NovelToon NovelToon
Sinyal Cinta Sang Teknisi

Sinyal Cinta Sang Teknisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:761
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab15

Setelah kepergian Abraham, kamar mess yang sempit itu mendadak terasa jauh lebih luas dan sunyi.

Prita menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa sepi dengan menyibukkan diri.

Ia kembali menata pakaian di lemari kayu yang catnya sudah sedikit mengelupas, menyelipkan botol susu coklat dan camilan yang mereka beli tadi ke dalam rak kecil.

Keheningan di mess tamu itu terasa begitu menekan.

Pak Gio juga sedang keluar untuk urusan pekerjaan ke kantor cabang lain.

Praktis, Prita sendirian di koridor panjang itu.

"Sepi sekali..." gumam Prita pelan. Suaranya bergema tipis di ruangan yang hanya dipenuhi suara detak jam dinding dan deru angin dari luar.

Tiba-tiba, suara ketukan terdengar di pintu kayu kamarnya.

Tok! Tok! Tok!

Wajah Prita langsung cerah. Ia menyunggingkan senyum tipis, merasa lega karena mengira rasa sepinya akan berakhir.

"Pasti Mbak Prames," gumam Prita dalam hati.

Ia berpikir mungkin kakaknya itu menyempatkan diri mampir sebelum kembali ke kantor setelah mendengar kabar kepindahannya ke mess.

Dengan langkah ringan, Prita membuka kunci dan menarik daun pintu. Namun, senyum di bibirnya langsung membeku.

Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Matanya membelalak lebar saat melihat seorang lelaki asing berdiri di hadapannya.

Lelaki itu mengenakan kemeja mahal yang tampak sangat tidak selaras dengan lingkungan mess yang kusam.

Tatapannya tajam, dingin, dan penuh intimidasi.

"Kamu siapa? Mas Abraham sedang keluar," ucap Prita dengan suara bergetar, tangannya refleks memegang gagang pintu, hendak menutupnya kembali.

Imran justru menahan pintu dengan kekuatannya yang besar.

Ia menyunggingkan senyum sinis yang membuat bulu kuduk Prita merinding.

"Mas Abraham?" ulang Imran dengan nada mengejek.

"Jadi ini tempat tinggalmu sekarang, Prita? Sangat menyedihkan."

Prita melangkah mundur, ketakutan mulai menguasai dirinya.

"Siapa kamu?! Pergi dari sini!"

"Aku?" Imran melangkah masuk ke dalam kamar, mempersempit jarak.

"Aku calon suamimu yang asli. Pria yang seharusnya bersanding denganmu, bukan teknisi murahan itu."

Prita hendak berteriak minta tolong, namun sebelum suara itu keluar dari tenggorokannya, tangan Imran yang kuat sudah menyambar sebuah sapu tangan yang telah dibasahi cairan kimia berbau menyengat.

"MMMMPPHH!!!!"

Prita meronta, tangannya mencengkeram lengan kemeja Imran dengan sisa tenaganya. Namun, hanya dalam hitungan detik, pandangannya mengabur.

Tubuhnya lemas, dan kesadarannya direnggut paksa.

Prita jatuh pingsan di pelukan Imran. Dengan tatapan penuh kemenangan dan benci, Imran membopong tubuh Prita keluar dari mess.

Ia bergerak cepat menuju mobil hitam yang sudah menunggu di area gelap di balik pepohonan, membawa pergi Prita tepat saat langit mulai mendung, seolah alam pun tahu bencana sedang menimpa rumah tangga kecil Abraham.

Siang itu, matahari di atas langit Malang bersinar cukup terik. Prames memarkirkan motornya di depan mess tamu dengan perasaan ceria.

Di tangannya, tergantung sebuah tas kain berisi rantang makanan yang baru saja ia masak—menu spesial untuk merayakan hari-hari pertama adiknya sebagai seorang istri.

Ia berjalan menyusuri selasar mess yang terasa ganjil.

Tidak ada suara televisi dari ruang penjaga, dan pintu-pintu kamar tampak tertutup rapat, kecuali satu.

Prames mengernyit saat melihat pintu kamar nomor tiga—kamar adiknya—sedikit terbuka.

"Prita? Kamu di dalam?" panggil Prames sambil mengetuk pintu yang tak terkunci itu.

Tidak ada jawaban. Prames mendorong pintu lebih lebar.

Matanya menyisir ruangan kecil itu. Pakaian yang tadi pagi ditata rapi kini ada yang jatuh ke lantai.

Botol susu coklat yang masih penuh berdiri di atas meja, tapi pemiliknya tidak ada di sana.

"Prita, kamu di mana?" suara Prames mulai meninggi, ada nada cemas yang menyelinap. I

Ia memeriksa kamar mandi luar dan area dapur umum, namun hasilnya nihil.

Mess itu benar-benar kosong dan hening secara tidak wajar.

Perasaan tidak enak mulai menghantam dada Prames.

