"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."
Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.
Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.
Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 : Sangkar Dalam Bentuk Ekspektasi
Kharisma sedikit mundur, dia merapatkan diri pada tembok saat melihat Indra bergerak tergesa untuk keluar dari ruangan. Kharisma tidak tau kenapa ia harus bersembunyi, tapi ia mengira bahwa itu jauh lebih baik daripada ketahuan mengintip momen pribadi mereka yang menegangkan.
Tepat saat Indra menjauh, dan derap langkah sepatunya tak lagi terdengar, Kharisma perlahan-lahan keluar dari tempat persembunyiannya. Dia menatap pintu ruangan Ivana cukup lama, lantas menoleh ke arah belakang, tempat di mana Nada dan anggota keluarga Wimana lainnya berada.
Apakah ini waktu yang tepat untuk dia masuk?
Mengusir keraguannya, Kharisma akhirnya melangkahkan kaki kembali mendekati pintu. Ia menekan gagang pintu dan membukanyanya perlahan-lahan.
"Permisi..." ucapnya sopan, langsung menarik perhatian wanita yang tengah terbaring di bangsal.
Dia pasti Ivana.
Ivana tampak cantik dengan balutan gaun hamil berwarna merah polos. Perutnya yang membuncit adalah yang paling menarik perhatian Kharisma. Di tambah lagi dengan wajah cerahnya yang membuat perempuan itu tampak berseri-seri.
"Eh? Kamu..."
Ivana berusaha mendudukkan diri, menatap Kharisma dengan penasaran sekaligus berusaha mengenali.
"Aku Kharisma, Kak," jawab Kharisma memperkenalkan diri dengan hangat. "Istrinya Mas Prabu."
"Oh..." Ivana tersenyum dan mengangguk. "Maaf ya, aku lupa," ujarnya sedikit tidak enak hati. "Aku nggak datang waktu pernikahan Mas Prabu, makanya belum terlalu familiar sama kamu."
Kharisma mengangguk, jelas tak keberatan dengan hal itu.
Kharisma melangkah mendekat meskipun sedikit canggung, jelas tidak terbiasa berinteraksi dengan orang asing. Dia tidak diperbolehkan untuk berinteraksi dengan sembarang orang sejak kecil, jadi inilah dampaknya.
"Maaf, ya, Mas Prabu sepertinya masih di parkiran untuk menyiapkan kado, jadi kami tidak bisa datang bersama." Kharisma sedikit cemberut, tangannya mengelus tengkuk. "Semoga Kakak dan bayi selalu sehat, ya."
"Terimakasih," Ivana tertawa lembut, agaknya menyadari kecanggungan Kharisma. "Kamu jangan canggung-canggung sama aku, ya? Kita sekarang keluarga," ucapnya meyakinkan.
Ivana menepuk bangsal di sampingnya, memberikan tanda agar Kharisma duduk di sana. Kharisma yang mendapati undangan ramah itu tanpa ragu-ragu menurut.
"Aku bener-bener nggak sabar liat hasil USG nanti," gumam Ivana dengan senyum cerah. "Kamu bayangin, deh, gimana senangnya keluarga ini saat akhirnya mereka tau kalau bayi aku laki-laki."
Kharisma menarik sudut bibirnya menjadi senyum tulus. "Kakak sudah tau ya kalau bayinya laki-laki?" Kharisma mengulurkan tangan dengan ceria. "Semangat, ya, pasti nanti anak Kakak sangat tampan."
Kharisma tetap menatap Ivana, sudut-sudut matanya menyipit karena senyum. Tapi saat Ivana tidak segera menerima uluran tangannya, senyum di wajah Kharisma perlahan-lahan surut.
Bukan hanya dia, tapi senyum Ivana juga tampak menghilang.
"Kakak... kenapa?" tanya Kharisma hati-hati.
Ia jadi tidak mengerti kenapa tiba-tiba perkenalan hangat bisa menjadi sunyi dan canggung seperti ini.
"Kamu... sengaja mau sentuh aku, ya?"
