Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.
Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.
Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Malam semakin larut, langit di luar sana sudah gelap pekat dan bintang-bintang mulai bermunculan menghiasi langit. Setelah semua selesai dirapikan dan suasana rumah menjadi sangat tenang, Aira dan Elvano bersiap untuk tidur dan beristirahat.
Aira duduk di tepi ranjang yang sangat besar itu, tangannya membetulkan letak selimut dan bantal. Pikirannya melayang-layang mengingat kejadian hari ini. Hari yang begitu panjang, penuh dengan kejutan, ketakutan, namun juga kebahagiaan yang luar biasa.
Bertemu orang baru yang baik hati, masuk ke rumah baru yang megah, semuanya terasa seperti mimpi indah yang baru saja terjadi.
Elvano yang baru selesai berganti pakaian santai keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan kaos oblong putih dan celana santai, tampak sangat santai namun tetap tampan dan maskulin.
Ia melihat istrinya yang tampak melamun sambil tersenyum-senyum sendiri itu.
“Kenapa? Masih belum percaya rasanya?” tanya Elvano lembut sambil berjalan mendekat dan duduk di ujung ranjang, menjaga jarak yang sopan dan nyaman bagi keduanya.
Aira menoleh dan tersenyum kecil sangat manis. “Iya Mas… rasanya kayak mimpi aja gitu. Aira bersyukur banget sekali dikasih rumah yang nyaman, orang-orang yang baik hati, Bibi Asih sama Pak Budi yang ramah banget, dan… dan suami yang perhatian dan baik banget kayak Mas Elvano.”
Elvano tersenyum tipis, tatapannya menjadi sangat lembut dan dalam menatap istrinya. “Kamu itu gadis yang baik, Ra. Kamu pantas mendapatkan semua kebahagiaan ini. Kamu pantas diperlakukan dengan baik.”
Ia pun berbaring ke belakang, memejamkan matanya sejenak lalu membukanya lagi menatap langit-langit kamar. “Sekarang istirahat ya. Capek sekali seharian ini kan? Banyak jalan dan kamu juga baru selesai beres- beres kan?”
“Iya Mas,” jawab Aira lembut. “Selamat malam, Mas Elvano.”
“Selamat malam, Aira.”
Mereka pun akhirnya memejamkan mata. Meski ranjang ini sangat luas dan mereka masih menjaga jarak aman satu sama lain, namun hati mereka terasa semakin dekat dan hangat.
Suasana rumah yang dulu dingin, kaku, dan sunyi, kini terasa penuh dengan warna, tawa, dan kehangatan, hanya karena kehadiran seorang gadis polos bernama Aira Maharani.
Dan di luar kamar, di balik pintu yang tertutup rapat, Bibi Asih tersenyum lebar sambil memegang gelas air hangat.
“Akhirnya… rumah ini punya nyonya yang baik hati,” bisiknya penuh syukur.
*****
Keesokan paginya, matahari pagi mulai perlahan namun pasti naik dari ufuk timur, menyebarkan cahaya keemasan yang hangat dan lembut menyentuh permukaan bumi. Di sebuah kawasan perumahan elit yang sangat luas, asri, dan tenang di pinggiran kota Surabaya, sinar matahari itu mulai menyelinap masuk melalui celah-celah gorden tebal berwarna cokelat tua, yang menutupi jendela-jendela besar di kediaman megah Praditya dan Aira.
Suasana pagi itu terasa sangat segar, udaranya bersih, sejuk, dan hening. Burung-burung berkicau bersahutan di antara pepohonan besar yang tumbuh rindang di halaman rumah yang luas itu. Namun, jika kita masuk lebih dalam ke bagian belakang rumah, tepatnya di ruang dapur yang sangat luas, modern, dan bersih itu, suasana justru terasa sangat berbeda.
Di sana, suasana terasa sangat sibuk namun penuh dengan semangat, riuh rendah namun penuh dengan kegembiraan.
