Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Jejak Kaki yang Hilang
Hujan tidak pernah benar-benar mencuci bersih dosa kota ini; ia hanya mendorong kotorannya masuk lebih dalam ke gorong-gorong yang bau.
Aku duduk membeku di balik kemudi SUV-ku. Mesin mobil masih menyala, wiper kaca depan bergerak bolak-balik dengan irama monoton, menyapu air hujan yang terus turun seolah langit sedang menangisi kebodohanku.
Sudah setengah jam berlalu sejak aku melarikan diri dari ruang kerja ayahku di Vanguard Tower. Kata-katanya masih menggema di dalam tempurung kepalaku, berputar-putar seperti kaset rusak yang menolak untuk dimatikan.
Aku membersihkan kekacauan! Kekacauan yang akan membuatmu tidur di jalanan jika aku tidak bertindak!
Ayahku, pria yang mengajariku cara mengikat tali sepatu, pria yang selalu membelikan es krim setiap kali aku mendapat nilai buruk di sekolah dasar... adalah seorang pembunuh berdarah dingin. Ia dengan sadar menandatangani perintah kematian untuk Adrianus Wiratama dan istrinya. Ia membakar mereka di dasar jurang hanya demi menutupi laporan keuangan yang kotor.
Rasa mual kembali mencengkeram lambungku. Aku membuka kaca jendela mobil sedikit, membiarkan angin malam yang dingin dan basah menampar wajahku, mencoba memaksa udara masuk ke paru-paruku yang terasa sesak. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga, terasa panas menyengat kulit pipiku yang sedingin es.
Semua idealisme yang kubangun tentang keadilan, tentang lencana kepolisian yang selalu kugosok hingga mengilap ini... semuanya dibangun di atas fondasi darah keluarga Arlan.
Ponselku yang tergeletak di jok penumpang tiba-tiba bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama 'Inspektur Bramantyo'.
Aku buru-buru mengusap wajahku dengan punggung tangan, menarik napas dalam-dalam, dan menekan tombol terima.
"Ya, Bram," jawabku, berusaha keras membuat suaraku terdengar senormal mungkin.
"Di mana kau sekarang, El?" Suara Bram terdengar sangat tegang, diselingi oleh suara bising sirine polisi di latar belakangnya.
"Di jalan. Mencari udara segar. Ada apa?"
"Lupakan udara segar. Putar balik mobilmu dan meluncur ke Pasar Elektronik Glodok, Blok C, sekarang juga," perintah Bram dengan napas terengah. "Seseorang baru saja mengubah lorong pasar loak ini menjadi arena pembantaian."
Insting detektifku langsung memotong sisa-sisa kesedihanku. "Korban sipil?"
"Bukan. Itu bagian yang gilanya," Bram terbatuk pelan. "Korbannya adalah regu taktis bersenjata api lengkap. Ini bukan perampokan, El. Ini adalah penyergapan militer yang berakhir kacau balau. Kau harus melihatnya sendiri."
Sambungan terputus.
Aku melempar ponsel ke kursi sebelah, memasukkan gigi mobil, dan menginjak pedal gas dalam-dalam. Ban SUV-ku berdecit nyaring saat aku memutar balik di tengah jalan raya yang licin.
Pasar Elektronik Glodok pada pukul dua dini hari tampak seperti bangkai monster beton yang membusuk di tengah kota.
Garis kuning polisi sudah melintang panjang menutupi pintu masuk utama Blok C. Cahaya merah-biru dari tiga mobil patroli memantul pada genangan air kotor di aspal, menciptakan efek visual yang membuat mataku pusing. Beberapa pedagang kaki lima yang biasa berjualan malam di sekitar area itu berdiri berkerumun di balik garis polisi, berbisik-bisik ketakutan dengan wajah pucat.
Aku memarkir mobilku secara asal, merapatkan ritsleting jaket kulitku, dan melangkah menembus garis polisi sambil memamerkan lencanaku pada petugas berseragam yang berjaga.
Begitu aku melangkah masuk ke dalam lorong lantai dasar, bau pasar yang sudah tidak enak—campuran antara debu tebal, kardus basah, dan kencing tikus—kini tertimpa oleh aroma yang sangat kukenali.
