Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:
Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.
Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.
Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.
Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.
Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.
Aku melihat kematianku sendiri.
Dan aku tersenyum.
Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.
Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: “Aku Mati di Sini”
Pintu besi berkarat itu terbuka dengan suara pekikan panjang yang mengiris sunyi.
Alea merasakan setiap bulu kuduknya berdiri. Udara yang keluar dari balik pintu bukan sekadar dingin—ia berat. Seperti ruangan itu sudah lama tidak menghirup oksigen, seperti ia sedang membuka peti mati yang terkubur puluhan tahun.
Lampu ponselnya menyorot ke dalam.
Basement.
Bukan ruang bawah tanah biasa. Ini adalah sesuatu yang dirancang untuk mengurung.
Dinding-dinding bata tanpa plester, kasar dan lembap. Lantai semen retak-retak, dengan genangan air hitam di sudut-sudut. Di langit-langit, satu kait besi menggantung dengan tali rapuh yang masih bergoyang—meski tidak ada angin.
Alea menelan ludah.
Jangan takut. Kau sudah pernah lihat yang lebih buruk.
Ia ingat ruang mayat di kantor forensik. Ia ingat mayat-mayat yang matanya masih terbuka, bibir biru, kulit hijau kehitaman. Tapi ruangan itu steril. Ada lampu neon, ada bau disinfektan, ada rekan-rekan yang lalu lalang.
Di sini, hanya ada keheningan.
Dan bau.
Bau itu bukan dari kotoran atau sampah. Baunya lebih tua, lebih manusia. Seperti daging yang dikeringkan perlahan, seperti sesuatu yang pernah hidup tapi sekarang hanya tinggal ingatan.
Alea mengangkat ponsel lebih tinggi.
Sorotan lampu merayap di dinding. Dan di sanalah ia melihatnya.
Coretan kapur.
Bukan satu atau dua. Ratusan. Memenuhi dinding dari lantai hingga langit-langit. Beberapa sudah pudar, hampir tak terbaca. Yang lain masih jelas, goresan tangan anak-anak yang putus asa.
Alea mendekat perlahan. Jari-jarinya bergetar saat membaca satu per satu.
“Hari ke-7. Ayah tidak datang.”
“Aku haus. Air di lantai bau.”
“Mama mana? Mama pasti cari aku.”
“Hari ke-15. Aku sudah tidak nangis lagi.”
“Kalau mati, aku mau jadi bintang. Biar bisa lihat mama dari atas.”
Alea menutup mulutnya dengan telapak tangan. Dadanya terasa seperti ditekan balok beton.
Ini tulisan anak kecil.
Bukan Damian dewasa. Bukan sosok psikopat yang dingin itu. Ini tulisan tangan anak laki-laki berusia delapan tahun yang baru kehilangan gigi susu, yang masih menggambar bintang di pojok kanan atas setiap kalimat.
Ia terus membaca. Tangannya kini menyentuh dinding dingin itu, mengikuti goresan kapur yang sudah nyaris luntur.
“Hari ke-23. Ada tikus. Aku kasih nama si Gemuk. Dia temanku.”
“Si Gemuk mati. Aku nangis lagi.”
“Hari ke-31. Aku lupa wajah mama.”
“Aku lupa wajah aku sendiri.”
Alea berhenti. Napasnya tersengal. Ia menoleh ke sekeliling, mencari sumber udara segar—tapi tidak ada. Ruangan ini seperti menyedot oksigen dari paru-parunya.
Ia terus berjalan menyusuri dinding.
“Hari ke-40. Ayah buka pintu. Aku pikir aku bebas. Tapi ayah bawa pisau.”
“Ayah bilang, kalau aku tidak bunuh anjing itu, ayah akan potong jariku satu-satu.”
“Aku bilang, ‘Tapi Anjing itu temanku, Yah.’”
“Ayah potong jariku.”
Alea menoleh cepat ke tangannya sendiri. Jari-jari Damian—jari-jari yang panjang, kuat, tanpa cacat. Tapi di sini, di ruangan ini, seorang anak laki-laki kehilangan satu jari karena menolak membunuh anjing peliharaannya.
