NovelToon NovelToon
DUKA BARU LUKA LAMA

DUKA BARU LUKA LAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Konflik etika / Tamat
Popularitas:822
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Tanah yang Menangis

Mereka berangkat subuh, saat Jakarta masih terlelap dalam sisa-sisa malam.

Arsya yang menyetir. Mobilnya—sebuah SUV hitam yang biasa ia pakai ke proyek—kini membawa mereka melewati tol yang mulai padat oleh truk-truk logistik. Kalara duduk di sampingnya, buku harian Rarasati terbuka di pangkuan, membaca ulang halaman-halaman terakhir untuk kesekian kalinya.

Di kursi belakang, dua tas kecil berisi pakaian ganti, air mineral, senter, sekop lipat, dan kantong jenazah—Arsya membelinya diam-diam kemarin sore, tanpa berkata apa-apa. Kalara melihatnya, tapi tidak bertanya. Ia tahu untuk apa itu.

Perjalanan ke Lawu memakan waktu sekitar sepuluh jam. Mereka bergantian menyetir di tengah jalan, berhenti di pom bensin untuk makan dan ke kamar mandi. Percakapan di dalam mobil minimal—hanya yang perlu. Keduanya terlalu lelah secara emosional untuk berbasa-basi.

Menjelang magrib, mereka mulai memasuki daerah pegunungan. Jalan berkelok-kelok naik, di kanan-kiri kebun teh dan hutan pinus. Udara semakin dingin. Kabut mulai turun, membungkus pepohonan dalam selimut putih tipis.

"Ini dekat," kata Arsya, mengecek GPS. "Mungkin setengah jam lagi."

Kalara mengangguk. Tangannya meremas buku harian itu erat-erat.

Perkebunan Kopi Lawu ternyata sudah tidak beroperasi. Pintu gerbang besinya berkarat, digembok rantai tebal. Tapi di samping gerbang, ada celah yang cukup untuk dilewati orang.

"Mobil tidak bisa masuk," kata Arsya. "Kita jalan kaki."

Mereka memarkir mobil agak jauh, di pinggir jalan setapak. Senter dinyalakan. Udara dingin menusuk tulang. Kabut semakin tebal, membuat jarak pandang hanya beberapa meter.

"Kau yakin ini tempatnya?" bisik Kalara.

"Koordinatornya di sini." Arsya menunjukkan ponselnya. "Tinggal cari bangunan tua di belakang kebun."

Mereka berjalan menyusuri kebun kopi yang terbengkalai. Tanaman kopi tumbuh liar, bercampur semak belukar. Kadang kaki mereka terperosok di tanah yang becek. Suara jangkrik dan burung malam mengiringi langkah.

Setelah hampir satu jam berjalan, mereka melihatnya: sebuah bangunan tua di kejauhan, samar-samar di balik kabut.

Sebuah gubuk kayu, nyaris roboh. Atapnya bolong di beberapa bagian, dindingnya miring. Di belakangnya, ada gundukan tanah—tidak hanya satu, tapi dua. Dan di atas setiap gundukan, sebuah kayu ditancapkan, seperti nisan darurat.

Kalara berhenti. Kakinya lemas.

"Itu..." bisiknya.

Arsya tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Kalara erat-erat, lalu melangkah maju.

Mereka berlutut di depan dua gundukan itu.

Kayu di gundukan pertama sudah lapuk, tapi tulisan di atasnya masih bisa dibaca, diukir dengan pisau atau benda tajam:

RARASATI

1970 - 1999

Ibu yang tak pernah pulang

Gundukan kedua, kayu yang sama:

ASMARA

1967 - 1999

Ayah yang tak pernah kembali

Air mata Kalara jatuh tanpa bisa dibendung. Ia memeluk kayu nisan itu, merasakan dinginnya kayu lapuk di pipinya.

"Ayah... Ibu..." isaknya. "Aku di sini. Aku datang. Maafkan aku baru datang sekarang."

Arsya berlutut di sampingnya. Ia tidak menangis—tidak bisa menangis. Tapi dadanya sesak, seperti diremas tangan raksasa. Di depan matanya, makam orang tuanya. Makam yang selama dua puluh tiga tahun tidak pernah ia tahu keberadaannya.

