Bukankah menikah adalah sebuah ladang ibadah ? Lalu kenapa ibadah yang seharusnya mendapatkan pahala justru bak di neraka ? Semua berawal dari kesalah pahaman yang tidak berdasar hingga berubah menjadi sebuah tragedi yang hampir menenggelamkan rumah tangga yang bahkan pondasinya saja masih sangat rapuh.
Mampukah mereka bertahan ataukah malah karam di hantam ombak besar?
Kisah kembar Azzam dan Azima , di mana seharusnya cinta itu sudah berlabuh di dermaga tapi harus terlunta dan terapung di tengah lautan luas menunggu datangnya pertolongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 : Azima geram
" Kenapa kau diam saja, Yazh? "
Ayyazh menoleh, dan...popa, alias tuan Ibrahim sedang menatapnya geram.
Tuan Salman jelas kebingungan dengan sikap tuan Ibrahim yang tiba tiba saja datang dan marah pada cucu kesayangan nya.
Netra popa memindai sekitar jarak pandang nya. Yakin jika yang ia cari tidak akan berada jauh dari Ayyazh.
Benar saja, tuan Ibrahim memanggil Zizi yang berada di belakang Ayyazh dan sedang asik menikmati beberapa jenis cheese cake kesukaannya.
" Azima...."
Azima menoleh. Melihat jika yang memanggil nya adalah popa Ibrahim, Azima segera menghampiri.
Ekspresi popa Ibrahim mendadak berubah sumringah. " Ke sini, dekat Popa. " Ucapnya .
Azima menurut.
" Kamu butuh seorang dokter kan , Salman ? Ya, terutama dokter untukku."
Tuan Salman mengangguk. " Tentu saja, tuan Moez. "
" Ini , aku perkenalkan, namanya Azima Zanitha Brawijaya, dia adalah dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, sekaligus menantu kesayangan ku. " Popa Ibrahim memperkenalkan Azima dengan cara yang cukup angkuh, hingga tuan Salman yang mengenal popa Ibrahim sebagai pribadi yang rendah hati tertawa terbahak-bahak.
" Baiklah, baiklah. " Tuan Salman mengusap ujung mata nya yang berair. " Halo nona Brawijaya, senang sekali rasanya bisa bekerja sama dengan salah satu keturunan pemilik jejaring rumah sakit ternama dunia. Saya salah satu yang sangat mengagumi opa mu, dokter Adam ."
Azima tersenyum manis. Senyuman manis yang konon menciptakan kekesalan seorang pria yang hampir sebulan ini berstatus sebagai suami. Ya, konon. Karena bagi Azima, Ayyazh belum bisa di sebut sebagai pasangan hidup. Kurang nya komunikasi yang tercipta sudah menjadi bukti real pernyataan nya itu.
" Jadi, kau menerimanya? " Popa antusias , ia begitu bersemangat karena ternyata tuan Salman mau menerima Azima tanpa harus melewati banyak seleksi administrasi untuk bisa bergabung dengan Aster Hospital.
Dan itu tidak seperti berita simpang siur yang popa dengar, jika tuan Salman termasuk salah satu pimpinan yang otoriter dan sangat selektif serta hati hati memilih karyawan .
" Jika itu rekomendasi tuan Moez, tentu saja saya tidak akan menolak. " Kata tuan Salman tersenyum hangat.
" Alhamdulillah. " Popa mengucap syukur. " Nak Zizi, dokter Salman ini adalah direktur utama Aster Hospital dan kami sudah lama berteman. "
" Iya , popa."
Tuan Salman melirik A . " Oiya, nona muda Moez. Tadi saya perhatikan, anda begitu akrab dengan pria tampan ini." Ujar tuan Salman memuji Azzam. " Mungkinkah kalian punya hubungan spesial?"
Ya, sebagai pengusaha muda yang sukses dan memiliki jejaring strata sosial di kelas elite, A tidak pernah menggunakan nama Brawijaya di belakang namanya. Jadi rekan rekan bisnis nya tidak ada yang tau jika sebenarnya CEO Sagara adalah pangeran Brawijaya.
Pertanyaan itu membat popa Ibrahim mengernyit. " Hei, apa kau tidak melihat wajah mereka mirip, Salman ? " Ujar popa Ibrahim.
Tuan Salman pun mulai memperhatikan, menatap Azima dan Azzam bergantian. Kemudian rautnya mulai menampakkan keterkejutan. " Iris mata kalian sama, apa kalian bersaudara?" Tuan Salman antusias.
" Iya, tuan Salman, kami kembar. " Ujar Azima masih mempertahankan senyuman nya. Dan lagi lagi, Ayyazh mengepalkan kedua tangan, mengatur napas, dan berusaha mengatur kerja otak nya agar ia bisa mengeluarkan jurus ampuh sehingga amarah yang hampir meledak itu bisa di redam dan tidak merusak acara pembukaan restoran Sagara.
( Kau itu masih manusia kan, Yazh ? Kenapa juga cemburu pada pria yang hampir seumuran dengan popa mu ? )
Jin baik dan jin jahat dalam tubuh Ayyazh mulai bergejolak.
" Wah, surprised, saya tidak pernah menyangka jika CEO Sagara adalah cucu Brawijaya. Kenapa kamu tidak pernah bilang ? " Tambah tuan Salman.
A hanya tersenyum simpul.
Perbincangan semakin hangat antara tuan Salman dan Azzam. Tuan Salman merupakan dokter bedah thorax yang dulu selalu bertemu dengan opa grandpa di setiap acara simposium dunia. Itulah kenapa beliau sangat mengenal Brawijaya.
