Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Dilema Darah
Lorong rumah sakit ini terasa seperti lorong menuju neraka yang serba putih.
Bau disinfektan, karbol, dan obat-obatan yang sangat tajam langsung menusuk hidungku, terasa luar biasa kontras dengan kehangatan aroma kopi Americano yang baru saja kami tinggalkan di kedai. Udara di sini sedingin es, membekukan sisa-sisa euforia kemenangan yang sempat kami rasakan beberapa jam lalu.
Langkah kaki kami menggema saat menyusuri lorong menuju ruang ICU. Tanganku menggenggam erat lengan Arka, mencoba menyalurkan keberanian, meski aku tahu pria di sebelahku ini sedang menahan gemetar yang luar biasa hebat di balik kaus oblong hitamnya.
Begitu kami berbelok di ujung lorong dan muncul di depan ruang tunggu ICU, suasana yang tadinya dipenuhi bisik-bisik tegang mendadak senyap.
Di sana, puluhan anggota keluarga besar Danadyaksa—para paman, bibi, dan sepupu Arka yang berbalut barang bermerek—sedang berkumpul. Di sudut bangku plastik, Clara duduk terisak dengan wajah yang disembunyikan di telapak tangannya.
Begitu mereka menyadari kehadiran Arka... dan kehadiranku di sampingnya... puluhan pasang mata itu langsung menoleh. Tatapan mereka bukan tatapan keluarga yang sedang berduka. Itu adalah tatapan penuh penghakiman, kebencian, dan kemarahan yang telanjang.
Bagi mereka, Arka bukanlah anak yang sedang menjenguk ayahnya. Di mata mereka, Arka adalah seorang pengkhianat. Anak durhaka yang baru saja meledakkan tiang penyangga kekayaan keluarga mereka, hanya demi membela seorang perempuan biasa penjual kopi sepertiku.
Aku refleks merapatkan tubuhku ke lengan Arka. Otot lengan pria itu terasa sekeras batu baja di bawah genggamanku.
"Berani-beraninya kamu datang ke sini setelah apa yang kamu lakukan pada Papa kamu?!"
Sebuah bentakan memecah keheningan. Salah satu paman Arka—seorang pria berjas mahal yang kutahu persis dari berita sering menjilat pada Handoko demi tender proyek—melangkah maju dengan wajah merah padam menahan amarah.
"Kamu puas sekarang, Arka?! Kamu bikin perusahaan hancur, kamu bikin Papa kamu serangan jantung! Kamu itu anak tidak tahu diuntung!" maki pria itu sambil menudingkan telunjuknya tepat ke wajah Arka.
Aku menggigit bibir, menahan diri agar tidak meledak dan membalas makian itu. Aku tahu, ini bukan medanku. Aku hanya bisa mengusap lengan Arka pelan, mencoba menenangkannya.
Arka tidak membalas. Pria itu bahkan tidak repot-repot menoleh ke arah pamannya. Rahangnya mengeras kaku, pandangannya lurus ke depan, mengabaikan semua tatapan benci itu. Ia terus berjalan menyeret langkahnya menuju dinding kaca transparan ruang ICU.
Aku berdiri tepat di belakang bahunya. Kami berdua menatap ke dalam ruangan yang dipenuhi cahaya pucat itu.
Di dalam sana, Handoko Danadyaksa terbaring tak berdaya.
Rongga dadaku terasa nyeri melihatnya. Pria yang tadi pagi masih duduk di dalam mobil Maybach hitam dengan arogansi yang sanggup meruntuhkan duniaku, kini tampak begitu kecil dan menyusut. Tubuhnya dikelilingi oleh jalinan kabel yang rumit dan mesin-mesin medis penopang kehidupan yang berbunyi monoton. Ia tampak begitu rapuh, seolah satu hembusan angin saja bisa meniup nyawanya pergi.
"Dokter bilang dia stres berat. Tekanan darahnya melonjak drastis dan fatal saat tim penyidik polisi datang menggeledah kantor tadi sore."
Sebuah suara serak terdengar dari Samping kami. Clara berdiri di sana. Ia melangkah mendekati Arka. Mata almond perempuan itu merah menyala, bengkak karena terlalu banyak menangis. Tidak ada lagi sisa putri mahkota yang angkuh. Ia tampak benar-benar hancur.
Clara menatap Arka dengan sorot mata terluka. "Kamu puas sekarang, Arka? Kamu berhasil. Kamu berhasil bikin Om Handoko hancur secara fisik dan mental hari ini."
Arka memalingkan wajahnya dari kaca ICU, menoleh menatap Clara. Matanya kelam dan kosong.
