"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Meja Makan yang Terbelah
"Kak Ralph, cobalah roti panggang gandum ini. Aku ingat Kakak selalu suka selai kacang yang tidak terlalu manis, kan?"
Suara lembut Adeline memecah keheningan meja makan pagi itu. Dengan gerakan yang sangat anggun dan natural, ia menyodorkan piring kecil ke hadapan Liam, mengabaikan fakta bahwa aku sedang duduk tepat di sebelah suamiku. Tangannya yang putih bersih hampir bersentuhan dengan lengan jas Liam.
Liam tertegun, tangannya yang memegang garpu menggantung di udara. Ia melirikku sekilas, lalu menatap piring pemberian Adeline dengan canggung.
[Kenapa dia masih ingat hal sekecil itu? Roti panggang selai kacang... itu makanan favoritku saat SMA. Tapi sekarang... kenapa rasanya sangat aneh? Aku tidak enak menolaknya di depan Mama, tapi aku takut Blair akan marah besar. Kenapa suasana pagi ini jadi sesak sekali?]
"Terima kasih, Adeline," gumam Liam kaku, namun ia tidak menyentuh roti itu.
"Lihatlah, Ralph. Adeline bahkan masih ingat kebiasaanmu sepuluh tahun lalu," Lily menyambar dengan nada puas, ia duduk di kursi kehormatan di ujung meja seolah ia adalah pemilik tunggal rumah ini. "Tidak seperti seseorang yang hanya tahu cara membelanjakan uangmu tanpa tahu apa yang sebenarnya suaminya sukai."
Aku meletakkan cangkir tehku dengan suara denting yang cukup keras di atas piring kecilnya. "Seleranya sudah berubah, Nyonya Lily. Sekarang Liam lebih suka nasi goreng buatanku daripada roti kering yang membosankan."
Lily mendengus sinis. "Nasi goreng? Makanan rakyat jelata seperti itu tidak pantas untuk CEO Alexander Group. Adeline, besok buatkan menu Western yang lebih berkelas."
"Tentu, Tante Lily. Dengan senang hati," jawab Adeline sambil tersenyum manis ke arah Liam. "Kak Ralph, nanti malam aku juga ingin membuatkan makan malam spesial untuk merayakan kepulangan Tante Lily. Kakak akan pulang cepat, kan?"
Liam hendak menjawab, namun sebuah suara dingin dan tajam memotong dari ujung meja yang lain.
"Dia tidak akan pulang cepat. Papa punya janji denganku dan Mama untuk melihat proyek IT baruku malam ini," ucap Axelle.
Remaja itu menaruh sendoknya dengan kasar. Matanya yang tajam menatap Adeline dengan tatapan tidak suka yang sangat kentara.
"Axelle, jaga sopan santunmu," tegur Lily dengan nada memerintah. "Adeline adalah tamu istimewa Nenek. Kau harus menyambutnya dengan baik."
"Tamu?" Axelle menaikkan satu alisnya, persis seperti gaya Liam saat sedang mengintimidasi lawan bisnis. "Tamu biasanya pulang setelah makan, Nek. Bukan mengemas koper dan mencoba mengambil alih posisi di meja makan ini."
"Axelle!" seru Lily, wajahnya memerah.
"Axelle benar," aku menimpali, menatap Lily dengan berani. "Mansion ini bukan hotel, Nyonya Lily. Dan saya tidak merasa memberikan izin bagi siapa pun untuk menginap, apalagi orang asing yang tiba-tiba muncul mengklaim kenangan masa lalu."
Adeline tampak berkaca-kaca, ia menunduk dengan bahu bergetar kecil. "Maaf... aku tidak bermaksud lancang. Aku hanya ingin menemani Tante Lily yang baru saja kembali. Aku tidak punya niat buruk, Blair..."