Bau tajam mesiu yang baru terbakar, ozon dari korsleting listrik, dan aroma tembaga pekat dari darah segar.
Lorong itu sangat gelap. Lampu-lampu neon di langit-langit pecah atau mati total. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari lampu sorot portabel bertenaga baterai yang dibawa oleh tim forensik.
"Di sebelah sini, El," panggil Bram dari ujung lorong. Ia sedang berdiri di dekat sebuah pilar beton, menyalakan sebatang rokok kretek, sebuah pelanggaran protokol TKP yang selalu ia lakukan saat ia sedang sangat stres.
Aku berjalan berjingkat, menghindari tumpukan pecahan kaca etalase yang berserakan di seluruh lantai seperti karpet kristal yang mematikan. Dinding-dinding lorong dipenuhi lubang bekas peluru. Bekas tembakannya acak, brutal, dan membabi buta.
Saat aku mendekati Bram, mataku langsung tertuju pada dua sosok tubuh yang tergeletak di lantai semen yang dingin.
Aku berjongkok di dekat mayat pertama.
Pria itu berbadan sangat tegap. Ia mengenakan celana kargo hitam, sepatu bot taktis dengan sol tebal, dan rompi antipeluru berbahan Kevlar. Tidak ada emblem kepolisian, tidak ada lencana militer, tidak ada tanda pengenal apa pun. Wajahnya tertutup masker hitam (balaclava).
Di samping tubuhnya, tergeletak sebuah senapan mesin ringan MP5 yang nomor serinya sudah digerinda hingga halus tak bersisa.
"Pasukan bayangan," gumamku pelan, menyentuh bahan rompi antipeluru itu dengan jari bersarung tangan lateks. "Perlengkapan kelas militer pasar gelap. Orang-orang ini bukan preman sewaan biasa, Bram. Mereka adalah anjing penjaga kelas atas."
Dalam hatiku, aku tahu persis siapa yang mampu menyewa pasukan seperti ini. Jenderal Sudiro. Salah satu Pilar Vanguard Group.
"Ada empat orang yang menyergap lorong ini," Bram mengembuskan asap rokoknya ke udara. "Dua orang berhasil kabur sebelum mobil patroli kita tiba setelah mendapat laporan warga tentang suara tembakan. Dua lainnya... tertinggal di sini. Menjadi mayat."
Aku menunduk lebih dekat pada mayat pertama. Punggung rompinya hancur oleh rentetan peluru.
"Dia ditembak dari belakang," ujarku, keningku berkerut menganalisis sudut masuk peluru. "Tapi arah lubang peluru di dinding berasal dari ujung lorong sana. Dia... dia ditembak oleh temannya sendiri?"
"Tepat sekali," Bram mengangguk muram. "Berdasarkan posisi selongsong peluru di lantai, regu taktis ini melepaskan tembakan secara brutal ke arah pilar ini. Tapi target yang mereka buru tidak ada di sana. Target itu sepertinya menarik pria malang ini, menjadikannya perisai manusia untuk menyerap peluru teman-temannya sendiri."
Aku beralih ke mayat kedua yang tergeletak sekitar dua meter dari sana.
Berbeda dengan yang pertama, mayat kedua ini tidak memiliki luka tembak. Penyebab kematiannya sangat jelas dan mengerikan. Terdapat luka sayatan yang sangat dalam dan bersih di pergelangan tangan kanannya, tepat memutus arteri radialis utama. Darah menggenang membentuk kolam merah gelap di bawah tubuhnya.
"Sayatan ini..." Aku menelan ludah, menatap luka itu lekat-lekat. "Pelakunya tidak menggunakan parang atau pedang panjang. Lukanya terlalu rapi. Satu ayunan pisau lipat taktis berbilah karbon. Sangat cepat, sangat terukur. Memutus urat nadi saat korban mengangkat senapannya, melucuti senjata sekaligus membunuhnya dalam satu gerakan yang tak membuang tenaga."
