dalam mobil masih diselimuti keheningan yang canggung. Hanya suara mesin kendaraan dan alunan musik instrumental yang terdengar pelan, menemani perjalanan dua insan yang masih berusaha menyesuaikan diri dengan status baru mereka.

Arsyi menatap bungkusan yang baru saja diberikan Harsa. Dengan hati-hati, ia membuka plastik pembungkusnya, lalu membuka tutup wadah tersebut. Aroma bubur hangat langsung tercium.

Namun, seketika kedua matanya membola.

Di dalam wadah itu bukanlah bubur ayam seperti yang ia bayangkan, melainkan bubur ketan dengan taburan gula merah dan santan yang kental. Jantungnya berdegup pelan, bukan karena terkejut semata, tetapi karena kenangan yang tiba-tiba menyeruak. Itu adalah bubur kesukaan Nadin.

Sementara dirinya, tidak pernah menyukai makanan manis. Sejak kecil, Arsyi lebih menyukai bubur ayam yang gurih. Rasa manis justru sering membuatnya mual.

Tangannya sempat terhenti di udara, sendok yang ia pegang menggantung tanpa gerakan. Ia menunduk, berusaha menenangkan perasaannya agar tidak terlihat oleh Harsa.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia mengambil satu suapan kecil. Rasa manis langsung memenuhi indera pengecapnya, membuatnya harus menelan dengan sedikit usaha. Meski demikian, ia tetap berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar terlihat biasa saja.

Di sampingnya, Harsa yang masih fokus mengemudi sesekali melirik ke arah Arsyi.

“Kamu sudah makan?” tanyanya singkat.

Arsyi mengangguk pelan. “Iya, Kak. Terima kasih.”

Harsa kembali menatap jalan di depannya sebelum berkata, seolah baru menyadari sesuatu, “Aku tidak tahu seleramu seperti apa.”

Arsyi menoleh sekilas, namun tidak mengatakan apa pun.

Harsa melanjutkan dengan nada datar namun jujur, “Aku terbiasa membelikan Nadin bubur ketan setiap pagi. Jadi … aku langsung membelinya tanpa berpikir panjang.”

Kalimat itu jatuh begitu saja di antara mereka.

Arsyi merasakan sesuatu yang menusuk di dalam dadanya. Ia kembali menatap bubur di tangannya, sendoknya bergerak perlahan mengambil suapan demi suapan, meskipun rasa manis itu terasa semakin berat untuk dinikmati. Namun, ia tidak ingin memperumit keadaan. Ia tidak ingin Harsa merasa bersalah. Dan yang terpenting, ia tidak ingin terlihat seolah sedang bersaing dengan bayangan kakaknya sendiri.

Arsyi menarik napas pelan, lalu menelan suapan berikutnya dengan paksa. Setelah itu, ia mengangkat wajahnya dan memberikan anggukan kecil kepada Harsa.

“Tidak apa-apa, Kak,” ucapnya lembut. “Ini sudah sangat baik.”

Harsa melirik sekilas ke arahnya, seolah mencoba membaca sesuatu dari ekspresi wajah Arsyi. Namun, wanita itu berhasil menyembunyikan perasaannya dengan baik.

“Kalau nanti kamu ingin sesuatu yang lain, beri tahu saja,” kata Harsa.

Arsyi kembali mengangguk. “Baik, Kak.”

Percakapan itu berakhir di sana, meninggalkan keheningan yang kembali menyelimuti mobil. Arsyi melanjutkan makannya hingga habis, meskipun setiap suapan terasa seperti menelan kenangan yang bukan miliknya.

Setelah wadah itu kosong, ia menutupnya kembali dengan hati-hati dan meletakkannya di pangkuannya. Pandangannya kemudian beralih ke luar jendela, menatap jalan yang terus bergerak menjauh.

Di balik anggukan kecil dan senyum tipisnya, tersimpan perasaan getir yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Ia menyadari satu hal yang sangat jelas, dalam pernikahan ini, ia bukan hanya memulai kehidupan baru, tetapi juga harus hidup berdampingan dengan bayangan masa lalu yang begitu kuat.

Dan pagi itu, melalui semangkuk bubur ketan yang sederhana, Arsyi memahami bahwa perjalanan untuk benar-benar diterima sebagai dirinya sendiri masih akan sangat panjang.

Mobil terus melaju menuju Jakarta, membawa dua hati yang terikat dalam sebuah janji, namun masih terjebak dalam kenangan yang belum sepenuhnya usai.

1
ekomahoks mahoks
doubel up donk thor
neny
syukurlah tdk terjadi apa2 sm harsa,,hanya pancingan dr ucapan mentari yg mengingatkan bahwa bersama dia urusan bs terselesaikan
neny: ehrina,,kok jd mentari sih,,lp aq kak,,maafkeun yaa🙏😂😂
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat up nya 💪🥰
Eva Karmita
jangan terlalu dingin Harsa kalau jadi orang ...jgn buat penyesalan mu semakin besar nanti kalau Arsy pergi 💔 ... tunggu aja tanggal mainnya Arsy bakal ninggalin kamu dan ngk akan pernah nungguin kamu pulang dan disitu lah hari " penyesalan mu tiba 😏😤
Fitra Sari
lanjut donk thorr doubel up 🙏🙏🙏😍
Aditya hp/ bunda Lia
ntar saat Arsy pergi kamu baru kehilangan biasa juga gitu ... dasar cowok gak ada otak
Eva Karmita
dasar licik pelakor kegatelan semoga aja jebakan mu ngk berhasil dasar wanita gila pewaris otak setan 😤😏
Endang 💖
haraa siap2 kau di bodohin sama sekertaris mu, atau jgn2 pembatalan bisnis ini juga rencana dari rina
Nanik Arifin
Rina skretaris, tahu & sering berhubungan dg mitra" perusahaan. Rina dibalik pembatalan kerjasama.
caramu sungguh busuk, Ran
Nanik Arifin
Ayuk Harsa, kasih celah sekretarismu yg jatuh hati pdmu sejak dlu celah tuk masuk. biarkan rumah tanggamu, anakku & keluargamu hancur oleh hasutan Rani
Fitra Sari
lanjut Thor doubel up donk
mama
CEO ter oon masuk jebakan🤣..mudah2 jebakan ny berjalan dgn lancar,dan perceraian segera datang harsa..semangat buat rina..gas pool buat CEO goblok masuk perangkap mu..jgn ksih celah buat gagal🤣..baru kali ini baca nopelll CEO nny oon bin goblok🤭..gak punya detektip ato asisten apalagi kaki kan buat hendel masalah2 darurat🤣
neny
klau pun di beri obat perangsang,,smg dia lampiaskan sm istri nya
neny
smg harsa tdk terjebak ya sm ulat keket itu,💪💪😘
Teh Euis Tea
takutnya si harsa di jebak si rina minum obat perangsang
Rarik Srihastuty
fix ini akal2an Rina buat jebak di harsa
Ita rahmawati
fix kamu dikadalin SM buaya betina harsa² 🤦
kalo sampe kena berarti oblod sih 😂😂
Ikaaa1605
Yyyaaahhh dasar licik emng si rina
Dewi
si Rina keliatannya aja baik tpi dibelakang ada niat jahat
Aditya hp/ bunda Lia
Kan sudah jelas ini ulah si Rina dan dia mau ngejebak si idiot Harsa dasar CEO oon ntar kamu di kasih minum obat setan ....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!