Iago Verbal tiba di Citywon, ibu kota Cirland, dengan niat sederhana: mencari pekerjaan dan memulai hidup baru. Namun, kota megah yang awalnya menjanjikan ketenangan itu justru menyimpan bayang-bayang masa lalunya yang hilang.
Secara bertahap, kilasan ingatan yang terpecah-pecah kembali menghantuinya, diikuti kehadiran orang-orang misterius yang mengaku mengenalnya, termasuk putri kerajaan yang penuh curiga dan organisasi bawah tanah yang mengerikan.
Iago pun terseret dalam pusaran konspirasi dan kekerasan, memaksanya menyadari satu
kebenaran yang mengerikan: identitas aslinya bukanlah pemuda desa yang polos, dan kedatangannya ke kota ini mungkin bukanlah sebuah kebetulan, melainkan tahap terakhir dari rencana gelap yang bahkan ia sendiri sudah lupa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Master
Mendengar perkataan Tuannya, mata Otto seketika sedikit melebar. Hatinya berdebar kencang di dalam rongga dada. Dia melihat orang yang dipujanya kembali bukan hanya dalam ingatan yang terpecah, tapi dalam esensi sejatinya.
"Memanfaatkannya?" ulang Otto. "Bagaimana caranya, Master? Apa yang harus saya lakukan?"
"Sebelum kita membahas itu lebih dalam," ucap Iago, "ada beberapa hal yang perlu kuketahui lebih dulu."
"Oh, tentu saja, Master. Silakan tanyakan apa pun pada saya."
Iago diam sejenak, matanya yang hitam dan dalam beralih ke jendela berkabut di samping mereka. Salju masih turun lembut, menari-nari dalam cahaya kuning dari jendela. "Bagaimana hubunganmu dengan Putri Stella saat ini? Sejauh apa kepercayaannya padamu?"
"Tidak buruk, Master. Bahkan bisa dibilang... cukup baik." Otto berpikir sejenak, mengingat-ingat. "Saat itu, setelah insiden dengan Lavernus, aku menghabiskan waktu cukup lama dengannya di tempat ini. Kami duduk, minum, dan banyak mengobrol."
"Ngobrol?" Iago mengalihkan pandangannya kembali ke Otto. "Tentang apa?"
Saat Otto membuka mulut untuk menjawab, suara langkah kaki berat dan berderit terdengar mendekat di lantai kayu kedai yang sudah usang. Pemilik kedai, pria tua dengan wajah keriput, muncul dari balik tirai asap tebal dengan nampan di tangan yang gemuk. Di atas nampan itu, dua gelas tinggi berisi sari apel, butiran-butiran air mengalir di sisi kaca.
"Ini dia, nak," ucap pria itu, meletakkan gelas-gelas itu di atas meja dengan hati-hati. "Sari apel terbaik di seluruh Citywon."
Iago segera memasang senyuman ramah. "Terima kasih banyak, Pak."
"Sama-sama." Pria tua itu tidak segera pergi seperti yang mereka harapkan. Dia berdiri di sana, mengusap-usap tangannya yang kasar di apron kotor penuh noda, matanya berayun antara Iago dan Otto dengan rasa penasaran yang jelas sekali tak bisa disembunyikan. "Ngomong-ngomong... kalian berdua sudah temenan dari lama, ya? Kok baru sekarang kelihatan bersama?"
Tepat setelah pertanyaan yang tidak terduga itu meluncur dari mulut si tua, senyuman di wajah Iago nyaris retak. "Ya, Pak. Kami sudah kenal sejak kecil. Seperti saudara. Hanya saja... sering berpisah karena urusan masing-masing."
"Kalau begitu," lanjut si tua, mendekatkan wajahnya, "kau pasti sudah tahu soal 'bakat' temanmu ini dari dulu, dong?" Dia menoleh ke arah Otto.
Iago berhenti sejenak.
Tidak lama kemudian, Iago menjawab, "Ya, saya tahu betul, Pak. Dan justru itu yang membuat saya khawatir. Kekuatannya... terkadang sulit dikendalikan. Saya selalu takut dia akan terlibat masalah besar suatu hari nanti."
Mendengar perkataan itu, pemilik kedai tiba-tiba tertawa keras. Bukan tawa kecil atau terkekeh, tapi terbahak-bahak yang keras dan menggema di sudut kedai, membuatnya harus memukul-mukul meja kayu beberapa kali dengan telapak tangannya yang lebar untuk menahan diri.