Seorang wanita paruh baya dengan wajah yang ramah, senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya, dan memakai seragam rumah tangga yang bersih dan rapi, sedang sibuk berlalu-lalang di antara meja dapur yang panjang dan peralatan masak yang canggih. Itu adalah Bibi Asih, pembantu rumah tangga setia yang sudah mengabdi pada keluarga Praditya selama belasan tahun lamanya.
Hari ini Bibi Asih terlihat jauh lebih bersemangat dari hari-hari biasanya. Matanya berbinar-binar penuh suka cita, tangannya lincah sekali menggoreng, merebus, memotong, dan menata berbagai macam hidangan lezat di atas nampan besar.
“Wah, semangat sekali ya pagi ini, Bi? Seolah-olah mau masak untuk rombongan busway saja porsinya,”
Tiba-tiba terdengar suara berat, sopan, dan sedikit bercanda menyapa dari arah pintu masuk dapur.
Bibi Asih yang sedang sibuk mengaduk wajan besar langsung menoleh ke belakang. Terlihat Pak Budi, asisten pribadi kepercayaan Tuan Elvano Praditya, sudah berdiri di sana dengan penampilan yang sangat rapi dan siap kerja. Ia mengenakan kemeja putih bersih, dasi terpasang sempurna, celana bahan hitam, dan membawa tas kerja di tangannya. Wajahnya juga tersenyum lebar melihat semangat Bibi Asih yang luar biasa pagi ini.
Bibi Asih tertawa kecil, lalu ia mengipas-ngipas wajahnya yang sedikit memerah karena panasnya api kompor dan uap makanan.
“Lha gimana nggak semangat, Pak Budi?” jawab Bibi Asih dengan nada yang ceria dan bersemangat, sambil tangannya tetap lincah memindahkan telur dadar yang sudah matang ke atas piring saji. “Dulu kan setiap pagi Bibi masak cuma buat satu orang doang, Tuan Muda Elvano doang. Itu pun makannya kaku banget, diam seribu bahasa, mukanya datar kayak patung, dingin, angkuh, gak ada senyum-senyumnya sama sekali. Rasanya masak pun jadi kurang nikmat dan kurang semangat gitu lho, Pak. Makanan seenak apa pun kalau dimakan orang yang mukanya cemberut terus ya jadi hambar rasanya.”
Pak Budi mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju penuh. Ia pun berjalan mendekat dan ikut membantu mengambilkan piring-piring keramik putih yang bersih, mahal, dan berkilau itu dari lemari penyimpanan untuk disusun di meja makan.
“Iya betul sekali kata Bibi,” sahut Pak Budi pelan, suaranya penuh kesetujuan. “Dulu mah rumah ini sepi banget, Bi. Rasanya kayak istana es yang dingin, kaku, dan sunyi sekali. Tuan Muda pulang kerja cuma makan, terus langsung masuk kamar, kerja, atau tidur. Gak ada suara ketawa, gak ada suara obrolan hangat. Hening banget, kadang serem juga rasanya kalau malam hari begadang sendirian di ruang tengah.”
“Nah itu dia! Betul banget omongan Pak Budi!” Bibi Asih menghentikan kegiatannya sebentar, lalu menepuk pelan lengan baju Pak Budi. “Nah sekarang kan beda banget, Bud! Hari ini kan hari pertama kita sarapan bareng-bareng resmi sama Non Aira, istri sah Tuan Muda yang cantik, manis, dan baik hati itu! Jadi Bibi harus masak yang paling enak, yang paling lengkap, yang paling istimewa. Biar Non Aira betah tinggal di sini, biar suasananya jadi enak dan cair, biar rumah ini makin terasa seperti rumah yang sebenarnya, bukan cuma bangunan batu dan kaca doang.”
