Di mata tetangga apartemennya di Los Angeles, Faelynn Yosephine (26) hanyalah "perawan tua" pengangguran.
Namun, di balik pintu kamar, ia adalah penulis novel romantis papan atas yang memikat jutaan pembaca.
Dunia tenangnya terusik saat Kingsley Emerson (29 tahun), seorang agen elit CIA yang menyamar sebagai diplomat, mulai mengirim pesan misterius dengan nama akun Son_Roger.
Kingsley, yang baru saja kembali dari misi berdarah di luar negeri, terobsesi dengan detail taktik dalam tulisan Faelynn yang terlalu akurat.
Berawal dari debat teknis hingga gombalan tak terduga, Kingsley mulai memasuki hidup Faelynn, membawa bahaya nyata yang selama ini hanya Faelynn tulis di Novelnya.
.
.
Happy reading dear 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Dua minggu telah berlalu sejak kebohongan Faelynn menjadi jembatan yang tak terduga antara dunianya yang tertutup dan dunia Kingsley yang penuh risiko. Siapa yang menyangka bahwa sebuah pengakuan palsu demi membungkam mulut tetangga justru menjadi perekat hubungan yang semakin intens?
Kini, setiap pagi Faelynn tidak lagi terbangun dengan rasa malas menghadapi kenyataan. Hal pertama yang ia cari adalah ponselnya. Bukan untuk mengecek komentar pembaca, melainkan untuk melihat apakah pria berusia 29 tahun itu sudah meninggalkan pesan suara atau sekadar ucapan selamat pagi dengan nada rendahnya yang khas.
Hubungan mereka telah bergeser jauh dari sekadar diskusi teknis tentang penulisan novel atau adegan aksi. Mereka mulai berbagi kepingan rahasia yang tidak pernah mereka ceritakan pada siapa pun.
Malam itu, Faelynn duduk di balkonnya yang sempit, memeluk lutut sambil menatap lampu-lampu Los Angeles yang berkilauan. Ia mengenakan headset, mendengarkan suara Kingsley di seberang sana.
"Kau tahu, King? Tadi aku bertemu lagi dengannya di lobi," bisik Faelynn. Suaranya terdengar getir. "Ibner. Dia sedang menggendong anaknya, tertawa bersama istrinya seolah-olah dia tidak pernah menghancurkan mental seseorang tiga tahun lalu. Dan yang paling menyebalkan, dia menatapku seolah aku adalah makhluk menyedihkan yang tidak beranjak dari tempatku berdiri."
Di kediaman Emerson, Kingsley sedang berdiri di ruang kerjanya yang gelap, hanya diterangi cahaya rembulan. Ia mendengarkan setiap nada kekecewaan di suara Faelynn. Rahangnya mengeras saat mendengar nama pria itu disebut.
"Dia bukan menatapmu karena kau menyedihkan, Faelynn," sahut Kingsley tenang namun tajam. "Dia menatapmu karena dia tahu dia telah kehilangan sesuatu yang berharga, dan egonya tidak bisa menerima bahwa kau masih bisa bersinar tanpa dirinya."
Faelynn terkekeh hambar. "Bersinar? Para tetangga memanggilku perawan tua setiap hari, King. Di usia 26, bagi mereka aku sudah kadaluwarsa. Kadang aku berpikir, apakah kebohonganku soal dirimu itu adalah hal paling konyol yang pernah kulakukan?"
Kingsley mengeluarkan suara kekehan yang rendah, jenis suara yang selalu berhasil membuat perut Faelynn terasa geli. "Sabar, Sayang. Kata 'kadaluwarsa' tidak ada dalam kamusku untuk wanita sehebat dirimu."
Faelynn tersipu, meskipun Kingsley tidak bisa melihatnya. "Kau hanya menghiburku."
"Tidak. Aku serius," nada bicara Kingsley berubah menjadi lebih dalam. "Jangan kaget kalau dalam waktu dekat, aku benar-benar muncul di depan pintu apartemen mu. Bukan sebagai agen, bukan sebagai 'Roger', tapi sebagai pria yang ingin membuktikan pada tetanggamu bahwa mereka salah besar."
Faelynn tersenyum lebar, menyandarkan kepalanya pada pagar balkon. "Aku akan menunggumu. Tapi hati-hati, kalau kau datang dengan paspor palsumu, aku tetap akan melaporkanmu ke polisi."
"Kau benar-benar gadis yang sulit, ya?" canda Kingsley.
Sisa waktu Kingsley di mansion keluarganya tinggal menghitung hari—sekitar tiga sampai empat hari lagi—sebelum ia harus kembali ke apartemen operasionalnya di pusat kota Los Angeles. Kantor pusat agensi telah memanggilnya untuk bersiap menerima penugasan baru. Namun, pikirannya sama sekali tidak tertuju pada misi lapangan atau berkas intelijen.
Pagi itu, Kingsley memperhatikan ibunya yang sedang sibuk di dapur dan adiknya, Nazela, yang sedang merapikan bunga-bunga di vas. Ia merasa damai, namun ada bagian dari dirinya yang sudah ingin segera "pulang" ke lokasi yang lebih dekat dengan Faelynn.
