NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Kencan Pertama Setelah Perceraian

Aisha menghabiskan waktu yang tidak biasa lama di depan cermin malam itu. Bukan karena ia ingin tampil sempurna, tapi karena ia tidak tahu lagi bagaimana cara berdandan untuk kencan. Sudah terlalu lama ia tidak merasakan sensasi berdebar sebelum bertemu seseorang. Sudah terlalu lama ia tidak memikirkan warna lipstik apa yang paling cocok dengan warna bajunya.

Ia memilih gaun panjang berwarna biru dongker—warna favorit Arka dulu. Rambutnya ia biarkan tergerai sedikit bergelombang, hanya sedikit hairspray agar tidak terlalu kusut. Make up tipis, hanya bedak, lipstik warna nude, dan sedikit maskara. Ia tidak ingin terlihat seperti sedang berusaha terlalu keras.

“Bu, cantik banget!”

Aisha menoleh. Baskara berdiri di ambang pintu kamar, matanya membulat kagum. Anak itu sudah berganti piyama, siap tidur meski baru pukul setengah tujuh.

“Terima kasih, Nak. Ibu mau pergi sebentar dengan Ayah. Kamu tidur dulu, ya. Tante Ningsih akan jagain kamu.”

“Iya, Bu. Aku sudah janji sama Tante Ningsih mau main monopoli.”

Aisha tersenyum. Tante Ningsih adalah tetangga sebelah, seorang janda paruh baya yang baik hati dan sering membantu Aisha menjaga Baskara ketika ia ada keperluan.

“Ibu pamit dulu, ya. Jangan begadang main monopoli, nanti besok sekolah ngantuk.”

“Iya, Bu. Bu, selamat kencan!”

Aisha tertawa. “Siapa bilang Ibu kencan?”

“Ayah bilang. Ayah telepon tadi sore. Ayah bilang mau ajak Ibu kencan.”

Aisha menggeleng, tersenyum. Arka dan mulutnya yang tidak bisa menyimpan rahasia.

---

Pukul tujuh tepat, bel pintu berbunyi. Aisha membuka pintu, dan untuk sesaat, ia merasa waktu berhenti.

Arka berdiri di ambang pintu dengan kemeja putih lengan panjang, celana bahan hitam, dan jaket tipis berwarna abu-abu. Rambutnya disisir rapi, sedikit minyak wangi yang samar tapi familiar—aroma yang dulu selalu Aisha hirup setiap malam sebelum tidur.

“Selamat malam, Aisha. Kau cantik sekali.”

Aisha tersenyum, merasakan pipinya menghangat. “Terima kasih. Kau juga... kau rapi.”

“Aku tidak mau kalah dengan penampilanmu.”

Mereka berdua tertawa kecil. Tante Ningsih muncul dari ruang tamu, menggandeng Baskara.

“Selamat malam, Bu Aisha, Pak Arka. Baskara akan saya jaga. Santai saja, jangan buru-buru pulang.”

“Terima kasih, Tante Ningsih,” kata Aisha. Ia mencium kening Baskara, lalu berjalan keluar bersama Arka.

---

Mobil Arka melaju perlama meninggalkan kompleks perumahan. Aisha duduk di kursi depan, sesekali mencuri pandang ke arah Arka yang menyetir dengan konsentrasi.

“Kita ke mana?” tanya Aisha.

“Rahasia.”

“Rahasia? Serius?”

“Kau akan lihat nanti.”

Aisha tidak bertanya lagi. Ia membiarkan Arka membawanya ke tempat yang tidak ia ketahui. Ada sensasi aneh di dadanya—campuran antara rasa penasaran dan rasa nyaman. Seperti dulu, ketika mereka masih berpacaran dan Arka sering membawanya ke tempat-tempat romantis tanpa memberi tahu sebelumnya.

Mobil berhenti di depan sebuah restoran kecil di kawasan Menteng. Restoran itu tidak terlalu besar, tapi tampak eksklusif dengan pencahayaan temaram dan taman kecil di depannya.

“Restoran ini baru buka bulan lalu. Aku sudah pesan tempat. Yang terbaik, di balkon dengan pemandangan taman.”

“Arka, ini terlalu mewah.”

“Kau pantas mendapatkan yang mewah, Aisha.”

Mereka masuk, disambut oleh pelayan yang ramah. Meja yang Arka pesan benar-benar di balkon, tepat di samping taman dengan air mancur kecil dan lampu-lampu taman yang berkelap-kelip.

