“Pasti ada alasan kenapa mereka menyuruhku kembali. ”
“Lalu bagaimana nona?. ”
“Tentu saja kita kembali, aku mau lihat apa maunya keluarga Starborn. ”
jawab Lunaria sambil tersenyum.
Dimana kota Avalon kota sihir, hanya Lunaria yang tidak bisa menggunakan sihir.
keluarga Starborn mengasingkan Lunaria dari kediaman utama ke villa terpencil milik mereka, keluarga Starborn menganggapnya aib, anak cacat berbeda dengan Learia saudara kembar Lunaria.
Dan saat keluarga Starborn diperintahkan kerajaan Avalon untuk menikahkan putrinya kepada Kael dragomir putra mahkota Avalon, yang dikenal pria sadis, berbahaya dan seorang duda dimana ketiga istrinya terdahulu meninggal secara misterius.
Kael yang dikenal pangeran bintang kesepian, membuat keluarga Starborn tidak rela menikahkan Laeria putri kebangangan mereka menikah dengan Kael.
Tapi mereka tidak tahu rahasia tentang Lunaria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8.Bayangan di singgasana.
Sementara di Villa Star born, Luna ria baru saja mengetahui identitas aslinya yang mengejutkan dan sejarah tentang Avalon tempat tinggalnya sekarang.
Sedangkan suasana di Istana Utama Avalon terasa jauh lebih berat dan mencekam. Di ruang singgasana pribadi Raja, hanya diterangi cahaya matahari yang masuk melalui kaca patri berwarna-warni.
Duduk di singgasana tertinggi adalah Raja Alva. Pria paruh baya itu tampak gagah namun wajahnya dipenuhi kerutan kelelahan. Di sebelahnya, duduk Ratu Delia yang cantik namun matanya selalu terlihat sembab dan penuh kekhawatiran.
Setiap hari mereka dibuat pusing dengan laporan yang disampaikan para pejabatnya, yang mendesak agar putra mahkota segera menikah.
Didepan para pejabatnya Raja dan Ratu hanya bisa mendengarkan keluh kesah mereka, tanpa bisa memaksa putranya.
“Kalian ini tidak punya pekerjaan tiap hari meributkan tentang putraku. ”ucap tegas Raja Alva.
“Maafkan kami yang mulia kami hanya—”ucap para pejabat sambil tertunduk.
“Masalah itu nanti aku diskusikan dengan putra mahkota, bagaimanapun juga ini bukan pernikahan pertama putraku. Apa ada dari kalian yang mau menikahkan putrinya untuk putra ku. ”ucap Ratu Delia.
Pejabatpun hening beberapa saat.
Semua pejabat terdiam, bukan karena tidak mau tapi karena takdir putra mahkota dinaungi bintang kesepian.
“Kami...bukan tidak... ”ucap salah satu pejabat yang gugup.
“Sudahlah!, aku juga tidak mau memaksa kalian lagi. Sebaiknya rapat ini kita bubarkan saja. ”ucap tegas Raja Alva.
Para pejabat pun mengundurkan diri dari ruang utama, disana hanya Ratu dan Raja yang duduk disinggah sana yang menatap para pengikutnya pergi.
Saat semua pergi, Raja pun meluapkan kekesalan nya.
“Lihat mereka, hanya tahunya mendesak saja tapi saat disuruh menyerahkan putri mereka mereka hanya diam seribu bahasa. ”
“Sabar yang mulia..., mereka juga mengkhawatirkan putri mereka jika dinikahkan oleh putra kita. ”ucap Ratu Delia sambil membelai pundak dan tangan suaminya dengan lembut.
Setelah tenang Raja pun menanyakan keberadaan Ka el.
"Sudah berapa lama dia mengurung diri di kamar, Ratu?" tanya Raja Alva pelan, suaranya berat bergema di ruangan itu.
Ratu Delia menghela napas panjang, tangannya yang gemulai meremas ujung gaun sutranya.
"Hampir setahun, Yang Mulia. Sejak meninggalnya istri ketiga nya ... dia tidak pernah keluar kecuali untuk tugas kerajaan atau berburu monster di perbatasan. Dia menutup hatinya, Alva. Dia benar-benar hancur."