[Dia menangis? Kenapa wanita di sekitarku selalu menangis? Aku jadi merasa seperti penjahat. Tapi Axelle... dia membela Blair dengan sangat keras. Aku bangga, tapi aku juga bingung. Mama terlihat sangat marah. Apa aku harus melerai mereka?]
"Jangan berakting di depanku, Nona Adeline," potong Axelle tajam. Ia berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Adeline hingga wanita itu mendongak ketakutan. "Aku tidak tahu permainan apa yang sedang kau dan Nenek mainkan, tapi aku tidak mengizinkanmu tinggal di sini. Satu malam pun tidak."
"Axelle Kai Alexander! Kau berani menentang Nenekmu demi wanita ini?!" Lily berdiri, menunjuk ke arahku dengan penuh kebencian.
"Wanita ini adalah Ibuku," tegas Axelle, suaranya menggelegar di ruang makan. "Dan rumah ini adalah rumah Ibuku. Jika Nenek ingin tinggal di sini, silakan. Tapi jangan bawa orang luar untuk mengusik kebahagiaan kami. Jika Nona ini tetap tinggal, maka aku yang akan keluar dari rumah ini sekarang juga!"
Liam tersentak. Ia langsung berdiri, memegang bahu Axelle. "Axelle, tenanglah. Jangan bicara soal keluar rumah."
"Lalu Papa mau diam saja melihat Mama disudutkan seperti ini?" tanya Axelle dengan nada kecewa. "Papa lihat sendiri, kan? Dia mencoba menggoda Papa di depan Mama! Apa Papa sudah buta hanya karena Nenek kembali?"
Liam terdiam seribu bahasa. Batinnya menjerit antara rasa bersalah pada ibunya dan ketakutan kehilangan anaknya.
"Cukup!" aku berdiri, menengahi ketegangan itu. "Axelle, berangkatlah ke sekolah. Mama akan mengurus ini."
"Tapi Ma—"
"Berangkat, Sayang. Mama janji, tidak akan ada yang bisa mengusir Mama dari rumah ini," aku memberikan tatapan meyakinkan pada Axelle.
Axelle menatapku lama, lalu melirik Liam dengan sinis. "Aku pegang janji Mama. Dan untukmu, Nona Adeline... jangan pernah berani menyentuh barang-barang Mamaku jika kau masih ingin punya tangan untuk bersolek."
Axelle pergi dengan langkah hentak yang keras, meninggalkan suasana meja makan yang sangat mencekam.
Lily menatap Liam dengan tajam. "Lihat, Ralph! Lihat apa yang dilakukan istrimu pada cucuku! Dia meracuni pikiran Axelle sampai anak itu berani membentak neneknya sendiri!"
"Mama, Axelle hanya—"
"Diam!" Lily memotong ucapan Liam. "Jika kau masih menganggapku ibumu, Adeline tetap tinggal di sini. Ini perintah, bukan permintaan."
Lily menarik tangan Adeline untuk pergi dari ruang makan, meninggalkan aku dan Liam dalam kesunyian yang menyakitkan. Liam menatapku dengan mata yang penuh permohonan maaf, namun aku hanya tersenyum tipis—senyuman yang tidak mencapai mataku.
[Blair... maafkan aku. Aku tidak berdaya di depan Mama. Tapi aku berjanji, aku tidak akan pernah berpaling pada Adeline. Tolong jangan membenciku. Tolong jangan pergi seperti yang dikatakan Axelle tadi.]
"Makanlah rotimu, Liam," ucapku tenang sambil berdiri. "Sepertinya selera masa lalumu memang sangat manis. Tapi ingat satu hal... yang manis biasanya cepat busuk."
Aku melangkah pergi, membiarkan Liam terpaku sendirian di meja makan yang kini terasa seperti medan perang yang dingin. Elodie, kau benar-benar tahu cara menghancurkan sebuah keluarga dari dalam. Tapi kau lupa satu hal... aku adalah seorang pejuang, bukan korban.
semoga bisa menghibur semuanya...
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/