Aisha duduk, memandangi pemandangan di depannya. “Ini sangat indah, Arka. Terima kasih.”

“Sama-sama, Aisha. Aku ingin malam ini spesial. Karena ini adalah kencan pertama kita setelah... setelah semuanya.”

“Kencan pertama setelah perceraian,” Aisha tersenyum pahit. “Kedengarannya aneh.”

“Memang aneh. Tapi aku tidak peduli. Yang penting kita di sini, bersama.”

---

Mereka memesan makanan—steak untuk Arka, salmon untuk Aisha, dan sebotol anggur merah meski Aisha hanya minum sedikit karena tidak terbiasa.

Percakapan mereka mengalir dengan ringan. Arka bercerita tentang proyek terbarunya, tentang vila di pinggir pantai yang sedang ia kerjakan di Lombok. Aisha bercerita tentang kateringnya yang mulai dilirik oleh beberapa kafe kecil di Jakarta.

“Kau tahu, Aisha, aku bangga padamu.”

“Bangga? Kenapa?”

“Karena kau tidak menyerah. Setelah semua yang terjadi, kau tetap bangkit. Kau memulai bisnis sendiri, kau merawat Baskara sendirian, kau bahkan masih punya hati untuk memaafkan Mia.”

Aisha menunduk. “Aku tidak sendirian. Aku punya Baskara. Aku punya kamu. Aku punya Tante Ningsih. Aku punya banyak orang yang membantu.”

“Tapi kau yang memilih untuk bangkit. Itu yang membuatku bangga.”

Aisha tersenyum. “Terima kasih, Arka. Aku juga bangga padamu. Kau berhasil melawan keluarga angkatmu, kau berhasil membantu Mia mendapatkan keadilan, kau berhasil menjadi ayah yang baik untuk Baskara meskipun kita sudah bercerai.”

Arka meraih tangan Aisha di atas meja. “Kita berdua berhasil, Aisha. Kita berdua.”

---

Setelah makan malam, mereka berjalan-jalan di taman kecil di belakang restoran. Lampu-lampu taman menerangi jalan setapak, bunga-bunga bermekaran di kiri kanan, dan air mancur kecil menciptakan suara gemericik yang menenangkan.

“Aisha, aku ingin bertanya sesuatu.”

“Apa?”

“Apa kau bahagia sekarang?”

Aisha berpikir sejenak. “Bahagia itu relatif, Arka. Aku tidak lagi sedih seperti dulu. Aku tidak lagi terjebak dalam penyesalan. Tapi bahagia? Aku tidak tahu. Mungkin aku masih dalam proses menuju ke sana.”

“Apa aku bisa menjadi bagian dari proses itu?”

Aisha berhenti berjalan. Ia menatap Arka, matanya berkaca-kaca.

“Arka, kau sudah menjadi bagian dari proses itu sejak awal. Tanpa kamu, aku tidak akan sekuat ini. Tanpa kamu, Baskara tidak akan sebahagia ini.”

“Tapi aku ingin lebih dari itu, Aisha. Aku ingin menjadi pasanganmu lagi. Aku ingin membangun rumah denganmu lagi. Aku ingin tidur di sampingmu lagi.”

Aisha menunduk. “Aku juga ingin itu, Arka. Tapi aku takut. Aku takut kita terlalu terburu-buru. Aku takut luka lama akan terbuka lagi.”

“Kita tidak perlu terburu-buru, Aisha. Kita bisa jalani perlahan. Kita bisa kencan seperti ini dulu. Kita bisa saling mengenal lagi. Tidak ada target, tidak ada tekanan.”

Aisha mengangkat wajahnya, menatap Arka. “Kau yakin ini yang kau inginkan?”

“Aku yakin. Aku belum pernah seyakin ini dalam hidupku.”

Aisha tersenyum. “Baik. Kita coba. Perlahan.”

Arka menarik Aisha ke dalam pelukannya. Mereka berdua berdiri di taman yang sunyi, di bawah sinar bulan yang temaram, di antara bunga-bunga yang bermekaran.

---

Mereka pulang sekitar pukul sepuluh malam. Baskara sudah tidur, Tante Ningsih sedang membaca majalah di ruang tamu.

“Bagaimana kencannya?” tanya Tante Ningsih sambil tersenyum.

“Menyenangkan,” jawab Aisha.

“Aku pamit pulang dulu, Tante. Terima kasih sudah menjaga Baskara.”