Dengan tangan gemetar, ia merogoh ponsel di tasnya dan segera mencari nama Abraham.

Sementara itu, di lokasi Donomulyo yang terik, Abraham baru saja menuruni anak tangga terakhir dari tower pemancar.

Napasnya tersengal, keringat membasahi seragam teknisinya hingga lepek.

Ia baru saja menyelesaikan perbaikan modul yang sempat terbakar.

Ponsel di saku celananya bergetar hebat. Abraham mengernyit melihat nama kakak iparnya di layar.

"Halo, Mbak Prames? Ada apa?" tanya Abraham sambil mengusap peluh di dahinya dengan lengan baju.

"Bram! Prita ada sama kamu?!" suara Prames terdengar panik dan nyaris menangis di seberang telepon.

Langkah kaki Abraham langsung terhenti. Jantungnya berdegup kencang secara instan.

"Nggak ada, Mbak. Aku masih di Donomulyo. Prita di mess, aku minta dia tunggu di kamar. Kenapa, Mbak?"

"Prita nggak ada di mess, Bram! Pintu kamarnya terbuka, tapi dia nggak ada. Ponselnya tertinggal di atas kasur! Aku sudah cari ke sekeliling mess tapi nggak ada siapa-siapa!"

Dunia seolah runtuh bagi Abraham. Rasa lelahnya hilang seketika, digantikan oleh ketakutan yang luar biasa.

Ia teringat tatapan mata Imran dan kemarahan Papa Broto.

"Mbak, tetap di sana! Jangan ke mana-mana!" teriak Abraham. Tanpa memedulikan peralatan kerjanya yang masih berantakan, ia langsung berlari menuju motornya. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: Prita dalam bahaya besar.

Tanpa memedulikan keselamatan dirinya, Abraham memacu motor tuanya dengan kecepatan penuh.

Deru mesin motor seolah berteriak membelah jalanan berkelok dari Donomulyo menuju arah kota.

Pikirannya kalut; bayangan wajah Prita yang tersenyum saat sarapan nasi jagung pagi tadi terus berputar di kepalanya, kontras dengan kenyataan pahit yang kini menghantamnya.

Tiga jam kemudian, Abraham sampai di halaman mess dengan napas tersengal dan debu jalanan yang menutupi wajahnya.

Ia melompat turun dari motor bahkan sebelum standar motor terpasang dengan sempurna.

Di depan selasar kamar, ia melihat Prames sedang berdiri dengan wajah pucat di samping Pak Gio yang tampak kebingungan sekaligus merasa bersalah.

"Bagaimana?" tanya Abraham dengan suara serak, matanya menatap tajam ke arah Prames, menuntut jawaban yang ia harapkan adalah kabar baik.

Prames hanya bisa menggelengkan kepalanya lemah.

Matanya sembab, bekas air mata terlihat jelas di pipinya.

"Nggak ada jejak, Bram. Aku sudah tanya ke tetangga depan, nggak ada yang lihat Prita keluar."

Abraham beralih ke Pak Gio dengan tatapan menuntut.

"Pak, rekaman CCTV? Di depan ada kamera yang mengarah ke gerbang, kan?"

Pak Gio menghela napas berat sambil menunjukkan tablet di tangannya yang hanya menampilkan layar hitam.

"Itu dia masalahnya, Mas Abraham. Saya baru cek bareng Mbak Prames tadi, CCTV-nya dirusak. Kabelnya diputus dengan rapi, dan sistem rekamannya mati tepat sepuluh menit sebelum kejadian. Ini bukan orang sembarangan, Mas. Sepertinya sudah direncanakan."

Abraham mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih.

Amarah yang dingin mulai menjalar di dadanya. Jika CCTV dirusak, berarti pelakunya tahu persis letak keamanan di sini. Dan hanya ada satu orang yang memiliki motif serta sumber daya untuk melakukan hal sekeji ini.

"Imran..." gumam Abraham dengan nada rendah yang penuh ancaman.

"Maksudmu lelaki yang dijodohkan Papa itu, Bram?" tanya Prames kaget.

"Tapi bagaimana dia bisa tahu kita di sini?"

Abraham tidak menjawab. Ia masuk ke dalam kamar, melihat botol susu coklat yang masih utuh di atas meja—botol yang ia belikan dengan penuh kasih sayang tadi pagi.

Di sampingnya, tergeletak ponsel Prita yang membisu.

"Mbak, tolong jaga mess. Kalau ada apa-apa, hubungi aku," ucap Abraham sambil berbalik arah, langkahnya mantap menuju motornya kembali.

"Kamu mau ke mana, Bram?! Ini sudah hampir gelap!" seru Prames khawatir.

"Aku akan mencari istriku, Mbak. Siapa pun yang menyentuhnya, harus berurusan denganku," jawab Abraham tanpa menoleh lagi.

Ia menghidupkan mesin motor, siap menerjang malam demi menjemput kembali belahan jiwanya.

1
Amiera Syaqilla
hello author🤗
my name is pho: hai kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!