Menghilang selama lima belas tahun, ia akhirnya kembali karena tuntutan pekerjaan. Luka masa lalu mengajarkannya bahwa apa yang bukan milikmu, tak akan pernah bisa dipaksa menjadi milikmu. Kini ia hadir dengan versi terbaik, bertekad menjalani hidup lebih dewasa.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sosok menyebalkan yang menjadi atasannya. Kesabaran pun terus diasah karena harus bertemu setiap saat.
Lantas, mampukah benih cinta tumbuh di antara pertemuan mereka? Atau justru mereka akan tetap memilih jalan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode-03
Setelah memastikan bosnya tertidur, akhirnya Nara kembali pulang...
Sebelum pulang ke apartemennya, Nara mampir terlebih dahulu ke sebuah supermarket untuk belanja bulanan, karena ia ingat ternyata stok bahan makanannya mulai hampir habis.
Meskipun rasanya ingin langsung tergeletak di kasur dan beristirahat setelah "perang" melawan tingkah manja si Bos, perut dan dapur tidak bisa dibohongi. Akhirnya dengan langkah gontai, wanita berusia 43 tahun itu mendorong troli besar di lorong supermarket.
"Emmm... susu habis. Telur juga tinggal sedikit. Oh iya, stok mie instan juga harus ditambah buat cadangan kalau lagi malas masak," gumam Nara sambil sibuk memasukkan barang-barang ke dalam troli satu per satu.
Ia berbelanja dengan sangat teliti, membandingkan harga dan memilih bahan makanan yang masih segar. Siapa sangka, mantan model papan atas yang dulu hidup bergelimang harta ini sekarang bisa sangat hemat dan cermat dalam mengatur keuangan. Hidup memang penuh kejutan, dulu yang melayani dia, sekarang dia yang melayani orang lain.
Saat sedang asyik memilih sayuran di bagian kulkas, tiba-tiba ponselnya bergetar lagi.
Deg!
Jantung Nara serasa mau copot. Refleks ia langsung kaget setengah mati, mengira itu pasti Arkan yang sudah bangun tidur dan mulai minta ini-itu lagi.
"Duh Gusti... jangan Bos lagi deh hari ini... aku sudah lelah sekali," keluhnya.
Dengan hati-hati ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Namun alih-alih nama "Bos👿" yang muncul, nama lain yang terpampang di sana membuat langkah Nara terhenti mendadak. Wajahnya yang tadi terlihat lelah, kini berubah menjadi tegang.
Nama itu adalah... Raka.
Nama seseorang yang sama sekali tidak ia harapkan untuk muncul lagi.
Nara menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu cepat.
Ternyata benar, kembali ke kota ini berarti ia harus siap berhadapan dengan semua orang dari masa lalunya, Raka laki-laki yang pernah ia cintai sepenuh hati namun juga menyakitinya sedalam-dalamnya.
Jantungnya berdegup kencang, bukan karena senang, melainkan karena rasa cemas dan tidak nyaman yang perlahan menyelinap kembali. Dengan ragu-ragu, Nara menggeser tombol hijau itu.
"Halo..." jawabnya singkat, berusaha membuat suaranya terdengar datar dan biasa saja.
📞 "Halo, Nar? Kamu lagi dimana? Bisa ketemu gak sebentar? Ada yang mau aku omongin penting banget," suara berat Raka terdengar dari seberang sana, terdengar sama persis seperti dulu.
Nara menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Kenangan pahit tentang pernikahan mereka, tentang pengkhianatan dan air mata, seketika berputar cepat di kepalanya.
Sudah cukup. Ia sudah membuang jauh-jauh masa lalu itu. Ia tidak ingin kembali terjebak dalam pusaran drama yang sama sekali tidak ada habisnya.
"Maaf, Ka. Aku lagi di luar, lagi sibuk," tolak Nara halus namun tegas.
📞 "Sibuk apa sih? Cuma sebentar kok. Kita bisa ketemu di kafe deket situ ya? Aku tunggu disana," desak Raka.
Nara mengeratkan genggaman pada ponselnya. Tidak Nara, jangan lemah. Kamu sudah bahagia dengan hidupmu sekarang, walau sederhana dan punya bos galak, setidaknya kamu tenang, batinnya meneguhkan hati.
"Maaf, Ka. Aku gak bisa. Aku lagi capek banget dan buru-buru mau pulang," jawab Nara kali ini dengan nada yang lebih mantap.
📞 "Yah, masa sih? Ini penting lho, Nar. Tentang..."
"Terserah apa pun itu, tolong jangan sekarang. Dan sebaiknya jangan sering-sering hubungi aku lagi," potong Nara cepat, memotong ucapan pria itu sebelum ia semakin tergoda untuk mendengarkan.
"Nara..." panggil Raka lembut, mencoba menggunakan nada manis yang dulu sering membuat Nara luluh.
Namun kali ini berbeda. Nara Amanda yang sekarang sudah bukan lagi gadis naif yang mudah dibuai kata-kata manis.
"Aku serius, Ka. Kita sudah berakhir bertahun-tahun yang lalu. Sekarang kita sudah punya jalan hidup masing-masing. Aku gak mau lagi berurusan dengan masa lalu, terlebih itu kamu, dan aku harap kamu juga menghargai keputusanku," ucap Nara tegas tanpa ragu sedikitpun.
Hening sejenak di ujung telepon.
"Oke... kalau itu mau kamu. Tapi ingat ya Nar, masalah ini gak akan selesai cuma dengan kamu menghindar," suara Raka berubah menjadi lebih serius dan sedikit menekan.
Nara tersenyum kecut. Masalah? Apa lagi sih yang mau dia bawa? Hidupku sudah tenang, jangan dirusak lagi.
"Aku bukan menghindar, aku hanya memilih untuk bahagia dan tenang. udah ya, aku tutup dulu."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Nara langsung menekan tombol merah dan memutus sambungan. Bahkan ia dengan cepat memblokir nomor tersebut agar tidak bisa menghubunginya lagi.
"Hufftt..." Nara menghembuskan napas kasar, mencoba membuang rasa sesak di dadanya.
"Sudah selesai Nara. Jangan dipikirkan lagi. Fokus belanja, fokus masak, fokus kerja, dan fokus hidup tenang!" ucapnya pada diri sendiri untuk membangkitkan semangat.
Ia kembali melanjutkan belanjanya, berusaha mengusir bayang-bayang Raka dari pikirannya. Namun, firasat wanita itu berkata, pertemuan atau masalah dengan mantan suaminya ini sepertinya belum selesai begitu saja.
BERSAMBUNG...