"Siapa pun target yang dikepung oleh empat prajurit bayaran ini semalam... dia bukan manusia biasa, El," kata Bram dengan nada ngeri. "Dia mematikan lampu lorong ini dengan menembak hancur kotak sekering sentral di atap menggunakan senapan korban pertama, lalu menghabisi mereka dalam kegelapan buta hanya dengan sebilah pisau lipat. Dia menari di antara hujan peluru tanpa tergores."
Jantungku berdebar semakin kencang. Pikiranku langsung melayang pada trik koin di bar The Obsidian. Ketangkasan tangan yang luar biasa. Ketenangan yang mematikan.
Sang Joker.
Vanguard Group pasti telah berhasil melacak keberadaan Joker hingga ke pasar rongsokan ini, lalu mengirimkan regu taktis Sudiro untuk membunuhnya tanpa pengadilan. Sang pemburu baru saja diubah menjadi mangsa. Namun, mangsa ini ternyata adalah monster yang jauh lebih mematikan.
"Di mana dia sekarang?" tanyaku sambil berdiri, mengarahkan senter penaku ke lantai lorong.
"Hilang," jawab Bram.
Aku mengerutkan dahi. "Apa maksudmu hilang? Seseorang yang baru saja terlibat dalam perkelahian jarak dekat yang brutal, berlumuran darah korbannya, tidak mungkin menguap begitu saja ke udara."
Aku mulai menyisir lantai semen yang basah dan berdebu tebal.
Senter penaku menyoroti jejak-jejak sepatu di lantai. Sangat mudah membedakannya. Ada banyak jejak sepatu bot tebal bergerigi tajam—milik para prajurit bayaran yang mondar-mandir dalam kepanikan. Ada jejak sepatu pentofel milik Bram. Ada jejak sepatu sneakers tim forensik.
Aku menelusuri arah pelarian yang paling logis dari titik pilar persembunyian ini menuju celah tangga darurat di ujung lorong.
Lantai di sepanjang jalur menuju tangga itu tertutup lapisan debu kardus basah dan genangan air hujan yang bocor dari atap. Siapa pun yang berjalan atau berlari melewatinya pasti akan meninggalkan jejak tapak kaki yang sangat jelas.
Namun... tidak ada apa-apa.
Jalur menuju tangga darurat itu kosong melompong. Tidak ada satu pun jejak kaki baru selain jejak sepatu bot para prajurit.
"Ini yang kumaksud dengan hilang," kata Bram, berdiri di belakangku. "Tim forensik sudah menyisir seluruh lantai menuju area parkir bawah tanah. Targetnya tidak meninggalkan satu pun jejak alas kaki. Seolah-olah pria itu mematikan lampu, merobek leher musuhnya, lalu melayang terbang menembus atap beton."
Aku berlutut di dekat genangan air, menyorotkan senterku ke dinding lorong.
Mataku yang telah dilatih untuk mencari anomali terkecil menangkap sesuatu. Sekitar setengah meter di atas lantai, terdapat sebuah pipa besi tua yang menempel memanjang di sepanjang dinding menuju tangga. Di atas permukaan pipa yang berkarat itu, debunya sedikit tersapu.
"Dia tidak melayang, Bram," bisikku takjub sekaligus ngeri. Aku menunjuk ke arah pipa tersebut. "Dalam kegelapan total, sambil dikejar peluru, pria itu memanjat naik. Dia menyeimbangkan tubuhnya dan berlari meniti di atas pipa air yang sempit ini. Dia melompat dari satu dinding ke dinding lain, menghindari genangan air dan debu di lantai sepenuhnya, lalu melontarkan tubuhnya langsung ke pegangan tangga besi di ujung sana."
Bram terdiam cukup lama, memandangi jalur pipa yang kutunjuk dengan wajah pucat.
"Itu... itu mustahil," gumam Bram. "Itu bukan gerakan yang bisa dilakukan manusia normal yang sedang ketakutan. Keseimbangan tubuh seperti itu, orientasi spasial dalam kegelapan buta..."
"Dia bukan manusia normal," potongku. Dadaku terasa sesak oleh kebanggaan yang aneh, yang segera tertimpa oleh ketakutan yang jauh lebih besar. "Dia menguasai tubuhnya layaknya seorang akrobat yang mati rasa terhadap rasa takut."
