NovelToon NovelToon
Crossed Destinies

Crossed Destinies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Keluarga
Popularitas:733
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Zartan menuntun Maria masuk ke dalam kamar dengan lembut, sementara Aliya mengikuti dari belakang dengan perasaan yang berkecamuk.

Di dalam kamar yang sederhana namun penuh kenangan itu, suasana terasa begitu berat.

Begitu Maria duduk di pinggir ranjang, Aliya langsung berlutut di hadapan ibunya dan memeluk pinggangnya erat-erat.

"Ibu, maafkan aku. Maaf kalau keputusanku ini mengejutkan Ibu," bisik Aliya, suaranya teredam di pangkuan Maria.

Maria menghela napas panjang, jemarinya yang kasar karena kerja keras membelai rambut putrinya dengan penuh kasih sayang.

Ia kemudian mengangkat wajah Aliya dan mencium kening putrinya dengan lembut, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya.

"Jangan gegabah, Aliya," ucap Maria dengan nada bicara yang sangat serius, matanya menatap dalam ke netra Aliya.

"Kamu baru mengenal Emirhan dalam hitungan hari, bahkan mungkin baru beberapa minggu. Pernikahan bukan sekadar keluar dari kesulitan, itu adalah ikatan seumur hidup."

Maria terdiam sejenak, bayangan wajah Onur Karadağ kembali melintas di benaknya, membangkitkan rasa trauma yang terkubur dalam.

"Apakah keluarganya benar-benar baik kepadamu? Bagaimana perlakuan mereka di rumah besar itu? Ibu hanya takut, Aliya. Ibu takut kamu hanya akan menjadi bayang-bayang di rumah itu, atau lebih buruk lagi, mereka akan menyakitimu seperti..." Maria menggantung kalimatnya, tidak sanggup melanjutkan tentang masa lalunya.

Aliya terdiam, teringat akan sikap dingin Zaenab dan gangguan dari Laura yang hampir menghancurkan mentalnya semalam. Namun, ia juga teringat bagaimana Emirhan membelanya di depan semua orang.

"Emirhan menjagaku, Bu. Dia sangat baik," jawab Aliya pelan, mencoba meyakinkan ibunya meskipun di dalam hatinya sendiri masih ada keraguan.

Zartan yang bersandar di pintu kamar hanya bisa menatap mereka berdua dengan cemas.

Ia tahu ada sesuatu yang jauh lebih besar yang ditakuti ibunya, sesuatu yang berkaitan dengan ayah Emirhan yang tidak ingin disebutkan namanya.

"Ibu hanya ingin kamu fokus pada ujianmu minggu depan," lanjut Maria lagi.

"Jangan biarkan janji-janji manis keluarga kaya itu membutakanmu. Janji mereka terkadang bisa menjadi penjara yang paling mewah, Aliya."

Cahaya lampu gantung di lobi mansion Karadağ yang megah memantul pada lantai marmer, menciptakan suasana yang terasa dingin dan kaku.

Onur berdiri di dekat tangga besar, tangannya bersedekap di dada dengan wajah yang mengeras.

Begitu pintu depan terbuka dan hanya menampakkan sosok Emirhan yang melangkah masuk dengan wajah lelah, Onur langsung menegakkan tubuhnya.

"Dimana Aliya?" tanya Onur, suaranya menggema di ruangan yang sunyi itu. Nada bicaranya pendek, tajam, dan penuh tuntutan.

Emirhan menghentikan langkahnya, ia melepaskan jam tangan dan memasukkannya ke saku celana sebelum menatap ayahnya dengan tenang.

"Dia menginap di rumah ibunya malam ini, Ayah."

"Menginap?" Onur melangkah maju, sorot matanya menunjukkan ketidaksenangan.

"Aku memberimu izin untuk mengajaknya makan malam, bukan untuk membiarkannya tinggal di sana. Dia adalah tanggung jawab kita sekarang, Emirhan. Apalagi setelah dokumen yang kamu serahkan ke sekolah tadi pagi."

Emirhan menarik napas panjang, ia tidak gentar menghadapi tatapan intimidasi ayahnya.

"Aliya merindukan ibunya. Setelah kejadian kemarin, dia butuh waktu untuk menenangkan diri di tempat yang dia anggap paling aman. Aku tidak bisa memaksanya terus berada di bawah atap ini jika pikirannya masih kacau."

"Atau mungkin ibunya yang menahannya?" Onur menyipitkan mata, suaranya sedikit merendah namun terasa lebih berbahaya.

"Apakah Maria mengatakan sesuatu kepadamu?"

Emirhan menyadari perubahan nada bicara ayahnya saat menyebut nama Maria.

Ia teringat reaksi Maria yang hampir keceplosan tadi malam.

Ada benang merah yang sangat kuat di antara kedua orang tua itu, dan Emirhan bisa merasakannya.

"Maria menolak restuku. Dia bilang Aliya terlalu muda," jawab Emirhan sambil menatap tajam ayahnya, mencoba mencari reaksi di wajah pria tua itu.

"Tapi aku akan tetap menjemputnya besok pagi untuk sekolah. Ayah tidak perlu khawatir, Aliya akan kembali."

Onur terdiam, ia memalingkan wajahnya sejenak, seolah ada beban masa lalu yang tiba-tiba menghantam pundaknya.

"Pastikan dia kembali, Emirhan. Jangan biarkan dia terlalu lama di sana. Semakin lama dia berada di dekat Maria, semakin sulit bagimu untuk membawanya pulang ke keluarga ini."

