Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.
Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Sela Detak Monitor dan Salju yang Membeku
Kehidupan di Montreal setelah "hari berdarah" itu rasanya kayak berjalan di atas lapisan es tipis. Salah langkah sedikit, kamu bakal tenggelam dalam depresi yang dalam. Sheilla sekarang menjalani hari-harinya dengan mode otomatis. Bangun pagi, ke toko, merangkai bunga, lalu pulang. Bedanya, sekarang ada satu rutinitas baru yang bahkan dia sendiri nggak pernah sangka bakal dia lakuin: mengunjungi rumah sakit.
Alex sudah dijatuhi hukuman. Meskipun pengacaranya mencoba berdalih soal trauma masa lalu dan motif balas dendam terhadap keluarga Ardhito, hukum Canada tetaplah hukum Canada. Percobaan pembunuhan berencana di tengah upacara pernikahan adalah kejahatan berat. Dia akan menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi di salah satu penjara federal. Sheilla nggak pernah menjenguknya. Baginya, Alex sudah "mati" tepat di detik pria itu mengeluarkan pisau. Rasa sayang yang dulu ada, kini berubah jadi lubang hitam yang hampa.
Tapi Ardhito? Itu cerita lain.
--
Lantai empat rumah sakit itu selalu terasa lebih dingin dari tempat lain. Sheilla melangkah menyusuri koridor, nenteng seikat bunga Gypsophila putih yang melambangkan kemurnian dan awal yang baru. Dia berhenti di depan pintu kayu bernomor 402.
Di dalam sana, Ardhito terbaring kaku. Sudah sebulan sejak insiden itu, dan dia belum juga membuka mata. Tubuhnya terhubung dengan berbagai kabel dan selang. Suara tit... tit... tit... dari monitor jantung jadi satu-satunya musik di ruangan itu.
Sheilla duduk di kursi kayu di samping tempat tidur. Dia menatap wajah Ardhito. Tanpa sorot mata yang tajam, tanpa seringai sombong, dan tanpa kata-kata kasar, Ardhito cuma kelihatan kayak pria yang kelelahan.
"Hari ini di luar salju turun lagi, Dhito," gumam Sheilla pelan. Dia tahu Ardhito mungkin nggak dengar, tapi dokter bilang stimulus suara itu bagus buat pasien koma.
Sheilla mulai mengganti bunga di vas nakas. "Toko lagi ramai. Maya sekarang sudah makin jago pegang pembukuan. Aku... aku juga mulai belajar buat nggak benci sama diri aku sendiri karena kejadian kemarin."
Dia berhenti sejenak, jarinya tanpa sadar mengusap ujung sprei tempat tidur Ardhito. "Kenapa sih kamu harus lari hari itu? Kenapa kamu harus jadi pahlawan di saat aku sudah siap buat membenci kamu selamanya?"
--
Kadang Sheilla merasa bersalah karena masih merasa iba pada pria yang pernah menghancurkan hidupnya. Tapi logika kemanusiaannya bilang: membenci orang yang sudah sekarat itu nggak akan bikin hatinya tenang. Sheilla menjenguk bukan karena dia ingin balikan, bukan juga karena dia cinta lagi. Dia datang karena Ardhito, dengan segala kebrengsekannya, adalah orang yang memberikan punggungnya supaya Sheilla tetap bisa bernapas.
"Kamu tahu, Dhito? Ibumu telepon kemarin," lanjut Sheilla. "Beliau nangis. Beliau mau ke sini, tapi kondisinya nggak memungkinkan buat perjalanan jauh. Beliau titip pesan... kamu harus bangun. Beliau bilang, dia sudah maafin kamu, jadi kamu harus bangun buat minta maaf ke aku secara langsung."
Sheilla menarik napas dalam. "Tapi jujur, aku sudah maafin kamu kok. Pas darah kamu kena gaun pengantin aku, rasanya dendam itu ikut luntur. Aku nggak mau bawa beban benci ini lagi. Capek, Dhito."
Logika narasi di hati Sheilla sekarang sudah bergeser. Dia nggak lagi melihat Ardhito sebagai "pemiliknya" atau "penghancurnya". Ardhito sekarang cuma manusia malang yang tersesat dalam obsesinya sendiri.
--
Saat mau keluar dari kamar, Sheilla berpapasan dengan dokter spesialis saraf yang menangani Ardhito, Dr. Gauthier.
"Ah, Ms. Sheilla. Senang melihat Anda di sini lagi," sapa dokter paruh baya itu dengan ramah.
"Gimana perkembangannya, Dok?"
