NovelToon NovelToon
Dendam Maharani

Dendam Maharani

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Dendam Kesumat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Maharani, gadis manis tapi pemalu yang menyukai seorang laki-laki anak kepala desa yang tampan bernama Andrean.

cinta yang tulus tapi dibalas oleh sebuah kejahatan.

maharani hanya menuntut tanggung jawab, tapi dia dijebak, lalu di rud*p*ksa oleh Andrean bersama dua rekannya.

maharani di tolong oleh seroang nenek yang kemudian memberinya ilmu kanuragan untuk balas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.

akankah para pelaku ditangkap atau berakhir tragis, yuk simak kisahnya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bukan akhir tapi baru awal

Tio tersentak dari tidur lima menitnya.

Keningnya penuh dengan peluh.

"Maharani" gumamnya menyebut satu nama.

Gegas, Tio meraih jaket kulit yang tersampir di sandaran kursi.

Firasatnya mengatakan akan terjadi satu hal yang mungkin bisa menggemparkan desa Lestari.

Tio melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju suatu tempat.

Dimimpinya, dia melihat sesuatu yang lebih mengerikan dari apapun.

Jalanan desa masih sepi.

Langit masih gelap.

Semua penduduk desa masih bergelung dibalik selimut tebal masing-masing.

Udara dingin menusuk hingga ke tulang, tapi Tio harus segera tiba ke tempat itu.

Dia harus mencegah sesuatu yang lebih menakutkan lagi yang mungkin akan terjadi.

***

Maharani dalam wujud berbeda berdiri di tengah jalanan.

Penampilannya kali ini sungguh mengerikan dari sebelumnya.

Mata merahnya menyala ditengah gelap malam.

Dia bagai makhluk yang haus akan d*rah.

Si raja iblis kembali meminta tumbalnya.

"Ju~juragan..." ucap semua anak buah juragan Kardi yang berada didalam mobil van hitam.

Lampu mobil menyorot pada sosok makhluk tersebut.

Semua laki-laki itu ketakutan termasuk orang yang selama ini yang katanya kebal hukum, yakni juragan Kardi.

Pertama kalinya mereka melihat sosok yang sangat mengerikan.

"Tejo, tabrak dia!" perintah juragan Kardi.

Tejo menoleh sesaat.

Kakinya gemetar ketakutan.

Keringat menetes dari dahinya.

Tangannya memegang kuat stir mobil.

Takut...

Dia ketakutan setengah m*ti.

"AKU BILANG TABRAK TEJOO...!!" suara juragan Kardi menggelegar.

"Ta~tapi juragan...." ringis Tejo.

"TABRAK!!!"

Belum sempat Tejo menekan pedel gas, makhluk itu sudah melompat dan menempel pada kaca depan mobil seperti cicak.

"Uaaaaaa......."

Semua menjerit.

Mereka memilih keluar dan lari terbirit-birit.

Para makhluk berpesta pora karena sebentar lagi akan mendapatkan d*rah segar.

Tiga laki-laki anak buah juragan Kardi tetap berakhir menjadi tumbal.

Kematian mereka cukup mengenaskan.

Juragan Kardi berlari masuk kedalam hutan pinus.

Berlari sekuat tenaga dan semampunya.

Maharani yang berubah jadi makhluk mengerikan berjalan tenang dibelakang laki-laki paruh baya itu.

Juragan Kardi terjatuh karena tersandung akar pohon yang menjalar diatas permukaaan tanah.

Badan gempalnya tersungkur ketanah.

"Mau kemana Kardi...?"

"Jangan.. Jangan b*nuh aku... ampun..."

"Heeh.... ampun....??"

Juragan Kardi menggangguk cepat.

"Hihihi..."

Kuduk juragan Kardi merinding.

"Mengampuni laki-laki serakah dan durjana sepertimu?"

Mahkluk itu berubah menjadi gadis cantik seketika .

"Maharani...." gumam juragan Kardi.

"Kau masih ingat namaku rupanya? HARUSNYA KAU JUGA INGAT PERBUATAN MU PADAKU DAN JUGA KELUARGA KU, BI*D*B....!!!!" ucap Maharani berang.

"Ampun... tolong ampuni aku... Berapapun yang kamu inginkan, akan aku bayar... Sawah, ladang, rumah besar,tas branded atau perhiasan mahal akan aku berikan. Tapi tolong lepaskan aku... Jangan b*nuh aku.... aku mohon.." juragan Kardi bersujud memohon ampun atas nyawanya.

"Mengampunimu?" tanya dalam nada rendah.

Lagi, juragan Kardi mengangguk cepat.

Senyum tipis dibibir Rani terbit.

Senyum manis tapi menyimpan amarah didalamnya.

"JANGAN MIMPI KAU KARDI!! AKU MAHARANI TIDAK BUTUH SEMUA ITU... YANG AKU INGINKAN HANYALAH NYAWAMU! AKU AKAN MEMB*NUHMU... DENGAN DEMIKIAN, DENDAMKU TERBALASKAN! KAU AKAN BERAKHIR SAMA SEPERTI PUTRIMU YANG SOMBONG ITU... KAU AKAN JADI TUMBAL TUANKU....!! TERIMA AJALMU KARDIII....!!!"

"Aku... aku menyesal Rani... tolong ampuni aku...." isak juragan Kardi.