Gelas-gelas sari apel bergetar hebat, sebagian isinya tumpah membasahi permukaan meja yang sudah basah. Suara tawanya yang nyaring menarik perhatian beberapa pelanggan di sekitar, yang menoleh dengan ekspresi bingung atau ikut tersenyum melihat keributan kecil itu. Iago dan Otto saling bertukar pandang cepat.
"Haha, astaga, Nak..." kata pria itu di sela-sela tawanya yang masih belum reda. "Maaf, maaf... Aku tidak menyangka kau akan berkata seperti itu. Sungguh tidak menyangka!"
"Ada yang salah, Pak?" tanya Iago.
"Tidak, tidak sama sekali! Justru sebaliknya." Pria tua itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Hanya saja... lucu sekali, ya. Melihat seorang teman yang justru khawatir dengan kekuatan temannya sendiri, bukan malah iri atau takut. Tapi kau... khawatir seperti orang tua yang melindungi anaknya." Dia terkekeh lagi, menggeleng.
Iago mengeluarkan tawa kecil. "Anda punya selera humor yang unik, Pak."
"Haha, terima kasih kembali, nak. Tapi yang bikin saya penasaran sekarang," lanjut si tua, nada bicaranya berubah menjadi lebih serius, dan dia menatap Otto, "bagaimana sih caranya dia bisa menjadi sekuat itu? Latihan dari mana? Siapa gurunya?"
Otto, yang kini merasa harus ikut berbicara, kini menjawab, "Yah, latihan keras setiap hari, Pak. Tidak ada rahasia khusus, hanya disiplin dan tekad."
"Begitu..." Gumam pria tua itu, sepertinya tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban sederhana itu, tapi memilih untuk tidak mendesak lebih jauh.
Tiba-tiba, dari seberang ruangan, seorang pelanggan dengan suara serak dan keras berteriak meminta tambahan bir dengan nada tidak sabar. Pemilik kedai menoleh cepat dan melambai, "Sebentar, sebentar, sabar!" Lalu dia berbalik lagi pada Iago dan Otto. "Baiklah, selamat menikmati minuman kalian berdua. Kalau butuh apa-apa lagi, tinggal panggil saja."
Setelah pria tua itu akhirnya berjalan pergi, menyusuri lorong sempit di antara meja-meja yang penuh sesak, suasana di meja pojok yang gelap itu kembali mencekam. Senyuman ramah di wajah Iago menghilang seketika.
"Mengenai rencanaku," ucap Iago, suaranya kembali rendah dan fokus. "Pertanyaan intinya sekarang: apa kau bisa mendekati Putri Stella lagi, Otto? Bisa mendapatkan akses yang lebih dalam ke kehidupannya? Kepercayaan yang lebih besar dari sekadar kenalan biasa?"
Otto diam sejenak, mempertimbangkan dengan sangat serius. Ingatannya kembali pada sore itu di kedai yang sama, pada nada bicara Stella yang hangat namun waspada, pada caranya memandang 'Steve' dengan rasa ingin tahu. "Bisa, Master. Saya yakin bisa. Dia sudah mulai membuka diri. Itu hanya masalah waktu."
"Bagus." Iago sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua tangannya bertemu dan bertumpuk di atas meja kayu yang basah. Cahaya lilin yang redup dan berkedip menerangi separuh wajahnya dari bawah. "Sekarang, sebelum kita melangkah lebih jauh... beritahu aku semuanya. Rencanaku yang lama. Apa yang sebenarnya ingin kucapai? Apa tujuan utamaku?"
Otto menarik napas dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan udara pengap kedai. "Baik, Master. Akan kusampaikan sejujurnya. Tapi... harus saya akui, kami—seluruh anggota Organisasi IV—tidak pernah sepenuhnya mengerti rencana Anda secara detail. Anda selalu... misterius dalam hal itu, menyimpan peta utama hanya untuk diri sendiri."
Iago mengerutkan kening, garis-garis halus muncul di dahinya. "Lalu? Apa yang kalian ketahui?"
"Yang kami ingat dengan jelas, hanyalah satu pernyataan Anda. Diucapkan saat Anda pertama kali berhasil menyatukan kami semua." Otto menatap lurus ke dalam mata Iago. "'Keruntuhan Cirland akan terjadi dalam beberapa tahun lagi. Itu sudah pasti. Dan ketika hari itu tiba, Organisasi IV harus ada di posisi terdepan. Kita akan mengambil kesempatan emas itu, dan kita akan membangun sesuatu yang baru.'"