Tapi jari Damian lengkap.
Pikiran itu menyentaknya.
Apakah ini nyata? Atau ini hanya—
Lampu ponselnya menyorot pojok ruangan.
Dan di sana, Alea melihat sesuatu yang membuat jantungnya benar-benar berhenti.
Buku.
Bukan buku biasa. Sebuah buku tulis bergambar anak-anak, dengan sampul bergambar dinosaurus ungu yang sudah pudar. Buku itu tergeletak di atas tumpukan kain lusuh—bekas pakaian anak kecil yang sudah dimakan waktu.
Alea berlutut. Lututnya menyentuh lantai basah, tapi ia tidak merasakan dingin.
Ia mengambil buku itu dengan hati-hati, seperti memegang sesuatu yang akan hancur jika digenggam terlalu keras.
Halaman pertama. Tulisan tangan yang sama. Kapur, tapi di sini ia menggunakan pensil—bekas pensil yang hampir habis, dengan goresan samar.
“Namaku Damian Adhiratria. Umur 8 tahun. Aku suka menggambar dan kue cokelat.”
“Ayah bilang aku lemah. Ayah bilang anak lelaki harus kuat.”
“Aku cuma ingin mama pulang.”
Alea membalik halaman demi halaman.
Setiap lembar adalah potongan waktu. Hari-hari yang dihitung dengan coretan di dinding, ditulis ulang di sini dengan detail yang menyiksa.
“Ayah bawa mayat ke sini. Mayat perempuan. Matanya terbuka. Aku takut.”
“Mayat itu Mama Tiri. Ayah bilang dia pengkhianat. Ayah bilang semua perempuan pengkhianat.”
“Ayah kunci aku di sini dengan mayat Mama Tiri. 3 hari. 3 malam.”
“Aku bicara sama mayat Mama Tiri. Dia diam. Tapi dia dengar.”
“Hari ke-5. Mayat Mama Tiri mulai bau. Aku muntah. Aku muntah terus.”
“Hari ke-10. Aku tidak muntah lagi. Aku sudah terbiasa dengan baunya.”
Alea merasakan muntah naik ke tenggorokannya. Ia menekan mulutnya kuat-kuat, menelan ludah, memaksa perutnya tetap tenang.
Tahan. Tahan.
Ia tidak boleh lemah di sini. Ia harus membaca semuanya. Karena ini—ini adalah kunci untuk memahami Damian.
Bukan Damian dewasa yang dingin. Bukan Damian Kecil yang polos.
Tapi keduanya. Siapa mereka sebenarnya.
Ia melanjutkan.
“Hari ke-18. Aku menggambar wajah Mama Tiri di dinding. Supaya dia tidak sendirian.”
“Tapi gambarku jelek. Wajahnya jadi aneh. Matanya dua kiri semua.”
“Aku ketawa sendiri. Lalu aku nangis. Aku tidak tahu kenapa aku nangis.”
“Hari ke-23. Aku mulai lupa suaraku sendiri.”
“Aku bicara, tapi aku tidak tahu itu suara aku atau bukan.”
“Mungkin itu suara orang lain.”
Alea berhenti.
Itu suara orang lain.
Ia ingat Damian Kecil. Bocah dengan piyama kebesaran, dengan mata yang sama persis dengan Damian dewasa tapi kosong—dan basah.
Apakah itu yang dimaksud? Apakah Damian Kecil lahir di sini?
Tangannya gemetar saat membalik halaman terakhir.
Halaman itu berbeda. Tidak ada coretan tanggal. Tidak ada gambar bintang.
Hanya satu kalimat.
Ditulis dengan kapur merah—bukan kapur putih seperti sebelumnya. Merah. Seperti darah. Seperti sesuatu yang disimpan khusus untuk momen ini.
“Aku mati di sini.”
Alea terdiam.
Matanya menatap kalimat itu. Membacanya sekali. Dua kali. Tiga kali.
Tulisan tangan anak-anak yang rapuh, tapi kalimat itu—kalimat itu ditulis dengan tekanan kuat, hampir menusuk kertas. Seperti anak laki-laki itu menulisnya sambil menangis, sambil berteriak dalam keheningan.