"Papa menghancurkan dirinya sendiri di detik dia memutuskan untuk main kotor, Clara," jawab Arka. Suaranya terdengar sangat parau namun datar, seolah ia sedang menahan badai di tenggorokannya. "Gue nggak ngancurin dia. Gue cuma narik tirai kepalsuannya, supaya dunia bisa lihat apa yang sebenarnya terjadi di panggung itu."
"Tapi dia Papa kamu, Arka!" teriak Clara histeris. Air matanya kembali tumpah. "Dia darah daging kamu!"
"Justru karena dia Papa gue, Clara," sahut Arka, kali ini nada suaranya bergetar menahan perih yang amat sangat. "Justru karena gue darah dagingnya... gue nggak mau biarin dia terus-terusan menumpuk dosa dari keringat dan penderitaan orang lain. Cukup."
Clara terisak keras, menutupi mulutnya. Aku menyandarkan dahiku di punggung Arka, membiarkannya tahu bahwa ia tidak sendirian menanggung beban ini. Ini adalah pertempuran batin yang luar biasa menyiksa bagi pria itu. Mengalahkan ayah sendiri ternyata tidak pernah membuahkan kemenangan, hanya menyisakan puing-puing penyesalan.
Tiba-tiba, bunyi derit pelan terdengar. Pintu ruang ICU terbuka. Seorang dokter spesialis dengan wajah lelah keluar sambil menurunkan maskernya.
"Keluarga Bapak Handoko?" tanya dokter itu.
Semua orang di lorong itu langsung bergerak maju, tapi dokter itu mengangkat tangannya. "Pak Handoko baru saja sadar sejenak dari pengaruh obat biusnya. Kesadarannya sangat lemah, tapi... beliau terus-menerus memanggil nama Mas Arka. Hanya Mas Arka yang diizinkan masuk untuk saat ini."
Arka mematung. Pria itu menelan ludah dengan susah payah. Ia menoleh ke arahku sejenak, memberikan tatapan yang seolah meminta izin. Aku mengangguk mantap, melepaskan genggaman tanganku dari lengannya.
"Masuklah, Ka," bisikku.
Arka mengenakan baju steril pelindung, lalu melangkah perlahan ke dalam ruangan berhawa beku itu. Pintu kembali tertutup rapat.
Aku berdiri sendirian di luar, mengamati dari balik dinding kaca. Di dalam sana, aku melihat Arka menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur ayahnya. Handoko menggerakkan tangannya yang dipasangi infus dengan sangat lemah, bergetar mencoba meraih tangan putranya. Arka menyambut tangan itu.
Tidak ada teriakan di antara mereka. Tidak ada pertengkaran seperti yang biasa mereka lakukan di ruang direksi. Hanya ada dua pria dari dua generasi yang saling bertentangan, kini sedang saling menatap di ambang garis kematian.
Dari luar, aku melihat bibir Handoko bergerak pelan, tampak membisikkan sesuatu yang cukup panjang. Arka menundukkan kepalanya mendekat ke wajah ayahnya untuk mendengarkan. Ekspresi Arka awalnya datar, namun perlahan... kulihat bahu pria itu menegang hebat. Ia menarik wajahnya sedikit, menatap ayahnya dengan sorot mata yang penuh dengan rasa luka yang tidak bisa dijelaskan.
Sepuluh menit yang terasa seperti sepuluh tahun berlalu.
Pintu ICU terbuka. Arka keluar dengan langkah yang terseret. Ia melepaskan baju pelindungnya dengan gerakan mekanis. Saat ia menatapku, wajahnya tampak jauh lebih berat, lebih pucat, dan lebih hancur dari sebelumnya.
Aku segera menghampirinya, meraih kedua tangannya yang sedingin es batu.
"Ka? Dia bilang apa? Dia minta apa sama lo?" tanyaku cemas, jantungku berdebar liar.
Arka tidak langsung menjawab. Ia menghela napas panjang yang terdengar seperti rintihan. Ia menatapku, lalu menatap Clara dan kerabatnya yang kini ikut mendesak mendekat, menunggu jawaban dengan wajah penuh harap.
"Dia minta gue buat cabut semua laporan dan narik semua bukti asli dari tangan penyidik," ucap Arka. Suaranya pecah, menggema di lorong sunyi itu.
Semua orang menahan napas.
