Arhan si tukang panggul harus menelan pahitnya hidup, rumahnya terbakar, ia mengalami luka bakar, anaknya pincang karena tertimpa kayu dan istrinya menceraikannya.
Naasnya ia mati di lindas 3 mobil sekaligus. Tapi siapa sangka jika hidupnya berubah saat ia mendapat sistem.
Sistem mengubah hidupnya dan membuat mantan istrinya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
TOK! TOK! TOK!
Pintu ruangan kepala sekolah diketuk.
"Masuk," sahut suara berat dari dalam.
Pintu terbuka perlahan. Tampak Arhan berdiri tegap di ambang pintu.
Wajahnya datar namun memancarkan aura yang sangat dingin dan menakutkan. Ia melangkah masuk dengan langkah yang tenang namun penuh penekanan.
"Silakan duduk, Pak," kata Kepala Sekolah menunjuk kursi tamu.
Arhan pun duduk dengan sikap yang santai. Ia tidak menyia-nyiakan waktu, langsung menatap kepala sekolah yang memegang jabatan tertinggi di sekolah itu.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Kepala Sekolah sedikit canggung, merasakan suasana yang mulai tidak nyaman.
Dengan suara rendah namun jelas, Arhan mulai bicara.
"Saya datang ke sini ingin meminta Bapak untuk mengeluarkan dan memecat siswa-siswa yang telah melakukan pembullyan. Selama ini, anak saya menjadi korban perundungan di sekolah ini. Tidak hanya dari teman sekelas, tapi juga dari kakak kelas dan siswa lain. Saya minta dengan sangat kepada Bapak untuk mengambil kebijakan tegas dan mengeluarkan mereka semua dari sekolah ini!"
Permintaan itu sangat keras dan tegas.
Kepala Sekolah terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepala dengan wajah yang seolah paling benar.
"Ehm... Pak Arhan, rasanya itu tidak etis dan terlalu berat jika langsung dikeluarkan begitu saja. Lagipula... apa Bapak punya bukti yang kuat?" tanyanya mencoba beralasan.
"Buktinya jelas ada! Di buku catatan dan laporan Guru BK sudah banyak catatan kasus mereka. Dan yang paling penting, ada rekaman CCTV yang memuat semua aksi kejam mereka terhadap anak saya! jawab Arhan tak mau kalah. "
Namun, Kepala Sekolah itu justru menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Tetap saja, Pak... Tidak bisa sembarangan begitu. Jika kita mengeluarkan banyak murid, otomatis pemasukan uang SPP dan donasi untuk sekolah ini akan berkurang drastis. Keuangan bisa kacau," katanya dengan nada membela diri.
Mendengar alasan itu, mata Arhan menyipit tajam. Nadanya berubah menjadi dingin dan menekan.
"Jadi... maksud Bapak tidak masalah jika di sekolah ini ada penjahat dan pembully, asalkan uang pemasukan sekolah tetap aman dan lancar? Nyawa dan mental anak didik Bapak kalah penting dibandingkan uang?" tanya Arhan tak habis pikir.
Kepala Sekolah itu tersenyum kecut. "Mau bagaimana lagi, Pak? Realitanya begitu. Guru juga butuh gaji, sekolah butuh biaya operasional untuk tetap berjalan."
BRAKK!!
Arhan membanting tangannya di meja dengan keras, membuat Kepala Sekolah tersentak kaget.
"TOLOK HARGAI KATA-KATA SAYA SEBAGAI PEMEGANG SAHAM DI SEKOLAH INI!" seru Arhan lantang.
Suara itu bergema di seluruh ruangan. Wajah Kepala Sekolah seketika berubah pucat pasi. Mulutnya ternganga tak percaya.
"A-apa?! Anda... Anda pemegang saham di sini?!" tanyanya terbata-bata, keringat dingin langsung membasahi pelipisnya.
"Apa Anda meragukan ucapan saya?" Arhan menatapnya sinis. "Silakan Bapak cek data pemegang saham utama sekolah ini. Cek nama saya di sana! saya pemegang saham 10% di sekolah ini, artinya ada sekitar 10 milyar uang saya yang masuk ke sekolah ini kan?"
"Pak kapal sekolah, saya sebenarnya tidak mau hal ini terjadi, tapi anak saya terus-terus di bully, giliran di balas mereka merasa tersakiti, saya juga terpaksa menggunakan kekuasan ini untuk menyelamatkan mental anak saya," kata Arhan.
Kepala Sekolah itu benar-benar syok. Tangannya gemetar hebat saat buru-buru mengambil tablet dan data pemegang saham yang ada di komputernya.
Jari-jarinya menari cepat di layar, mencari nama teratas dalam daftar investor sekolah ini.
Dan saat nama itu muncul di layar... "ARHAN".
Wajah Kepala Sekolah itu seketika berubah menjadi pucat pasi seperti mayat hidup. Keringat dingin langsung membanjiri punggung dan dahinya.
Ia baru sadar bahwa orang yang sedang ia lawan bicara dan coba berdalih tadi, adalah PEMILIK SAHAM TERBESAR DARI PEMEGANG SAHAM YANG LAIN!
JLEB!
Ia merasa tanah tempat ia berpijak seakan runtuh.
"I... Ini benar... Tuan Arhan..." gumamnya terbata-bata, suaranya bergetar tak karuhan.
"Ma... Maafkan saya Tuan! Saya tidak tahu! Saya benar-benar tidak menyangka bahwa Anda adalah pemegang saham utama di sini! Ampun Tuan!"
Sikapnya yang tadi sok berkuasa dan perhitungan, kini berubah 180 derajat menjadi sangat takut, hormat, dan memelas.
Ia bahkan langsung berdiri dan membungkukkan badannya dalam-dalam di hadapan Arhan.
"Maafkan ketidaktahuan saya! Saya buta! Saya salah besar!"
Arhan hanya menatapnya dengan tatapan dingin dan tajam, tanpa ekspresi.
"Jadi sekarang... Apakah Bapak masih beralasan soal 'pemasukan sekolah' dan 'tidak etis'?" tanya Arhan pelan namun suaranya menusuk hati.
"TIDAK PAK! TIDAK SAMA SEKALI!" Kepala Sekolah menggeleng kuat-kuat seperti boneka.
"Yang benar saja! Orang-orang yang berani membully itu adalah sampah! Mereka tidak pantas bersekolah di sini! Mereka merusak citra sekolah! Harusnya dari dulu sudah saya keluarkan!" Dengan tangan gemetar, ia langsung meraih telepon interkom dan menekan tombol panggil.
"HALO! SEMUA STAF DAN GURU BK! KERJAKAN SEGERA! KELUARKAN SEMUA SISWA YANG TERLIBAT KASUS PERUNDUNGAN ITU HARI INI JUGA! BERIKAN SURAT PEMECATAN (DO) SEKARANG! JANGAN ADA YANG DILEPAS! LAKUKAN SEKARANG JUGA!!" teriaknya histeris memastikan perintah Arhan terlaksana.