Air mata Ratu mulai menetes.
"Kita sudah kehilangan tiga menantu yang baik. Tiga gadis muda bangsawan Alvaro. Dan sekarang... melihat anak kita sendiri, Ka el, hidup dalam kesepian dan kesedihan seperti itu... hatiku rasanya ingin pecah."
Raja Alva menundukkan kepalanya. Dadanya sesak.
Ka el drago Mir.
Putra satu-satunya, pewaris tunggal tahta Avalon, penyihir terkuat generasi ini. Namun, nasib seolah terus memusuhinya.
Tiga kali ia menikah. Tiga kali pula kebahagiaan itu berakhir dengan tragedi.
Istri pertama meninggal karena penyakit aneh yang tak bisa disembuhkan sihir penyembuh terbaik. Istri kedua tewas dalam kecelakaan misterius di menara pengawas. Dan yang terakhir, istri ketiganya meninggal mendadak tanpa sebab yang jelas hanya seminggu setelah pernikahan.
Masyarakat mulai berbisik-bisik. Mereka menyebut Ka el sebagai "Pangeran Pembawa Maut" atau "Janda Berdarah". Mereka bilang siapa saja yang menikahinya akan tertimpa musibah.
"Masalahnya bukan hanya soal kesedihan, Delia," kata Raja Alva dengan suara serak. "Ini soal masa depan kerajaan. Ka el adalah Putra Mahkota. Darah murni keluarga drago mir mengalir di tubuhnya. Jika dia tidak menikah dan tidak memiliki keturunan... lalu siapa yang akan memimpin Avalon setelah kita tiada?"
"Tapi bagaimana caranya, Yang Mulia?" Ratu Delia menyela dengan suara putus asa. "Keluarga bangsawan mana yang mau menyerahkan putri mereka lagi? Mereka semua takut! Mereka menganggap Ka el membawa sial! Bahkan keluarga kita sendiri mulai ragu."
Raja Alva memukul lengan singgasana dengan keras.
Bugh!
"Omong kosong! Anakku tidak membawa sial! Dia korban! Entah itu kutukan, sihir hitam, atau ulah musuh, tapi anakku tidak bersalah!" bentak Raja, namun amarahnya segera berganti menjadi kepasrahan. "Tapi... aku tidak bisa memaksanya menikah lagi jika dia sendiri sudah tidak mau. Dia bilang dia lelah. Dia bilang dia tidak mau mengorbankan nyawa orang lain lagi."
"Padahal kita tahu, dia sangat ingin memiliki keluarga. Dia sangat menyayangi istri-istrinya..." isak Ratu Delia.
Keduanya terdiam dalam keheningan yang panjang. Beban di pundak mereka terlalu berat. Garis keturunan raja yang sudah berjalan ribuan tahun terancam putus hanya karena takdir yang kejam.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang mantap dan berat terdengar dari arah pintu utama. Langkah kaki yang penuh wibawa dan kekuatan.
Seorang penjaga membuka pintu lebar-lebar.
"Lapor Baginda! Pangeran Ka el menghadap!"
Raja dan Ratu saling pandang. Waktu seolah berhenti.
Pintu terbuka penuh, dan masuklah sosok Ka el.
Pria itu tinggi besar, tubuhnya tegap dan berotot tertutup jubah perang berwarna hitam pekat dengan aksen merah darah. Rambutnya hitam legam, wajahnya tampan namun dingin seperti patung es. Matanya berwarna merah menyala, ciri khas kekuatan api tertinggi keluarga drago mir.
Namun, yang paling terlihat adalah aura di sekelilingnya. Dingin, gelap, dan menekan. Seolah-olah suhu ruangan itu turun drastis hanya dengan kehadirannya.
Ka el berjalan mendekat, langkahnya tenang namun setiap hentakan kakinya terasa berat. Ia berhenti di tengah ruangan, lalu membungkuk hormat kepada kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu."
Suaranya rendah, datar, tanpa emosi.
"Saya datang untuk melaporkan hasil patroli kemarin. Pasukan monster di hutan terlarang sudah berhasil kami bersihkan. Tidak ada korban jiwa dari pihak kita, hanya beberapa yang luka ringan."