"Dia bilang, kalau gue bersedia narik bukti itu malam ini dan balik ke perusahaan buat nyelamatin nama keluarga..." Arka tertawa miris, air mata akhirnya jatuh dari pelupuk matanya. "...dia bakal maafin semua kelakuan gue. Dia janji bakal kasih gue posisi apa pun yang gue mau di Cipta Megah, asalkan gue beresin kekacauan ini."
Aku menutup mulutku dengan tangan. Ya Tuhan. Bahkan di ranjang kematiannya, Handoko Danadyaksa masih mencoba melakukan transaksi bisnis. Ia tidak meminta maaf secara tulus; ia sedang melakukan tawar-menawar dengan hati putranya sendiri.
"Terus lo jawab apa, Arka?!" desak Clara penuh harap, mencengkeram lengan kemeja Arka. "Kamu setuju, kan? Kamu bisa atur penyidiknya, kan?!"
Arka menunduk menatap Clara. Sorot matanya kini penuh dengan kepastian yang menyedihkan.
"Gue bilang ke dia..." suara Arka mengeras, tegas dan tanpa keraguan sedikit pun. "...gue sayang sama dia sebagai seorang anak ke Papanya. Tapi gue nggak bisa, dan nggak akan pernah mau jadi bagian dari kebohongan dan kemunafikannya lagi."
Mata Clara membelalak sempurna.
"Semua bukti itu udah di tangan kepolisian, Clara," lanjut Arka final. "Dan gue... nggak akan pernah narik mundur kata-kata gue."
"ARKA! KAMU GILA!"
Clara menjerit histeris. Keputusasaan mengubahnya menjadi kalap. Perempuan itu menerjang maju, memukul dada Arka dengan kedua kepalan tangannya sambil menangis meraung-raung. "Kamu bunuh dia! Kamu bener-bener mau bunuh Om Handoko! Brengsek kamu, Arka!"
Beberapa kerabat keluarga dan perawat segera berlarian melerai, menarik tubuh Clara yang terus meronta dan memaki Arka dengan kata-kata kasar. Suasana lorong ICU itu seketika menjadi kacau balau.
Melihat pria yang kucintai diam saja menerima pukulan dan makian itu dengan pandangan kosong, insting melindungiku meledak.
Aku menerobos maju, meraih lengan Arka dengan kuat. "Ayo kita pergi dari sini, Ka. Kita pulang," bisikku tegas.
Aku menarik tangannya, setengah memaksanya untuk membalikkan badan dan berjalan menjauh dari atmosfer rumah sakit yang beracun dan menyesakkan itu. Kami berjalan cepat menuju basement parkir, meninggalkan teriakan Clara yang masih menggema di belakang kami.
Begitu sampai di area parkiran yang sunyi dan remang-remang, langkah Arka terhenti. Ia bersandar di samping mobil jip tuanya, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dadanya naik turun dengan cepat.
"Gue harus tegas nolak dia, Nja," ucap Arka tiba-tiba, suaranya terdengar seperti kaca yang remuk. Ia menengadah menatap langit-langit basement yang kotor.
"Kalau gue nerima tawaran dia di dalam sana... kalau gue narik buktinya demi jabatan dan uang yang dia janjiin..." Arka menoleh menatapku dengan mata merahnya yang basah. "...gue bakal bener-bener berubah jadi monster korporat. Gue bakal jadi orang yang sama... yang lo benci dulu."
Aku melangkah maju. Tanpa ragu sedikit pun, aku melingkarkan kedua lenganku di pinggangnya, memeluk erat tubuh tegap yang sedang gemetar itu. Aku menenggelamkan wajahku di dadanya, mendengarkan detak jantungnya yang berpacu liar.
"Lo lakuin hal yang benar, Ka," isakku pelan, air mataku ikut menetes membasahi kaus hitamnya. "Lo orang baik. Lo bukan monster."
Arka membalas dekapanku dengan kekuatan yang mematahkan tulang. Ia membenamkan wajahnya di puncak kepalaku, mencium rambutku dengan putus asa. "Gue nggak mau kehilangan lo, Senja. Gue nggak mau kehilangan arah lagi."
Malam itu, di tengah dinginnya beton basement rumah sakit, aku memeluknya semakin erat. Aku akhirnya benar-benar mengerti betapa beratnya bobot keputusan yang baru saja ia buat.
Malam ini, Arka Danadyaksa baru saja memilih untuk menembak mati masa depannya dan secara resmi menjadikan dirinya 'yatim' secara status sosial dan keluarga. Ia mengorbankan segalanya, menelan kutukan sebagai anak durhaka... hanya demi mempertahankan secercah kejujuran di hatinya, dan demi memastikan agar ia tetap pantas berdiri di sisiku.
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