“Sama-sama, Pak Arka. Lain kali kencan lagi, ya. Baskara senang dijagain.”

Arka tersenyum, melambaikan tangan pada Aisha, lalu pergi. Aisha berdiri di teras, melambai sampai mobil Arka hilang di tikungan.

“Bu, Ayah pulang?” suara Baskara terdengar dari balik pintu.

Aisha masuk, menemukan Baskara berdiri di lorong dengan mata masih sayu. “Kamu tidak tidur, Nak?”

“Aku bangun mau pipis. Terus aku dengar suara Ayah.”

“Ayah baru pulang. Ibu juga baru pulang.”

“Kencannya seru, Bu?”

Aisha tertawa. “Seru, Nak. Besok Ibu cerita, ya. Sekarang kamu tidur lagi.”

Baskara mengangguk, kembali ke kamarnya. Aisha mengikutinya, menyelimutinya, lalu mengecup keningnya.

“Selamat malam, Nak.”

“Selamat malam, Bu. Aku seneng Ibu bahagia.”

Aisha tersenyum. “Ibu bahagia, Nak. Karena punya kamu.”

---

Malam harinya, Aisha tidak bisa tidur. Ia duduk di teras belakang, memandangi taman yang gelap. Pikirannya melayang ke mana-mana.

Ia teringat pada Arka, pada kencan mereka, pada kata-kata Arka tentang memulai lagi. Ia teringat pada masa lalu, pada pernikahan mereka yang hancur, pada perselingkuhan yang ia lakukan.

Apakah ia pantas mendapatkan kesempatan kedua? Apakah ia pantas dicintai lagi setelah mengkhianati cinta itu sendiri?

Ia tidak tahu. Tapi ia tahu bahwa Arka tulus. Arka tidak pernah berbohong tentang perasaannya. Arka tidak pernah setengah-setengah.

Aisha mengambil ponselnya, menulis pesan untuk Arka.

*“Arka, terima kasih untuk malam ini. Aku bahagia. Aku tidak tahu apakah kita akan bersama lagi, tapi aku tahu aku tidak ingin kehilanganmu. Sampai jumpa di kencan berikutnya. - Aisha”*

Pesan itu terkirim. Beberapa menit kemudian, Arka membalas.

*“Aku juga bahagia, Aisha. Aku tidak sabar menunggu kencan berikutnya. Tidur yang nyenyak. Mimpi indah. - Arka”*

Aisha tersenyum. Ia mematikan ponsel, memejamkan mata, dan berdoa dalam hati.

Doa untuk Baskara, untuk Arka, untuk Mia, dan untuk dirinya sendiri.

Doa untuk masa depan yang lebih cerah.

---

Keesokan paginya, Aisha bangun dengan perasaan yang berbeda. Ada semangat baru yang tidak ia rasakan sejak lama. Ia menyiapkan sarapan dengan lagu-lagu ceria, sesekali bergumam kecil.

“Bu, Ibu seneng banget pagi ini,” kata Baskara sambil mengunyah roti panggang.

“Ibu memang seneng, Nak.”

“Karena semalam kencan?”

Aisha tersenyum. “Karena banyak hal. Karena kamu, karena Ayah, karena semuanya.”

“Aku seneng Ibu seneng.”

Aisha mengusap rambut Baskara. “Ayo, habiskan sarapanmu. Nanti kita antar sepeda ke sekolah.”

“Iya, Bu!”

Mereka berangkat ke sekolah seperti biasa—Aisha mengayuh sepeda, Baskara duduk di belakang dengan tangan memeluk pinggang ibunya. Perjalanan yang sederhana, tapi penuh kehangatan.

---

Di sekolah, Aisha bertemu dengan Mira, konselor Baskara.

“Bu Aisha, selamat pagi. Ada waktu sebentar?”

“Ada, Bu. Ada apa?”

Mira membawa Aisha ke ruang konseling. “Saya hanya ingin menyampaikan bahwa Baskara menunjukkan kemajuan yang sangat pesat. Dia sudah tidak menarik diri lagi. Dia sudah mulai berinisiatif berbicara dengan teman-temannya. Nilainya juga meningkat.”

Aisha menghela napas lega. “Syukurlah. Terima kasih, Bu Mira, atas bantuannya.”

“Saya hanya melakukan tugas saya. Yang berperan besar adalah Ibu dan Bapak Arka. Dukungan orang tua sangat penting dalam proses penyembuhan anak.”

“Kami berusaha yang terbaik, Bu.”