“Benar sekali, Bi. Saya juga merasakan hal yang sama persis. Sejak kemarin sore Non Aira masuk ke rumah ini, rasanya udah beda banget suasananya. Lebih hidup, lebih cerah, lebih… hangat gitu ya rasanya. Ada warnanya gitu lho rumah ini.”
“Alhamdulillah kalau begitu, Bud. Bibi dari tadi berdoa terus lho. Semoga pagi ini lancar jaya ya. Mudah-mudahan Tuan Muda sama Non Aira makin akrab, makin sayang menyayang, dan rumah ini makin rame sama kebahagiaan dan tawa anak cucu nantinya,” ucap Bibi Asih tulus, matanya tampak berkaca-kaca penuh harap.
“Aamiin, Bi. Aamiin Ya Rabbal Alamin. Doa yang bagus itu, InsyaAllah dikabulkan,” jawab Pak Budi serius lalu tersenyum lebar.
Mereka berdua pun kembali bekerja dengan semangat yang membara. Suara dentingan sendok, pisau, dan wajan terdengar riang dan tertata, seolah-olah alat-alat itu pun ikut bernyanyi menyambut hari baru yang penuh dengan cinta dan kebahagiaan ini.
Di lantai paling atas rumah itu, tepatnya di kamar utama yang luasnya hampir seukuran rumah biasa orang lain, suasana masih terasa sangat tenang, damai, dan privat.
Aira Maharani sudah terbangun sejak suara azan Subuh berkumandang dari masjid terdekat. Ia tidak bisa tidur lagi setelahnya. Dengan sigap dan rajin, ia sudah melaksanakan salat sunah, salat wajib, dan berdoa memohon kebaikan untuk hari ini dan seterusnya.
Sekarang ini, Aira sedang duduk di tepi ranjang king size yang sangat besar, empuk, dan nyaman itu. Wajahnya masih terlihat sedikit mengantuk, ada kantung mata yang tipis dan gelap di bawah kelopak matanya yang indah dan bulu matanya yang lentik, namun matanya berbinar cerah penuh dengan harapan dan semangat.
Dengan telaten dan rapi, ia sedang merapikan selimut dan bantal-bantal tidur yang tadi malam digunakan. Ia melipatnya dengan teratur, menyetrikanya sedikit dengan tangan agar tidak kusut, sesuai dengan kebiasaan rapi yang diajarkan oleh ibunya sejak kecil.
“Astaga… ini beneran ya… bukan mimpi kan?” gumam Aira pelan pada dirinya sendiri, suaranya halus dan lembut terdengar di ruangan yang luas itu.
Ia menatap sekeliling kamar itu lagi dengan tatapan yang takjub dan masih belum percaya sepenuhnya. Lemari pakaian built-in yang sangat panjang menempel ke dinding, sofa empuk dan mewah di sudut ruangan, meja rias dengan cermin besar yang berkelap-kelip memantulkan cahaya, dan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke taman belakang yang sangat indah dan asri.
“Rumah yang sebesar ini… yang semegah ini… sekarang jadi rumahku juga. Dan pria yang tidur di sini semalam… pria yang begitu sempurna… sekarang jadi suamiku selamanya… Aira orang paling beruntung ya Allah…”
Aira tersenyum kecil sendiri, pipinya merona merah muda manis bak buah peach yang matang sempurna. Ia mengusap pelan bagian kain baju tidurnya di area dada, tempat di mana jantungnya selalu berdegup kencang tidak karuan setiap kali mengingat sosok Elvano Praditya.
Tiba-tiba...
Klik...
Suara pintu kamar mandi utama terbuka pelan.
Suara itu membuat Aira tersentak kaget dan langsung menegakkan badannya, duduk dengan sangat sopan, rapi, dan kaku di tepi ranjang. Jantungnya yang tadi tenang kini kembali berpacu dengan cepat.
Dari balik pintu itu yang masih mengeluarkan uap hangat dan wangi sabun mandi, keluarlah sosok pria tampan nan gagah perkasa. Itu adalah Elvano Praditya.