Aku berdiri. Pikiranku berpacu gila-gilaan.
Jika Vanguard mengirim pasukan pembunuh malam ini, itu berarti mereka sudah menemukan sesuatu. Darmawan Salim bukanlah pria yang menyerang tanpa informasi. Mungkin mereka sudah melacak peretasan data yang dilakukan Joker. Mungkin mereka tahu di mana Joker bersembunyi.
Dan jika wajah hasil render komputer di mejaku kemarin siang tidak berbohong... pria yang baru saja menari di antara hujan peluru mematikan ini... pria yang mungkin saat ini sedang terluka dan bersembunyi di suatu tempat dalam kegelapan... adalah pria yang sama yang menyampirkan jasnya ke bahuku di bawah hujan tadi malam.
Arlan.
Tiba-tiba, rasa panik yang murni dan mencekik menyerang leherku. Bukan panik sebagai seorang detektif yang kehilangan tersangkanya. Ini adalah kepanikan seorang wanita yang membayangkan pria yang ia cintai mati tertembak di lorong yang kotor.
Aku tidak tahu mana yang lebih mengerikan: fakta bahwa Arlan adalah pembunuh berantai bertopeng badut, atau fakta bahwa aku rela membuang lencanaku ke selokan asalkan ia masih bernapas malam ini.
"El? Kau mau ke mana?" panggil Bram saat aku tiba-tiba berbalik dan setengah berlari menuju pintu keluar garis polisi.
"Ada sesuatu yang harus kuperiksa, Senior. Terus proses TKP ini. Aku akan menghubungimu nanti!" balasku tanpa menoleh.
Aku melompat masuk ke dalam SUV-ku. Tanganku gemetar hebat saat memasukkan kunci kontak. Mesin menderu memecah kesunyian malam menjelang pagi. Aku memacu mobilku menembus jalanan Jakarta yang lengang, mengabaikan setiap lampu merah yang kulewati.
Dua minggu yang lalu, setelah makan siang bersama, Arlan pernah memberikan alamat apartemennya kepadaku, sekadar basa-basi jika aku ingin mampir ngopi. Sebuah apartemen di kawasan Pluit.
Aku tidak pernah mengunjunginya karena jadwalku yang selalu penuh oleh kasus pembunuhan. Tapi alamat itu terukir permanen di ingatanku.
Hujan mulai reda saat mobilku memasuki kawasan industri Pluit yang sunyi. Gedung yang kucari adalah sebuah menara komersial setengah jadi yang tampak gelap dan ditinggalkan dari luar. Namun, aku tidak peduli. Aku memarkir mobil secara ilegal di depan pintu masuk basement, meraih pistol Glock-26 dari sarung pahaku, dan masuk ke dalam.
Lorong gedung ini lembap dan berbau semen basah. Lift barang membawaku naik ke lantai teratas dengan suara derit kabel baja yang memilukan.
Pintu lift terbuka. Lorong di depanku hanya diterangi oleh satu lampu pijar yang redup. Di ujung lorong, terdapat sebuah pintu baja berat tanpa nomor ruangan.
Aku melangkah mendekati pintu itu. Jantungku berdebar sangat keras hingga aku takut debarannya bisa didengar dari balik dinding. Aku menarik napas panjang, memasukkan pistolku kembali ke dalam sarungnya, lalu mengetuk pintu besi itu tiga kali.
Satu menit berlalu. Tidak ada jawaban.
Pikiranku mulai membayangkan hal yang terburuk. Bagaimana jika ia tertembak di Glodok tadi? Bagaimana jika ia sedang kehabisan darah di lantai di balik pintu ini? Atau bagaimana jika ia sudah pergi untuk selamanya?
Baru saja aku mengangkat tangan untuk menggedor lebih keras, terdengar bunyi klik yang tebal dari balik pintu. Kunci silinder ganda diputar dari dalam.
Pintu baja itu bergeser terbuka perlahan.
Arlan berdiri di ambang pintu.
Ia mengenakan kaus polos berwarna hitam yang terlihat kebesaran dan celana bahan yang longgar. Rambutnya sedikit basah dan berantakan, seolah ia baru saja bangun dari tidur panjang atau baru selesai mandi dengan terburu-buru. Wajahnya terlihat pucat, namun bibirnya menyunggingkan senyum hangat yang sama seperti yang ia berikan padaku di restoran semalam.
