NovelToon NovelToon
THE ARCHIVIST

THE ARCHIVIST

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Spiritual / Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Runtuhnya Raksasa Keputusasaan

Lokasi: Rooftop Menara Manggala, Jakarta Timur.

Waktu: 00.02 WIB (Puncak Badai).

Raksasa beton setinggi empat meter itu melangkah maju. Setiap pijakannya membuat atap gedung bergetar hebat, meretakkan lantai semen yang sudah lapuk dimakan usia.

Sang Pemakan kini bukan lagi entitas abstrak yang bersembunyi di balik layar ponsel. Ia meminjam material kota ini—beton, aspal, dan jalinan kabel baja berkarat—sebagai pelindung fisik untuk wujud spiritualnya yang sedang sekarat karena Vaksin Infrasound Sarah.

Di bagian dada raksasa itu, di sela-sela rusuk yang terbuat dari balok beton, terlihat bongkahan energi merah menyala yang berdenyut seperti jantung yang sedang marah. Itulah intinya.

“KALIAN… MENGAHNCURKAN… KERAJAANKU…” suara raksasa itu bukan lagi telepati, melainkan gesekan suara material fisik. Terdengar seperti pilar jembatan yang runtuh berpadu dengan jeritan logam.

Monster itu mengayunkan lengan kanannya—sebuah pilar beton seberat setengah ton—menyapunya mendarat ke arah Dimas dan Sarah.

“Awas!” Dimas mendorong bahu Sarah.

Mereka berdua berguling ke arah yang berlawanan. Lengan beton itu menghantam tiang penangkal petir di tengah atap hingga bengkok dengan suara dentuman memekikkan telinga. Bunga api memercik di tengah hujan.

Sarah bangkit bertumpu pada satu lutut. Ia mengganti magasin pistol SIG Sauer-nya dengan magasin bergaris merah—peluru Armor Piercing Explosive (Penembus Baja Peledak) yang tersisa dari Gunung Padang.

“Dim! Fisiknya murni batu dan besi! Trisulamu bakal patah kalau dihantam langsung!” Teriak Sarah menembus deru badai.

“Aku tahu!” Dimas bangkit, memindahkan Trisula pusaka itu ke tangan kirinya karena tangan kanannya nyaris lumpuh total akibat luka bakar Lemuria. “Fokus ke pelindung dadanya! Kupas kulit betonnya! Aku butuh celah buat jantung merah itu!!”

“Dimengerti!!”

Sarah membidik dengan presisi klinis.

DOR! DOR! DOR!

Tiga peluru peledak melesat menembus hujan, menghantam tepat di pelat beton bagian dada sang monster.

BLAAAR! Ledakan kecil menghancurkan lapisan luar beton itu, memuntahkan kerikil tajam ke segala arah. Namun, di baliknya, jantung merah itu masih terlindungi oleh anyaman kabel baja tebal (wire rope) yang melilit erat seperti tulang rusuk.

Monster itu menoleh ke arah Sarah. Mata baranya menyala terang. Ia meraup puing-puing aspal basah di lantai, lalu melemparkannya ke arah Sarah seperti tembakan shotgun raksasa.

“SARAH!”

Dimas melesat ke depan istrinya. Ia memutar Trisula-nya dengan kecepatan luar biasa membentuk baling-baling pelindung digerakkan oleh sisa-sisa tenaga dalam (Chi) di tubuhnya.

TRANG! TRANG! TRANG!

Bongkahan aspal dan besi berkarat itu menghantam putaran Trisula, pecah menjadi debu. Namun dampak kinetiknya terlalu besar. Dimas terdorong mundur hingga sepatunya terseret setengah meter di lantai yang licin, punggungnya menabrak dada Sarah.

Dimas terbatuk memuntahkan darah segar. Tenaga dalamnya sudah menyentuh titik nol.

“Dimas!” Sarah menahan tubuh suaminya agar tidak rubuh. “Kita butuh daya tembus yang lebih besar. Peluruku nggak bisa motong kabel baja pelindung jantungnya!”

Dimas mendongak, melihat langit Jakarta yang sedang mengamuk. Kilat sambar-menyambar menerangi awan hitam, disusul suara guntur yang menggetarkan dada. Ia lalu melihat tiang penangkal petir yang tadi dibengkokkan oleh monster itu.

Sebuah ide gila melintas di benak sang Profesor Sejarah.