"Ibu..." suaranya serak. "Aku Arsya. Anak Ibu. Yang Ibu tinggal di stasiun. Yang Ibu tulis surat. Aku... aku sudah baca surat Ibu."

Angin malam bertiup, membuat dedaunan di sekitar mereka berdesir. Seperti bisikan. Seperti jawaban.

Mereka duduk di sana cukup lama. Tidak tahu berapa lama. Mungkin menit, mungkin jam. Kabut terus berputar di sekitar mereka, menciptakan dunia kecil yang hanya berisi dua anak yang kehilangan dan dua makam yang menanti.

Akhirnya, Kalara bicara.

"Apa yang harus kita lakukan, Kak?"

Arsya menghela napas. "Kita bawa mereka pulang. Makamkan di tempat yang layak. Tempat yang bisa kita kunjungi kapan saja."

"Tapi ini kuburan mereka. Mungkin mereka sudah tenang di sini."

"Mereka dibuang di sini, Dik. Dibuang seperti sampah. Mereka pantas dikubur dengan layak, didoakan, dirawat kuburnya."

Kalara diam. Ia tahu Arsya benar.

"Tapi kita tidak bisa bawa sendiri. Perlu... perlu alat. Perlu izin."

"Kita urus nanti. Sekarang, kita tandai dulu tempat ini. Ambil tanahnya sebagai bukti. Besok kita cari bantuan."

Kalara mengangguk. Ia mengeluarkan kantong plastik kecil dari tasnya, mengambil segenggam tanah dari masing-masing makam. Tanah yang basah, dingin, bau daun busuk. Tanah yang selama ini menutupi orang tuanya.

Arsya melakukan hal yang sama. Lalu mereka berdiri, menatap kedua makam itu untuk terakhir kalinya malam itu.

"Kami akan kembali," janji Arsya. "Kami akan bawa Ibu dan... Ayah pulang."

Panggilan "Ayah" itu terasa aneh di lidahnya. Tapi juga benar. Asmara adalah ayahnya. Ayah kandung yang tidak pernah ia kenal.

Mereka berjalan meninggalkan gubuk itu, kembali ke mobil. Kabut semakin tebal, seolah ingin menyembunyikan rahasia ini selamanya. Tapi mereka sudah tahu. Dan mereka tidak akan diam.

Mereka menginap di sebuah losmen kecil di lereng gunung, satu-satunya yang masih buka. Kamarnya sederhana—dua tempat tidur, kamar mandi bersama di luar. Tapi hangat, dan setelah perjalanan panjang, itu yang mereka butuhkan.

Kalara duduk di tepi tempat tidur, buku harian ibunya di tangan. Arsya duduk di seberang, menatapnya.

"Kau tidak capek baca itu terus?" tanyanya.

"Aku ingin mengenalnya," jawab Kalara. "Ibuku. Aku tidak punya kenangan bersamanya. Hanya buku ini."

Arsya mengangguk. Ia mengerti.

"Aku juga ingin tahu lebih banyak tentang... Ayah." Kata itu masih terasa canggung. "Tentang Asmara."

Kalara membuka buku harian itu, mencari bagian tentang Arsya kecil.

"18 Mei 1998

Hari ini Asmara bawa foto anaknya. Arsya, namanya. Usianya baru 5 tahun, tapi sudah bisa menggambar bagus. Asmara bilang, anak itu suka menggambar ibunya. Aku ingin sekali bertemu, tapi tidak mungkin. Aku hanya bisa melihat fotonya, dan menangis."

"3 Agustus 1998

Asmara cerita, Arsya sakit demam. Ia ingin datang, tapi tidak bisa. Aku panik. Aku ingin merawatnya, memeluknya, menyanyikan lagu pengantar tidur. Tapi aku hanya bisa berdoa dari sini. Semoga ia cepat sembuh."

"20 November 1998

*Hari ini ulang tahun Arsya yang ke-6. Aku tidak bisa memberi apa-apa. Hanya surat kecil yang kuselipkan di saku Asmara. Semoga ia suka. Semoga ia tahu, ada ibu yang selalu menyayanginya meski tidak di sampingnya."*

Arsya menutup mata. Air mata jatuh di pipinya.

"Dia menyayangiku," bisiknya. "Ibuku menyayangiku."

"Tentu saja, Kak. Lihat suratnya. Lihat buku ini. Ia menulis tentangmu berkali-kali."