Tepat setelah kata-kata terakhir itu meluncur dari mulut Otto, sebuah sengatan listrik yang tajam dan menyakitkan menusuk kepala Iago tepat di tengah.
"Arrghh..."
Kedua tangannya melompat secara refleks ke pelipisnya, mencengkeram rambut hitamnya sendiri dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia membungkuk dalam-dalam di atas meja, menutup matanya rapat-rapat, otot-otot di rahangnya menegang.
Rasa sakit yang familiar itu datang lagi, seperti ribuan pecahan kaca tajam yang berputar dan menusuk dari dalam tengkoraknya, merobek-robek kesadarannya.
"Ma-Master?!" Otto sedikit melompat dari kursinya. "Master, apa yang terjadi?!"
"Sial... rasa sakit ini datang lagi..." Iago mendesis di antara gigi yang gemertak keras, suaranya tercekat. "Sial... sial, kenapa sekarang?!"
"Apa Anda bisa menahannya? Haruskah saya panggilkan bantuan, cari dukun atau tabib?!" Otto sudah setengah berdiri, matanya liar mencari pertolongan.
"T-tidak... jangan... tenang saja, Otto... ini... akan berlalu sebentar lagi..." Iago menggigit bibirnya hingga hampir berdarah, berusaha sekuat tenaga menahan erangan kesakitan yang ingin meledak dari tenggorokannya.
Tapi kali ini, rasa sakitnya tidak hanya berhenti di fisik. Dunia di sekelilingnya—suara ramai kedai, hangatnya api perapian, kekhawatiran di wajah Otto—semuanya memudar, lenyap.
Suara-suara di kedai menghilang, diredam oleh kekuatan yang tak terlihat. Dia terlempar dengan paksa ke dalam sebuah ruang hampa yang gelap gulita dan sunyi senyap—sangat sunyi hingga satu-satunya suara yang bisa didengar adalah detak jantungnya sendiri yang bergemuruh di telinga.
"Di... di mana aku?" suaranya sendiri bergema aneh di kekosongan yang tak terbatas itu. "Otto! Di mana kau?!"
Ya, ya, ya... akhirnya kau kembali ke sini.
Suara itu muncul lagi. Bukan dari luar, tapi dari dalam kepalanya sendiri. Sebuah bisikan halus dan penuh dengan kepuasan yang mengerikan.
Lihatlah... akhirnya kau kembali. Siapa yang akhirnya kembali ke tempat seharusnya.
Iago membeku di tempat, tubuhnya tidak bisa bergerak. "Kau... suara yang waktu itu... di losmen..."
Sayang sekali, Iago. Sayang sekali. Hanya sebagian kecil dari dirimu yang kembali. Potongan yang lemah, yang ragu-ragu, yang penuh belas kasihan tak berguna itu. Bukan aku.
"Apa maumu sebenarnya?!" teriak Iago dalam pikirannya, berputar-putar panik di tengah kegelapan yang tak berujung, mencari sumber suara yang tak ada.
Mauku? Suara itu tertawa. Sudah jelas, bodoh. Aku ingin terbebas dari penjara kesadaranmu yang setengah matang ini. Aku ingin mengembalikan Iago yang seutuhnya. Iago yang tidak pernah ragu, yang selalu tahu apa yang harus dilakukan.
Apakah ini... halusinasi akibat tekanan? batin Iago, berusaha keras berpikir logis meski tenggelam dalam teror yang mencekik. Atau ini lebih dari itu?
Tiba-tiba, tanpa peringatan, dari kegelapan yang pekat, puluhan—ratusan, bahkan ribuan—panel kaca raksasa muncul entah dari mana, berputar dengan kecepatan gila di sekelilingnya.
Setiap panel memantulkan wajahnya sendiri, tapi dengan ekspresi yang sangat berbeda: ada yang dingin dan tak berperasaan, ada yang marah dengan mata merah, ada yang tertawa gila dengan mulut menganga, ada yang berlumuran darah dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Mereka bergerak mendekat, mendesaknya dari segala arah, membentuk badai kaca yang mengerikan dan mematikan. Dan dengan kekuatan dahsyat yang tak tertahankan, mereka melemparkan Iago ke dalam pusaran itu. Dia terlempar, jatuh bebas, tanpa henti, tanpa akhir, ke dalam jurang tanpa dasar yang gelap.