Emirhan hanya mengangguk kaku, lalu berjalan melewati ayahnya menuju kamarnya. Namun di dalam hati, ia semakin yakin bahwa ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan Onur darinya—rahasia yang mungkin bisa menghancurkan hubungannya dengan Aliya selamanya.

Baru saja Emirhan hendak menaiki anak tangga menuju kamarnya, sebuah bayangan muncul dari balik pilar ruang tengah.

Laura berdiri di sana, masih mengenakan gaun sutra mewahnya, dengan tatapan yang seolah menuntut perhatian.

Melihat Emirhan pulang tanpa Aliya di sisinya, senyum kemenangan tipis terukir di wajah Laura.

Ia merasa ini adalah kesempatannya untuk kembali masuk ke dalam ruang lingkup kehidupan Emirhan yang sempat tertutup rapat.

"Emir," panggil Laura sambil melangkah mendekat, suaranya dibuat selembut mungkin.

"Aku mau bicara sesuatu. Ini penting, tentang kita dan tentang posisi kita di keluarga ini."

Emirhan menghentikan langkahnya tanpa menoleh sepenuhnya.

Bahunya tampak tegang, mencerminkan kelelahan fisik dan mental yang ia rasakan setelah perdebatan di rumah Maria.

"Laura, tolong," potong Emirhan dengan suara rendah namun penuh penekanan.

Ia membalikkan tubuhnya, menatap Laura dengan pandangan yang sangat datar dan dingin.

"Aku sudah mengatakannya berulang kali, dan aku harap ini yang terakhir. Aku hanya menganggapmu saudara, tidak lebih. Jangan pernah berharap ada hal lain di luar itu," tegas Emirhan.

Laura tersentak, wajahnya yang tadi penuh percaya diri kini berubah kaku.

"Tapi Emir, gadis itu hanya akan membawa masalah! Lihat saja, baru sebentar dia di sini, dia sudah berani membangkang dan menginap di luar tanpa izinmu!"

"Dia tidak membangkang, dia sedang bersama ibunya. Sesuatu yang mungkin tidak akan pernah kamu mengerti karena kamu terlalu sibuk dengan egomu," sahut Emirhan tajam.

Tanpa memberikan kesempatan bagi Laura untuk membalas, Emirhan kembali melangkah naik.

Suara langkah sepatunya di atas marmer terdengar seperti penegasan bahwa tidak ada ruang bagi wanita lain di hatinya selain Aliya.

Sementara itu, Laura tetap berdiri di lantai bawah, tangannya mengepal erat dengan kebencian yang semakin membara terhadap Aliya.

Laura menatap punggung Emirhan dengan mata yang berkilat penuh amarah.

Rasa sakit hati karena penolakan yang mentah-mentah itu membuatnya merasa terhina.

"Aku harus melakukan sesuatu," desisnya pelan, jemarinya mencengkeram pinggiran meja hingga memutih.

Tiba-tiba, sebuah tangan dingin menyentuh pundaknya.

Laura tersentak dan berbalik, menemukan Zaenab berdiri di sana dengan senyum misterius yang tidak mencapai matanya.

"Pria seperti Emirhan tidak bisa hanya dihadapi dengan air mata, Laura," bisik Zaenab pelan, suaranya terdengar seperti desis ular di tengah keheningan malam.

Zaenab menarik Laura sedikit menjauh dari area tangga, membawanya ke sudut ruangan yang lebih gelap.

Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Laura, membisikkan sesuatu yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang.

"Ikutlah denganku besok. Aku tahu seseorang yang bisa membantu kita. Seorang dukun sakti yang bisa memutus benang takdir. Kita akan memastikan Emirhan membenci Aliya sedalam ia mencintainya sekarang," bisik Zaenab dengan nada yang dingin dan penuh keyakinan.

Laura tertegun, matanya membelalak. "Bibi, maksudmu kita akan menggunakan... ilmu hitam?"

Zaenab tidak menjawab secara langsung, namun sorot matanya memberikan kepastian. Di dalam hatinya, Zaenab tersenyum penuh kemenangan.

"Aku dulu juga melakukan hal yang sama," ucap Zaenab dalam hati dengan penuh kebanggaan yang kelam.

Kenangan masa lalu berputar di kepalanya—bagaimana ia dulu menggunakan cara yang sama untuk menghancurkan hubungan Onur dan Maria.

Ia telah berhasil menyingkirkan Maria dari hidup Onur bertahun-tahun yang lalu, dan ia tidak akan membiarkan anak dari wanita itu kembali dan merebut posisi di keluarga Karadağ.

"Aliya akan pergi dengan sendirinya, sama seperti ibunya dulu. Dan kamu, Laura, akan menjadi satu-satunya wanita di rumah ini," lanjut Zaenab sambil mengusap pipi Laura.

Laura, yang sudah buta karena rasa cemburu, akhirnya mengangguk pelan.

"Baik, Bibi. Aku akan melakukan apa pun."

Tanpa mereka sadari, benih kehancuran mulai ditanam di dalam mansion megah itu, sementara di sisi lain kota, Aliya tengah tertidur lelap dalam dekapan hangat ibunya, sama sekali tidak menyadari bahwa sejarah kelam yang pernah menghancurkan Maria kini sedang bersiap untuk mengulang dirinya.

1
falea sezi
jangan restuin buk anak mu ma emir bisa bisa ank mu yg lemah mati
falea sezi
maaf ya karakter Alia ini menye menye oon
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak
total 1 replies
falea sezi
kecil kecil uda jd jalang tolol bgt sakit hati pergi jauh kabur malah ke club trs lu dilecehkan nanges goblok
merry yuliana
crazy up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!