Dr. Gauthier menghela napas, dia melihat ke arah Ardhito melalui kaca jendela kecil di pintu. "Kondisinya stabil, tapi stabil yang statis. Ada kerusakan pada jalur saraf di tulang belakangnya akibat tusukan itu, yang kita bicarakan sebelumnya soal kelumpuhan jika dia bangun. Tapi masalah utamanya sekarang adalah otaknya. Seolah-olah dia... dia nggak mau bangun. Secara medis dia bisa, tapi secara psikologis, mungkin dia merasa lebih aman di dalam sana."
Sheilla terdiam. Nggak mau bangun? Apa mungkin Ardhito merasa dunia di luar sini sudah nggak punya tempat buat dia? Dia kehilangan hartanya, reputasinya, dan sekarang dia tahu Sheilla sudah bener-bener lepas dari genggamannya.
"Terus saya harus gimana, Dok?"
"Teruslah ajak dia bicara. Kadang, suara dari masa lalu adalah kunci untuk membawa seseorang kembali ke masa depan," jawab sang dokter sebelum berlalu.
--
Sore harinya di toko, Maya memperhatikan Sheilla yang melamun sambil memotong duri mawar.
"Mbak, dari rumah sakit lagi?" tanya Maya hati-hati.
Sheilla mengangguk. "Iya. Masih sama kondisinya."
Maya meletakkan kertas pesanan. "Mbak, aku nggak bermaksud ikut campur ya. Tapi Mbak harus hati-hati sama hati Mbak sendiri. Jangan sampai rasa iba ini malah jadi jebakan lagi. Ardhito itu... dia tetap orang yang dulu nyakitin Mbak."
Sheilla tersenyum tipis, dia menghargai kekhawatiran Maya. "Aku tahu, May. Tenang aja. Aku ke sana bukan buat cari cinta yang hilang. Aku ke sana cuma buat... buat nutup bab ini dengan cara yang manusiawi. Aku nggak mau jadi orang yang ninggalin orang lain pas lagi sekarat, meskipun dia pernah jahat sama aku. Aku mau jadi orang yang lebih baik dari dia."
Maya menghela napas lega. "Syukurlah kalau Mbak mikir gitu. Aku cuma takut Mbak Sheilla yang baik hati ini dimanfaatin lagi."
--
Malamnya, Sheilla duduk di flatnya yang hangat. Dia melihat ke arah cermin. Gaun pengantin yang ada noda darahnya itu sudah dia simpan di dalam kotak, jauh di dalam gudang. Dia nggak mau melihatnya setiap hari, tapi dia nggak mau membuangnya.
Dia teringat Alex. Terkadang dia merasa bodoh karena nggak menyadari rencana Alex. Tapi dipikir-pikir lagi, Alex adalah aktor yang hebat. Dia memberikan apa yang Sheilla butuhkan saat itu: perhatian dan rasa aman. Ternyata itu cuma umpan.
"Hidup ini lucu ya," gumam Sheilla sambil menyesap teh chamomile-nya. "Dulu aku nunggu Ardhito buat berubah. Terus aku nunggu Alex buat nikahin aku. Sekarang... aku nunggu orang yang koma buat sekadar bangun supaya aku bisa bilang selamat tinggal secara resmi."
Sheilla sadar, karakter dia sekarang sudah berkembang jauh. Dia bukan lagi korban yang pasif. Dia punya empati, tapi dia punya batasan. Iba bukan berarti kembali. Memaafkan bukan berarti melupakan.
--
Dua hari kemudian, saat Sheilla sedang membacakan potongan berita dari koran lokal di samping tempat tidur Ardhito, jari pria itu bergerak. Kecil sekali. Hampir nggak terlihat kalau Sheilla nggak lagi memegang tangan Ardhito buat mengecek suhunya.
Deg.
Jantung Sheilla berdegup kencang. Dia menatap wajah Ardhito. Kelopak mata pria itu bergetar hebat.
"Dhito? Dhito, kamu denger aku?" bisik Sheilla, suaranya gemetar antara takut dan harap.
Pelan, sangat pelan, mata Ardhito terbuka sedikit. Dia menyipit karena cahaya lampu rumah sakit. Matanya yang dulu tajam dan penuh intimidasi, sekarang kelihatan bingung, sayu, dan penuh rasa sakit.
Dia menoleh ke arah Sheilla. Bibirnya bergerak tanpa suara, mencoba membentuk sebuah kata.
"Shei... la..."
Hanya itu. Suaranya serak kayak gesekan amplas di kayu. Sheilla langsung menekan tombol panggil perawat. Air mata tanpa sadar menetes di pipi Sheilla. Bukan karena cinta, tapi karena dia merasa sebuah beban berat dari masa lalu akhirnya mulai menemukan titik terangnya.
To Be Continue...
-- Hallo terimakasih sudah selalu memberikan support kepada Author, Sehat selalu untuk kalian semua ya. Dukung selalu Author setiap harinya, dan jangan lupa komen selalu agar author makin semangat buat uploadnya hihi --