“Aku mati di sini.”
Bukan “Aku akan mati.” Bukan “Aku takut mati.”
Tapi “Aku mati di sini.”
Seperti fakta. Seperti kesimpulan. Seperti pengumuman kematian yang ditulis sendiri.
Alea memejamkan mata. Air mata menetes di pipinya. Ia tidak berusaha menghapusnya.
Dia mati di sini.
Bukan Damian dewasa. Bukan monster yang menculikku.
Tapi Damian kecil. Yang masih menggambar bintang, yang kasih nama tikus si Gemuk, yang bicara dengan mayat karena tidak punya teman.
Dia mati di sini.
Dan yang keluar dari ruangan ini adalah—
“Kau tahu terlalu banyak.”
Suara itu memecah keheningan seperti palu di kaca.
Alea membalikkan badan begitu cepat hingga lututnya bergeser di lantai basah.
Damian dewasa berdiri di ambang pintu.
Tidak ada cahaya di belakangnya. Tubuhnya hanya siluet hitam dengan dua titik mata yang memantulkan cahaya ponsel Alea.
Alea tidak bisa bergerak.
Damian melangkah masuk. Satu langkah. Dua langkah. Kakinya menyentuh genangan air tanpa suara—seperti ia bukan manusia, seperti ia adalah bagian dari ruangan ini.
“Buku itu,” suaranya datar. Dingin. Tidak ada emosi. “Letakkan.”
Alea menggenggam buku itu lebih erat. “Ini miliknya.”
“Milik siapa?” Damian berhenti tiga langkah di depannya. “Anak kecil yang mati 20 tahun lalu?”
“Dia tidak mati.” Alea menatap mata hitam itu. “Dia di dalam dirimu.”
Damian tersenyum.
Itu bukan senyum bahagia. Itu senyum yang membuat Alea ingin mundur, tapi tubuhnya membeku.
“Kau pikir kau tahu?” Damian menunduk, mengambil buku itu dari tangan Alea dengan gerakan cepat. “Kau pikir dengan membaca buku harian bocah lemah itu, kau mengerti?”
“Aku tidak mengerti,” Alea menjawab jujur. Suaranya bergetar, tapi ia tidak berhenti. “Tapi aku ingin.”
“Ingin?” Damian tertawa. Suaranya pecah di tengah tawa itu, berubah menjadi sesuatu yang lain—lebih tinggi, lebih rapuh. “Kau tidak ingin, Kak. Kau hanya penasaran. Seperti orang yang lihat kecelakaan di jalan. Kau lihat, lalu kau pergi. Tidak ada yang berubah.”
Kak.
Panggilan itu.
Bukan dari Damian dewasa.
Alea menatap Damian—dan melihat perubahan yang tidak mungkin.
Matanya. Yang tadi hitam pekat tanpa refleksi, kini bergerak liar. Tangannya yang tadi menggenggam buku dengan kuat, kini memegangnya seperti barang paling berharga.
“Damian?”
Pria di depannya menggeleng. Menggeleng seperti anak kecil yang tidak mau mengaku.
“Aku bukan Damian.”
Suara itu. Bukan bariton dalam Damian dewasa. Bukan juga suara Damian Kecil yang lincah.
Ini di antaranya. Beratap ringan. Seperti dua suara yang bertarung di satu tenggorokan.
Alea merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ini berbahaya. Tapi ia juga tahu—mungkin ini satu-satunya kesempatan.
“Siapa kau?” tanyanya pelan.
Pria itu—Damian—duduk di lantai basah. Tidak peduli dengan setelan Armani senilai puluhan juta. Ia duduk bersila seperti anak kecil, meletakkan buku harian di pangkuannya, lalu menatap Alea dengan mata yang...
...basah.
“Aku yang menulis itu,” katanya. Suaranya kini seperti Damian Kecil, tapi lebih tua, lebih lelah. “Tapi aku juga yang mengurung diriku di sini.”
“Aku tidak mengerti.”
