NovelToon NovelToon
BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: PENGKHIANATAN DARAH DI PULAU HANTU

​Langit di atas Laut Jawa tampak pekat seperti tinta yang tumpah. Gelombang besar menghantam lambung kapal speedboat kecil yang dikemudikan Gwen sendirian. Gaun pengantin yang tadinya indah kini telah ia modifikasi secara brutal; kain sutranya dirobek hingga sebatas paha, memperlihatkan celana taktis hitam dan sabuk berisi amunisi. Di balik cadar tipis yang ia kenakan untuk menghalau angin laut, mata Gwen berkilat seperti mata pedang yang baru diasah.

​Di depannya, sebuah pulau karang yang tidak ada dalam peta navigasi resmi muncul dari balik kabut. Pulau Hantu. Sebuah benteng alam yang dulunya digunakan sebagai laboratorium rahasia The Hive tingkat dua.

​"Elang... tunggu aku," bisik Gwen. Suaranya tenggelam oleh deru mesin, namun tekadnya mengguncang semesta.

​Gwen mendarat di pesisir yang dipenuhi bebatuan tajam. Ia tidak menggunakan jalur utama, melainkan memanjat tebing karang di sisi barat dengan tangan kosong. Setiap goresan batu pada kulitnya tidak ia hiraukan. Rasa sakit itu adalah pengingat bahwa Elang sedang menderita di dalam sana.

​Saat ia berhasil menyusup ke dalam kompleks bangunan beton di puncak pulau, suasana terasa sunyi yang mencekam. Tidak ada penjaga di koridor luar. Hanya ada lampu neon yang berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang yang menakutkan.

​Gwen sampai di sebuah aula besar yang menyerupai arena gladiator modern. Di tengah ruangan, di bawah lampu sorot tunggal, Elang terikat pada sebuah kursi besi elektrik. Tubuhnya penuh luka lebam, kemeja pernikahannya hancur, namun ia masih sadar.

​"Gwen... jangan mendekat!" Elang berteriak, suaranya parau karena dehidrasi. "Ini jebakan! Lari!"

​"Terlambat, Kakak sayang," sebuah suara lembut namun berbisa muncul dari kegelapan.

​Pria bernama Garuda itu melangkah masuk ke lingkaran cahaya. Wajahnya memang mirip dengan Elang, namun jika Elang adalah api yang menghangatkan, Garuda adalah es yang mematikan. Ia mengenakan setelan jas abu-abu yang sangat rapi, sangat kontras dengan pemandangan berdarah di sekitarnya.

​"Gwen Adiguna. Sang Dewi Perang yang baru," Garuda membungkuk hormat dengan gaya sarkastik. "Aku harus mengakui, seleramu pada pria sangat buruk. Kenapa kau memilih anjing cacat ini dibandingkan aku?"

​Gwen menodongkan pistolnya tepat ke dahi Garuda. "Lepaskan dia, Garuda. Atau aku akan menghapus senyum menjijikkan itu dari wajahmu."

​Garuda tertawa, suara tawanya terdengar seperti gesekan logam. "Kau membawa chip Nemesis itu? Letakkan di lantai, atau aku akan menekan tombol ini dan mengirimkan 5000 volt listrik ke jantung Kakakku. Kau tahu kan, chip di jantungnya sangat sensitif terhadap arus listrik?"

​Gwen tertegun. Jarinya bergetar di pelatuk. Ia tidak bisa mengambil risiko itu. Dengan perlahan, ia mengeluarkan kotak merah kecil berisi chip Nemesis dan meletakkannya di lantai.

​"Bagus. Anak pintar," Garuda memberi isyarat pada salah satu anak buahnya untuk mengambil chip tersebut.

​"Sekarang lepaskan dia!" tuntut Gwen.

​"Sabar, Gwen. Ada satu hal yang kau harus tahu sebelum kalian 'bersatu' kembali," Garuda berjalan mendekati Elang, lalu dengan kasar menjambak rambut kakaknya agar mendongak. "Kau tahu kenapa Elang begitu setia padamu? Kenapa dia rela menjadi budak keluargamu?"

​Gwen mengerutkan kening. "Karena dia mencintaiku!"