"Tapi ia pergi."

"Karena dipaksa. Bukan karena mau."

Arsya mengangguk. Ia tahu itu sekarang. Tapi luka lama tidak mudah sembuh hanya dengan tahu kebenaran.

Malam itu, mereka tidur dengan lelah yang luar biasa. Lelah fisik, lelah emosional, lelah karena terlalu banyak menangis.

Tapi di balik semua itu, ada kelegaan kecil. Mereka tahu. Mereka akhirnya tahu.

Pagi di lereng Gunung Lawu cerah. Kabut sudah pergi, digantikan sinar matahari yang hangat.

Arsya dan Kalara sarapan bubur ayam di warung depan losmen, lalu berdiskusi tentang langkah selanjutnya.

"Kita perlu bantuan," kata Arsya. "Untuk ekshumasi, kita butuh tim. Dan izin resmi."

"Lapor polisi?"

"Belum. Kita urus dulu secara... pribadi. Aku kenal seorang pengacara yang bisa bantu urus izin penggalian. Dan seorang dokter forensik yang bisa dipercaya."

"Kau kenal dokter forensik?"

Arsya tersenyum tipis. "Klien. Aku pernah renovasi kliniknya. Dia berhutang budi padaku."

Kalara mengangguk. "Berarti kita kembali ke Jakarta dulu?"

"Iya. Urus administrasi. Lalu kembali ke sini dengan tim."

"Pak Willem? Haruskah kita bilang?"

Arsya berpikir. "Mungkin nanti, setelah semuanya selesai. Dia tidak tahu apa-apa. Lagipula, ini urusan keluarga kita, bukan keluarganya."

"Tapi rumahnya..."

"Rumah itu akan kita renovasi seperti rencana. Itu janji kita padanya. Dan setelah selesai, mungkin kita cerita. Mungkin tidak. Tergantung."

Kalara mengangguk. Setuju.

Mereka membayar losmen, lalu berangkat kembali ke Jakarta. Perjalanan pulang terasa lebih ringan, meski beban di dada masih berat. Setidaknya, mereka punya tujuan. Setidaknya, mereka tahu apa yang harus dilakukan.

Tiga minggu kemudian, tim kecil kembali ke Perkebunan Kopi Lawu.

Arsya, Kalara, dua pekerja dari desa terdekat yang disewa untuk menggali, seorang dokter forensik bernama dr. Rianto, dan asistennya. Izin sudah diurus—dengan alasan penggalian makam keluarga untuk dipindahkan. Tidak ada yang curiga.

Hari itu cerah. Matahari bersinar terik, seolah ingin membantu mereka melihat dengan jelas.

Penggalian dimulai pukul sembilan pagi. Dua pekerja itu bekerja hati-hati, mengikuti instruksi dr. Rianto. Lapisan tanah demi lapisan dibuka. Kalara dan Arsya menunggu di samping, jantung berdebar.

Sekitar pukul sebelas, pekerja pertama berteriak. "Ada, Dok!"

Semua berkumpul. Di dalam lubang, tampak kerangka manusia. Posisinya telentang, tangan di samping badan. Tidak ada peti mati. Hanya tubuh yang dibungkus kain kafan yang sudah lapuk.

Dr. Rianto turun ke lubang dengan hati-hati. Ia memeriksa kerangka itu dengan profesional.

"Perempuan," katanya. "Usia sekitar 30-an saat meninggal. Tidak ada tanda kekerasan di tulang. Mungkin meninggal karena sakit, atau... diracun."

Diracun. Kata itu menusuk jantung Kalara.

"Yang satunya," pinta Arsya.

Mereka menggali gundukan kedua. Satu jam kemudian, kerangka kedua ditemukan. Laki-laki, usia sekitar 30-an. Juga tidak ada tanda kekerasan fisik.

Dr. Rianto mengambil sampel tanah dan beberapa tulang kecil untuk diuji lebih lanjut di laboratorium. Tapi dari penampakan awal, ini adalah dua orang yang dikubur secara diam-diam, tanpa prosedur resmi, di tengah kebun kopi yang sepi.

"Ini mereka," bisik Kalara. "Ini Ibu dan Ayah."

Arsya memeluknya. Ia tidak bisa berkata apa-apa.

