NovelToon NovelToon
Petualangan Suketi

Petualangan Suketi

Status: sedang berlangsung
Genre:Antagonis Jahat / Era Kolonial / Komedi / Nyai / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:66.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hayisa Aaroon

Karma tidak pernah salah alamat.

Gusti Kanjeng Raden Ayu Kusumawati—ningrat tinggi yang ditakuti, yang telah menghancurkan hidup puluhan perempuan yang mencoba merebut suaminya—terbangun di ranjang dengan pria Eropa yang mengira dia pelacur seharga 550 gulden.

Namanya sekarang Suketi binti Suketo. Statusnya gundik. Milik mantan perwira laut setinggi dua meter. Pria itu posesif. Tergila-gila. Dan tidak akan melepaskannya untuk alasan apa pun.

Akankah Kusumawati berhasil kembali ke kehidupan lamanya yang nyaman penuh pelayan dan kemewahan? Atau kesialan akan terus mengejarnya, memaksanya membayar dosa-dosa masa lalu dengan cara yang tidak pernah dibayangkannya?

Dilarang plagiat, mengambil sebagian scene atau mengubah cerita menjadi video atau bentuk lainnya. Laporkan plagiat ke Ig/FB: @hayisaaaroon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Perdebatan

Dari sudut mata, dia melihat Slamet.

Pria itu wajah bengkak, mata lebam, dan ekspresinya … sangat terkejut.

Mulutnya terbuka sedikit. Mata yang tidak bengkak menatap Kusumawati dan Jan Coen bergantian dengan pandangan tidak percaya.

‘Duh Gusti ….’

‘Dia mendengar semuanya.’

Kusumawati berdeham keras. Kembali ke mode Gusti Ayu.

Menegakkan punggung. Mengangkat dagu. Memasang wajah dingin, angkuh.

"Jan, ambilkan selimut untuk bahuku."

Suaranya berubah tajam, memerintah, nada yang biasa dia gunakan pada pelayan di kadipaten.

Jan Coen mengerjap.

"Yang di tempat tidur." Kusumawati menunjuk dengan dagunya. "Ambilkan! Sekarang! Kau tidak dengar?"

Jan Coen menatapnya sejenak, bingung dengan perubahan sikap yang tiba-tiba, tapi tidak bertanya.

Dia berjalan ke tempat tidur, mengambil selimut, dan kembali.

Menyampirkannya ke bahu Kusumawati dengan gerakan yang ... lembut, penuh perhatian.

Slamet masih memperhatikan, tampak bingung. Tapi juga terkesan melihat pria sebesar itu begitu patuh pada Kusumawati.

Kusumawati mengeratkan selimut di tubuhnya, membetulkan kain jarik basah yang hampir melorot. Sekarang dia terlihat lebih ... terhormat. Lebih seperti Gusti Ayu, bukan nyai setengah telanjang di bak mandi.

"Bagus." Kusumawati mengangguk singkat. "Sekarang, bunuh dia."

Dia menunjuk Slamet. Santai, seperti menyuruh menjagal kambing.

Slamet yang tadinya sudah terkejut sekarang membelalak lebih lebar.

"Gu-Gusti Ayu—"

"Diam …!" Kusumawati menatapnya dingin. "Kau datang untuk membunuhku. Wajar kalau aku membalas."

“Tapi … tadi Gusti Ayu menjanjikan—”

“Itu hanya strategi, kau seperti tidak hafal aku bagaimana.”

Jan Coen tidak bergerak. Mata tajam mengawasi.

Kusumawati menoleh.

"Kenapa diam saja? Bunuh dia!"

"Tidak."

"Apa?" Kusumawati mendelik.

"Tadi kau bilang jangan dibunuh." Jan Coen menyilangkan tangan di dada. "Sekarang bilang bunuh. Kau harus konsisten."

"Aku berubah pikiran."

"Kenapa?" Satu alis Jan Coen naik.

"Karena dia melihat terlalu banyak." Kusumawati berkata dengan nada datar. "Mendengar terlalu banyak. Itu berbahaya."

"Justru itu bagus."

Kusumawati mengerutkan dahi.

"Apa maksudmu?"

"Bagus kalau dia melihat dan mendengar." Jan Coen tersenyum. "Biar semua orang tahu."