"Elara?" sapanya, nada suaranya dipenuhi keterkejutan yang sangat natural. Ia melihat ke arah jam dinding di dalam ruangannya. "Ini jam empat pagi. Apakah terjadi sesuatu? Kau terlihat... kacau."
Aku tidak mengatakan apa-apa. Mataku langsung memindai tubuhnya dari atas ke bawah. Tidak ada luka tembak yang terlihat menembus kausnya. Tidak ada bercak darah segar. Postur tubuhnya tegak sempurna.
"Bolehkah aku masuk?" suaraku bergetar pelan.
"Tentu," ia melangkah mundur, membuka pintu lebih lebar, memberiku ruang untuk masuk ke dalam penthouse-nya yang luas namun memiliki furnitur yang sangat minimalis. Di sudut ruangan, aku melihat deretan rak server raksasa yang lampu indikatornya telah dimatikan.
Aku berjalan masuk ke tengah ruangan. Arlan menutup pintu baja di belakangku dan menguncinya kembali.
Saat ia memutar tubuhnya dan melangkah mendekatiku untuk menanyakan apakah aku ingin minum kopi, aku tidak bisa menahannya lagi.
Emosiku, ketakutanku, dan rasa lega karena melihatnya masih hidup meledak menghancurkan sisa profesionalitasku. Aku melangkah maju dan langsung melemparkan kedua lenganku melingkari tubuhnya, memeluknya dengan sangat erat. Aku membenamkan wajahku ke dadanya yang bidang.
Arlan tampak kaget selama beberapa detik. Tubuhnya mematung. Namun, perlahan, kedua lengannya naik membalas pelukanku, mengusap punggungku dengan kelembutan yang membuatku ingin menangis. Ia membelai rambutku persis seperti yang ia lakukan di bawah hujan malam itu.
"Ada apa, El?" bisiknya di puncak kepalaku, suaranya sangat lembut, memancarkan kepedulian yang terasa begitu nyata. "Kau aman di sini. Ada aku."
Aku menutup kedua mataku, menyerap kehangatan tubuhnya yang menenangkan, mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa pria yang memelukku ini adalah Arlan si investor baik hati.
Namun, saat hidungku terbenam di kain kaus hitam yang dikenakannya... di balik wangi sabun mandi yang segar dan aroma sandalwood yang maskulin... indra penciuman detektifku yang telah dilatih bertahun-tahun di ribuan TKP menangkap sebuah anomali.
Aroma yang sangat samar, namun tak terbantahkan.
Bau sengatan ozon dari korsleting listrik, bau bubuk mesiu yang terbakar, dan aroma tembaga pekat dari cipratan darah yang baru saja dicuci dengan air dingin.
Seketika, pelukannya yang hangat tidak lagi terasa seperti tempat berlindung. Lengan yang melingkari punggungku kini terasa seperti jerat tali di leherku. Otot-otot punggungnya yang kutekan dengan tanganku terasa sangat tegang, seolah menahan rasa sakit dari benturan fisik yang hebat. Pria ini baru saja mandi untuk menghilangkan sisa pertempuran sebelum membukakan pintu untukku.
Duniaku berhenti berputar. Udara di dalam paru-paruku serasa disedot keluar secara paksa.
Wajah render dari komputer kepolisian. Tatapan kosong pria di sudut kelab malam The Obsidian. Ketangkasan tangan yang luar biasa. Jejak kaki yang hilang di pasar Glodok. Botol racun di meja Handoko. Semuanya menyatu dengan sempurna seperti kepingan kaca berdarah di dalam kepalaku.
Aku membuka mataku yang kini dipenuhi oleh kengerian absolut. Aku menatap dada bidangnya di balik kaus hitam ini, menyadari bahwa aku sedang memeluk dewa kematian itu sendiri.
Sang Joker tidak bersembunyi di gorong-gorong kota atau melarikan diri ke luar negeri.
Joker itu ada di ruangan ini sekarang. Dan ia sedang membelai rambutku.