Mereka memindahkan kedua kerangka itu dengan hati-hati. Dr. Rianto dan asistennya membersihkan, mendokumentasikan, lalu memasukkannya ke dalam kantong jenazah khusus. Prosesnya panjang, teliti, dan penuh hormat.

Sore hari, semuanya selesai. Dua kantong jenazah tergeletak di tanah, siap dibawa pulang.

"Kita makamkan di mana?" tanya Kalara.

Arsya sudah memikirkan ini. "Di TPU dekat rumahku. Aku sudah urus. Satu liang lahat, berdampingan. Mereka bersama selama hidup, biar bersama juga di akhirat."

Kalara mengangguk. Itu yang terbaik.

Mereka membawa jenazah itu ke mobil jenazah yang sudah disewa. Perjalanan kembali ke Jakarta dilakukan dengan iring-iringan pelan, penuh penghormatan.

Tiga hari kemudian, pemakaman dilaksanakan.

Tidak banyak yang hadir. Hanya Arsya, Kalara, beberapa kerabat jauh yang bisa dipercaya, dan dr. Rianto. Mama Kalara juga datang, setelah Kalara menceritakan semuanya. Ia menangis histeris saat tahu suaminya—pria yang selama ini ia cintai meski tidak dicintai balik—dikubur di kebun kopi terpencil selama 23 tahun.

"Maafkan aku," isaknya di depan nisan. "Maafkan aku yang tidak tahu apa-apa."

Ayah Arsya juga datang. Ia sudah tua, jalannya lambat dengan tongkat. Tapi ia berdiri tegak di depan makam Rarasati, air mata mengalir di pipi keriputnya.

"Rarasati," bisiknya. "Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu. Maafkan aku yang tidak tahu kau diperlakukan begini."

Doa dipanjatkan. Tanah ditaburkan. Bunga diletakkan.

Dan di akhir upacara, Arsya dan Kalara berdiri berdampingan, menatap dua nisan yang baru. Batu marmer hitam, dengan ukiran sederhana:

RARASATI binti SASTROWIJAYA

1967 - 1999

Ibu, akhirnya kau pulang

ASMARA bin SASTROWIJAYA

1970 - 1999

Ayah, kami memaafkanmu

"Mereka bersama sekarang," bisik Kalara.

"Iya," sahut Arsya. "Untuk selamanya."

Angin sore bertiup, membawa wangi melati dari taman di dekatnya. Entah kebetulan atau bukan, tapi wangi itu mengingatkan mereka pada parfum di botol-botol kecil di ambang jendela kamar pembantu. Wangi yang dulu mungkin dipakai Rarasati setiap hari.

Mereka tersenyum. Sedih, tapi juga lega.

Perjalanan panjang telah usai. Luka lama mulai terobati.

Dan di depan mereka, kehidupan baru menanti—sebagai kakak beradik, sebagai keluarga yang baru ditemukan, sebagai dua manusia yang selamat dari badai.

Malam harinya, mereka duduk di rumah kontrakan Kalara.

Teh hangat di tangan, hati yang lebih ringan. Tidak banyak bicara, hanya menikmati keheningan yang berbeda—keheningan yang damai.

"Kak," panggil Kalara.

"Hm?"

"Aku senang punya kakak."

Arsya tersenyum. "Aku juga senang punya adik."

"Meskipun adikmu rese?"

"Terutama karena rese."

Kalara tertawa. Lalu tiba-tiba, ia menangis. Bukan sedih, tapi haru. Arsya memeluknya, membiarkannya menangis di bahunya.

Semua air mata yang tertahan selama ini akhirnya keluar. Air mata untuk orang tua yang hilang. Air mata untuk masa kecil yang dijalani dalam kebohongan. Air mata untuk perjalanan panjang yang melelahkan. Dan air mata untuk kebahagiaan kecil: bahwa di ujung semua ini, mereka tidak sendiri.

"Kita baik-baik saja, Dik," bisik Arsya. "Kita akan baik-baik saja."

Kalara mengangguk di bahunya.

Di luar, hujan turun lagi. Seperti biasa di Jakarta. Tapi malam ini, hujan terasa berbeda. Lebih bersih. Lebih menyegarkan.

Seperti mencuci semua luka.

Seperti membasuh semua duka.

Dan menyisakan harapan baru untuk esok hari.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!