Raja Alva mengangguk pelan. "Kerja bagus, Ka el. Seperti biasa, kau tidak pernah mengecewakan kami dalam urusan pertahanan."
Ka el berdiri tegak kembali, wajahnya tanpa ekspresi. "Itu tugas saya."
Suasana kembali hening. Ratu Delia menatap putranya dengan hati perih. Ka el terlihat semakin kurus, matanya memiliki lingkaran hitam, dan senyum yang dulu pernah ada kini sudah lenyap entah ke mana.
"Ka el..." panggil Ratu Delia lembut. "Duduklah dulu. Istirahatlah. Kamu terlihat sangat lelah."
"Tidak perlu, Ibu. Saya masih harus memeriksa laporan lain." Ka el menolak halus, namun tegas.
"Jangan pergi dulu!" Raja Alva bersuara keras, memotong niat putranya. "Kita ada hal penting yang harus dibicarakan. Duduk!"
Perintah itu bukan permintaan. Ka el menunduk sedikit, lalu berjalan duduk di kursi tamu yang agak jauh dari singgasana, menjaga jarak seolah ia sadar dirinya membawa bahaya.
"Baiklah. Apa yang ingin Ayah bicarakan?"
Raja Alva menatap putranya dalam-dalam.
"Tentang dirimu, Ka el. Tentang masa depanmu."
Ka el menyipitkan matanya. "Saya sudah bilang, urusan perbatasan sudah aman."
"Bukan soal perbatasan! Soal istana! Soal keturunan!" Raja Alva mulai kehilangan kesabarannya. "Sudah cukup kau bermain dengan nyawamu sendiri! Sudah cukup kau hidup sendirian seperti pertapa! Kau adalah Putra Mahkota Avalon! Kau harus punya istri! Kau harus punya anak!"
Ledakan suara Raja membuat ruangan itu bergetar pelan.
Ka el tetap diam. Wajahnya tidak berubah, tapi tangannya yang tergenggam di pangkuan perlahan memutih karena menahan emosi.
"Saya sudah bilang, Ayah. Saya tidak mau menikah lagi," jawabnya pelan namun tegas. "Tiga kali saya mencoba. Tiga kali mereka mati di tangan takdir atau di tangan musuh. Saya tidak mau ada korban keempat. Saya lebih baik hidup sendiri sampai ajal menjemput daripada harus melihat orang yang saya sayangi mati lagi di depan mata saya."
"Tapi kerajaan butuh penerus, Nak!" sahut Ratu Delia sambil berdiri, berjalan mendekati putranya. "Kami tidak memaksamu untuk langsung mencinta, tapi tolong... setidaknya carilah pendamping. Agar garis darah drago mir tidak putus. Agar Avalon tetap aman."
"Biarkan saja putus kalau memang takdirnya begitu,atau berikan saja tugas ini pada saudariku Diego atau Deliar" jawab Ka el dingin.
"JANGAN BERBICARA KAYA GITU!"
Ratu Delia menangis, lalu memegang bahu putranya yang keras dan kaku.
"Ibu tahu kamu sakit. Ibu tahu kamu terluka. Tapi Ibu tidak tega melihat kamu hidup tanpa kehangatan. Tolong... beri kami satu kesempatan lagi. Beri dirimu satu kesempatan lagi."
“Kedua adikmu masih kecil dan belum siap mengantikan posisi mu. ”ucap Raja Alva menahan amarahnya.
Ka el menunduk. Ia tidak tega melihat ibunya menangis. Ia adalah anak yang berbakti, meskipun caranya dingin. Beban rasa bersalah dan rasa sakit itu memang sudah terlalu besar, tapi melihat orang tuanya seperti ini... hatinya yang beku pun sedikit mencair.
"Ayah dan Ibu ingin apa sebenarnya?" tanya Ka el akhirnya, suaranya terdengar lelah.
Melihat putranya mulai luluh, Raja Alva segera mengambil alih pembicaraan.
"Kami tidak akan memaksamu menerima wanita yang tidak kau suka. Tapi... setidaknya temuilah mereka. Lihatlah dulu."
Ratu Delia tiba-tiba tersenyum, sebuah ide cemerlang muncul di kepalanya.