Ia kembali ke kamarnya dan mulai mengepak barang-barang taktisnya. Di sela kegiatannya, ia mengirim pesan singkat pada Faelynn.
Kingsley: Tiga hari lagi aku kembali ke pusat kota. Apartemenku hanya berjarak 20 menit dari lokasimu jika jalanan tidak macet. Kau sudah siap untuk kencan pertama kita, Penulis?
Di apartemennya, Faelynn yang sedang mengetik bab terbaru novelnya hampir saja menumpahkan kopinya. Jantungnya berdebu kencang. Selama ini, Kingsley hanyalah suara dan bayangan di layar ponsel. Membayangkan pria itu benar-benar ada di depannya—dengan tinggi 190 cm dan aura otoritas yang kuat—membuat Faelynn merasa gugup sekaligus bersemangat.
"Kencan? Aku pikir kau hanya ingin menyelidiki apakah aku benar-benar setinggi 160 cm," balas Faelynn dengan nada bercanda.
Kingsley: Itu salah satunya. Aku ingin memastikan kepalaku tidak menabrak pintu apartemen mu saat aku masuk. Dan satu lagi, aku ingin melihat wajah Ibner saat dia menyadari bahwa gadis yang dia remehkan ternyata memiliki kekasih yang bisa membuatnya terlihat seperti amatir.
Faelynn tertawa kecil. Romansa yang mereka bangun terasa begitu alami, mengalir di antara celah-celah rahasia negara dan tekanan sosial. Kingsley tidak pernah memperlakukannya seperti wanita lemah yang butuh diselamatkan, melainkan seperti rekan diskusi yang setara. Dan bagi Faelynn, itu jauh lebih berharga daripada bunga atau janji manis.
Malam harinya, Kingsley mengirimkan sebuah foto. Bukan foto identitas, melainkan foto langit sore dari balkon mansionnya.
Kingsley: Lihat langit itu. Di mana pun aku dikirim nanti, entah itu ke gurun atau hutan, ingatlah bahwa kita menatap langit yang sama. Tapi sebelum aku pergi lagi, aku akan memastikan kau menjadi wanita paling bahagia di gedung apartemen itu.
Faelynn memeluk ponselnya, menatap langit yang sama dari balkonnya sendiri. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi takut pada usia 26 atau status lajangnya. Karena bagi Kingsley Emerson, ia bukan sekadar wanita yang terlambat menikah. Ia adalah pelabuhan yang dipilih oleh seorang pria yang telah menjelajahi seluruh dunia.
"Sampai jumpa tiga hari lagi, King," bisiknya pelan pada angin malam.
......................
Hari-hari berikutnya terasa begitu manis bagi keduanya. Kingsley mulai menceritakan sisi manusianya—tentang bagaimana ia sangat menyayangi Daisy dan Nazela, tentang kegemarannya pada kopi hitam tanpa gula, hingga bagaimana ia benci saat harus memakai setelan jas diplomat yang menurutnya terlalu membatasi ruang gerak.
Sebaliknya, Faelynn mulai terbuka tentang draf-draf novelnya yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Ia bahkan berani mengirimkan foto swafoto dirinya tanpa filter—dengan rambut acak-adakan dan kacamata besar saat sedang dikejar deadline.
"Kau terlihat sangat menggemaskan untuk seorang gadis 160 yang galak," komentar Kingsley pada foto itu.
"Hentikan membahas tinggi badanku!" balas Faelynn dengan emoji marah, namun hatinya berbunga-bunga.
Waktu terus bergulir hingga Kingsley mencapai hari-hari terakhirnya di mansion keluarga. sebelum ia harus berangkat kembali ke kota pusat, lokasi di mana apartemen operasionalnya berada—kota yang sama dengan Faelynn.
Sore itu, Kingsley sedang mengemasi beberapa pakaian pribadinya. Ia memasukkan beberapa kemeja hitam favoritnya ke dalam tas duffle kulit. Ia berhenti sejenak, menatap paspor aslinya yang tergeletak di meja. Nama Kingsley Emerson. Nama yang kini bukan lagi sekadar identitas resmi, melainkan nama yang ia percayakan pada seorang gadis di Los Angeles.
Ia mengambil ponselnya, mengirimkan pesan singkat pada Faelynn.
Kingsley: Lusa Aku akan kembali ke 'kantor pusat'. Persiapkan dirimu, Sayang. Aku tidak suka bersembunyi di balik layar selamanya.
Faelynn membaca pesan itu saat sedang membantu ibunya membuat kue di dapur. Tangannya yang berlumuran tepung bergetar sedikit.
"Fae? Kenapa wajahmu merah sekali?" tanya Melinda heran.
"Ah... ovennya terlalu panas, Bu," dalih Faelynn cepat, sambil menyembunyikan senyumnya di balik pundak ibunya.
Ia tahu, persembunyian mereka di balik frekuensi ponsel akan segera berakhir. Kebohongan yang ia ciptakan di depan keluarganya akan segera berhadapan dengan kenyataan.
Dan anehnya, Faelynn tidak lagi merasa takut. Ia justru tidak sabar melihat bagaimana reaksi dunia—dan terutama Ibner—saat agen rahasia itu benar-benar melangkah keluar dari bayang-bayang menuju hidupnya.