​"Salah!" Garuda berteriak. "Dia bersamamu karena rasa bersalah! Gwen, sepuluh tahun lalu, saat laboratorium ibumu meledak, bukan ayahku yang menyebabkan ledakan itu. Tapi Elang! Elanglah yang memicu detonatornya karena dia diancam oleh Maximilian! Ayahku mati karena kesalahan Kakakku yang 'setia' ini!"

​Dunia seolah berhenti berputar bagi Gwen. Ia menatap Elang dengan pandangan tak percaya. "Elang... apa yang dia katakan itu bohong, kan?"

​Elang menundukkan kepalanya. Air mata jatuh ke lantai beton yang dingin. "Gwen... aku... aku dipaksa. Mereka menyandera Garuda yang saat itu masih kecil. Aku tidak punya pilihan..."

​"Dia membunuh ibumu, Gwen!" Garuda memprovokasi dengan nada gila. "Pria yang kau cintai, pria yang kau panggil suamimu, adalah orang yang menekan tombol kematian ibumu! Dia mendekatimu hanya untuk menebus dosa yang tidak akan pernah bisa dimaafkan!"

​Gwen merasa dadanya sesak, seolah-olah ada tangan raksasa yang meremas jantungnya. Pengkhianatan ini terasa jauh lebih menyakitkan daripada pengkhianatan Reno. Reno hanya mengincar hartanya, tapi Elang... Elang telah mengambil jiwanya.

​"Apakah itu benar, Elang?" tanya Gwen dengan suara yang hampir menghilang.

​"Ya," bisik Elang. "Itu benar. Aku adalah monster yang kau cari selama ini, Gwen."

​Garuda tersenyum penuh kemenangan. Ia melemparkan sebuah pisau ke arah Gwen. "Nah, sekarang adalah waktunya keadilan. Bunuh dia, Gwen. Balaskan dendam ibumu, dan aku akan membiarkanmu pergi dari pulau ini hidup-hidup. Kita bagi kekuasaan Adiguna dan Silver Hive berdua. Bukankah itu adil?"

​Gwen memungut pisau itu. Langkahnya terasa berat saat ia berjalan mendekati Elang. Elang hanya diam, ia tidak mencoba membela diri. Ia sudah siap untuk mati di tangan wanita yang paling ia cintai.

​"Lakukan, Gwen," ucap Elang lirih. "Aku memang layak mati."

​Gwen mengangkat pisau itu tinggi-tinggi. Cahaya lampu sorot memantul pada bilah tajamnya. Garuda menanti dengan napas tertahan, siap menyaksikan kehancuran emosional sang musuh.

​Namun, di detik terakhir, Gwen memutar tubuhnya.

​JLEB!

​Bukan ke arah Elang, Gwen melemparkan pisau itu dengan akurasi luar biasa ke arah panel kontrol listrik di samping Garuda.

​DUAARR!

​Percikan api meledak, memutuskan aliran listrik ke kursi Elang. Di saat yang sama, Gwen melepaskan dua tembakan cepat ke arah pengawal yang memegang chip Nemesis.

​"Apa?!" Garuda terpekik, ia segera menarik pistolnya namun Elang—yang ternyata sudah melonggarkan ikatannya sejak tadi menggunakan kawat kecil—menghantamkan kepalanya ke perut Garuda hingga mereka berdua jatuh ke lantai.

​"Gwen, pergi!" teriak Elang sambil bergulat dengan adiknya.

​"Kita pergi bersama!" Gwen merangsek maju, menembaki setiap anak buah Garuda yang mencoba mendekat.

​Dalam kekacauan itu, Siska muncul dari balik pilar dengan pelontar granat. "TIDAK ADA YANG PERGI DARI SINI!"

​Siska menembakkan granatnya ke arah langit-langit aula.

​BOOM!

​Reruntuhan beton mulai berjatuhan. Pulau Hantu yang sudah dipasangi bom waktu oleh Garuda mulai berguncang. Ini adalah jebakan bunuh diri. Garuda tidak pernah berniat membiarkan siapapun keluar hidup-hidup.

​Gwen berhasil mencapai Elang. Ia membantu Elang berdiri, namun Garuda menarik kaki Elang. "Jika aku tidak bisa memilikinya, maka kau juga tidak boleh!"