"Menyesal sudah terlambat pria tua...! Kau pikir luka masa lalu ku bisa begitu saja hilang? Kau salah...! Kau tidak tahu betapa traumanya aku atas perbuatanmu! Kau laki-laki jah*nam! Kau harusnya mat* lebih awal dibanding putrimu!..."

"Kau telah melecehkanku disaat usiaku masih belia bahkan usiaku sama dengan putrimu! Tapi dengan jahatnya kau melakukan hal itu bahkan kau juga mengambil paksa harta ayahku... Kau laki-laki tamak dan jahat.. KAU TIDAK PANTAS HIDUP KARDIII.....!!!"

Kabut menutupi seluruh hutan pinus.

Petir menggelegar.

Hawa dingin menusuk kulit.

Burung-burung pemakan bangk*i telah bertengger di dahan-dahan pohon seolah mereka tahu akan berpesta makan enak malam ini.

Maharani kembali berubah wujud seperti tadi.

Taring-taring runcing keluar dari mulutnya.

Taring yang siap merobek leher juragan Kardi.

Bola mata juragan Kardi hampir saja melompat keluar.

Mulutnya menganga seolah tak percaya dengan apa yang barusan dia lihat.

Rani menggigit leher laki-laki itu hingga d*rah mengucur deras bagaikan air mancur.

"Ampun... Jangan.... Aaaaaaa....." ratapan dan rintihan kesakitan juragan Kardi tak lagi terdengar seiring roh yang tak lagi bersama jasadnya.

Kuku-kuku Maharani yang panjang dan runcing merobek tubuh gempal tersebut.

Maharani memejamkan kedua matanya.

Wujudnya kembali pada aslinya.

Sisa-sisa d*rah masih berlumur di sekitar mulutnya.

Dia tersenyum tipis.

Kresek...

Dedaunan itu bergoyang karena disibak oleh makhluk yang lebih besar.

"Tumbalmu sudah aku berikan tuanku" ucap Rani.

Mata merah makhluk besar itu menatap Rani.

Tubuhnya hitam legam bak arang yang hangus terbakar.

Rani mendekat.

Menempelkan bibir tepat didepan bibir makhluk yang kini tingginya sudah setara dengannya.

Rani menyalurkan d*rah yang tadi dihisapnya melalui bibir.

Makhluk itu menghisapnya tanpa ampun.

Tubuh Rani terkulai lemah dan bersimpuh ditanah.

"Kau bud*kku yang patuh....!" ujar si makhluk yang lalu menghilang dibalik lebatnya hutan pinus.

Rani menundukkan kepala.

Bukan menyesal melainkan memberi hormat pada tuannya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Tejo dengan sisa kekuatan yang dia miliki terus berjalan meminta bantuan walaupun dia tahu ini akan sia-sia.

Seluruh pakaian yang ia kenakan berlumur d*rah yang mengalir dari tubuhnya.

Penampilannya sungguh mengenaskan.

Banyak terdapat cakaran disekujur tubuhnya.

Brak....

Tio segera keluar setelah tak sengaja telah menabrak seseorang.

Segera dia menghubungi unit gawat darurat.

Tio meringis melihat kondisi Tejo.

"Apa dia diterkam hewan buas?" gumamnya.

Ambulance tiba tak lama setelahnya.

Setelah memeriksa kondisi Tejo, pihak medis membawanya ke sebuah rumah sakit di kota.

Kondisi Tejo kritis dan tak bisa ditangani di puskesmas yang kekurangan alat.

Tio memilih tinggal demi penyelidikan.

Mobil van terlihat terbalik disisi jalan dengan keadaan yang ringsek parah.

"Apa kamu yakin ini korban lakalantas? " tanya Ujang yang rupanya baru saja sampai bersama Hasan.

Wajah mereka terlihat mengantuk karena ini memang jam tidur manusia normal.

"Aku yakin ini bukan lakalantas...." ujar Tio.

"Kalau bukan, lantas apa? Dedemit yang menginjaknya?" celetuk Hasan.

"Hustt...! Mulut mu San...! Kamu tidak sadar kita ada dimana?" tegur Ujang menyikut perut rekannya.

Hasan melihat sekeliling.

Dia merinding seketika karena lupa kalau mereka sekarang sedang ada dijalanan dekat hutan pinus yang angker.

"Yo... Besok pagi saja kita lanjutkan.. Hawanya nggak enak.." ringis Hasan yang disetujui oleh Ujang.

"Kalau kalian mau balik, silahkan... Aku akan menyelidikinya sendiri" Tio bersikeras hendak masuk kedalam hutan pinus.

"Jangan gegabah...! Aku tahu ini kasus yang cukup lama untuk kita selesaikan. Tapi kamu harus ingat satu hal, ini bukan kasus biasa. Ini berhubungan dengan dunia lain yang kita tidak tahu bahaya apa yang akan mengintai kita disana. Jadi tolong, ikut dengan kami pulang dan besok ketika matahari sudah terbit, kita bersama tim akan menyelidikinya.... Jangan bahayakan rekan kerjamu" kali ini Ujang cukup emosi karena Tio yang keras kepala.

Tio nampak berfikir dan akhirnya setuju dengan usul Ujang barusan.

Tio menoleh sejenak ke arah hutan pinus.

Menatap di kegelapan sosok yang berdiri sisi pohon.

"Ini baru awal bukan akhir...."

Bersambung....

1
Astuti Puspitasari
Mbahe iku jahat apa ngga ya kok makan janin /Grimace/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!