"Ah! Ibu punya ide bagus! Bagaimana kalau Ibu mengadakan sebuah Pesta Teh Besar? Ibu akan undang semua putri dari keluarga bangsawan, pejabat tinggi, dan kaum terpandang di seluruh Avalon."
Mata Ratu berbinar.
"Kamu hanya perlu datang, Ka el. Duduk, minum teh, dan lihat-lihat saja. Tidak perlu bicara banyak. Dari wajah mereka, dari aura mereka, Ibu yakin kamu bisa menilai siapa yang pantas. Kamu yang punya hak mutlak untuk memilih siapa yang kamu anggap cocok mendampingimu."
"Pesta teh?" Ka el mendengus sinis. "Bukankah itu acara yang membosankan? Dan mereka semua pasti datang hanya karena takut atau karena ingin jabatan."
"Biarkan saja mereka datang dengan tujuan apa pun," potong Raja Alva. "Yang penting kau punya pilihan. Kau bisa menolak semuanya kalau mau. Tapi setidaknya datanglah. Lakukan ini demi kami, Ka el. Demi permintaan terakhir Ayah dan Ibu."
Raja Alva menatap putranya dengan tatapan memohon. Tatapan seorang ayah yang hanya ingin melihat anaknya bahagia dan memiliki masa depan.
Ka el diam lama. Ia menatap wajah ayahnya yang mulai tua, dan ibunya yang masih berharap.
Ia tahu, ia tidak bisa menolak selamanya. Tanggung jawab sebagai pangeran memang berat. Dan mungkin... benar kata mereka, siapa tahu ada satu wanita yang nasibnya tidak bertabrakan dengan nasib buruknya.
Atau mungkin... semua ini hanya akan berakhir sama saja.
"Baiklah..." kata Ka el pelan, menghela napas panjang seolah melepaskan seluruh beban di pundaknya.
"Aku akan datang."
Raja Alva dan Ratu Delia langsung tersenyum lebar, wajah mereka seketika menjadi lebih cerah.
"Tapi ingat," Ka el menatap mereka tajam. "Aku yang akan memilih. Dan kalau aku tidak menemukan yang cocok, jangan pernah membahas soal pernikahan ini lagi selamanya."
"Sepakat! Sepakat!" Ratu Delia langsung mengangguk antusias, lalu memeluk putranya meskipun tubuh Ka El kaku dan tidak merespons pelukan itu. "Ibu janji, Ibu akan siapkan pesta yang terbaik. Kamu tinggal duduk manis dan memilih putri mana yang beruntung bisa menjadi istrimu."
Ka el hanya memejamkan mata.
Putri bangsawan... batinnya berpikir sinis. Mereka semua manja, lemah, dan penuh sihir yang mencolok. Kutukan itu pasti akan langsung memakan mereka dalam waktu seminggu.
"Terserah kalian saja," jawab Ka el datar. "Kapan pestanya?"
"Lusa! Hari lusa pagi!" jawab Ratu Delia bersemangat. "Ibu akan suruh orang mengirim undangan ke seluruh penjuru kota hari ini juga!"
Ka el berdiri, membungkuk singkat.
"Kalau begitu saya pamit. Saya masih harus membersihkan diri."
Ia berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan langkah yang sama beratnya seperti saat ia masuk.
Setelah kepergian Ka el, Raja Alva menghela napas lega lalu menatap istrinya.
"Kau yakin ini berhasil, Ratu? Anak itu keras kepala."
"Percaya padaku, Yang Mulia," Ratu Delia tersenyum misterius. "Kita tidak akan mengundang sembarang orang. Dan siapa tahu... di antara mereka ada satu bintang yang bersinar terang, atau justru... ada satu lilin yang sangat redup sehingga api kemarahan putra kita pun tidak bisa memadamkannya."
“Siapa gadis itu?. ”
“Bukankah putri dari keluarga Star born sudah menginjak dewasa. Yang aku dengar dia sangat mempesona. ”
“Kau benar, keluarga Star born belum kita pilih menjadi calon istri putra kita karena usianya masih muda waktu itu. ”
Ratu dan Raja pun menargetkan putri dari keluarga Star born, bagaimanapun juga yang pantas menjadi istri putra mahkota adalah keluarga bangsawan murni Avalon.