​"Garuda, sadarlah! Ini semua rencana Maximilian untuk mengadu domba kita!" Elang mencoba menyadarkan adiknya.

​"Aku tidak peduli!" Garuda mengeluarkan sebuah pemicu kecil. "Selamat tinggal, Kakak!"

​Gwen melihat pemicu itu. Tanpa berpikir panjang, ia menendang tangan Garuda hingga pemicu itu terlempar ke arah jurang di bawah aula yang retak. Di saat yang sama, sebuah ledakan besar di sektor bawah membuat lantai mereka miring.

​"Lari ke dermaga, Elang! SEKARANG!" Gwen menarik tangan Elang.

​Mereka berlari menembus api dan debu, meninggalkan Garuda yang tertawa gila di tengah reruntuhan. Siska tertimbun puing-puing saat mencoba mengejar mereka—akhir yang tragis bagi wanita yang hanya didorong oleh dendam.

​Saat mereka melompat ke laut tepat sebelum seluruh kompleks itu meledak, Gwen mendekap Elang erat-erat di dalam air yang dingin.

​Satu Jam Kemudian, di Kapal Penyelamat Hendra.

​Elang duduk di dek, tubuhnya diselimuti selimut tebal. Gwen berdiri di depannya, menatap laut yang kini tenang kembali. Rahasia besar itu sudah terungkap. Kebenaran yang pahit sudah tergeletak di antara mereka.

​"Gwen," suara Elang memecah keheningan. "Tentang apa yang dikatakan Garuda... itu benar. Aku yang memicu ledakannya. Kau berhak membenciku. Kau berhak meninggalkanku."

​Gwen berbalik. Matanya tidak lagi menunjukkan kemarahan, melainkan sebuah kesedihan yang bijaksana.

​"Aku membencimu karena tidak jujur padaku, Elang," ucap Gwen pelan. "Tapi aku tahu siapa yang memberikan perintah itu. Aku tahu siapa iblis yang sesungguhnya. Maximilian menghancurkan hidupmu juga, bukan hanya hidupku."

​Gwen mendekat, ia memegang wajah Elang dengan kedua tangannya. "Kita sudah menikah di hadapan Tuhan, meski pestanya hancur. Dosamu di masa lalu adalah bagian dari dirimu, dan aku sudah memutuskan untuk menerimanya saat aku mengatakan 'Ya' di altar tadi."

​Elang tertegun. Ia menangis tersedu-sedu di pelukan Gwen. Rasa bersalah yang ia bawa selama sepuluh tahun seolah terangkat sedikit demi sedikit.

​"Tapi, Elang," suara Gwen berubah menjadi dingin. "Maximilian dan The Hive belum berakhir. Garuda mungkin selamat dari ledakan itu. Dan sekarang, aku tidak akan hanya bertahan. Aku akan menghancurkan setiap orang yang berani menyentuh keluargaku."

​Gwen mengeluarkan sebuah benda dari balik saku taktisnya. Bukan chip Nemesis, tapi sebuah kunci enkripsi baru yang ia buat sendiri.

​"Hendra," panggil Gwen ke ruang kemudi. "Aktifkan Protokol 'Dewi Keadilan'. Kita akan mengambil alih seluruh jaringan The Hive malam ini juga. Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi pelarian."

​Gwen menatap ke arah horison. Ia bukan lagi sekadar ahli waris yang diselingkuhi. Ia adalah penguasa baru dari dunia gelap yang telah merenggut segalanya darinya. Dan di sampingnya, Elang berdiri sebagai panglima yang paling setia.

1
Anonymous
Semakin seru dan misterius
Anonymous
Semakin komplek dan misterius
Anonymous
Paman ?Memang harta lebih agung dan sangat berharga apalagi hanya sekedar ponak'an
Anonymous
Reno "I B L I S "
Anonymous
Reno kurang bersyukur dengan kehadiran Gwen dalam hidupnya seorang istri yang csntik punya harkat martabat dan derajat
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia
Anonymous
Mulai membaca dan larut di dalamnya
Anonymous
Tegar dan percaya diri Gwen tidak mudah terbawa perasaan
Anonymous
Masih misterius semua
Anonymous
Sip.....aku suka karakter Gwenn👍
Leebit
siap!! makasih ya udah berkunjung ke karyaku😊
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!