“Sar,” napas Dimas tersengal, ia menatap istrinya dengan sorot mata nekat. “Dulu, waktu perang tanding lawan dukun-dukun ilmu hitam, leluhur kita pakai alam sebagai senjata utama. Kita punya badai petir malam ini.”

“Kamu mau mancing petir?!” Sarah membelalak. “Kamu bisa hangus jadi abu!”

“Aku bakal pakai Trisula ini sebagai konduktor. Aku butuh kamu bikin celah di kabel baja dada monster itu, sedetik sebelum petir menyambar.” Dimas mencengkeram Trisula-nya dengan kedua tangan sekarang, mengabaikan rasa sakit yang merobek saraf lengan kanannya. “Beri aku bukaan.”

Sarah menelan ludah. Ia tahu tidak ada waktu untuk berdebat. Sang Pemakan sudah mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, bersiap menghantamkan kedua pilar beton itu untuk meratakan seluruh area tempat mereka berdiri.

Sarah membuang pistolnya. Ia meraih tas koper pelicannya, merogoh bagian dasarnya, dan mengeluarkan seutas Kawat Detonator dan sebongkah C4 (Peledak Plastik) terakhir miliknya.

Sarah berlari lurus ke arah raksasa itu, menantang maut.

“MATIII!” Raung raksasa itu, menurunkan kedua tangannya dengan kekuatan penuh.

Sarah melakukan sliding (meluncur) di atas genangan air hujan, melewati celah di antara kedua kaki monster beton itu tepat sedetik sebelum tinju raksasa itu menghantam lantai.

CRAAAASSHHHH!

Lantai beton atap hancur berkeping-keping.

Dari belakang monster itu, Sarah melompat memanjat punggung berbatu sang raksasa. Ia menancapkan ujung pisau taktisnya ke sela-sela beton untuk berpegangan, lalu menempelkan blok C4 tepat di pangkal leher/bahu monster tersebut, di titik penyambung kabel baja yang melindungi dadanya.

Sarah memasang detonatornya, lalu menendang tubuh monster itu untuk melompat mundur sejauh mungkin.

“DIM! SEKARANG!” Sarah berteriak sambil menekan tombol pelatuk di tangannya.

DUUUAAAARRRR!!!

Ledakan dahsyat di area bahu sang raksasa membuat makhluk itu terhuyung ke depan. Anyaman kabel baja yang melindungi jantung merah di dadanya terputus dan terbuka lebar karena daya ledak yang dirancang untuk membongkar struktural.

Inti jantung merah Lemuria itu kini terekspos tanpa pelindung.

Di saat yang sama, Dimas sudah berlari menyongsong raksasa yang terhuyung itu.

Ia memejamkan mata, memanggil ajian pamungkas yang paling berbahaya bagi penggunanya: Aji Gelap Ngampar (Mantra Pemanggil Petir).

“Hong ilahi… Sang Hyang Bayu… Sang Hyang Gelap… Jumeneng ing ragaku!” Dimas melompat ke udara, menginjak puing beton yang bertebaran untuk mendapatkan ketinggian. Ia mengangkat Trisula berkarat itu tinggi-tinggi, menunjuk lurus ke arah awan badai.

Aura keemasan meledak dari tubuh Dimas, menciptakan medan magnet statis yang luar biasa kuat. Rambut Sarah berdiri tegak karena listrik statis di udara.

Langit merespons.

Sebuah kilat biru-putih raksasa membelah awan, menyambar turun dengan kecepatan 300.000 kilometer per detik, dan menghantam tepat di ujung Trisula Dimas.

“AAARGGGGHH!!” Dimas menjerit saat jutaan voltase listrik alam mengalir masuk ke dalam senjata pusakanya, dipadukan dengan energi Chi murninya agar tubuhnya tidak hangus terbakar. Trisula berkarat itu kini menyala putih menyilaukan bak tombak cahaya dewa.

Di titik puncak lompatannya, berhadapan langsung dengan dada monster yang terbuka, Dimas menusukkan Trisula bermuatan petir itu lurus ke jantung merah Sang Pemakan.

CRAAATTT!!

Tiga mata tombak Trisula menembus jantung entitas purba itu.

Waktu seolah berhenti sedetik.

Lalu, energi petir meledak dari dalam tubuh sang raksasa. Listrik biru menyebar melalui kabel-kabel baja dan susunan beton tubuhnya.