“Dan usaha Ibu membuahkan hasil. Baskara anak yang beruntung memiliki orang tua seperti Ibu dan Bapak Arka.”

Aisha tersenyum. “Terima kasih, Bu Mira.”

---

Sepulang dari sekolah, Aisha mampir ke supermarket. Ia ingin membeli bahan-bahan untuk masakan akhir pekan. Arka akan datang, dan Aisha ingin memasak makanan favoritnya—rendang, sambal hijau, dan sayur nangka.

Di lorong sayuran, ia bertemu dengan seseorang yang tidak ia duga.

Mia.

Wanita itu berdiri di depan rak sayuran, memegang seikat wortel. Ia tidak lagi memakai kerudung, rambutnya dipotong pendek sebahu. Wajahnya masih pucat, tapi matanya lebih jernih dari terakhir Aisha lihat.

“Aisha,” Mia menyapa pelan.

“Mia. Kau... kau sudah keluar dari panti?”

“Baru kemarin. Arka yang menjemput. Aku tinggal di rumah perlindungan sementara. Tapi aku diizinkan keluar untuk berbelanja.”

“Kau sendiri?”

“Ada pendamping. Dia di luar, di mobil.” Mia menunjuk ke arah parkiran. “Aisha, aku tidak akan mengganggumu. Aku hanya ingin... aku hanya ingin mengatakan bahwa aku senang melihatmu.”

Aisha tidak tahu harus berkata apa. Ia masih ingat bagaimana Mia hampir membunuhnya. Tapi ia juga melihat perubahan di mata wanita itu. Tidak ada lagi kebencian. Hanya ketenangan yang rapuh.

“Aku juga senang melihatmu, Mia. Aku dengar kau sudah membaik.”

“Aku masih dalam proses. Tapi aku lebih baik dari dulu. Aku sudah tidak ingin menyakiti siapa pun lagi.”

“Itu kabar baik.”

Mereka berdua diam. Aisha tidak tahu harus melanjutkan percakapan atau pergi. Mia akhirnya berbicara lebih dulu.

“Aisha, aku tahu aku tidak pantas meminta apa pun. Tapi jika suatu hari nanti Baskara bertanya tentang bibinya... tolong katakan bahwa bibinya sayang padanya.”

“Aku akan sampaikan, Mia. Jika waktunya tepat.”

Mia tersenyum. Senyum yang tulus, tanpa kepalsuan. “Terima kasih, Aisha. Aku pergi dulu.”

Mia berjalan pergi, meninggalkan Aisha di lorong sayuran. Aisha memandangi punggung Mia yang semakin menjauh, lalu menghela napas panjang.

Ia mengambil wortel, kentang, dan bawang dari rak, lalu berjalan ke kasir. Pikirannya masih dipenuhi oleh pertemuan dengan Mia.

Mia berubah. Benarkah? Atau hanya pura-pura? Aisha tidak tahu. Tapi ia memilih untuk percaya bahwa orang bisa berubah. Karena ia sendiri juga berubah.

---

Malam harinya, Aisha menelepon Arka.

“Arka, aku bertemu Mia di supermarket.”

“Apa? Dia apa-apa? Dia tidak mengancammu, kan?”

“Tenang, dia baik-baik saja. Dia hanya berbelanja. Kami bicara sebentar. Dia tampak... berbeda.”

“Dia memang berbeda, Aisha. Terapi di panti rehabilitasi mengubahnya. Dia tidak lagi seperti dulu.”

“Aku lega mendengarnya.”

“Aisha, maaf aku tidak memberitahu bahwa Mia sudah keluar. Aku ingin memberitahumu, tapi aku takut kau akan cemas.”

“Tidak apa-apa, Arka. Aku tidak cemas. Aku justru lega Mia mendapatkan kesempatan kedua.”

“Kau baik sekali, Aisha. Tidak banyak orang yang bisa memaafkan seperti kau.”

“Aku tidak memaafkannya, Arka. Aku hanya tidak ingin membenci.”

“Itu sudah lebih dari cukup.”

Mereka berbincang sebentar tentang rencana akhir pekan, tentang masakan yang akan Aisha buat, tentang Baskara yang tidak sabar menunggu Arka datang. Lalu Arka pamit tidur.

Aisha mematikan lampu, membaringkan tubuh di tempat tidur. Ia memandangi langit-langit yang gelap, tersenyum kecil.

Hidup tidak sempurna. Tapi setidaknya, ia tidak lagi berjalan sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!