Lain hal dengan Ayyazh. Setelah popa datang, ia seperti orang lain yang tidak saling kenal. Azima justru asik membagi kisah kisah lucu nya pada Popa, tertawa bersama hingga Ayyazh mendongkol luar biasa.
Terlebih setelah popa dan tuan Salman pergi. Kekesalannya semakin menjadi jadi tatkala A mulai merecoki Azima dengan banyak pertanyaan. Keakraban dan kemesraan dua saudara itu sungguh membuat hati nya terbakar iri dan dengki. Namun, ia harus bertahan sekuat mungkin agar tidak mengamuk dan melepas amarahnya pada orang yang tidak seharusnya menjadi pelampiasan.
Sifat Ayyazh ini sedikit banyak mirip opa grandpa. Bayangkan saja, opa grandpa tak tanggung-tanggung menabuh genderang perang pada opa Izel karena opa Izel senang sekali mendekati umi grandma . Padahal umi grandma dan opa Izel bersaudara.
Seorang pria paruh baya yang merupakan rekan bisnis Ayyazh datang menghampiri. Mau tidak mau, ia harus meninggalkan Azima berdua dengan A dan meladeni rekan nya itu.
A melirik Ayyazh lewat ekor matanya hingga hilang di balik kerumunan. " Bagaimana pernikahan mu ? "
Pertanyaan tiba tiba itu terkesan sebagai bagian dari assessment pasca nikah untuk para pasangan yang menikah karena di jodohkan.
" Baik. " Singkat Azima.
" Serius?"
Azima mengangguk .
" Jangan berbohong. Aku bisa jadi kakak yang jahat dan membawa mu pergi darinya jika dia sampai berani menyakiti mu. "
Azima menghela nafas . " Jangan mengurusi rumah tanggaku, urus saja rumah tanggamu sendiri. Istri kok di tinggal ." Kesal Azima.
Beberapa hari lalu ia menelpon Annasya . Meski benar jika Annasya sangat sibuk , tetap saja, Azima menyalahkan A yang tidak bisa menunda kepulangannya ke Dubai.
" Kan sudah aku katakan kalau dia masih banyak kerjaan. "
" Setidaknya, tidak secepat ini kamu balik , mas. Kamu kira diri mu itu tentara, yang tiba tiba saja mendapatkan tugas bela negara hingga meninggalkan istrinya meski baru sehari menikah ? Mas, Sagara itu, kamu yang punya. Tidak akan ada yang marah jika kamu tidak masuk kantor walaupun itu sebulan. "
" Kamu benar, tapi bagaimana aku menggaji karyawan kalau aku tidak bekerja ? "
" Memangnya, mas yang memasak? Memangnya mas yang pergi cari bahan premium untuk restoran ? Mas hanya duduk manis di belakang meja, bersilaturahmi dengan mac book kesayangan mu itu. Bukan kah mengerjakan itu semua bisa dari rumah ? "
A menghela nafas. Ia akui jika keputusannya pulang ke dubai tiga hari setelah acara pernikahan nya adalah keputusan yang salah. Sebenarnya, bukan tidak mau, ia hanya perlu waktu untuk menerima seseorang masuk ke dalam kesehariannya. Makanya, ia melarikan diri untuk menenangkan otak nya yang mulai carut marut.
" Apa kamu sudah menghubungi nya? Menurut umi, akhir akhir ini Asya jarang pulang ke rumah. "
" Kenapa bisa? " Jelas terdengar nada khawatir dari pertanyaan Azzam.
" Operasi nya sangat banyak. Kemarin saja kata umi, istrimu berada di dalam kamar operasi dari jam sepuluh pagi hingga jam sepuluh malam. "
" Apa iya seorang dokter sesibuk itu? Tapi kamu tidak . Ya , walau terkadang pulang telat juga. "
Kekesalan Azima mencapai puncak. " Kau itu menikahi Annasya, apa sudah tau pekerjaannya atau belum , sih ?! "
A menggeleng pasrah, di maki Azima pun ia terima terima saja. Karena ketidak mauan nya menikah dan ketidak pedulian nya pada Annasya , sampai sampai ia pikir jika Annasya juga dokter jantung sama seperti Azima.
" Annasya itu dokter bedah saraf, mas A. Aku berbaik hati memberi tahumu supaya kamu tidak bengong dan terkesan tidak tahu menahu tentang Annasya saat ada yang bertanya ."
' Bedah saraf .' A menyimpan dua kata itu di memori otaknya. Ia perlu mencari tau lebih jelas apa yang di lakukan seorang dokter spesialis bedah saraf hingga harus berada di kamar operasi sampai berpuluh puluh jam .
Hening sesaat, lalu. " Jangan jangan kamu bahkan tidak pernah menelponnya ?" Kening Azima mengernyit.
A terdiam.
" Jadi benar ? Sudah hampir sebulan kamu di sini dan kamu belum pernah menghubungi nya ? Sekalipun tidak, mas A ?! Azima memperjelas.
A mengangguk pelan.
Azima mengepal tinju. Andai bukan di tempat umum, di pastikan Azima akan menyerang A hingga kakak kembarnya itu tidak bisa berkutik.
" Aku rasa kamu sudah gila, mas. Walau kamu tidak mencintainya, setidaknya jangan keterlaluan ! "
" Aku mau . Aku mau menelponnya , tapi_ aku tidak punya nomor nya. "
...****************...
habisnya setiap bab ko ya dikir amat, mana nunggu up sehari berasa lama banget, eh giliran udah up baru baca dh abis🙈🙈
wah parah Malah di samain sma batu, g sekalian zi sama dindingnya 🤣