Saat dia hampir menyerah, hampir pasrah akan nasibnya yang terperangkap selamanya dalam mimpi buruk yang tak berujung ini...
Bangun.
Dunia gelap yang mengerikan itu memudar dengan cepat. Iago membuka matanya dengan tersentak keras. Pandangannya kabur, tak fokus, lalu perlahan-lahan mulai fokus pada permukaan meja kayu yang kasar, basah oleh tumpahan sari apel dan bekas gelas. Dia menyadari kepalanya bersandar berat di atas lengannya yang mati rasa, dan bahunya sedang digoyang-goyang dengan kuat dan panik.
"Master! Master!" suara Otto terdengar panik setengah mati.
"Otto...?" Iago mengangkat kepalanya perlahan, terasa sangat berat.
"Ya, ini saya, Master! Anda tidak apa-apa?! Anda tiba-tiba pingsan, jatuh begitu saja!"
"Sudah... sudah berapa lama?"
"Hanya sekitar satu menit atau lebih, Master. Tapi saya benar-benar khawatir. Wajah Anda pucat sekali."
Kemudian Iago duduk tegak di kursinya dengan susah payah, mengusap wajahnya yang pucat dan dingin dengan tangan yang masih gemetar hebat. Tatapannya kosong, menerawang ke suatu tempat yang tak terlihat.
Melihat Tuannya sudah sadar sepenuhnya dan mulai bernapas normal, Otto akhirnya menghela napas lega yang panjang dan kembali duduk di kursinya. "Apa... apa Anda mendapat ingatan baru lagi, Master?" tanyanya pelan, sambil meraih gelas sari apelnya yang masih penuh dan meneguknya dalam-dalam.
"Mungkin," ucap Iago, suaranya serak dan parau. Matanya yang lelah tertuju pada gelas sari apelnya sendiri yang masih penuh. "Atau... mungkin sesuatu yang lain." Dia menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak penting sekarang. Fokus, Otto. Itu adalah misi utamamu sekarang."
"Misi?" Otto mencondongkan tubuh ke depan. "Maksud Master, mendekati Putri Stella lebih dalam?"
"Ya. Tapi pertama, beri tahu aku satu hal penting. Di mana anggota Organisasi IV yang lain saat ini?"
Pertanyaan itu membuat Otto, yang baru saja hendak meneguk sari apelnya lagi, hampir tersedak. Dia cepat-cepat menelan dengan susah payah. Ekspresi wajahnya yang tadinya tenang berubah menjadi canggung dan tidak nyaman.
"Yah, itu..." dia mulai, menghindari tatapan tajam Iago dengan melihat ke meja.
"Kenapa? Ada masalah dengan mereka?" tekan Iago.
"Saya... saya sekarang sudah keluar dari organisasi, Master." Otto akhirnya mengaku, memalingkan wajahnya. "Eldric, si pemimpin sementara yang pengecut itu... dia tidak mau mengambil risiko sedikit pun. Dia menolak mentah-mentah ide untuk memanfaatkan keretakan yang mulai terjadi antara Kerajaan dan Gereja. Dia bilang lebih baik menunggu Anda kembali. Dan saat saya bersikeras, saat saya menentangnya... dia mengancam akan menganggap saya musuh dan membunuhku jika perlu."
"Begitu," ucap Iago, hanya satu kata singkat. Tapi di balik kata yang sederhana itu, Otto bisa merasakan roda-roda berpikir yang berputar dengan kecepatan tinggi di dalam kepala Tuannya. "Baiklah. Aku mengerti."
Iago meraih gelas sari apelnya, meminumnya habis dalam satu tegukan panjang dan memuaskan. Cairan dingin itu menyegarkan kerongkongannya yang kering. "Besok," ucapnya setelah meletakkan gelas kosong itu dengan bunyi thuk di atas meja, "kau akan mulai menjalankan misimu. Dekati Stella. Dapatkan kepercayaannya sepenuhnya. Jadilah orang yang dia andalkan."
Otto sekarang duduk lebih tegak di kursinya, punggungnya lurus. "Baik, Master. Saya akan berusaha semaksimal mungkin. Saya tidak akan mengecewakan Anda."
Iago mengangguk puas, lalu pandangannya yang tajam kembali melayang ke luar jendela, di mana salju putih terus menghiasi malam yang sunyi dengan diam-diam, menari-nari lembut di kegelapan.