Ucapan Ivana entah mengapa terdengar seperti tuduhan membingungkan.
"Maksud Kakak?" tanyanya, dengan kening yang berkerut bingung. "Aku hanya mau memberi selamat."
Tapi Ivana sekarang tampak mengendikkan bahu, bahkan sedikit bergeser menjauh untuk menciptakan jarak dengan Kharisma.
"Aku kira sengaja," ucapnya tanpa menoleh. "Soalnya setau aku, kalo orang lain nyentuh-nyentuh orang hamil itu biar cepat-cepat ketularan."
Kharisma semakin tidak mengerti. "Ketularan... apa?"
"Hamil," jawab Ivana singkat. Nadanya kontras dengan nada ramah yang dia gunakan sebelumnya.
Kharisma terdiam, tidak mengerti sejujurnya dengan apa yang Ivana katakan. Tadi wanita itu menyapanya dengan sangat ramah, dan apakah salah jika Kharisma ingin berjabat tangan untuk memberikan selamat? Biasanya di keluarganya itu dianggap hal yang normal.
Dan... memangnya kenapa jika seandainya Kharisma ingin hamil juga?
"Aku tidak ingin menjabat tangan Kakak karena itu, kok," balas Kharisma dengan lembutnya. "Aku bahkan tidak tau kalau mencoba menyentuh wanita hamil itu artinya memiliki keinginan untuk hamil juga," jelasnya, tak ingin Ivana salah paham.
"Aku hanya ingin memberikan selamat," imbuh Kharisma. "Kakak terlihat bahagia karena bayinya laki-laki, makannya aku ingin berjabat tangan. Maaf kalau kakak tidak nyaman, ya. Di keluargaku itu adalah hal yang biasa dilakukan."
Saat Ivana hanya diam dan mendengarkan, Kharisma melanjutkan bicara.
"Tapi aku memang ingin hamil juga. Aku juga ingin menjadi seorang ibu, Kak."
Ungkapan terakhir Kharisma membuat Ivana menoleh tajam. Dia tampak terkejut, tapi sesuatu di matanya tidak bisa Kharisma prediksi.
"Terimakasih," balasnya, yang kini dengan nada yang kurang ramah. "Sebenarnya aku nggak tau apa bayinya laki-laki atau perempuan. Tapi aku yakin pasti laki-laki," tekannya, seakan-akan kepercayaannya adalah fakta meskipun hasil belum keluar.
Ivana bergeser semakin jauh, seolah-olah sengaja menjaga jarak agar tak bersentuhan dengan Kharisma hingga sang empunya bingung sendiri.
Kharisma mengerjap, dan dengan pekanya langsung turun dari bangsal saat Ivana merebahkan diri dan menselonjorkan kakinya.
"Kamu bisa tunggu di luar, temen-temen aku mau masuk."
...***...
Mungkin saking terbiasanya menghadapi situasi menegangkan, Prabujangga mulai terbiasa dengan suasana itu. Di dalam ruang rapat, di ruang kerja pribadi, dan di manapun saat dia hanya berdua saja dengan sang ayah.
Dan lorong rumah sakit akan menjadi salah satunya.
Dengan tangan yang masih penuh oleh barang-barang milik sang istri, Prabujangga hanya berdiri di samping Batra tanpa minat membuka suara.
Hanya satu yang dia nanti—Batra mempersilahkannya untuk pergi dan menyusul Kharisma ke dalam.
Tapi kenyataanya itu tidak terjadi, karena ayahnya itu sekarang lebih memilih melepaskan cerutunya dari bibir dan menoleh ke arah Prabujangga.
"Kamu tau apa yang Papa pikiran, Prabu?"
Seakan-akan Prabujangga bisa membaca pikiran.
"Papa dengar dari Viraj bahwa orang suruhan kakek kamu akan datang," ujar Batra, dengan nada terukur yang nyaris tanpa emosi. "Katanya untuk menjenguk dan memberikan selamat. Tapi Papa cukup yakin kamu mengerti apa maksud kakek kamu sebenarnya."