“TIDAAAKKK… KITA AKAN… KELAPARAN… LAGI…” suara jeritan terakhir Sang Pemakan menggema ke seluruh langit Jakarta Timur, menyayat hati namun sekaligus melegakan.

Jantung merah itu retak, lalu hancur berkeping-keping menjadi serpihan cahaya.

Kehilangan inti spiritualnya, hukum fisika kembali mengambil alih. Tubuh raksasa beton setinggi empat meter itu kehilangan daya rekat gaibnya. Makhluk itu runtuh menjadi tumpukan puing batu, debu semen, dan besi rongsokan dalam sekejap mata. BRUK.

Dimas terlempar ke belakang akibat gaya tolak ledakan tersebut. Ia jatuh keras di atas genangan air, berguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti di dekat pintu atap. Trisula di tangannya berasap dan kehilangan pendarannya.

Badai petir seketika mereda. Awan hitam yang tadi berputar di atas Menara Manggala buyar, menampakkan cahaya pucat rembulan yang menyinari atap yang hancur itu.

Hening. Hanya terdengar suara rintik hujan sisa badai.

“Dimas…”

Sarah tertatih-tatih mendekati suaminya. Wajahnya cemong oleh mesiu, seragamnya robek. Ia menjatuhkan dirinya di samping Dimas, langsung memeriksa denyut nadi di leher suaminya.

Denyutnya lemah, tapi ritmis.

Dimas perlahan membuka matanya. Kacamata minusnya sudah entah kemana, wajahnya penuh goresan luka. Ia melihat Sarah yang bernapas lega diatasnya.

“Gimana… rambutku…” bisik Dimas dengan suara serak, mencoba tersenyum di balik rasa sakit yang meremukkan tulang. “Mekar kayak kesetrum nggak?”

Sarah tertawa pelan, tawa yang diiringi air mata kelegaan. Ia menunduk dan mencium kening suaminya yang kotor oleh debu aspal.

“Rambutmu aman, Profesor. Tapi jatah cuti kita harus ditambah sebulan,” bisik Sarah.

Dimas menoleh ke arah tumpukan puing di tengah atap. Jaringan Internet di Jakarta telah bersih. Epidemi hitam itu telah dimusnahkan. Menara Manggala kembali menjadi seonggok beton mati yang tak berbahaya.

Malam itu, “Vaksin Infrasound” dan “Petir Nusantara” menjadi saksi bisu kemenangan umat manusia atas parasit yang bersembunyi di balik layar digital.

EPILOG: Lima Hari Kemudian.

Lokasi: Markas Bawah Tanah BPCBAN, Jakarta.

Waktu : 10.00 WIB.

Ruang medis BPCBAN bernuansa putih bersih. Di atas ranjang perawatan, Dimas sedang duduk membaca tumpukan arsip baru sambil menggunakan sling (gendongan) untuk lengan kanannya yang patah dan mengalami luka bakar.

Televisi layar datar di sudut ruangan menyala, menyiarkan berita pagi.

”… Fenomena aneh terjadi di Jakarta awal pekan ini, di mana tren tingkat bunuh diri dan panggilan krisis depresi turun drastis secara tiba-tiba ke angka terendah dalam dekade terakhir. Para psikolog menyebutnya sebagai ‘Anomali Kesadaran Massal’…”

Sarah masuk ke dalam ruangan, membawa dua cup kopi dari kafe favorit mereka. Ia sudah mengenakan jas lab putihnya yang rapi, meski masih ada plester luka di pelipisnya.

“Dunia balik jadi normal, dan ilmuwan bingung cari alasan logisnya,” Sarah tersenyum, menyerahkan segelas kopi ke Dimas. “Itu bagian favoritku dari pekerjaan ini.”

“Gimana kondisi anak SMA itu? Rara?” Dimas menyesap kopinya pelan.

“Dia baik,” Sarah duduk di tepi ranjang Dimas. “Aku nge-hack jadwal sekolahnya sedikit, masukin dia ke program konseling unggulan dengan beasiswa penuh yang didanai BPCBAN secara diam-diam. Ibunya juga kita bantu modal usaha. Dia nggak akan merasa ‘nggak berguna’ lagi.”

Dimas tersenyum lega. Kemenangan mereka bukan sekedar membunuh monster itu, tapi benar-benar memulihkan hidup seseorang.

Tiba-tiba, pintu geser otomatis terbuka.

