Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.
Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.
Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.
Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Kemenangan damian
Malam itu, kediaman mewah keluarga Nicholas yang biasanya sunyi dan mencekam seperti museum es, mendadak terasa memiliki nyawa. Pintu besar berbahan jati itu terbuka lebar, menyambut sang tuan rumah yang melangkah masuk dengan aura yang jauh berbeda dari saat ia pergi pagi tadi.
Revan yang berjalan di belakangnya hanya bisa terpana. Sepanjang kariernya menjadi asisten, ia belum pernah melihat Damian Nicholas berjalan dengan langkah seringan itu. Tidak ada lagi rahang yang mengeras atau tatapan mata yang siap membunuh siapa saja.
Damian melepas jas mahalnya dan melemparkannya begitu saja ke atas sofa kulit, sebuah tindakan tidak rapi yang sangat jarang ia lakukan. Ia berjalan menuju bar pribadinya, menuangkan sebotol whisky ke dalam gelas kristal, namun ia tidak meminumnya dengan wajah muram.
Sebaliknya, sebuah senyum tipis—senyum yang benar-benar tulus namun tetap terlihat licik—menghiasi wajah tampannya.
"Tuan Nicholas," panggil Revan hati-hati. "Laporan mengenai akuisisi Roxxfe sudah saya kirim ke email Anda. Apakah Anda ingin memeriksanya sekarang?"
Damian menyesap minumannya, lalu terkekeh pelan. "Lupakan soal kertas-kertas itu, Revan. Aku punya sesuatu yang jauh lebih berharga untuk dipikirkan malam ini."
Revan menelan ludah. Ia tahu persis apa yang dimaksud bosnya. "Maksud Anda... Nona Selene?"
Damian memutar-mutar gelas di tangannya, matanya berkilat saat mengingat kembali momen di ruangan arsip tadi. Rasa manis dan perlawanan dari bibir Selene seolah masih tertinggal di indranya. Mengetahui bahwa dirinya adalah laki-laki pertama yang menyentuh bibir pewaris Roxxfe itu memberikan kepuasan yang jauh lebih besar daripada memenangkan kontrak triliunan mana pun.
Damian berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah kota. Obsesinya tidak mereda, justru semakin meledak-ledak sekarang setelah ia tahu Selene masih "murni" dari sentuhan pria lain. Baginya, Selene sekarang bukan lagi sekadar target, melainkan harta karun yang harus ia kurung dalam sangkar emas agar tidak ada satu orang pun yang bisa melihat atau menyentuhnya.
Langkah kaki Damian yang tadinya ringan mendadak terhenti di ambang pintu ruang makan. Pemandangan di depannya menghisap habis semua kebahagiaan yang baru saja ia bawa dari pertemuannya dengan Selene.
Di sana, di meja makan panjang yang diterangi lilin-lilin mahal, sang ibu duduk dengan anggun namun tatapannya setajam belati. Dan di sampingnya, duduk Clarissa—gadis yang ayahnya baru saja ia permalukan di ruang rapat—tampak tersenyum manis dengan gaun merah yang mencolok.
"Kau pulang juga akhirnya, Damian," suara ibunya terdengar tenang, namun ada nada ancaman yang tidak bisa dibantah.
Damian mengerutkan kening, rahangnya kembali mengeras. "Apa-apaan ini, Ibu? Aku baru saja menyelesaikan kontrak besar. Aku butuh istirahat, bukan makan malam kencan yang tidak berguna ini."
Ibunya berdiri perlahan, mendekati Damian, dan berbisik tepat di telinganya dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Jangan membantah kali ini, Damian. Jika kau berani melangkah keluar dari ruangan ini atau mempermalukan Clarissa lagi, aku bersumpah akan memotong urat leherku sendiri di depan matamu. Kau tahu aku tidak pernah main-main dengan ucapanku."
Damian terdiam. Ia mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Ia tahu ibunya adalah satu-satunya orang yang sama gilanya dengan dirinya jika sudah menyangkut harga diri keluarga. Ancaman itu bukanlah gertakan sambal.
"Duduk," perintah ibunya dingin.
Damian menarik kursi dengan kasar, menciptakan suara decitan yang memilukan di lantai marmer. Ia duduk di hadapan Clarissa tanpa sedikit pun niat untuk tersenyum.
"Hai, Damian," sapa Clarissa dengan suara yang dibuat selembut mungkin. "Selamat atas kerja sama barumu dengan Roxxfe Corp. Ayahku bilang kau sangat... impresif hari ini."
Damian hanya menatap Clarissa dengan pandangan merendahkan. Di kepalanya, ia justru membandingkan gadis di depannya ini dengan Selene. Clarissa tampak seperti boneka porselen yang membosankan, sementara Selene adalah api yang membara.
"Makan saja makananmu. Jangan banyak bicara," jawab Damian ketus.
"Damian!" tegur ibunya tajam.
"Apa? Aku sudah duduk di sini sesuai keinginanmu, bukan?" Damian menyambar gelas wine-nya dan meminumnya dalam satu tegukan besar. Pikirannya melayang pada Selene. Ia merasa jijik harus duduk di sini bersama Clarissa sementara bibirnya masih bisa merasakan sisa rasa dari ciuman pertamanya dengan Selene sore tadi.
Setiap detik di meja makan itu terasa seperti siksaan bagi Damian. Ia merasa seperti pengkhianat. Di saat ia baru saja menandai Selene sebagai miliknya, ia justru terpaksa duduk dalam kencan yang diatur ibunya.
Sialan, batin Damian geram.