"Tentu saja saya mengerti," balas Prabujangga nyaris tanpa minat. "Kakek hanya ingin tau apakah bayi itu perempuan atau laki-laki."
Meskipun tidak mengatakannya, rasa muak tergambar di garis-garis wajah Prabujangga yang sempurna. Pembahasan keturunan yang tiada habisnya terkadang membuatnya ingin keluar dari sangkar dan terbang bebas agar tidak terlibat sama sekali.
Tapi sangkar itu terlalu kuat. Sangkar dalam bentuk ekspektasi ayahnya sendiri.
"Menurutmu, apakah bayi itu laki-laki, Prabu?"
Pertanyaan Batra mengundang hening sejenak.
Saat tak terdengar jawaban apapun dari Prabujangga, Batra memutuskan untuk menghela napas dan menatapnya dengan tatapan sulit diartikan.
"Sepertinya ada penyesalan," celetuknya. "Kamu bisa saja memberikan kabar baik juga jika kamu berusaha lebih keras."
"Dan di bagian mana Papa mengira saya tidak bekerja keras?" Prabujangga membalas, tak sama sekali menaikan nada bicaranya. "Saya dinikahkan dengan wanita yang tidak sempat saya kenali, atau mungkin Papa mengira saya kurang berusaha untuk menghamili perempuan itu?"
Tatapan Prabujangga berubah menantang sesaat. "Saya tau bahwa Papa berpikir bahwa tidak akan ada harapan lagi jika hasil tes nanti menunjukkan bahwa bayi itu adalah laki-laki. Lalu apa yang akan Papa lakukan? Mengamuk? Atau hal lain yang serupa?"
Jeda.
"Saya sudah dibebani oleh banyak sekali tanggungjawab. Mengurus perusahaan, menanggung beban ekspektasi, lalu sekarang dituntut untuk menjadi ayah dari keturunan pertama kali-kali," imbuh Prabujangga, masih mencoba nada bicaranya tetap rendah.
"Tapi itu sudah menjadi tugasmu saat kamu dilahirkan sebagai seorang Wimana," tanggap Batra dengan tenang. Dia kembali menyesap cerutunya. "Beban ekspektasi dan hal seperti ini juga bukan hanya kamu yang merasakannya."
Asap berhembus, memenuhi udara dengan aroma tembakau yang langsung menghilang diterpa angin senja.
"Jika saja kamu mau menikah lebih awal, atau setidaknya menghamili wanita lain saat istrimu itu belum memberi kabar baik satu bulan yang lalu, mungkin kakek kamu juga akan tertarik karena kamu memberikan kabar baik," tutur Batra, seolah-olah ucapannya sudah melewati logika sebelum terucap. "Meskipun pada akhirnya jenis kelamin anak Indra yang akan lebih dulu keluar, setidaknya kamu akan dikunjungi oleh kakekmu karena berhasil menghamili seorang wanita."
Cengkraman Prabujangga pada tas-tas belanjaan mengerat.
Ada perasaan yang tak mampu ia mengerti melintas di benaknya. Rasa yang ditakutkannya adalah rasa amarah—yang selalu ia pendam selama bertahun-tahun di bawah tekanan.
Prabujangga tidak tau apakah kebiasaan di keluarganya itu juga terjadi di keluarga lain. Berbondong-bondong memiliki anak laki-laki meskipun dengan cara menghamili wanita lain setelah menikah. Dalihnya, semua laki-laki menginginkan keturunan, dan istri yang tidak bisa memberikannya dengan cepat tentu tak bisa melawan jika suami mereka menghamili wanita lain di luar pernikahan.
"Saya rasa ada tempat yang lebih pantas untuk membahas hal semacam ini selain di rumah sakit," ujar Prabujangga dingin, tak sama sekali menanggapi ucapan ayahnya.
Sementara Batra hanya diam, Prabujangga membenarkan posisi tas-tas belanjaan dan melangkah di depan sang ayah tanpa menoleh.
"Saya akan masuk lebih dulu. Istri saya sudah menunggu di dalam."
Bersambung...