"Tahu apa?"

"Tahu tentang kita."

Kusumawati merasakan perutnya mulas membayangkan adik-adiknya tahu hubungannya dengan Jan Coen.

Suaranya keluar cepat. "Jangan bercanda."

"Aku tidak bercanda." Dia menoleh pada Slamet yang pusing melihat drama di hadapannya.

Jan Coen berbalik menghadap Kusumawati sepenuhnya. Matanya yang biru menatap lurus.

"Aku serius, Keti. Aku bukan hanya sekedar mencintaimu. Lebih dari itu, aku tidak bisa hidup tanpamu."

Hening.

Slamet di lantai menatap dengan mulut menganga.

Kusumawati tertawa dengan tawa yang dipaksakan. Tangannya mengibas.

"Jangan konyol. Kau ini senang sekali bercanda."

"Sudah kubilang, aku tidak bercanda. Aku ingin memilikimu secara sah." Jan Coen melangkah lebih dekat. "Sepenuhnya. Seutuhnya."

Kusumawati mundur selangkah.

"Jan, berhenti bercanda, ini tidak lucu—"

"Aku tidak bercanda, Keti. Aku akan menikahimu."

Kata-kata itu keluar begitu saja. Datar. Pasti. Penuh percaya diri.

Slamet tersedak ludahnya sendiri.

Kusumawati membeku. Wajah pucat.

"A-apa?"

"Menikah." Jan Coen mengulang. "Kau dan aku. Suami istri. Resmi."

"Kau gila!"

"Ya. Aku gila karenamu."

Jan Coen meraih wajah Kusumawati dengan kedua tangan. Mencondongkan wajah. Menciumnya. Bukan ciuman sekilas, tapi ciuman dalam yang menuntut. Di hadapan Slamet.

Slamet membelalak.

Mata yang tidak bengkak melebar sampai nyaris keluar dari rongganya.

Gusti Ayu Kusumawati.

Perempuan paling ditakuti di kadipaten.

Perempuan yang tidak pernah membiarkan pria mana pun mendekat.

Dicium pria Belanda.

Di hadapannya.

Kusumawati mendorong dada Jan Coen keras.

Memutar wajah, menghindari bibir pria itu.

"Hentikan!"

Jan Coen berhenti. Menatapnya.

Ekspresinya ... berubah. Gelap.

"Kau menolakku?"

Suaranya rendah. Ada sesuatu yang berbahaya di sana. Seperti singa jantan yang terluka.

"A-aku … bukan … bukan begitu maksudku." Kusumawati tergagap, napas tersengal. "Ada orang lain di sini!"

"Lalu kenapa?"

"Ini memalukan!" Kusumawati menahan diri untuk tidak menjerit.

"Kau malu?"

"Tentu saja, aku masih punya malu. Aku bukan kau yang tidak punya malu."

"Kau malu terlihat bersamaku." Jan Coen mundur selangkah. Wajahnya mengeras. "Di depan mantan anak buahmu."

"Jan, dengarkan—"

"Kau menganggapku lebih rendah dan tidak pantas untukmu?" Suaranya dingin sekarang. "Pria Belanda kasar yang membeli nyai dari rumah bordil. Tidak layak untuk seorang Raden Ayu yang agung."

"Aku tidak bilang begitu!"

"Tidak perlu bilang. Tindakanmu sudah cukup jelas."

Jan Coen berbalik, berjalan ke arah jendela. Punggungnya kaku. Bahunya tegang.

Tersinggung.

Kusumawati menatap punggung itu dengan perasaan campur aduk.

Di lantai, Slamet melihat kesempatan.

Dua orang itu sedang berseteru. Tidak ada yang memperhatikannya.

Sangat perlahan, dia mulai menggeser tubuhnya. Sedikit demi sedikit. Ke arah pintu.

Wajahnya meringis menahan sakit setiap kali bergerak. Tulang rusuknya pasti patah. Tapi rasa sakit lebih baik daripada mati.

Sedikit lagi sampai pintu.

Kusumawati melihat itu.

Ganti menatap punggung Jan Coen.

"Jan, aku tidak bermaksud—"

"Sudahlah."

"Dengarkan aku dulu!"