Arya Baskara (Kakak Dimas, mantan protagonis utam) melangkah masuk dengan santai, mengenakan kemeja kasual dan celana kargo. Ia melempar sebuah kotak perak berlapis timbal ke atas meja di depan Dimas.

“Pagi, pahlawan kesiangan,” sapa Arya santai, gaya khasnya tidak pernah berubah. “Gue denger lo abis main petir di atap gedung mangkrak. Gaya lo udah kayak Thor kearifan lokal aja, Dim.”

Dimas mendengus. “Ngapain kesini, Mas? Bukannya lo lagi cuti momong anak?”

“Gue emang lagi momong anak, sampai orang-orang divisi riset manggil gue buat ngecek ‘sampel’ yang kalian bawa dari reruntuhan Menara Manggala,” Arya menunjuk kotak perak itu dengan dagunya.

Sarah mengerutkan kening. “Sampel apa? Monster itu kan sudah hancur jadi abu.”

“Intinya hancur, iya. Tapi waktu Dimas nusuk jantungnya pakai Trisula, ada sisa memory core (inti memori) dari kristal Lemuria yang menempel di besi tombak itu,” jelas Arya. Wajahnya kini berubah serius.

Arya menekan tombol di sisi kotak perak itu. Tutupnya terbuka, memancarkan proyeksi hologram kecil berwarna kebiruan ke udara.

Proyeksi itu bukan aksara atau mantra. Itu adalah sebuah Peta Topografi Bawah Laut.

“Sang Pemakan, sebelum dia musnah, sempat ngirim semacam ‘Pesan Darurat’ ke pangkalan utamanya,” kata Arya sambil menunjuk titik koordinat merah yang berkedip di peta hologram tersebut.

Dimas memajukan wajahnya, memicingkan mata melihat titik merah itu.

“Ini… bukan di daratan. Ini di tengah-tengah perairan dalam,” gumam Dimas. “Koordinat ini ada di Laut Banda.”

“Tepat,” Arya melipat lengan di dadanya. “Saranjana itu cuma gerbangnya. Gunung Padang itu cuma kuncinya. Dan Sang Pemakan itu cuma ‘Anjing Penjaga’-nya. Kalian baru aja ngebangunin Tuannya.”

Sarah menoleh ke arah Dimas, lalu menghela napas panjang sambil memijat pangkal hidungya.

“Dim,” kata Sarah pasrah namun dengan senyum tipis. “Kayaknya kita harus cancel tiket liburan ke Bali.”

Dimas menatap peta bawah laut itu, matanya kembali menyala dengan rasa penasaran yang tak bisa dipadamkan. Insting Sang Pengarsip telah bangkit kembali.

“Bali terlalu ramai, Bu Dok,” Dimas membalas senyum istrinya. “Gimana kalau kita diving di Laut Banda aja? Aku dengar terumbu karangnya cantik… dan katanya ada istana Lemuria yang tenggelam di sana.”

Kamera fiktif menjauh perlahan, meninggalkan pasangan suami-istri paling mematikan dan paling cerdas di Nusantara itu menatap peta baru mereka, bersiap terjun ke dalam misteri yang lebih dalam, lebih gelap dan lebih kuno dari sebelumnya.

1
NP
Agak berat petualangan Dimas dan Sarah nih, kak. Maklum sama sama ilmuwan..
Felycia R. Fernandez
Petualangan baru dimulai...
NP
Iya betul yg dulu di rempah sang waktu,
Felycia R. Fernandez
Arya ini yang jadi raja dulu kan?
Felycia R. Fernandez
😅😅😅😅😅
Felycia R. Fernandez
lah,Sarah malah kenak
Felycia R. Fernandez
🤣
NP
Suami istri yang suka berpetualang menghadapi hal hal mistis
Felycia R. Fernandez
😆😆😆😆😆
Felycia R. Fernandez
ya ampun,luar biasa suami istri ini
Felycia R. Fernandez
kok ngeri ya 😳
Felycia R. Fernandez
wow 😳
Akbar Aulia
kurang.....kurang......kurang.....kurang banyak thor upnya
Felycia R. Fernandez
pernah denger,tapi blom tau gimana kota nya kk...😆😆😆
NP
Makasih ya Kak, Nusantara Üniverse menanti selanjutnya 🤣
Akbar Aulia
,iya kak ,ceritanya seru
Akbar Aulia
nanti kalo sampai kabari aku ya, semoga tidak ada halangan
Akbar Aulia
terimakasih thor sudah membuat cerita yg bagus sekali, semangat terus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!