“Damian dewasa,” pria itu berkata, menunjuk dadanya sendiri. “Dia lahir di sini. Dari mayat Mama Tiri, dari rasa lapar, dari takut yang akhirnya mati karena sudah terlalu takut.”
Ia menunjuk buku harian.
“Tapi aku. Yang menulis ini. Aku tidak lahir. Aku mati.”
Alea menggeleng. “Kau tidak mati. Kau ada di sini, bicara denganku.”
“Aku mati,” ulangnya. Tangannya membuka halaman terakhir buku itu. “Baca sekali lagi.”
Alea membaca.
“Aku mati di sini.”
“Itu bukan tulisan Damian dewasa,” pria itu berkata. “Dia tidak bisa menulis. Dia hanya bisa membunuh. Itu yang menulis adalah aku. Dan setelah aku menulis itu, aku tidur.”
Ia menatap Alea dengan mata yang sama—tapi kosong. Kosong seperti Damian Kecil.
“Aku tidur 20 tahun, Kak. Dan Damian dewasa yang jaga tubuh ini. Dia lakukan semua yang ayah mau. Dia jadi pembunuh. Dia jadi monster. Karena itu satu-satunya cara agar ayah tidak kurung dia lagi.”
Alea merasakan dadanya sesak. “Tapi kenapa kau bangun sekarang?”
Pria itu tersenyum. Lembut. Mirip anak laki-laki yang dulu menggambar bintang di pojok kanan atas.
“Karena kau datang ke sini, Kak. Karena kau baca tulisanku. Karena kau nangis.”
Ia mengangkat tangan, menyentuh pipi Alea yang masih basah.
“Tidak ada yang nangis buat aku sejak aku mati.”
Alea tidak bisa menahan isak. Ia meraih tangan itu—tangan Damian dewasa yang besar dan kuat, tapi sekarang terasa seperti tangan anak kecil yang menggigil.
“Aku tidak akan biarkan kau mati,” bisik Alea. “Aku akan bantu kau.”
Pria itu menggeleng pelan. Matanya mulai berubah. Hitam pekat kembali. Suaranya mulai dalam.
“Terlambat, Kak.”
Tangan itu menarik diri. Damian berdiri. Tinggi, tegap, dingin.
Tapi Alea melihat. Di sudut matanya, setitik cahaya masih tersisa.
“Aku akan keluar dari sini,” Alea berkata sambil berdiri. “Dan aku akan kembali besok. Dan lusa. Sampai kau mau bicara padaku—keduanya.”
Damian menatapnya lama. Lalu ia berkata, dengan suara yang tidak jelas milik siapa:
“Kalau kau kembali, kau tidak akan bisa keluar lagi.”
Alea tersenyum. “Aku sudah tidak mau keluar.”
Damian membisu.
Lalu ia berbalik, melangkah keluar dari ruang bawah tanah. Sebelum pintu besi itu tertutup, ia berkata tanpa menoleh:
“Jangan cerita tentang ruangan ini ke siapa pun. Atau aku akan bunuh mereka semua.”
Pintu tertutup dengan bunyi gemuruh.
Alea berdiri di ruangan itu, sendirian, dengan buku harian di tangannya dan air mata yang masih mengalir.
Ia menatap dinding. Coretan kapur itu. Bintang-bintang di pojok kanan atas.
“Aku tidak akan cerita,” bisiknya pada dinding. “Tapi aku juga tidak akan diam.”
Ia keluar dari basement. Langkahnya mantap, meski kakinya basah dan dingin.
Di lorong menuju kamarnya, ia bertemu Rania.
“Nona Alea?” Rania menatapnya dari ujung ke ujung. “Kau basah. Kau pergi ke mana?”
Alea tersenyum. “Jalan-jalan.”
Rania mengernyit. “Tuan Damian mencari kau tadi. Beliau—”
“Aku tahu.” Alea melangkah melewati Rania. “Dia sudah menemukanku.”
Ia masuk ke kamar, mengunci pintu.
Di atas ranjang, Damian Kecil duduk bersila.
Bocah itu tersenyum. Tapi senyumnya berbeda. Lebih tenang. Lebih dewasa.