"Untuk apa?" Jan Coen tidak berbalik. "Kau sudah jelas. Aku hanya orang asing. Pria Belanda sembarangan. Bukan siapa-siapa untukmu."

"Aku tidak bilang begitu!"

"Tadi kau menyuruhku mengambil selimut seperti menyuruh pelayan. Kau kira aku bodoh?"

Kusumawati terdiam.

"Dan sekarang kau menolak ciumanku." Jan Coen akhirnya berbalik. "Di depan orang itu. Kau menghancurkan harga diriku di depan laki-laki lain."

"Dengarkan dulu …."

"Dengarkan apa lagi? Mendengakan kau malu mengakui ada hubungan denganku."

"Kita memang tidak ada hubungan!"

Kata-kata itu keluar sebelum Kusumawati bisa menahannya.

Jan Coen menatapnya. Lama.

Ekspresinya terluka.

"Baiklah." Suaranya datar. "Kalau memang tidak ada hubungan."

Dia berjalan ke arah pintu.

Kusumawati mengerutkan dahi.

"Mau ke mana?"

"Apa pedulimu. Kau bilang tidak ada hubungan. Berarti aku tidak perlu di sini. Lanjutkan urusanmu dengan pria itu. Aku tidak akan mengganggu."

"Tapi—"

"Selamat malam, Gusti Ayu."

Nada suaranya dingin. Formal. Seperti berbicara pada orang asing.

Kusumawati merasakan sesuatu di dadanya.

Sesuatu yang belum bisa dimengerti.

Di lantai, Slamet sudah hampir mencapai pintu.

Tangannya meraih gagang—

"Mau ke mana kau?"

Suara Jan Coen yang tiba-tiba membuat Slamet membeku.

Jan Coen menatap ke bawah. Ke tubuh yang setengah merangkak.

"Kau pikir aku tidak melihat?"

Slamet menelan ludah.

Jan Coen menginjak tangannya. Keras.

"ARGH!"

Lalu dia pergi. Begitu saja.

Pintu tertutup dengan bunyi keras.

Kusumawati berdiri di tengah kamar.

Slamet meringkuk di lantai, tangan diinjak tadi masih berdenyut sakit.

Hening.

1
Elsker
ndoro ..sehat kah?
Muhammad Arifin
Nang Endi doro siji Iki 😭😭
Rani Za
Udah selesai kah ini ceritanya?
lilyrose
kapan update bab baru kak?
🅶ɪꜱ_❀∂я ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝© §͜¢•🦢🍒
ndoro kemana Kok menghilang
Elsker
ndoro...sehat???kapan update lagi?semoga sehat selalu
Rahma Amma
ndoro kok blm up?????
Muhammad Arifin
Nang Endi doro siji Iki ☹️☹️
Anindya
ndoro melupakan keti
lilyrose
thanks ndoro...lanjuttt ya😊🙏
rama Rasyidin
terbayang y jadi raden Ayu kusumawati itu wulan guritno🤭... dan Rio dewanto jadi Soedarsono
R_Bell
ndoro, mohon di up lagi. astaga, sudah 10 hari menunggu. rasanya 💔🤣🤭🥲
Linceu thea
lanjut ndoro 🙏
Hana Nisa Nisa
ditjnggu kelanjutannya ndoro yg arjo juga
Su Hendri
haduh penuh teka teki euy... ceritanya keren banget. greget dan bikin penasaran. d tunggu up selanjutnya kk
Teh Qurrotha
apa kenes mengikuti jejak Raden Ayu Aryani
Fetri Diani
dari der dor banget nyonya lim.. ky pagiku anak 3 berNgkat sekolah semua.. 💃
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
ibu kandung arjo merasa ancaman besar dari kenes ,
pemberontak yg licik ,
kusumawati terbujuk kah ,kembali ke kadipaten dgn situasi kadipaten ,walau pun bukan soedarsono yg mnjdi bupati
tapi selama ini kadipaten lah yang selalu mnjdi prioritas selama hidup nya
Teh Qurrotha
kira kira apa Gusti ayu mau?
berat sama si Jan cok
Teh Qurrotha
kyknya tidak mudah, bupati Udh kepincut kenes, pengen segera malam pertama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!