Pria itu baru saja selesai mandi. Kulitnya tampak bersih, segar, dan bersinar. Masih tampak basah dengan butiran-butiran air kecil yang menetes-netes dari ujung rambut hitamnya yang lebat dan tertata rapi. Butiran air itu mengalir turun melewati lehernya yang gagah dan kuat, lalu menghilang masuk ke dalam kerah baju yang dikenakannya.
Elvano sudah mengenakan setelan jas kerja yang sangat rapi, mahal, dan perfect fit di badannya. Kemeja putih bersih yang dimasukkan rapi ke dalam celana bahan hitam, dasi sutra berwarna biru tua sudah terpasang sempurna dan rapi di lehernya, memperlihatkan postur tubuhnya yang atletis, bidang, dan sangat maskulin.
Ia menyeka wajahnya dan lehernya menggunakan handuk kecil dengan gerakan yang santai namun penuh dengan wibawa, lalu ia menoleh perlahan ke arah istrinya yang duduk manis dengan wajah yang memerah dan menunduk malu itu.
“Sudah bangun dari tadi?” tanya Elvano, suaranya terdengar berat, serak, dan dalam khas orang baru saja bangun tidur, namun nadanya terdengar sangat lembut dan enak sekali didengar di telinga.
Aira mengangkat kepalanya pelan-pelan, matanya yang jernih bertemu langsung dengan tatapan tajam namun lembut milik Elvano. Jantungnya seakan ingin melompat keluar dari rongga dadanya saat ini juga.
“Eh… i… iya Mas,” jawab Aira terbata-bata, suaranya kecil sekali dan halus. “Aira baru bangun juga kok. Tadi baru selesai salat Subuh dan berdoa sedikit.”
Elvano mengangguk pelan tanda mengerti. Ia pun berjalan mendekati lemari pakaian untuk mengambil dompet, kunci mobil, dan beberapa berkas penting yang harus dibawa ke kantor hari ini. Gerakannya santai, elegan, namun penuh dengan aura kekuasaan dan ketegasan.
“Yuk, turun ke bawah,” ajak Elvano santai sambil membetulkan letak dasinya sekali lagi di depan cermin besar lemari. “Sarapan dulu, perut diisi. Nanti aku harus berangkat kerja, macetnya pasti sudah mulai parah di luar sana jam segini.”
“I… iya Mas. Ayo…” Aira segera berdiri dengan gerakan yang sopan dan anggun, ia merapikan sedikit baju tidurnya yang sopan dan rapi agar terlihat baik-baik saja.
Mereka berdua pun berjalan beriringan meninggalkan kamar itu, menuruni tangga lebar yang megah dan berlapis karpet tebal menuju ruang makan di lantai bawah. Jarak mereka berjalan tidak terlalu dekat, namun ada aura yang menyatukan mereka berdua sekarang.
Sesampainya mereka berdua di ruang makan yang luas, megah, dan diterangi cahaya lampu yang hangat itu, mata Aira langsung membelalak lebar takjub melihat pemandangan di hadapannya.
Di atas meja makan panjang yang terbuat dari kayu jati asli berwarna cokelat tua yang mengkilap dan mahal itu, sudah tertata rapi berbagai macam hidangan lezat yang sangat menggugah selera.
Ada nasi goreng spesial dengan irisan daging ayam, udang, dan campuran sayuran yang warnanya menggoda, telur dadar lipat yang tebal, garing, dan gurih, sosis bakar dengan saus BBQ yang kental dan wangi, tumis sayur sawi putih yang masih hijau segar dan renyah, kerupuk udang yang besar-besar, acar timun dan wortel yang segar, serta aneka roti bakar dengan selai berbagai rasa dan madu murni. Tidak lupa juga teko besar berisi teh hangat wangi dan kopi hitam pekat khas Elvano yang aromanya sudah tercium kuat.