“Kak, kau ketemu Damian dewasa di basement ya?”
Alea mengangguk. Ia duduk di sisi ranjang, meletakkan buku harian itu di antara mereka.
Damian Kecil menatap buku itu. Matanya berkilat.
“Itu punyaku,” katanya pelan. “Damian dewasa larang aku buka.”
“Sekarang boleh,” kata Alea. “Aku di sini.”
Damian Kecil mengulurkan tangan, menyentuh sampul buku itu. Jari-jari mungilnya membelai gambar dinosaurus ungu yang pudar.
“Kak,” bisiknya tanpa menoleh. “Aku takut.”
“Takut sama apa?”
“Takut kalau besok Damian dewasa marah lagi. Takut kalau aku dibunuh lagi.”
Alea meraih tangan Damian Kecil. Jari-jari itu dingin. Sangat dingin.
“Dengar,” katanya. “Aku tidak tahu bagaimana caranya. Tapi aku janji, aku tidak akan biarkan Damian dewasa bunuh kau. Dan aku juga tidak akan biarkan Damian dewasa mati.”
Damian Kecil menoleh. Matanya besar, basah, penuh harap.
“Janji, Kak?”
“Janji.”
Bocah itu tersenyum. Lalu ia memeluk Alea. Tubuhnya kecil, ringan, dan hangat—meski sebelumnya dingin.
“Makasih, Kak.”
Alea memeluknya balik. Matanya tertutup.
Dan di balik kelopak matanya, ia melihat visi lagi.
Damian. Damian dewasa. Tersenyum di bawah sinar matahari.
Ia memegang tangan perempuan.
Perempuan itu Alea.
Tapi di samping mereka, ada anak laki-laki. Damian Kecil. Yang tersenyum lebih lebar dari siapa pun.
“Kak, kita jadi keluarga ya?”
Visi itu pecah.
Alea membuka mata.
Damian Kecil sudah tidak ada. Ranjang hanya berisi buku harian dan dirinya sendiri.
Tapi visi itu—rasanya berbeda. Bukan seperti kematian yang ia lihat selama ini.
Itu seperti... masa depan.
Mungkin. Mungkin tidak semua visi adalah kematian.
Ia merebahkan diri, memeluk buku harian itu di dadanya.
“Aku akan selamatkan kalian,” bisiknya pada langit-langit kamar yang tinggi. “Aku akan selamatkan kalian berdua.”
---
POV: DAMIAN DEWASA
Damian berdiri di ruang kerjanya. Matanya menatap layar monitor.
Di layar itu, kamera ruang bawah tanah menunjukkan Alea yang masih duduk di lantai, memeluk buku harian itu.
Ia memperbesar gambar. Melihat air mata di pipinya. Melihat bibirnya bergerak.
Aku akan selamatkan kalian.
Damian menutup layar.
Ia berjalan ke jendela. Di luar, langit mulai terang. Matahari terbit di antara gedung-gedung tinggi Jakarta.
Tangannya bergerak ke dadanya. Ke tempat di mana Damian Kecil bersembunyi.
“Dengar,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Kalau dia selamatkan kau... aku juga ikut selamat.”
Tidak ada jawaban.
Tapi untuk pertama kalinya dalam 20 tahun, Damian merasakan sesuatu yang hangat di dadanya.
Bukan api. Bukan amarah.
Harapan.
---
Bagaimana menurut kalian?
· Apakah kalian juga ikut menangis saat membaca buku harian Damian kecil?
· Menurut kalian, apakah Alea akan berhasil menyelamatkan Damian Kecil tanpa membunuh Damian dewasa?
· Siapa yang kalian dukung: Damian dewasa yang dingin, atau Damian Kecil yang polos?
✨ Dukung cerita ini dengan:
✅ Vote ★★★★★
✅ Komentar di setiap episode
✅ Share ke teman-teman pecinta dark romance
✅ Follow akun penulis untuk update terbaru
Sampai jumpa di Bab 20: “Kau Memilih Aku atau Dia?” 💀🔥
---Bersambung---